Twinkle, Twinkle, You'Re My Star!

Twinkle, Twinkle, You'Re My Star!
Ch 05 - Out of Place.



Simetriskan posisi duduk atau sambil rebahan, dan juga persiapkan teh dan cemilannya ya~


WARNING!


Cerita ini hanya fiktif belaka/murni khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian/cerita, itu adalah kebetulan semata & tidak ada unsur kesengajaan.


...♡Jangan lupa like, rate, favorit-kan, dan feedback-nya ya, thankyou♡...


...Selamat membaca!...


...******...


...****...


...**...


Rabu, 20-06-2016


Musim panas


Seorang pria terlihat berjalan memasuki auditorium dengan gaya angkuhnya, ia memakai setelan jas casual berwarna biru tua.


Ia juga memakai sebuah kacamata Guess sambil mengenggam IpadPro di tangan kanannya.


“Da jia hao,” sapanya dengan singkat.


^^^(Artinya\=halo semuanya)^^^


Semua penghuni ruangan itu serentak membalas sapaannya dengan suara lemas termasuk Lin Yue sendiri, “Gu laoshi hao.”


^^^(Artinya\=halo guru Gu)^^^


Mahasiswa yang dikeluarkan dari kelas Mrs. Fang akan dialihkan ke hari Rabu di bawah pengajaran Mr. Gu dengan mata kuliah Teknik Pemeranan Dasar.


Lin Yue berjanji dalam hatinya untuk benar-benar fokus dalam semester ini. Jika tidak, ia harus membayar lebih untuk mengulang mata kuliah ini.


“Saya tahu bahwa kalian semua enggan untuk mengikuti kelas saya, tetapi saya ingin tekankan satu hal."


"Bahwa hanya mereka yang tidak mampulah yang akan tinggal,” lanjut Mr. Gu sebagai kalimat pembuka sebelum kelasnya dimulai.


“Dalam memulai sesuatu, membangun pondasi awal adalah yang paling penting. Jika sedari awal sudah tidak memantapkan hati, maka tidak akan bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.”


...****************...


Lin Yue masih termenung menatap botol minuman bersoda di mejanya, ia sudah tidak membawa bekal demi mencari teman baru di kantin.


“Lin Yue!” sapa seorang gadis cantik yang berpapasan dengan mejanya.


“Kenapa kau bengong?” tanyanya.


“Guys, ini temanku Lin Yue,” ujar Jingyi sambil menaruh piringnya di meja dan duduk di samping kiri Lin Yue.


“Hai, senang berkenalan denganmu, aku Hannah,” ujar salah seorang temannya yang merupakan campuran Chinese-Russian.


Sisanya hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu mereka sibuk kembali dengan pembicaraannya masing-masing.


Lin Yue merasa out of place, namun Jingyi yang ramah selalu mencoba untuk membantunya masuk dalam percakapan.


“Bagaimana dengan kelas Gu Laoshi? Apakah menyenangkan?” ujar Jingyi sambil menghabiskan kentang bakarnya.


“Ya begitulah, aku hanya berharap aku tidak akan mengulang lagi semester ini,” ucap Lin Yue yang merasa kurang percaya diri.


“Tenang saja, kita adalah teman seperjuangan. Aku akan membantumu sebisaku,” lanjutnya.


“Oh ya, kau minumlah ini. Aku membelinya barusan, tetapi aku sudah merasa kenyang,” ucap Jingyi sambil menyodorkan sekotak susu coklat padanya.


“Baiklah, terima kasih Jingyi. Bagaimana dengan kelasmu?” tanya Lin Yue balik.


“Kelas Fang laoshi selalu menyegarkan, kami akan mulai praktik minggu depan. Bahkan, kami sudah dibagikan naskah dan coba tebak…, siapa yang menjadi pemeran utamanya?” ucap Jingyi dengan bangga.


“Kau?”


“Wow tepat sekali! Langit berpihak padaku kali ini. Aku sangat bahagia,” ungkapnya sambil tersenyum.


Lin Yue sudah kembali ke kelasnya, dan ia melihat sebuah papan pengumuman yang sedang dikerumuni oleh banyak mahasiswa.


Ia pun ikut memeriksanya, “Aduh!” kerumunan itu saling mendorong membuat Lin Yue hampir terhempas ke samping.


Setelah perjuangan yang melelahkan, Lin Yue akhirnya berhasil melihat ke papan pengumuman. Itu adalah kontes pemilihan Putra & Putri Teladan.


Lin Yue membaca persyaratan untuk mendaftar, namun sebelum ia menemukan tulisan itu, telah tertulis


...--BIAYA PENDAFTARAN Rp1.500.000--...


Lin Yue pun segera menjauh dari kerumunan, ia tidak punya waktu untuk menyibukkan dirinya dalam kontes kampus yang menurutnya tidak begitu penting.


“Lin Yue!!”


“Kau tidak ingin mendaftar?”, ujar Jingyi yang sudah berada di lokasi yang sama dengannya.


“Ahaha tidak, aku tidak punya waktu,” ucap Lin Yue.


“Kenapa? Aku mendengar jika pemenangnya akan mendapat beasiswa selama satu tahun penuh,” timpal Jingyi yang membuat Lin Yue sedikit tertarik.


“Beneran?”


“Benar, ayo kita daftar.”


Melihat Lin Yue yang masih tidak bergerak, Jingyi pun melanjutkan, “Karena aku yang memaksa, maka aku yang akan pergi mendaftarkan nama kita.”


Lin Yue pun menyetujuinya, dan mereka segera berpisah.


Mr. Gu tiba tepat setelah bel berhenti berbunyi, mereka curiga ia telah berdiri di balik pintu sedari tadi.


Kelas pun berlangsung hening, banyak dari mereka yang berpikir untuk mengulang kelas ini tahun depan dengan Mrs. Fang.


Jadi, mereka mengabaikan pengajaran Mr. Gu yang sebenarnya cukup mengesankan.


Ia lebih menekankan pada teori daripada praktik, mereka diminta membaca 50 teknik improvisasi dalam berakting, dan akan dihapalkan minggu depan.


Banyak mahasiswa yang memprotesnya, pasalnya mereka ingin langsung praktik seperti kelas Mrs. Fang yang langsung membagikan naskah dan akan melakukan pentas secepatnya di aula kampus.


Bagaimanapun, Lin Yue memiliki tekad untuk melewati tantangan Mr. Gu, ia percaya bahwa dirinya pasti bisa.


...****************...


Senin, 18-06-2016


“Permisi dr. Yi Shan, sudah waktunya makan siang, apakah pasien selanjutnya disuruh tunggu dulu?” tanya Nona Qiao.


Yi Shan melirik jam tangannya sekilas yang menunjukkan pukul 12:00 WIB, “Aku belum lapar, persilahkan mereka masuk saja. Nona Qiao, kau pergilah makan, aku bisa mengurus mereka sendiri.”


“Tidak masalah dr. Yi Shan, aku juga belum lapar. Ada 2 orang lagi, kalau begitu aku akan mempersilahkan mereka masuk,” ucap Nona Qiao.


Pasien selanjutnya adalah seorang bibi yang memakai batik dengan syal menutupi lehernya. “Selamat siang Lin a-yi, silahkan berbaring,” ujar Yi Shan.


^^^(a-yi\=bibi)^^^


Pemeriksaan berlangsung singkat, dan mereka telah pindah di meja konsultasi, Yi Shan mencari data sebelumnya di file komputernya.


“Lin a-yi, berdasarkan keterangan dari dokter yang menangani anda sebelumnya, kanker ini bersifat cukup ganas. Apa anda sudah memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan rahim?” ujar Yi Shan sambil melanjutkan untuk menuliskan laporan dalam catatannya.


“dr. Yi Shan, apakah tidak ada cara lain?” tanya Lin a-yi.


“Lin a-yi tidak usah khawatir, percayakan saja semuanya pada kami. Tim bedah kami akan dipimpin oleh dokter senior yang sudah berpengalaman dalam bidangnya,” ucap Yi Shan untuk menenangkan pasiennya.


“Bukan masalah itu… Hanya saja, biaya untuk operasi terlalu besar. Anakku baru masuk kuliah tahun ini, sedangkan suamiku tidak mampu. Apakah ada cara lain yang lebih murah?”


“Akan lebih sulit jika hanya mengandalkan obat-obatan atau kemoterapi, operasi pengangkatan harus tetap dilakukan. Berdasarkan data anda, uang muka untuk operasi sudah dibayar lunas. Mengenai pembayaran kedua, aku akan berbicara dengan pihak rumah sakit,” ujar Yi Shan.


“Terima kasih, dr. Yi Shan,” ucap Lin a-yi.


“Tidak masalah, akan kubukakan resep obat untuk mengurangi rasa sakit saat penyakitnya kambuh,” ujar Yi Shan sambil tersenyum ringan.


...****************...


“Terima kasih, dr. Yi Shan,” ucap pasien kedua yang sudah selesai berkonsultasi tentang kesehatannya.


“Tidak masalah, cepatlah sembuh,” ujar Yi Shan dengan ramah.


Setelah selesai menangani pasien terakhirnya, Yi Shan melepaskan kacamata dan maskernya, lalu membasahi wajahnya dengan air di wastafel.


Ia melihat pantulannya sendiri di kaca, meraih kain putih bersih untuk mengelap wajahnya dengan ringan.


Tak berselang lama, hp-nya bergetar di atas meja, menghasilkan suara yang menganggu, Yi Shan pun tidak tahan untuk mengabaikannya.


Melihat sebuah nama ‘camper’ muncul di layar ponselnya, Yi Shan pun mengangkat teleponnya dengan wajah masam.


...****************...


...****************...