
Simetriskan posisi duduk atau sambil rebahan, dan juga persiapkan teh dan cemilannya ya~
WARNING!
Cerita ini hanya fiktif belaka/murni khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian/cerita, itu adalah kebetulan semata & tidak ada unsur kesengajaan.
...♡Jangan lupa like, rate, favorit-kan, dan feedback-nya ya, thankyou♡...
...Selamat membaca!...
...******...
...****...
...**...
Yi Shan menutup pintu dengan pelan, matanya menunjukkan rasa kekesalan yang telah lama terpendam.
Ia pun turun ke lantai satu dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya sedari tadi.
“Antarkan aku ke Chengdu,” ujarnya pada supir sekaligus sekretaris pribadinya, Zihan.
Mereka hampir seumuran, hanya beda 2-3 tahun saja.
“Baik, Tuan Yi,” jawab Zihan sambil menghidupkan mesin mobil dan mulai menginjak gas.
Mood-nya sedang tidak bagus seperti gerimis pagi ini, lalu ia teringat akan pasien yang sedang menunggunya di rumah sakit.
“Tunggu, ke rumah sakit saja,” sanggah Yi Shan sambil menghela napas.
Sebenarnya dokter lain bisa mengambil alih, namun itu berarti pengobatan akan tertunda karena pasien akan diperiksa dari titik awal kembali.
Yi Shan tidak suka mendengar lagu, ia tidak memiliki ketertarikan dalam musik, ia meraih Ipad-nya dan memutar siaran TV online pagi ini.
^^^“Selebriti internet yang sedang naik daun telah pulang ke Beijing. Chen Yu tertangkap kamera sedang dijemput oleh ibunya di bandara, mereka saling bergandengan tangan dan tertawa bahagia. Seperti yang diketahui, Chen Yu merupakan anak dari konglomerat Laiv de Ilario Chen, CEO Department Store terbesar di Beijing, The Ricco Chen. Saat ini—"^^^
Yi Shan mengganti saluran TV.
^^^“you duo jiu mei jian ni,^^^
^^^yi wei ni zai na li,^^^
^^^yuan lai jiu zhu zai wo xin di—"^^^
🎵Xin Dong - Shino Lin Xiao Pei (心动 - 林晓培)
Lagu galau diputar.
Yi Shan mengganti saluran lagi.
^^^“Apakah anda ingin menjadi pengusaha muda yang sukses? Namun tidak punya modal sendiri? Ayo buruan daftarkan diri anda dalam aplikasi ‘Starter up, Jiayou!’. Kami akan menyediakan berbagai nama investor yang bersedia mendukung produk terobosan terbaru anda. Mulai dari The Ricco Chen, Tang Ma Holdings—“^^^
“….”
Yi Shan mematikan siaran TV online itu, juga mood-nya tidak membaik.
Ia beralih menatap pemandangan dari balik jendela mobil.
Seorang gadis terjatuh saat mengejar bus umum yang melaju cepat seperti sedang dikejar setan.
“Hentikan mobilnya,” perintah Yi Shan.
Yi Shan keluar dari mobil dengan tas kerja di tangannya dan disusul oleh Zihan yang terburu-buru memayungi Yi Shan.
“Bus bodoh! Tunggu sebentar saja tidak bisa! Aku tidak akan pernah naik busmu lagi!” teriak Lin Yue.
Gadis itu sedang duduk di tepi trotoar dengan lutut berdarah.
Rambutnya sedikit basah oleh hujan gerimis yang mulai deras.
“Wo de tian a!” teriak Lin Yue lagi sambil mencari tissue dalam tasnya.
^^^Wo de tian a\=ya tuhan/oh my god.^^^
Sebuah payung menghalangi hujan yang jatuh membasahinya, “Nona, kau tidak apa-apa?” tanya Yi Shan sambil berjongkok untuk menatapnya dari dekat.
Lin Yue terpana dengan ketampanannya sejenak, “Ah, aku tidak apa-apa. Terima kasih.”
Yi Shan pun mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, dan mengelap darah yang merembes keluar.
“Ayo masuk ke mobilku, aku akan mengobati lukamu. Ini kartu namaku,” ujar Yi Shan sambil memberikan sepotong kartu nama dari bahan linen jepang yang halus.
Lin Yue melihat nama yang tertera, "dr. Yi Shan dari Chang-An Hospital."
"Itu adalah rumah sakit tempat mama berobat, aku ingat betul namanya, karena tertera dalam kwitansi pembayaran," gumamnya.
Lalu, Yi Shan pun langsung membopongnya ke dalam mobil.
Zihan hanya menatap dalam diam, tugasnya hanya menjadi sebuah payung yang tak terlihat.
Luka itu sudah dibereskan, Yi Shan adalah dokter yang terampil sehingga ia tidak memerlukan waktu lama untuk mengurusnya.
“En,” jawab Yi Shan, hanya berdehem singkat. Suasananya menjadi sedikit canggung.
“Nona mau kemana ya?” tanya Zihan sambil melirik mereka dari kaca mobil.
“Ah iya, aku sudah telat, aku harus pergi sekarang, terima kasih sekali lagi,” ucap Lin Yue sambil terburu-buru melingkarkan tas selempangnya.
Ketika berbalik, Lin Yue melihat kaca mobil itu basah kuyup akibat hujan deras, jika ia keluar sekarang, ia akan 'mandi bebek'.
Ia pun mendorong pintu mobil itu perlahan, berharap sebuah suara akan menahannya.
“Memangnya kau mau kemana? Kami bisa mengantarmu, lagipula sedang hujan deras di luar,” ucap Yi Shan.
“Aku ingin pergi ke IM&T University, apakah cukup dekat dari sini?” tanya Lin Yue dengan rasa sungkan dan penuh harap.
“Kebetulan kita searah. Zihan, jalan,” pinta Yi Shan.
Mobil itu pun melaju kencang di tengah hujan, “Telat juga tidak apa-apa hahaha,” ucap Lin Yue untuk menenangkan Zihan.
Ia pun sedikit mengurangi kecepatan mobil.
Tidak ada lagu yang diputar, juga tidak ada yang memulai percakapan, suasanya kembali menjadi canggung.
“Jadi—” ucap keduanya secara bersamaan.
“Kau duluan.”
“Anda duluan.”
Setelah jeda sejenak, “Baik, aku duluan."
"Jadi, kau adalah seorang mahasiswi?” tanya Yi Shan sambil menatap ke depan.
“En, apakah anda adalah seorang dokter rumah sakit?” tanya Lin Yue.
“Benar, tetapi aku masih dokter magang disana.”
“Tinggal berapa lama lagi?” tanya Lin Yue memperpanjang pembahasan.
“Kurang lebih dua tahun, bagaimana denganmu?”
“Mahasiswi tahun pertama, masih seumuran tunas jagung haha,” ucap Lin Yue dengan sedikit gurauan.
Yi Shan masih berwajah datar.
“Kelihatannya, dokter ini tidak bisa diajak bercanda,” gumamnya dalam hati.
Perjalanan mereka hanya diselimuti oleh keheningan dan keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing.
“Setelah belokan ini, kita akan sampai,” sela Zihan sambil menunjuk jalan.
“Baik, baik,” jawab Lin Yue sambil melingkarkan kembali tas selempangnya yang sudah dilepas tadi.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan gedung universitas, Lin Yue segera keluar dari mobil Mercedez Benz hitam itu.
“Lin Yue!” suara seseorang memanggilnya.
Lin Yue segera melihat ke arah sumber suara, itu adalah suara Chen Yu.
“Oh, Hai!” balas Lin Yue.
Yi Shan ikut melihat dari kaca mobil yang diturunkan.
“Terima kasih sekali lagi, Tuan Yi Shan dan Tuan Zi Han,” pamit Lin Yue.
“Kita sudah telat, kenapa kau masih berkeliaran disini?” ucap Chen Yu yang berjalan mendekat.
Ia menatap mobil hitam mewah itu sejenak, lalu merangkul bahu Lin Yue dan berbicara dengan suara pelan.
“Siapa dia?” tanyanya dengan heran.
“Tadi pagi, aku terjatuh di jalan saat mengejar bus. Tuan ini yang telah menyelamatkanku,” jelas Lin Yue.
Chen Yu menatap Yi Shan sejenak, “Kau tidak boleh sembarangan masuk ke mobil orang, bisa saja ia bukan orang baik.”
“Ah tidak, aku sudah memastikannya haha,” ucap Lin Yue.
“Bagaimana caranya?” tanya Chen Yu dengan nada khasnya yang lembut.
“Itu, Tuan ini memberikan kartu namanya, dan—“
“Apa kau adalah pacarnya?” timpal Yi Shan tanpa basa-basi.
“Maaf, dia adalah temanku. Kalau begitu, kami akan pergi, terima kasih atas tumpangannya. Selamat menjalani hari yang indah,” ujar Lin Yue sambil menarik paksa lengan Chen Yu.
“Dia adalah calon pacarku,” ucap Chen Yu yang mengejutkan semua orang.
...****************...
...****************...