
Simetriskan posisi duduk atau sambil rebahan, dan juga persiapkan teh dan cemilannya ya~
WARNING!
Cerita ini hanya fiktif belaka/murni khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian/cerita, itu adalah kebetulan semata & tidak ada unsur kesengajaan.
...♡Jangan lupa like, rate, favorit-kan, dan feedback-nya ya, thankyou♡...
...Selamat membaca!...
...******...
...****...
...**...
Senin, 18-06-2016
“Halo dengan dr. Yi Shan, ada yang masih perlu dibicarakan?” jawab Yi Shan dengan berat hati.
“Aku Wei Yu, apa kau tidak menyimpan nomorku? Brengsek!”
“Katakan apa maumu?” ucap Yi Shan sambil memandang jalanan padat kendaraan dari kaca jendelanya.
“Ehem, kapan kau menemui tamu pertama VVIP bersama Tuan Chen?” tanya Wei Yu dengan suara lebih pelan.
“Sekarang kau dimana?” ujar Yi Shan sambil tersenyum menyeringai.
“Aku sedang berada di kantin, kenapa? Memangnya kau mau menjemputku kemari?” sindir Wei Yu sambil menjawab pelayan yang tiba-tiba menghampirinya, “Permisi Tuan, apakah anda ingin saus tomat atau saus cabai?”
“Tomat, tomat, jangan yang pedas. Tolong cepatlah, aku sedang terburu-buru,” cetus Wei Yu dengan kesal.
“Kau sedang memesan makanan?” ucap Yi Shan yang sudah berjalan keluar dari ruangannya dengan langkah sedikit dipercepat.
“Benar, kenapa? Kau juga mau? Aku bisa membawakannya dengan senang hati,” usul Wei Yu sambil berpikir untuk meludahi makanan itu.
Yi Shan sudah sampai di depan ruangan Wakil Direktur Chen, ia pun mengetuk pintu dan masuk, “Tunggu sebentar,” ucapnya di telepon.
“Tuan Chen, apakah anda ada waktu luang sebentar untuk berkunjung ke ruang VVIP?” ujar Yi Shan sambil tersenyum ramah.
“Oh! Tentu saja,” Tuan Chen segera mengambil ponsel dan memasukkannya dalam saku celananya.
Ia pun memakai jasnya kembali dan segera berjalan mengikuti Yi Shan menuju lantai teratas yang dirancang khusus dengan kadar oksigen lebih tinggi dan ventilasi udara tercanggih keluaran terbaru.
Wei Yu yang mendengar pembicaraan mereka dari telepon naik pitam, ia meremas kebab ayam yang sedang berada dalam genggamannya itu.
“Tuan Wei Yu, apakah rasanya tidak enak?” tanya pelayan tadi sambil mengerutkan alisnya.
Pelayan itu memiliki perawakan tinggi, kulit putih, dan rambut hitam lurus.
Wei Yu melempar kebab hasil remasannya itu ke lantai RS, setelah Yi Shan langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak.
Beberapa orang langsung mengambil fotonya, “Bukankah itu Tang Wei Yu? Ambil fotonya untuk artikel mendatang,” ujar salah seorang reporter yang sering mengikutinya.
“Sial!” Wei Yu pun berjalan pergi sambil menutup wajahnya dengan tangan.
...****************...
“Tok…tok…tok…,” bunyi ketukan pintu.
Tuan Chen mengambil langkah di depan, “Selamat siang Nona Fan, bagaimana kabar anda hari ini?” sapanya.
“Aku baik, hanya saja badanku sedikit pegal.”
“Itu bukan masalah besar, Chang-An Hospital menyediakan pelayanan body spa bagi semua pasien VVIP disini.
Anda bisa masuk melalui akses kartu VVIP anda,” sanggah Tuan Chen sambil menunjukkan sebuah kertas brosur berisi fasilitas yang tersedia khusus pasien VVIP rumah sakit ini.
Nona Fan sedikit terkesima saat melihatnya sekilas, pelayanan body spa, KTV, kolam renang pribadi, dan restoran skybar tersedia di rumah sakit ini.
Namun, hanya pasien yang memiliki kartu VVIP yang bisa mengaksesnya.
Bagaimana tidak?
Biaya opname untuk satu malam berkisar antara 30-100 juta, belum lagi biaya konsultasi dengan dokter ahli bersertifikat internasional.
“Baiklah, cukup mengesankan,” pujinya singkat.
“Oh ya, Nona Fan, perkenalkan ini dr. Yi Shan, dokter VVIP yang baru bergabung.
Meskipun ia masih pemula, tetapi kemampuannya sudah diakui,” tutur Tuan Chen sambil menepuk bahu Yi Shan.
Kakinya terlihat sedikit berjinjit karena Yi Shan jauh lebih tinggi darinya.
“Salam kenal, aku dr. Yi Shan akan memberikan pelayanan terbaik untuk ke depannya,” balas Yi Shan sambil membungkuk hormat.
Melihat Yi Shan yang memiliki paras tampan dan badan yang ideal, Nona Fan tidak bisa berhenti menatapnya, “Panggil Yu Xi saja, aku rasa kita seumuran,” balas Yu Xi sambil mengibaskan rambutnya alias tebar pesona.
Fan Yu Xi memiliki mata besar yang tajam, dan tentunya ia adalah wanita cantik yang modern.
“Baik Nona Yu Xi,” ucap Yi Shan menanggapi tawaran yang tadi.
Yu Xi memperlihatkan senyuman termanis, barangkali Yi Shan akan terpikat olehnya.
Namun, Yi Shan hanya membalas dengan senyum sederhana.
'Hm, menarik,” gumam Yu Xi.
Tuan Chen merasa canggung berada di tengah-tengah anak muda. Ia pun berdehem, “Baiklah, jika ada yang Nona Yu Xi, eh maksudku, Nona Fan butuhkan, maka hubungi saja pihak kami. Bantuan akan segera datang dalam hitungan detik,” promosi dari Tuan Chen untuk terakhir kalinya.
“Kalau begitu, kami permisi,” Tuan Chen dan Yi Shan segera meninggalkan ruangan setelah membungkuk hormat.
Wei Yu baru saja sampai, dengan napas ngos-ngosan dan kedua lubang hidungnya kembang kempis, ia meneriaki Yi Shan, “Brengsek! Berani-beraninya kau cari gara-gara denganku! Kau pikir kau siapa?” sambil berjalan mendekat dengan tertatih-tatih.
Tuan Chen menatap ke arah Yi Shan dengan heran, “Ada apa dengan anak itu?” tanyanya.
Yi Shan hanya mengangkat bahunya, dan berkata, “Kalau begitu, aku pamit dulu, terima kasih atas waktunya Tuan Chen.”
Wei Yu yang masih berusaha mengatur napasnya tidak mampu mengejar Yi Shan.
Karena memiliki kaki panjang, langkah kakinya juga besar, berbanding terbalik dengan Wei Yu yang berkaki pendek.
"Pfft… Kau bisa saja hidup dengan uang berlimpah, tetapi tak bisa memanjangkan kakimu," gumam Yi Shan.
Ia berjalan dengan wajah cerah dan mood-nya lumayan bagus hari ini.
Saat ia merasa senang, barulah Yi Shan teringat dengan perutnya yang sudah lapar sedari tadi, ia pun berniat untuk pergi makan siang di kantin rumah sakit.
...****************...
Rabu, 27-06-2016
Hari ini adalah hari paling mendebarkan dalam hidupnya, bukan karena Lin Yue bertemu cowok ganteng atau pemberitahuan untuk melunasi biaya kuliah, tetapi hari ini adalah waktunya melafalkan 50 teknik improvisasi dalam berakting.
Sebenarnya, Lin Yue memiliki kemampuan menghafal yang terbilang bagus, namun ia sangat mudah merasa gugup saat berada di depan keramaian.
Jika ia sudah gugup, maka kepalanya otomatis akan kosong, alhasil ia akan lupa kata-kata selanjutnya.
Hari ini, Lin Yue secara khusus menancapkan lima dupa di altar Buddha, memohon agar diberkati dan semuanya akan berjalan lancar.
“Sadhu…sadhu…sadhu…,” gumamnya dalam hati.
^^^(Buddha\=Tuhan dalam agama Buddha; Sadhu\=semoga)^^^
Setelah itu, ia berpamitan dengan kedua orang tuanya dan segera berangkat ke kampus.
Seperti biasa, naik bus umum, naik kereta bawah tanah, naik bus umum lagi, dan setelah berjalan sekitar 5 menit, ia akan sampai di depan gedung universitasnya yang mewah.
Lin Yue masih berjalan dengan semangat membara, hari ini adalah hari pembuktian atas tekad kuatnya untuk mengikuti kelas akting.
Ia harus menunjukkan kesan baik di depan dosen killer itu, kesan pertama adalah yang terpenting.
Ia memilih baju kemeja denim dipadukan dengan rok putih selutut, dan gaya rambut sanggul membuatnya terlihat semakin rapi.
“Lin Yue!” sapa Jingyi yang berdandan feminim seperti biasanya.
“Hai!” ujar Lin Yue sembari tersenyum manis padanya.
“Mood-nya lagi bagus ya? Kau terlihat sangat senang hari ini,” tebak Jingyi dari raut wajah Lin Yue.
“Benar, hari ini Gu laoshi akan mengetes satu persatu dari kami. Aku tidak sabar untuk menunjukkan padanya bahwa aku serius dengan kelasnya,” ucap Lin Yue.
“Wah, kau sangat manis! Ambil kotak susu ini, aku membelinya lagi dan terlalu kenyang untuk meminumnya sekarang,” lanjut Jingyi sambil menyodorkan kotak susu cokelat itu padanya.
“Terima kasih, Jingyi,” ucap Lin Yue.
“Kalau begitu, aku pergi ke kelas ya. Jiayou!” seru Jingyi dengan gaya mengepalkan tangannya yang menggemaskan.
“Jiayou!” balas Lin Yue tidak kalah menggemaskan.
^^^(Jiayou\=semangat)^^^
Lin Yue teringat dengan kotak susu cokelat yang pernah Jingyi berikan sebelumnya, ia secara tidak sengaja meninggalkannya di kursi halte bus.
“Sungguh teman yang baik,” Lin Yue pun melanjutkan langkahnya menuju kelas.
...****************...
...****************...