
Simetriskan posisi duduk atau sambil rebahan, dan juga persiapkan teh dan cemilannya ya~
WARNING!
Cerita ini hanya fiktif belaka/murni khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian/cerita, itu adalah kebetulan semata & tidak ada unsur kesengajaan.
...♡Jangan lupa like, rate, favorit-kan, dan feedback-nya ya, thankyou♡...
...Selamat membaca!...
...******...
...****...
...**...
“Tring lalala~” suara notifikasi dari ponsel berbunyi.
Tidak biasanya ada orang yang mencarinya sepagi ini, ia terpaksa melihat layar ponselnya dengan mata mengantuk dan setengah kesadaran masih berada di alam mimpi.
Ia membuka lockscreen ponselnya dengan malas, jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Ia menekan gambar aplikasi 3Q88, lalu muncul tulisan pada bagian notifikasinya, ‘Chen Yu陈郁telah mengikuti anda’.
Seketika, mata Lin Yue menjadi bersemangat, ia terduduk dan masuk ke dalam profil orang yang baru saja mengikutinya itu.
“Wah, followers-nya 21.8M, following-nya hanya 12 orang dan sekarang aku termasuk di dalamnya? Mengapa ia mengikutiku?”
Lin Yue berbicara dengan dirinya sendiri di pagi buta dalam kamar yang hanya dihuni satu orang itu.
Lin Yue pun melanjutkan stalking-nya, ia melihat semua orang yang mem-follow Chen Yu adalah orang-orang terkenal.
Mulai dari artis, model, presenter, pembisnis, bule dan paling penting adalah suami khayalannya, Wang Yi Bo juga masuk dalam daftar itu.
Sedangkan, orang-orang yang di-follow Chen Yu adalah CEO The Ricco Chen beserta akun berita terkait, suami khayalan Lin Yue dan selebihnya adalah akun sponsor untuk produk endorse-nya.
“Astaga, ternyata mereka berteman, hehehe,” Lin Yue menjadi besar kepala dan mulai membuat suara aneh yang menunjukkan kepuasan dirinya.
“Tidak sia-sia, aku bertemu dengan teman seperti ini. Aku jadi untung banyak, mungkin suatu saat aku bisa mendapatkan tanda tangan dan berfoto dengan Wang Yi Bo.”
Lin Yue pun segera turun untuk sarapan pagi setelah siap ganti baju.
Hari ini, ia bangun lebih awal sehingga ibunya tidak berteriak.
Ia menuruni tangga dengan langkah kaki ringan dan penuh keceriaan, sambil bersenandung kecil.
“Apa kau sedang tidur berjalan? Kau terdengar seperti orang yang sedang mengigau,” ejek Lin Yi yang sedang menghabiskan bubur oat-nya.
Lin Yi merupakan anak bungsu, yang berarti adik laki-laki kandung Lin Yue.
Ia baru saja naik kelas dari SMP menuju SMA 1, dan hari ini adalah minggu pertama masuk kelas.
Lin Yue dan Lin Yi tidak mirip sedikitpun, namun keduanya sama-sama cantik dan tampan.
“Wo de tian a, rupanya bocah tengik ini sangat suka mencari gara-gara denganku,” sungut Lin Yue kembali.
^^^Wo de tian a\=ya tuhan!^^^
Ia pun berhenti bersenandung dan menarik kursi, lalu duduk di hadapan adik laki-lakinya itu.
Sambil menuangkan oat dalam mangkuk dan diikuti oleh susu kedelai hangat.
“Hei sha gua, bagaimana dengan sekolahmu? Apa kau masih berada di peringkat atas?” tanya Lin Yue sambil menambahkan kacang almond dalam mangkuk Lin Yi.
^^^sha gua\=bodoh.^^^
“Adikmu tetap bertahan di ranking pertama selama empat semester berturut-turut dan ia mendapatkan beasiswa atas prestasinya itu,” potong ibunya dari dalam dapur.
Lalu, ia keluar dengan membawa sepanci sup herbal yang masih panas, lalu menuangkannya dalam termos mini berwarna biru.
“Lin Yi, bawa termos ini ke sekolah, jangan lupa menghabiskannya sebelum dingin,” ujar ibunya.
“Ma, punyaku mana?” tanya Lin Yue dengan nada memelas.
“Itu dalam panci masih banyak, kan bisa ambil sendiri,” balas ibunya yang kembali ke dapur dengan cepat setelah mendengar suara siulan teko.
“Ambil saja punyaku, jie,” ucap Lin Yi sambil menyodorkan termos biru itu pada kakaknya.
^^^jie\=kakak perempuan.^^^
“Aiya aku hanya bercanda, aku sudah terlahir kuat tanpa asupan gizi tambahan. Kita beda level,” ledek Lin Yue sambil memakan sesuap buburnya dengan kasar.
“Jie, nanti mulutmu bisa robek, jangan menambah biaya pengeluaran lagi,” keluh Lin Yi.
Lin Yue mengambil sendok dan seperti ingin memukulnya.
“Nah, nah pukul, pukul kepalaku dan aku akan mengadu pada mama hahaha,” goda Lin Yi sambil menundukkan kepalanya.
Lin Yi segera merebut tasnya dan memasukkan termos mini itu ke dalamnya.
“Ma, aku pergi dulu ya,” pamit Lin Yi yang segera berlari keluar.
“Hei sha gua, balik kesini!” jerit Lin Yue yang masih belum siap memakai sepatunya.
Lin Yue mengintip dalam tasnya dan tersenyum, “Ma, aku juga pergi dulu ya,” pamit Lin Yue.
...****************...
“Yi Shan, temui ayah di kantor sebentar,” panggil Tang Ma di tengah waktu sarapan mereka.
“Raut wajah ayah terlihat masam seperti jeruk lemon, kau pasti akan dihajar habis-habisan pagi ini,” ledek Wei Yu sambil melempar buah anggur hijau ke seberang.
Buah itu membentur dahi Yi Shan, membuatnya mempelototi Wei Yu dengan mata tanpa emosi.
“Kenapa kau mempelototi anakku seperti itu? Kan dia tidak sengaja,” timpal Nyonya Tang yang balik mempelototi Yi Shan dengan tajam.
Ditambah eyeliner berbentuk cat eye dan lipstik merah menyala dari Dior Rough Lipstic 999, membuat Nyonya Tang terlihat semakin garang.
Wei Yu juga tidak ingin kalah, jadi ia ikut mempelototi pria yang dianggap sebagai musuh abadi keluarga mereka.
Tidak ada yang mengedipkan matanya walau sudah terasa pedih.
“Dasar badut,” gumamnya pelan.
“Apa kau bilang? Ba-badut?” racau Nyonya Tang.
Yi Shan meneguk segelas air putih dan menyeka sudut mulutnya dengan tenang.
"Hm?” balasnya sambil pura-pura bodoh.
“Yi Shan, jangan pura-pura bodoh. Apa yang baru saja kau katakan tentang kami?” bentak Wei Yu dengan heboh.
“Aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab Yi Shan dengan santai.
“Kau pikir kami tuli? Aku jelas-jelas mendengarmu menghina kami!” tuduh Wei Yu yang tidak senang.
“Telingamu saja yang terlalu sensitif, apa kau perlu kukenalkan pada dokter THT terbaik di negara ini? Tidak, tidak, kau pasti ingin yang termahal,” sindir Yi Shan sambil berjalan meninggalkan ruang makan.
“Kau, orang kampungan, lihat saja pembalasanku nanti!” ancam Wei Yu yang tidak dihiraukan sama sekali olehnya.
...****************...
Pintu kantor pribadi Tang Ma diketuk, dan Yi Shan masuk ke dalam.
“Ayah, ada urusan apa?” tanya Yi Shan seperti biasa. “Akhirnya kau datang juga, duduklah,” panggil Tang Ma sambil meletakkan Ipad-nya di samping meja.
Yi Shan melihat halaman berita yang ditampilkan sekilas, “Ekhm…,” Tang Ma segera menutup layar Ipad itu dengan kertas.
“Ada urusan apa ayah memanggilku?” tanya Yi Shan lagi.
“Aiya, anak ini, selalu saja ingin bekerja. Ayah ingin sesekali berbicara santai denganmu,” tampik Tang Ma sambil tersenyum kaku.
“Atau bahasa gaulnya, curhat hahahaha.”
Melihat Yi Shan tidak tertawa sedikitpun, Tang Ma menegakkan tubuhnya kembali.
“Hm, sungguh pagi ini tidak ada urusan kantor yang perlu dibicarakan. Ayah hanya ingin mendengar bagaimana rencanamu ke depan, apa yang akan kau lakukan di masa depan?” tanya Tang Ma yang berusaha bersikap akrab.
“Menjadi seorang dokter,” jawab Yi Shan singkat.
“Apa kau tidak ada rencana untuk mengembangkan ide ini? Seperti membuka rumah sakit sendiri, merambah kancah internasional, sesuatu yang berbau bisnis,” timpal Tang Ma.
Yi Shan hanya terdiam.
“Maksud ayah, jika kau memulai bisnis sendiri, barulah hasilnya akan terlihat. Hanya menjadi seorang dokter yang bekerja dalam pengawasan rumah sakit. Hasil yang didapat tidak akan sebanding dengan kerja keras,” sambung Tang Ma dengan volume suara yang kian bertambah.
“Bagaimana menurutmu?”
“Jika aku mau, aku akan memulai bisnis dengan mengumpulkan modal sendiri, tidak perlu bantuan ayah,” jawab Yi Shan dengan terus terang.
“Yi Shan, ayah beritahukan hal penting ini padamu ya. Ada banyak perintis usaha startup di luar sana yang menginginkan ayah menjadi investor-nya, tetapi ayah hanya percaya padamu. Ayah yakin kau adalah orang sukses di masa depan,” puji Tang Ma.
Namun, sepertinya pujian itu tidak diindahkan oleh Yi Shan, ia tidak memperbaiki ekspresi wajahnya sedikitpun.
“Berikan saja kesempatan itu pada Wei Yu, aku akan pergi sekarang.”
“Yi Shan, tunggu, Yi Shan!” panggil Tang Ma yang dihiraukan sepenuhnya.
Tang Ma hanya bisa menatap amplop cokelat berisi dokumen yang telah ia persiapkan.
...****************...
...****************...