
Simetriskan posisi duduk atau sambil rebahan, dan juga persiapkan teh dan cemilannya ya~
WARNING!
Cerita ini hanya fiktif belaka/murni khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian/cerita, itu adalah kebetulan semata & tidak ada unsur kesengajaan.
...♡Jangan lupa like, rate, favorit-kan, dan feedback-nya ya, thankyou♡...
...Selamat membaca!...
...******...
...****...
...**...
Kelas pagi telah berakhir, Chen Yu dan Lin Yue yang telat masuk dianggap absen alias tidak hadir.
Kini, mereka bertiga sedang makan siang di kantin.
“Kalian berdua sedang berantem ya?” tanya Jingyi yang merasa janggal sedari tadi.
“Tidak,” sanggah Chen Yu.
“Tentu saja tidak,” jawab Lin Yue sambil mengaduk minuman milktea-nya.
“Bagaimana dengan audisi kalian? Apakah sudah diumumkan?” tanya Lin Yue mencari topik lain.
“Oh ya, aku lupa memberitahumu, kami lulus ke tahap berikutnya,” ujar Jingyi penuh kegirangan.
“Wah bagus sekali, aku akan menjadi fans pertama kalian,” ucap Lin Yue yang sudah merasa cukup dekat dengan Jingyi.
“Baiklah kalau begitu, hari ini biarkan aku yang traktir makan,” seru Chen Yu sambil mengipaskan tangannya untuk memanggil pelayan.
“Aku juga, aku juga,” timpal Jingyi.
Chen Yu memilih pesanan secara random, ia bahkan tidak membaca tulisannya, hanya menunjuk-nunjuk gambar makanan yang muncul.
“Dasar anak orang kaya,” gumam Lin Yue yang merasa sedikit iri dengannya.
Setelah Chen Yu selesai, kini giliran Jingyi yang memesan.
“Bahkan cara memesannya sama dengan Chen Yu,” Lin Yue membatin lagi.
Jingyi hanya melihat sekilas, lalu membuka menu rekomendasi dan menunjuk-nunjuk semua gambar yang ditempelkan pada halaman itu.
Lin Yue merasa setiap makanan pasti dipesan dalam jumlah double.
“Sudahlah, lagipula uang mereka banyak,” Lin Yue membatin untuk kesekian kalinya.
“Kau sedang melamun apa?” tanya Chen Yu yang duduk di sebelahnya.
“Tidak, aku sedang menahan lapar saja,” ucap Lin Yue.
Chen Yu memeriksa jam tangannya, “Ini baru jam 12 siang, kau tidak sarapan tadi pagi?”
“Ada, aku ada sarapan kok,” jawab Lin Yue sambil mengeluarkan ponselnya yang bergetar.
"Drrrtt...drrrttt...drrttt...."
“Ada yang menelepon?”
“Ibuku menelepon, aku akan segera kembali,” ucap Lin Yue sambil mencari tempat agak sepi untuk menjawab telepon.
Ia tidak ingin teman-temannya mendengar omelan ibunya.
...----------------...
“Halo ma, ada apa?”
“Lin Yue, kau bisa pulang cepat hari ini?”
“Memangnya kenapa?”
“Papa-mu mabuk lagi dan menabrak seorang pejalan kaki. Sekarang ibu sedang bersamanya di rumah sakit, orang itu meminta ganti rugi."
Lin Yue terkejut, “Ha? Bagaimana bisa? Terluka parah tidak?”
“Kaki ayahmu hanya sedikit terkilir, sedangkan orang yang ditabraknya, kuku jempolnya patah,” jawab ibunya dengan lengkap.
“Baik, baik, aku akan kesana sekarang. Di rumah sakit mana?”
“Rumah sakit dekat kampusmu, tempat mama biasa berobat, Chang-An Hospital. Jangan lupa membawa uangnya ya.”
“Iya, iya aku tahu. Aku akan segera kesana,” ucap Lin Yue sembari menutup teleponnya dengan kesal.
...----------------...
Lin Yue pun kembali ke mejanya dan mengambil tasnya, “Teman-teman, aku ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda, kalian nikmati saja makanannya ya. Lain kali aku yang traktir, 88.”
^^^88\=singkatan ‘bye bye’.^^^
“Jingyi, kau yang makan saja ya,” pinta Chen Yu sambil meletakkan ¥200 di atas meja, lalu ia berlari mengejar Lin Yue.
^^^¥1\=Rp2.248,63; ¥200\=Rp449.726,7^^^
...----------------...
“Lin Yue! Aku akan mengantarmu,” panggil Chen Yu yang sudah mengeluarkan mobil Buggati hitam miliknya.
“Ayo naik!” serunya.
“Oh! Oh baik,” Lin Yue pun masuk ke dalam mobilnya dengan tergesa-gesa dan kebingungan, “Aku ingin pergi ke Chang-An Hospital.”
Orang-orang sekitar dibuat takjub dengan kemampuan menyetir-nya yang keren dengan mobil mewah berharga fantastis itu.
Lin Yue menutup wajahnya dengan tas untuk menghalangi pandangan orang-orang yang melihat mereka dari kaca depan.
“Segala hal tentang Chen Yu sangat mencolok, juga ia adalah seorang selebriti internet. Aku tidak boleh kejepret kamera bersamanya,” batin Lin Yue.
“Siapa yang sakit?” tanya Chen Yu mendadak.
Merasa Chen Yu telah berbaik hati mengantarnya, Lin Yue pun memberikan jawaban jujur padanya.
“Ayahku mabuk dan menabrak pejalan kaki, mereka ingin minta ganti rugi atas biaya perawatannya,” ungkap Lin Yue.
“Ah, maaf.”
“Kenapa kau minta maaf?”
“Bertanya tentang urusan pribadi keluargamu,” jawab Chen Yu.
Mobil mereka sedang berhenti di lampu merah.
Chen Yu menatapnya sejenak, “Kau lupa memakai sesuatu.”
“Memakai sesuatu? A-apa?” Lin Yue memeriksa semua barangnya sudah lengkap.
“Lip-lipstik?” tebak Lin Yue dengan random.
Entah kenapa, ia teringat dengan video 3Q88 yang sedang trending.
Video tentang seorang wanita yang tidak diperbolehkan keluar rumah oleh pacarnya jika tidak make-up.
“Kau sangat lucu,” ledek Chen Yu dan dengan segera ia mencondongkan tubuhnya pada Lin Yue.
Dan tangannya terulur ke samping untuk meraih sabuk pengaman mobil.
Lalu memakaikannya pada Lin Yue.
“Kau lupa memakai seatbelt,” ucap Chen Yu dengan suara rendah sambil tersenyum menggoda.
Tatapan mereka sangat dekat dan matanya bertemu dengan mata Chen Yu.
“Din!...Din!...Din!....”
“Lampu hijaunya sudah menyala, ayo cepat jalan!” teriak seorang pemilik mobil di belakang.
“Ah, mengganggu saja,” Chen Yu pun kembali menyetir mobilnya kembali.
Lin Yue masih mencerna maksud perlakuan Chen Yu padanya, ia sudah bertingkah aneh sedari pagi.
"Tidak, tidak, Chen Yu sudah bersikap baik sejak awal pertemuan mereka di restoran Open World Hotel itu. Lalu, ia kelihatan seperti ingin menjalin hubungan akrab denganku sejak tahu kita sekampus," gumam Lin Yue.
Lin Yue berusaha mengatur detak jantungnya yang sempat kebut dan mengembalikan ekspresi wajahnya.
“Tidak, tidak, aku tidak boleh menyimpulkannya sendiri. Jika aku salah, nanti aku yang sakit hati,” pikirnya.
Ia pun berhasil menenangkan pikiran dan batinnya.
“Godaan dimana-mana, godaan dimana-mana, aku harus tetap konsisten.”
Tak berselang lama, mereka pun sampai di depan rumah sakit.
Lin Yue segera berlari ke dalam.
“Aduh! Aduhh! Kaki-ku sangat sakit, aku tidak bisa pergi bekerja,” jerit seseorang dari dalam kamar umum pasien itu.
“Ma!” panggil Lin Yue sambil berjalan menghampiri ibunya yang sedang duduk di samping ayahnya.
Kaki ayahnya sudah di-gips dan diperban dengan rapi.
“Ma, katanya hanya terkilir, kenapa sampai di-gips?” tanya Lin Yue menghiraukan jeritan pria umur 30-an itu.
“Aduh! Aduhh! Kaki-ku sangat sakit, aku harus istirahat sebulan penuh di rumah. Orang sial itu kenapa menabrakku?” pekiknya.
“Mama salah bilang tadi, ternyata patah tulang. Tapi sekarang sudah aman, hanya tinggal mengurus orang itu,” kata ibunya memperjelas keadaan.
Lin Yue pergi menemui si penuntut ganti rugi itu.
“Maaf atas kerugian yang telah disebabkan oleh ayahku, apa anda sudah merasa baikan?”
“Aduh! Aduh! Kau tidak lihat kaki-ku ha? Kuku jempolku patah! Aku jadi tidak bisa pergi bekerja,” teriaknya.
“Maafkan kami. Paman tidak perlu khawatir, aku akan melunasi biaya pengobatan kakimu,” ucap Lin Yue memulai negosiasinya.
“Bagaimana dengan biaya rawat jalan? Aku tidak bisa pergi bekerja gara-gara tabrakan ini, gaji ku akan dipotong seminggu,” ujar pria itu dengan histeris.
“Kalau begitu, berapa yang kau butuhkan?” tanya Lin Yue sambil menahan emosi.
“¥800!”
“¥800?”
“Sialan paman ini, mentang-mentang kami berada di pihak yang salah. Dasar penipu!” Lin Yue membatin.
“Paman, kami juga bukan orang kaya. Aku masih kuliah dan gajiku juga hanya gaji paruh waktu, sedangkan kedua orang tuaku sudah tidak bekerja. Aku mohon pengertiannya.”
“Aku tidak mau tahu, yang penting kalian menabrakku. Aku juga punya anak dan istri yang harus kunafkahi dirumah,” tolak si paman penuntut.
“Bagaimana dengan ¥200?”
“¥200? Kau ingin bernegosiasi denganku, aku ini adalah korban. Aku sudah cukup berbaik hati tidak menjebloskan ayahmu ke dalam penjara,” bentak si paman penuntut.
...****************...
...****************...