Twinkle, Twinkle, You'Re My Star!

Twinkle, Twinkle, You'Re My Star!
Ch 10 - Degupan jantung.



Simetriskan posisi duduk atau sambil rebahan, dan juga persiapkan teh dan cemilannya ya~


WARNING!


Cerita ini hanya fiktif belaka/murni khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian/cerita, itu adalah kebetulan semata & tidak ada unsur kesengajaan.


...♡Jangan lupa like, rate, favorit-kan, dan feedback-nya ya, thankyou♡...


...Selamat membaca!...


...******...


...****...


...**...


Lin Yue mengenal suara dan wajah itu, “Tuan muda Chen?”


“Halo, Lin Yue kan?” sapanya kembali.


“Iya, namaku Lin Yue.”


“Dan aku Jingyi, senang berkenalan denganmu,” timpal Jingyi sambil mengulurkan tangannya.


Chen Yu pun menjabat tangannya dengan sederhana, “Oh senang berkenalan dengan kalian berdua,” ucapnya.


“Aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian, dan kebetulan aku juga ingin daftar kontes itu. Bagaimana kalau ganti nama saja? Kan tinggal coret saja,” ucap Chen Yu dengan konyol.


“Chen Yu, kau juga ingin daftar? Kita bertiga bisa saling support,” usul Jingyi dengan penuh keceriaan.


Lin Yue menatap dua anak orang kaya yang antusias dengan kontes itu, sedangkan dirinya malah merasa terbebani.


Lin Yue pun membiarkan mereka berdua bercakap-cakap di samping, dia kembali menghadap ke meja administrasi.


“Bagaimana kalau ganti nama saja pada kertasnya? Kebetulan, ada temanku yang ingin mendaftar juga,” ujar Lin Yue dengan kedua tangan memohon yang saling dikatupkan.


Staff administrasi itu terlihat tidak terlalu mempermasalahkannya, “Baiklah, dananya memang sudah disetor ke pusat, namun datanya masih belum dikumpulkan. Mohon tunggu sebentar, aku akan mencarikan kertas formulirnya untukmu.”


“Terima kasih banyak,” balas Lin Yue.


“Bagaimana? Berhasil kan?” ujar Chen Yu yang datang menghampirinya.


“Iya, terima kasih banyak. Aku harap kau dan Jingyi bisa lulus audisi besok,” ucap Lin Yue sekedar basa-basi.


“Chen Yu tidak perlu diragukan lagi, lihat saja jumlah followers-nya di 3Q88, pasti banyak pendukungmu yang akan datang untuk melihatmu besok,” puji Jingyi.


“Tapi, aku tidak pernah punya pengalaman dalam kontes seperti ini,” sanggah Chen Yu.


“Chen Yu terlalu rendah hati. Ingat, siapa yang menang, berarti harus traktir makan,” tantang Jingyi yang membuat suasananya semakin seru.


“Mengerikan, untung aku tidak ikut, kantin yang menguras dompet,” pikir Lin Yue.


“Lin Yue tongxue, formulirnya sudah ada, minta temanmu datang untuk mengisi ya,” ujar staff administrasi itu.


Chen Yu yang peka langsung paham, “Baik, aku datang,” ucapnya sambil mengambil pena yang telah disediakan dan mengisi formulir itu dengan baik.


“Baik, sudah selesai. Terima kasih jie,” ucapnya sambil tersenyum ramah.


Bahkan, staff administrasi itu tersipu malu dibuatnya.


^^^(jie\=kakak perempuan yang sudah akrab)^^^


Lin Yue pun tidak mempedulikannya, namun Chen Yu langsung merangkul bahunya, “Ayo, masuk kelas. Lin Yue juga mahasiswi tahun pertama, kan?” ujarnya.


Lin Yue yang merasa canggung, hanya menjawab dengan singkat, “Iya.”


“Tapi, kemana Jingyi?” tanya Lin Yue yang menyadari temannya telah lama menghilang.


“Oh, dia sedang pergi mencari minuman segar, habisnya berdiri terlalu lama disini, buat penat,” gerutu Chen Yu.


“Kita masuk saja dulu, aku sudah mengirimnya pesan,” tanpa aba-aba Chen Yu sudah menggenggam tangannya.


“Ehhh,” jerit Lin Yue dalam batinnya.


Dia menatap pria yang masih tersenyum ramah padanya, ia akui bahwa Chen Yu memang tampan.


Ia memliki tipe wajah yang manis dengan mata besar yang bersinar, dan senyumnya sangat menawan.


Selain itu, Chen Yu juga memiliki tinggi badan ideal, mungkin 180 cm ke atas? Sekitar 185? 188?


Pokoknya, boyfriend material sekali!


Namun sikapnya pada Lin Yue, bukankah sedikit istimewa?


Lin Yue mencoba tenang, walaupun wajahnya sudah sedikit merona.


Ia pun pasrah mengikutinya, bahkan ia tidak sadar, mereka telah berdiri di depan pintu kelas Mrs. Fang.


“Ehh tunggu Tuan muda Chen, kelasku sudah kelewatan,” seru Lin Yue yang tidak sengaja menarik tangan Chen Yu.


Genggaman tangan itu terasa semakin erat membuat jantungnya berdegup kencang, dan tangannya memanas.


Chen Yu tersenyum sekali lagi.


"Gila! Mau berapa kali dia tersenyum seperti ini? Jangan-jangan, dia mendengar suara detak jantungku," Lin Yue membatin.


Chen Yu berjalan mendekat, Lin Yue membeku di tempatnya, kini jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa sentimeter saja.


Namun, Chen Yu masih belum menghentikkan langkahnya, lalu ia membungkuk untuk menyamakan tinggi Lin Yue yang baru 165 cm.


Kini, ia dapat melihat wajah Chen Yu dengan lebih jelas, “Ternyata, alisnya juga tebal," batin Lin Yue yang masih terhanyut dalam pesonanya.


Lin Yue merasakan sentuhan ringan di pipinya, lembut dan dingin, “Lin Yue?” panggil Chen Yu.


“Lin Yue?” panggilnya lagi, suaranya lembut seperti lullaby, lagu pengantar tidur.


“Ha?” jawab Lin Yue terbengong-bengong.


“Bulu matamu jatuh nih,” ujar Chen Yu sambil tertawa kecil.


“Nah, aku kembalikan padamu,” ucapnya sembari menaruhnya di tangan Lin Yue.


Lin Yue menatap bulu mata panjang nan hitam, namun tidak lentik itu sedang terkulai malu di atas tangannya.


“Lin Yue, kau tahu kalau bulu mata jatuh itu pertanda apa?” tanya Chen Yu mendadak.


Tentu saja ia tahu, siapapun tahu tentang mitos itu, bahwa...


'Ada seseorang yang sedang merindukan kita'.


Namun, Lin Yue sudah terlanjur menggelengkan kepalanya secara otomatis, “Itu artinya kau sedang bersama dengan cinta sejatimu.“


Perkataannya kali ini benar-benar membuat Lin Yue mati kutu, ia dapat merasakan panas di kedua pipinya, dan ia yakin telinganya pasti sudah merah.


Ia dengan segera menarik napas dan berusaha menenangkan dirinya, “Benarkah? Aku tidak percaya mitos hahaha. Kalau begitu, aku akan pergi ke kelasku sekarang, sampai jumpa.”


Lin Yue segera melarikan diri sebelum pria di hadapannya itu sadar.


“Gila! Apa dia sedang merayuku tadi? Jantungku benar-benar tidak mau mendengarkan kataku,” gumamnya.


Lin Yue mengintip ke arah belakang dari balik tembok putih tempatnya bersandar saat ini, Chen Yu sudah tidak terlihat disana.


Lin Yue pun segera masuk ke kelasnya, ia mengambil tempat duduk di baris ketiga di sebelah kanan ujung.


Tempat itu tidak terlalu dipantau oleh dosen dan tidak banyak orang yang mau duduk disana.


Ditambah lagi, Lin Yue dapat melihat dengan jelas tampilan proyektor di depan, sungguh tempat yang sangat strategis.


Ia pun meletakkan tas dan mengeluarkan buku beserta pena-nya, lalu meneguk air dalam botolnya.


Namun, pria yang tadi mendadak muncul dari balik pintu kelasnya.


“Apa dia juga masuk di kelas ini?” gumamnya untuk kesekian kalinya.


Lin Yue berusaha menundukkan kepalanya, seperti kura-kura yang ingin menyembunyikan kepalanya dalam tempurung.



"Ah!" seru Chen Yu saat menemukan orang yang sedang ia cari.


Ia segera berlari ke sana, dan duduk di sampingnya.


Lin Yue tidak bisa menghindar lagi.


"Halo, ketemu lagi," sapa Chen Yu sambil mendorong lengan Lin Yue dengan ujung jari telunjuknya.


"Ooh! Tuan muda Chen, kau juga di kelas Mr. Gu?" tanya Lin Yue sembari mencairkan suasana.


"Panggil aku, Chen Yu saja."


"OK, Chen Yu."


"Kita kan sudah dekat," imbuh Chen Yu yang membuat Lin Yue terdiam seketika.


Deg... deg... deg....


...****************...


...****************...