Twinkle, Twinkle, You'Re My Star!

Twinkle, Twinkle, You'Re My Star!
Ch 01 - Prolog + Pengenalan Lin Yue.



PROLOG




...__________________________________________...


...Halo mi amor♡...


...Salam sehat & sukses selalu,...


...Terima kasih buat para reader yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca novel karya kedua aku....


...Mohon maaf jika masih banyak kekurangan, seperti plot hole, typo, melanggar EYD, dsbnya. Feedback-nya sangat ditunggu ya~ agar author bisa mengoreksi diri hehe...


...Jangan lupa support author ya~dengan cara like, rate, favorit, dan tinggalkan jejak di kolom komentar....


^^^Author tercinta,^^^


^^^YQ^^^


..._______________________________________...


Simetriskan posisi duduk atau sambil rebahan, dan juga persiapkan teh dan cemilannya ya~


WARNING!


Cerita ini hanya fiktif belaka/murni khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian/cerita, itu adalah kebetulan semata & tidak ada unsur kesengajaan.


...♡Jangan lupa like, rate, favorit-kan, dan feedback-nya ya, thankyou♡...


...Selamat membaca!...


...******...


...****...


...**...


15-06-2016


Musim panas


Lin Yue adalah seorang mahasiswi jurusan perfilman tahun pertama di salah satu kampus elite di kota Beijing, China bernama International Music & Theatre University.



Lin Yue sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak SMA, namun ia tidak pernah mengeluh dalam hidupnya.


Ia tinggal bersama ibunya yang sakit-sakitan dan ayahnya yang hanya bekerja serabutan. Uang yang diberikan ayahnya hanya cukup untuk membayar uang sekolah adiknya yang masih duduk di bangku SMP.


Suatu hari, ibunya didiagnosis menderita kanker rahim dan mengharuskannya untuk menjalani operasi besar secepatnya.


Lin Yue yang selama ini mengandalkan bantuan dari pamannya yang tinggal di luar negeri merasa malu untuk meminta uang lebih.


Walaupun ia berjanji akan membayarnya dengan cara dicicil, namun tetap saja itu bukan biaya yang kecil.


Pada saat bersamaan, ia juga membutuhkan uang untuk membayar kuliahnya.


Biaya administrasi, pembangunan, pembuatan jas almamater, acara pembukaan tahun ajaran baru, uang ospek, dan sumbangan wajib bagi para calon mahasiswa/i.


Sebelumnya, Lin Yue sudah memiliki tabungan sendiri sebagai persiapan kuliah.


Namun, setengahnya sudah digunakan sebagai uang muka untuk operasi ibunya.


Belum lagi untuk membayar biaya rawat inap.


Lin Yue merasa semakin terancam untuk melanjutkan studinya, pasalnya rata-rata biaya kuliah untuk universitas yang menyediakan jurusan akting memang mahal.


Hampir setara dengan kuliah kedokteran atau bahkan bisa lebih, belum lagi biaya praktik, studi banding, dan sebagainya.


Lin Yue pernah mendaftar beasiswa dan ia terpilih, namun ia tidak cukup hati untuk meninggalkan ibunya yang sedang sakit-sakitan.


Lagipula, jika ia belajar ke luar negeri....


...*Siapa yang akan mencari nafkah untuk biaya sehari-hari*?...


Walaupun begitu, Lin Yue tidak ingin mengurungkan bakatnya untuk menjadi seorang aktris.


Ia sudah tertarik dalam dunia akting sejak kecil, bahkan ia pernah menjuarai beberapa kompetisi yang diselenggarakan oleh sekolah.


Selain itu, Lin Yue juga memiliki wajah yang cukup cantik, kulit putih bersih dan badan yang proporsional.


Kesimpulannya, ia hanya tidak memiliki nasib sebaik penampilannya.


Saat merasa putus asa, Lin Yue akan memilih berjalan kaki menikmati angin malam yang dingin menerpa kulitnya.


Ia berhenti di sebuah jembatan layang dekat kampusnya, dan melihat ke bawah.


"Sungai ini gelap dan menakutkan... aku tidak berani lompat," gumamnya.


Ia memejamkan mata, mengambil napas sedalam-dalamnya, hingga rongga dadanya tidak mampu menampung udara lebih lagi.


Ia baru rela menghembuskan napasnya, lalu ia membalikkan badannya untuk mengamati kendaraan di jalanan.


Beruntungnya, seorang pengendara sepeda motor melihatnya dan segera berlari untuk menyelamatkannya sebelum peristiwa naas itu sempat terjadi.


Pemuda yang masih memakai helm itu memeluknya erat-erat, mereka berdua terhempas ke samping.


"Akh!" pekik Lin Yue merasakan sakit pada pergelangan kakinya.


Lalu, pemuda itu melepaskan helmnya dan menegur Lin Yue di trotoar jalan raya itu, "Kau ingin cari mati ha?!"


Supir truk itu datang dan ikut memarahinya, "Apa yang dipikirkan anak muda zaman sekarang? Selalu melakukan atraksi berbahaya, apa kau ingin viral?" bentak pria setengah baya itu.


Lalu, supir itu kembali ke dalam truknya setelah Lin Yue meminta maaf.


Pemuda tadi segera membopongnya, dan melihat pergelangan kakinya sudah membengkak dan sedikit luka tergores.


Ia pun mencari tempat duduk dan mengeluarkan sebuah tas berisi perlengkapan medis.


Lin Yue sedari tadi tidak berani melihat wajah pemuda itu atau mengucapkan sepatah katapun.


Merasa nona muda yang berada di hadapannya bergetar, ia pun mendongakkan kepalanya dan mendapati Lin Yue sedang menangis.


"Apa ini sangat menyakitkan?" ujar pemuda itu sambil membersihkan lukanya dengan kapas yang telah diberi alkohol.


"Sangat sakit," rintih Lin Yue yang masih menangis tersedu-sedu.


Pemuda itu tahu bahwa Lin Yue bukan menangisi lukanya, tetapi menjadi terus terang hanya akan mempercanggung suasana di antara mereka.


"Tahan sebentar," ujarnya dengan suara lembut, ia terlihat seperti seorang dokter yang sudah terbiasa menangani pasien yang cengeng.


Setelah selesai membersihkan lukanya, ia pun mengoleskan obat salep.


"Tulangmu tidak patah ataupun bergeser, hanya luka luar saja. Pakaikan obat salep ini selama tiga hari berturut-turut, dan kau akan sembuh sepenuhnya," jelasnya.


"Kau bisa berdiri?" ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Terima kasih," ucap Lin Yue tanpa menerima uluran tangannya dan memaksa dirinya untuk melarikan diri.


"Nona, kau bisa berjalan sendiri?" seru pemuda itu.


Lalu, ia melihat ada sebuah tempat pemberhentian bus di depan, sehingga ia pun menangkap maksud Lin Yue dan pergi mengendarai sepeda motornya.


...****************...


...****************...


Lin Yue masih merasa kesakitan pada pergelangan kakinya namun rasa ingin memaki dirinya sendiri lebih besar.


Ia pun memasuki bus yang baru saja datang, dan mengambil tempat duduk dekat jendela yang masih kosong.


Lin Yue menyandarkan kepalanya pada kaca jendela itu sambil memperhatikan jalanan kota yang masih ramai walau sudah lewat jam 11 malam.


Tak berselang lama, ia pun sampai pada perumahan kumuh, ia menelusuri sebuah gang gelap dan berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar warna biru.



Ia mengeluarkan kunci dari tas selempangnya, dan membuka gembok rumah itu, "Ibu, aku pulang."


Seorang wanita paruh baya berpakaian batik dan syal yang menutupi lehernya berjalan keluar dengan tergesa-gesa sambil mengomel.


"Lin Yue, apa yang kau lakukan di luar sana sampai pulang jam segini? Bahkan telepon pun tidak angkat."


Kebetulan, Lin Yue sedang memakai celana selutut sehingga memperlihatkan pergelangan kakinya yang membengkak.


"Aiyo lihatlah, apa yang terjadi? Kau terjatuh?" ujar ibunya tanpa jeda.


"Siapa yang terjatuh?" teriak ayahnya yang berlari keluar, ia telah menguping sedari tadi sambil nonton bola.


"Tadi aku tidak sengaja tersandung batu, tetapi sudah diobati temanku, ini akan baik-baik saja, haha," ucap Lin Yue sambil ketawa dibuat-buat.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah kumuh itu, dan Lin Yue masuk ke kamar kecilnya setelah selesai mandi air dingin.


Ia sedikit menggigil, lalu segera berbaring di atas tempat tidurnya sambil menyingkap selimut, menutupi dari ujung kakinya hingga leher.


"Lin Yue, kau bodoh!" gumamnya setengah berbisik.


Sebenarnya, sebelum perjalanan pulang, Lin Yue melihat sebuah brosur yang ditempel pada mading kampus.


Ada orang kaya sedang mencari pendonor mata untuk anaknya yang buta dan siap membayar berapapun yang diminta.


Namun, syarat selanjutnya adalah pendonor tersebut harus menyertakan surat bersedia sebelum meninggal dunia.


Lin Yue tidak dapat menghapus kabar itu dari benaknya, dan ia menjadi semakin serius memikirkannya.


Untunglah, ia sudah sadar dan mengutuk dirinya sendiri.


Bagaimana mungkin ia berpikir untuk pergi dan membiarkan keluarganya berjuang sendirian?


Lin Yue pun beranjak dari tempat tidur, dan mengoyak kertas yang telah ia persiapkan dalam tasnya itu.


...****************...