
Simetriskan posisi duduk atau sambil rebahan, dan juga persiapkan teh dan cemilannya ya~
WARNING!
Cerita ini hanya fiktif belaka/murni khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian/cerita, itu adalah kebetulan semata & tidak ada unsur kesengajaan.
...♡Jangan lupa like, rate, favorit-kan, dan feedback-nya ya, thankyou♡...
...Selamat membaca!...
...******...
...****...
...**...
Senin, 18-06-2016
Musim panas
Yi Shan baru saja sampai di depan gedung Chang-An Hospital, ia keluar dari mobil Mercedez Benz hitam yang pintunya dibukakan oleh supir pribadinya. Kaki kiri yang memakai sepatu kulit hitam Air Force keluaran Nike melangkah keluar dengan mantap.
Yi Shan memiliki sorot mata puppy yang tajam dengan garis rahang terukir jelas, dan tinggi badan 188 cm, sungguh ideal. Semua orang tidak dapat berhenti memandangnya, banyak wanita yang mendambakan ketampanannya yang tidak berakhlak itu. Bahkan, para pria sudah mengaku kalah darinya secara sukarela.
Sedangkan, putra sulung Tang Ma memiliki badan yang sedikit gembrot dan pendek, ditambah lagi dengan sifatnya yang buruk. Semua pegawai tidak pernah menyukainya, bahkan Tang Ma pernah berterus terang padanya, "Jika hari ini diadakan rapat penentu ahli waris perusahaan, ayah ragu kau bisa menang dari Yi Shan.”
Yi Shan berjalan memasuki aula rumah sakit dengan barisan pegawai yang menyambutnya di sisi kiri dan kanan sambil membungkuk hormat. Bola matanya bersinar dan bibirnya tersenyum ramah, ia bahkan membalas hormat mereka dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Tuan Yi Shan benar-benar laki-laki pujaan hati," gumam seorang pegawai wanita bagian administrasi.
Yi Shan langsung menuju ruang praktik atas namanya dan mengenakan seragam putih dokter yang semakin memancarkan aura ketampanannya.
Ia pun mengambil gagang telepon yang tersedia di atas meja dan mulai menelepon seseorang, "Nona Qiao, tolong persilahkan pasien pertama masuk."
...****************...
Lin Yue keluar dari kelas dengan wajah masam, kedua bahunya turun, dan ia berjalan dengan lesu.
"Lin Yue, aku pulang dulu. Semangat!" seru Jingyi bersama teman barunya. Lin Yue melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
Lalu, ia melihat jam tangannya dan berlari dengan tergesa-gesa menaiki bus umum yang mengarah ke rumahnya. Semua tempat duduk sudah penuh sehingga Lin Yue berdiri dan berpegangan pada handel bus itu. Setelah dua puluh menit berlalu, ia pun sampai di depan sebuah gedung hotel pencakar langit.
Lin Yue masuk ke dalam, dan segera menemui resepsionis, “Huanying, xiaojie wuan. Wo neng wei nin xiaolao ma?"
^^^(Artinya\=selamat datang dan selamat siang mbak, ada yang bisa saya bantu?)^^^
"Aku ingin mencari Mr. Lele, aku adalah pekerja paruh waktu yang diminta masuk hari ini," jawab Lin Yue dengan lancar.
"Baik, tunggu sebentar," resepsionis itu pun segera menyambungkan teleponnya dengan bagian personalia dan tak berselang lama, Lin Yue pun diminta naik ke lantai 27 dan diberikan kartu pegawai sementara.
Lin Yue menggantung kartu itu di lehernya, dan segera menuju lift. Sesampainya di lantai 27, ia terkejut bukan main saat melihat pemandangan restoran bintang 9 yang sangat indah.
Tak lama kemudian, seorang pria datang menghampirinya, "Nona Lin Yue?" tanyanya.
"Benar, saya Lin Yue, dan anda adalah...," jawab Lin Yue.
"Aku adalah Mr. Lele, manager Open World Hotel. Selamat bergabung dan semoga kau betah disini. Kamu harus memakai seragam pakaian ini, dan bros ini sebagai lambang hotel kita," ujar Mr. Lele.
Ia memperlihatkan sebuah bros berbentuk bunga yang terbuat dari batu safir biru. Lin Yue langsung memperingatkan dirinya sendiri dalam batin, "Jangan sampai hilang."
Alasan Lin Yue ingin bekerja disini, tentunya karena gaji di atas UMR, juga mendapat uang lembur dan bonus jika bersedia bekerja di akhir pekan.
Lin Yue pun mulai mengantarkan setiap pesanan ke nomor meja yang tepat, tidak lupa memasang senyuman di wajahnya. Kesibukan membuat waktu berjalan dengan cepat, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan Lin Yue masih belum makan malam.
Lin Yue mulai bekerja dari jam 3 sore setelah kelas selesai hingga jam 9 malam.
"Mr. Lele, aku pamit, terima kasih atas bimbingannya hari ini," ungkap Lin Yue sambil membungkuk hormat. Ia pun berjalan keluar dari hotel setelah berganti pakaian kembali, lalu duduk di sebuah bangku panjang yang berada di tempat pemberhentian bus.
Ia merasakan bahu dan kakinya sangat pegal, sehingga ia tidak tahan untuk tidak memijatnya sebentar, merilekskan punggungnya dengan bersandar pada dinding kaca.
Ia melihat ke atas, dan mendapati sebuah bintang yang masih bersinar dengan terang dan indah.
Tak berselang lama, Lin Yue pun menaiki bus umum menuju Anhuaqiao station sambil menyandarkan kepalanya pada kaca jendela lagi, ini sudah menjadi kebiasaannya.
Ia memejamkan matanya dan tidak sengaja membenturkan kepalanya saat bus rem mendadak, "Gawat, aku hampir saja tertidur. Dua puluh menit lagi, aku bisa rebahan dengan bebas," gumamnya.
"Dua puluh menit lagi...," Lin Yue menyerah dan tidak sanggup membuka matanya lagi.
"Nona, nona, bangun," ujar supir bus itu.
"Kau mau turun dimana?" tanyanya lagi.
Lin Yue terperanjat dari tempat duduknya, dan segera mengelap air liurnya, "Aku... aku turun di Anhuaqiao station, apakah sudah sampai?"
“Ini sudah sampai di Caishikou station, kau sudah tertidur lebih dari sejam," lanjutnya.
"Cai..caishikou?" ucap Lin Yue sekali lagi untuk memastikan.
Lin Yue pun turun dari bus setelah berterima kasih dan mengambil rute balik, "Sial!" sambil memegangi perutnya yang keroncongan.
"Ha sial! Sial! Sial!" gerutu Lin Yue sambil menendang kaleng bir yang berada di tengah jalan.
Seorang pengemis yang sedang memungut sampah mulai menegurnya, "Dasar anak muda yang tidak tahu diri! Bahkan, seorang kakek tua pemungut sampah sepertiku merasa beruntung!"
Lin Yue benar-benar kesal dan secara tidak sengaja meneriakinya kembali, "Kakek tua, kau urus saja sampahmu, tidak perlu mengurus hidupku!"
***
Lin Yue akhirnya sampai di rumah kumuhnya setelah dua jam berlalu, ia berjalan memasuki rumahnya dengan lesu.
"Aku pulang," sapanya.
"Lin Yue, bagaimana anak gadis sepertimu bisa pulang larut malam setiap hari?" ngomel ibunya dengan dahi berkerut.
"Lihat saja, bahkan Lin Yi lebih displin dari kakaknya," lanjut ibunya.
"Kau harus menjadi contoh yang baik untuk adikmu," lanjut ayahnya yang tiba-tiba menjulurkan kepalanya dari balik pintu.
"Jika Lin Yi melihatmu pulang larut malam setiap hari, entah apa jadinya nanti," timpal ibunya.
Lin Yue hanya menundukkan kepalanya dan menjawab dengan seadanya, "Baik, baik, aku akan masuk."
Lin Yue mengulang lagi kesehariannya, mandi air dingin, berganti pakaian, lalu berbaring di atas tempat tidur, masih dengan perut yang lapar. Ia memikirkan arti dari mimpinya semalam, 'Bukankah mimpi kotoran berarti akan dapat uang?'
"Sepertinya, mimpi kotoran artinya akan sial berturut-turut," ujar Lin Yue membatin, lalu ia mengacak-acak rambutnya dan memutuskan untuk tidur.
...****************...
...****************...