These Two Vampires Love Me

These Two Vampires Love Me
Melamar Pekerjaan



Keesokan harinya, Lena sudah bangun duluan dan juga dia sudah mandi duluan. Saat dia selesai mandi, Lena melihat ku masih tidur terlelap dan sangat nyenyak.


"Ya ampun gadis ini, katanya mau pergi melamar pekerjaan tapi dia malah tertidur pula. Hei Cecila bangun!"


Lena terus berusaha membangunkan ku dengan menggoyangkan seluruh badan ku. Sampai pada akhirnya Lena kehilangan kesabaran.


Dia membangunkan ku dengan berteriak di telinga ku.


"BANGUN CECILA!!!"


Sontak aku langsung kaget dan langsung terjatuh dari atas ranjang.


"Kenapa kau berteriak di telinga ku? Itu membuat telinga ku sakit Lena"


"Kau lupa kalau aku akan menemani mu ke sana?"


"Kemana?"


"Ya ampun...kau sangat nyenyak tidur sampai kau lupa kalau aku akan menemani mu melamar pekerjaan di perusahaan Vanmon? Apa kau ingat!?"


"Oh itu... APA!!!???"


"Mereka tidak suka terlalu menunggu lama, jarak antara asrama kita dengan perusahaannya itu sangat jauh! Jika kita terlambat maka kau tidak akan di terima lagi!"


"Baik-baik, aku akan segera bersiap-siap"


"Cepatlah!"


...----------------...


Beberapa menit kemudian, aku sudah selesai bersiap-siap untuk segera ke perusahaan tersebut. Kami keluar dari asrama sambil menunggu taxi lewat.


Sekian lamanya kami menunggu, akhirnya kami pun mendapatkan taxi tersebut. Di sepanjang perjalanan Lena memarahiku karena aku bangun terlambat.


Sesampainya di depan perusahaan tersebut, Kami berdua turun dan segera masuk ke perusahaan tersebut. Saat aku memasuki perusahaan itu, aku langsung terpesona.


Aku terpesona melihat dekorasi perusahaan tersebut, betapa megah nya dan sangat berkelas. Aku sampai tidak fokus tujuan kami datang ke perusahaan ini.


Lena mendatangi ku dan memberikan surat lamaran pekerjaan, aku melihat banyak karyawan baru yang ingin bekerja di perusahaan ini.


Mereka sedang di wawancarai, aku menunggu untuk giliran ku di wawancarai nantinya. Karena aku menunggu sangat bosan, aku menyuruh Lena ke kantin.


Kami berdua sarapan terlebih dahulu sebelum bersiap untuk di wawancarai.


"Cecila"


"Iya?"


"Apakah kau gugup?"


"Aku sangat gugup sekali, ini pertama kalinya aku bekerja di sebuah perusahaan"


"Apakah kau pernah bekerja sebelumnya?"


"Aku pernah bekerja sebelumnya, tapi aku bekerja di rumah orang lain sebagai pelayan"


"Cecila ingat satu ini, kau tidak perlu gugup, saat kau di wawancarai nanti lihat ke depan dah bayangkan saja wajah yang akan mewawancarai mu nanti menjadi wajahku. Aku yakin kau tidak akan merasa gugup lagi"


"Lena apakah aku boleh bertanya sesuatu?"


"Boleh katakan saja"


"Saat aku selesai di wawancarai dan aku di terima bekerja di sini, apakah kau akan pergi kembali ke keluarga mu lena?"


"Tentu saja aku harus kembali ke keluarga ku lagi Cecila, tugas ku hanya untuk menemani mu mencari pekerjaan saja"


"Aku tidak mau berpisah dengan mu Lena, aku sangat takut"


"Mengapa kau sangat takut?"


"Aku takut jika aku akan dibully sama seperti saat aku sekolah"


"Itulah mengapa kau sangat mudah dibully oleh orang lain"


"Mengapa?"


"Karena kau itu sangat lemah, andaikan saja kau pemberani seperti diriku"


"Aku ingin saja, tapi..."


Tiba-tiba aku mendengar suara no urutan wawancara ku, dan dia memanggil no ku untuk segera masuk ke ruang wawancara. Aku dan Lena langsung segera ke sana.


Sesampainya kami di depan pintu ruang wawancara.


"Apakah kau nona Cecila?"


"Ya, saya adalah nona Cecila"


Aku merasa sangat gugup untuk di wawancarai, namun Lena menepuk pundak ku.


"Jangan gugup Cecila, ingat apa yang barusan aku katakan kepadamu"


"Baiklah"


Aku mengambil nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya pelan-pelan, aku sudah merasa tidak gugup lagi dan aku langsung masuk ke dalam ruangannya.


...----------------...


Setelah sekian lama aku diwawancarai di dalam ruangan itu, akhirnya aku keluar dan aku melihat Lena duduk dan terus menunggu ku di sana.


Aku ingin mendatangi Lena di sana, namun aku melihat wajah Lena yang tadinya ceria sekarang berubah menjadi penuh amarah. Aku mendekatinya dan menepuk pundaknya.


"Lena"


"Ce...Cecila, kau di sini? Bagaimana dengan wawancara nya? Apakah lancar?"


"Setelah kau mengatakan itu, akhirnya wawancaranya lancar. Terima kasih ya sudah mendukung ku"


"Ah itu bukan masalah besar"


"Oh ya kau kenapa Lena? Mengapa aku melihat wajahnya dengan penuh kemarahan?"


"Tidak, tidak ada apa-apa"


"Kau yakin kau baik-baik saja?"


"Ya aku baik-baik saja"


"Tapi..."


"Sudahlah tidak perlu memikirkan itu, mari kita kembali ke asrama sekalian kau harus membantu ku membereskan barang-barang ku"


"Apakah kau akan pergi?"


"Tentu saja aku harus pergi, kan tugas ku menemani mu sudah selesai, dan ini waktunya aku pergi"


"Oh baiklah. Aduh!"


Aku menabrak seseorang di depan ku, aku berdiri sambil meminta maaf kepadanya.


"Maafkan aku, aku tidak melihat jalan dengan baik-baik"


"Tidak apa-apa"


Aku sontak terkaget melihat yang aku tidak sengaja menabrak badannya adalah seorang pria. Melihat pria tampan di depanku dan juga badannya yang berotot.


Sontak membuat ku menjadi malu dan langsung bergegas pergi, tapi pria itu menarik tangan ku dan mendekatkan diriku dengan dirinya dengan jarak yang dekat.


"Le...lepaskan aku tuan, apa yang...mau kau lakukan?"


"Aku tidak pernah melihat mu di perusahaan ini, apakah kau adalah karyawan baru diterima di sini atau karyawan yang masih di wawancarai?"


"Aku adalah karyawan yang masih di wawancarai tuan"


"Benarkah? Siapa namamu nona manis?"


Dia bertanya kepada sambil wajahnya ingin mendekati wajah ku, itu membuat wajah ku memerah dan langsung berpaling darinya. Aku berharap seseorang menolong ku.


Tiba-tiba aku mendengar suara teriak Lena dari jauh, dia melihat ku di peluk erat oleh pria itu dan dia langsung mendatangi ku untuk menyelamatkan ku dari pria itu.


Dia melepaskan tangan pria itu dengan sangat kuat dan dia langsung menarik ku pergi dari tempat itu.


"Mari Cecila, kita tinggal kan tempat ini dan juga pria aneh itu"


"Baiklah"


Aku pergi sambil tangan ku di genggam erat oleh Lena, aku menoleh ke belakang ingin melihat pria itu. Pria itu tersenyum sinis kepada ku dan membuat ku menjadi takut.


Aku takut melihat wajah sinis nya itu dan langsung melihat ke arah depan.


"Bos, apa yang kau lakukan di sini? Rapatnya akan segera di mulai"


"Cari tau identitas Cecila itu"


"Cecila, maksud mu gadis yang baru saja di wawancarai itu?"


"Iya, cari tau latar belakang nya, mengerti?"


"Mengerti bos"


"Cecila, nama yang sangat bagus. Kita akan bertemu lagi Cecila, kali ini aku tidak akan melepaskan mu lagi Cecila"


Bersambung