
Halo semuanya, perkenalkan namaku adalah Cecila. Aku berumur 18 tahun, aku sekolah di universitas Royal School sekolah yang paling besar dan mewah di sana.
Aku tinggal tidak bersama kedua orang tuaku, namun aku tinggal di asrama sekolahku. Aku sekamar dengan sahabat terbaik ku yaitu Lena. Lena adalah putri dari keluarga kaya.
Walaupun Lena adalah putri dari keluarga yang kaya raya, namun Lena tidak seperti yang lainnya memiliki sifat sombong dan angkuh.
Lena memiliki sifat yang sangat baik, mudah bergaul, dan orang nya selalu ceria. Itulah mengapa aku sangat menyukai berteman dengannya.
Namun, murid-murid yang ada di sekolah ku tidak menyukai aku karena berteman dengan Lena dan juga berbeda kelas. Mereka selalu memandang rendah diriku.
Kami memang selalu bersama, namun saat tiba di sekolah kelas kami berbeda. Lena ke kelas royal yaitu kelas A karena dia adalah putri orang yang kaya raya.
Sedangkan aku masuk ke kelas F karena aku adalah orang yang biasa dan tidak terlalu kaya seperti yang lainnya. Mereka selalu memandang rendah diriku.
Setiap kali aku bersama Lena, mereka langsung membicarakan dan langsung membuat mereka untuk mengingatkan status ku dengan status Lena.
Saat di kantin, kami berdua mengambil makanan yang sama dan juga duduk di meja makan yang sama. Tiba-tiba datang 3 wanita ke arahku sambil marah-marah kepadaku.
"Hei kau Cecila!"
"Ya ada apa?"
"Kau itu dan Lena tidak cocok kalian berdua itu selalu dekat!"
"Memangnya kenapa!? Apa urusannya dengan dirimu!?" jawab Lena dengan penuh emosi
Lena paling tidak suka ada orang yang mengganggu kami berdua terutama lagi menghina diriku.
"Lena apakah kau tidak sadar bahwa kau dan dia itu berbeda!"
"Memangnya mengapa kalau aku dan dia berbeda, aku berteman tidak memandang status seperti kalian ini!"
"Lena! Kau Selalu melindunginya dan juga selalu membelanya, apakah kau tidak berpikir bagaimana ujungnya jika kau selalu membelanya!?"
"Memang nya kenapa aku terus membelanya!?"
"Dia akan memanfaatkan kau Lena! Lebih baik kau jauhi wanita rendah ini daripada kau akan menyesalinya nanti!"
"Itu tidak ada urusannya dengan kalian berdua! Pergi dari sini! Jangan ganggu aku dan juga Cecila lagi!"
Lena menarik tangan ku dan mengajak ku ke tempat lain untuk kami makan bersama.
"Cecila! Akan ku ingatkan kau sekali lagi! Kau itu hanya lah orang rendah! Tidak berkelas seperti kami di sini!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, semau orang menertawakan ku dan itu membuat hatiku terasa sakit dan aku ingin saja berhenti di sekolah ini.
Melihat ku begitu sedih, Lena membawa ku ke taman yang sangat sepi agar aku bisa tenang sebentar.
"Cecila, apa yang mereka katakan tadi jangan kau pikirkan ya"
"Mereka semua sangat membenci ku Lena, mereka sangat membenci ku karena aku dekat dengan mu dan juga status kita berbeda"
"Sudah lah masalah itu jangan dipikirkan lagi, mari kita habiskan makanan kita. Nanti piringnya biar aku saja yang akan mengembalikannya"
"Mengapa mereka semua seperti itu kepada ku? Aku sangat ingin sekali seperti dirimu Lena"
"Aku tidak menginginkan teman yang hanya memandang status saja, aku hanya menginginkan pertemanan yang tulus seperti dirimu ini Cecila"
"Bagaimana jika suatu hari nanti ucapan mereka membuat jarak persahabatan kita menjadi jauh?"
"Itu tidak perlu kau pikirkan Cecila"
Lena mengambil ranting yang tajam dan menggoresi tangannya sendiri hingga berdarah.
"Apa yang kau lakukan Lena!?"
"Aku sengaja melukai tanganku hanya untuk membuktikan bahwa persahabatan ku padamu ini sangat tulus Cecila"
"Tapi kau tidak perlu melukai tangan mu Lena"
Aku mengatakan seperti itu sambil menangis tersedu-sedu karena Lena melukai tangannya sendiri.
"Sudahlah Cecila ini bukan apa-apa, sebentar lagi akan sembuh kok tenang saja"
Lena melihat ku dan menghapus kedua air mata ku sambil tersenyum kepadaku. Akhirnya aku tenang dan tersenyum kembali kepadanya.
...----------------...
Setelah selesai sekolah, kami pun kembali bersama lagi ke asrama. Disepanjang perjalanan menuju ke kamar asrama kami, semua orang bercerita tentang diriku.
Namun aku tidak memperdulikannya karena Lena selalu menyemangati diriku, aku selalu merasa nyaman di dekat Lena dan aku menganggap Lena sebagai saudari ku.
Setelah kami berdua selesai mandi, kami mau berbincang lagi.
"Sebentar lagi libur sekolah selama 10 bulan"
"Apa!? 10 bulan!? Mengapa tiba-tiba sangat lama!? Biasanya libur paling lama itu 1 bulan saja"
"Karena universitas ini mau direnovasi, itu sebabnya kita libur sangat lama"
"Oh begitu rupanya"
"Oh ya selama kita liburan kau akan melakukan apa nantinya?"
"Paling hanya menulis novel saja di kamar sini, aku tau kau tidak akan ada di asrama ini begitu juga dengan yang lainnya saat liburan. Jadi aku sendiri saja yang ada di sekolah ini"
"Apakah kau tidak keluar jalan-jalan begitu seperti...pergi ke kebun binatang, ke bioskop, atau kelana gitu?"
"Aku ingin pergi ke tempat seperti itu aku tidak memiliki uang Lena, bagaimana aku akan pergi sementara aku tidak memiliki uang"
"Tidak memiliki uang ya...kalau begitu...aku ada ide!"
"Apa?"
"Aku akan memberikan mu Black Card milikku, kau bisa menggunakannya kartu ini selama liburan"
"Tapi ini..."
"Tidak apa-apa, itu tanpa batas tenang saja"
"Bukan seperti itu"
"Jadi?"
"Aku tidak bisa memakai uang sahabat ku sendiri, aku ingin mandiri, aku ingin mempunyai uang sendiri, bahkan aku ingin bekerja agar aku bisa mendapatkan uang ku sendiri"
"Tidak apa-apa Cecila gunakan saja"
"Jika aku menggunakan kartu ini, bagiku ini sama saja mengkhianati persahabatan kita"
"Tapi aku hanya ingin membantumu merasakan liburan yang sangat menyenangkan dengan kartu ini"
"Ini kartu mu kan? Jika aku memakainya ini sama saja dengan mengkhianati persahabatan kita. Kau bilang ingin membantu ku kan? Mengapa kau tidak membantu ku mencari pekerjaan saja"
"Tapi...oh ya aku baru ingat!"
"Apa?"
"Kau ingin mencari pekerjaan bukan?"
"Iya"
"Kau bisa bekerja di perusahaan Vamon itu"
"Perusahaan Vamon? Bukankah itu perusahaan yang sangat terbesar no 1 di dunia itu ya?"
"Iya aku dengar mereka sedang mencari karyawan, kau bisa bekerja di sana, barang kali kau bisa di terima di sana dengan kecerdasan yang kau miliki itu"
"Kau benar juga ya Lena, terima kasih membantu ku mencari pekerjaan untukku"
"Sama-sama, sudah tidurlah, besok aku akan menemanimu ke sana"
"Baiklah Lena"
Bersambung