
Days changed......
a luxury car is now streaking carrying three human children in it to a densely populated settlement on the outskirts of the city cool air.Jordan now acts as a driver.Generating the boss and his best friend and his beloved wife heading to the house of Umi Atikah and Bu Lastri to say goodbye before leaving for the city of J.
Throughout the journey,jordan's eyes were relentlessly glancing at the back of his car through the rearview mirror that was in the car.Zev and Nabila had continued to stick as if they did not want to escape.Zev even with no idea of the embarrassment occasionally mendusel in nabila once in a while crumbled, not like Zev who was so cute and even seemed to think Jordan did not exist, Nabila still had enough shame to spread his affection in front of Jordan.
"wolf there a little ah...malu.." said Nabila but Zev did not seem to care.
"swear..disgust bet I see the behavior of lo Zev.pen I throw out tau lo....!nga*eng don't know where you are.... !!" jordan was upset.
"he was me. He liked me. He liked me.." said Zev.
"no, it's also an American camel....!aahhh...alah..keel ama lo...giliran again get along with the world already belongs to both...kalau fightem..udah ke kek suicides lo both...!" said Jordan..
"the lyrics lo...!" said Zev did not care, he re-clutched the body of the wife tightly with affection.
Jordan just shook his head to see the behavior of his best friend who was increasingly acute.
About ten minutes drive the luxury vehicle arrived in front of a two-story house Umi Atikah residence.It is still very early in the morning, and also today is Sunday, it is also,making all the members of the old Hanif family seem to be at home.
Zev and Nabila got out of the car, did not forget.Daughter Adrian Tama tidied her hair covered the trail of wolf lips that imprint on the entire side of the sweet woman's neck.
The three sons of man stepped towards the main door.
tok.....
the door was knocked by Zev's burly hand.
there is no lawfulness
tok.....
knocked again....
ceklekk.....
door open.
The girl in the syar'i hijab in a cute and sweet manner with pure white skin appeared from behind the door....
"Hanum.." said Zev.
Hanum stared flatly at Zev and turned to Nabila.
"sister Zev..kak Nabil..." said Hanum.Gadis then turned to look at a man with a figure beside Nabila.Templenya cute with jeans and black singlet shirt outer white bone shirt.Hanum reflexes lowered his gaze when Jordan was originally staring at a collection of birds the property of the Hanif who was hanging on one side of the terrace suddenly turned towards him.
"umi is the same abi?" ask Zev.
"there is a brother.." said Hanum lowered his head.
"can you please call me?" ask Zev.
Hanum was silent for a moment.Zev knew.This girl and her brother did not really welcome him.Both seem to have not been able to accept Zev as part of his family.
"Hanum.." said Zev again softly.
"i just want a part.I'm the same Nabila want to return to the city of J" said Zev.
Hanum...
"please go in, brother." said Hanum.
Hanum pulled over with his hands held on to the door handle and his face kept his head down, allowing Zev Nabila and Jordan to enter his house.
The three guests entered the house.
"nduk mulu.ntar nabrak loh." said Jordan quietly as he passed in front of Hanum.
The young girl who had begun to step on the eighteen-year-old did not respond.
"please sit down....Hanum call abi the same umi first." said Hanum.
Zev and the others just nodded.The third then sat on one of the long sofas there, while Hanum rushed to the kitchen to call umi and her ashes.
Jordan nudged Zev's arm sitting next to him with his elbow.Zev turned his head, Jordan raised his chin as if asking 'who was the girl?"
"Hanum...adeknya Bryan..yang pernah gue ceritain..." ucap zev.
Jordan hanya mengangguk...
oohhh.....batinnya.
Tak butuh waktu lama,umi dan ustad Hanif datang dari dapur.
Zev Jordan dan Nabila pun bangkit,mereka meraih punggung tangan sepasang suami istri itu secara bergantian dan menciumnya sebagai tanda hormat.
"ini...?" tanya umi pada Zev sambil menunjuk sopan ke arah Jordan,seolah minta diperkenalkan pada pemuda yang penampilannya sebelas dua belas dengan Zev itu.
"saya Jordan umi...temannya Zev" ucap Jordan..
"ooalaaah...maaf nak...umi ndak tau" ucap Umi Atikah.
Jordan hanya tersenyum.
Umi dan Ustad Hanif duduk di salah satu sofa panjang berdampingan,disusul Zev,Nabila dan Jordan di sofa panjang satunya.....
"kok tumben...pagi pagi udah sampai sini?nggak bilang bilang dulu...kalau tau mau kesini kan ibuk bisa masak banyak...biar sekalian bisa sarapan bareng" ucap Umi Atikah.
Zev tersenyum...
"nggak usah buk...kita kesini cuma mau pamitan" ucap Zev.
"pamitan?"
"iya buk..." jawab Zev.
Hanum datang dengan sebuah nampan berisi tiga cangkir teh.Gadis berwajah imut itu kemudian meletakkan cangkir cangkir itu di depan Zev Nabila dan Jordan.
"silahkan kak..." ucap Hanum.
"oke" jawab Jordan cuek dan singkat tanpa menoleh ke arah Hanum, namun jawaban dari mulut Jordan itu terdengar tidak sopan ditelinga Hanum.Zev menyenggol lengan Jordan dengan sikunya.Seolah ingin mengatakan,jaga sopan santun..ingat ini rumah Ustad...!
Jordan hanya mengulum senyum seolah tak terjadi apa apa.
Hanum mundur,ia memilih kembali ke dalam dapur daripada harus berlama lama satu ruangan dengan Zev dan kawanannya ini.
Kembali ke perbincangan keluarga....
"jadi kalian akan tinggal di kota itu?" tanya ustad Hanif.
"iya pak...kami akan tinggal di sana,mungkin sampai Nabila lulus kuliah..." ucap Zev.
"sayang sekali...padahal ibuk pengennya kamu masih disini nak....adikmu berniat men taaruf seorang gadis...siapa tau jodoh dan bisa segera menikah,ibuk ingin kamu juga hadir sebagai saksi pernikahan adikmu.." ucap Umi.
"Bryan mau nikah buk?" tanya Zev.
"masih ingin taaruf....ya...semoga lancar dan berjodoh..." ucap Zev.
Zev dan Nabil hanya manggut manggut,sedangkan Jordan...ia hanya diam.Ilmunya belum sampai ke situ.Apa itu ta'aruf ia pun tak tau...dalam fikirannya mungkin itu sejenis pendekatan.Ia jadi penasaran...siapa wanita yang di gadang gadang akan jadi calon istri untuk Bryan itu.
"kalau boleh tau buk...siapa calonnya?" tanya Zev.
"itu...temennya Nabila..yang kemarin juga datang ke pernikahan kalian....Rubi..." ucap Umi Atikah.
deegghhh....
Nabila dan Zev diam...keduanya saling pandang.Sorot mata keduanya saling bertemu soolah saling berbicara namun bibir mereka tak berucap.
Rubi..??
Zev dan Nabila perlahan menoleh ke arah Jordan.Mereka tau Jordan pernah memiliki rasa yang istimewa untuk Rubi,meskipun setelah insiden Jordan yang melihat Bryan di rumah Rubi beberapa waktu lalu,laki laki itu tak pernah lagi menyebut nama Rubi...namun entahlah..apakah Jordan masih mengidolakan Rubi...atau tidak..tak ada yang tau.
Zev dan Nabila mengamati Jordan.Laki laki itu hanya diam dengan raut wajah tak terbaca,atau lebih tepatnya terlihat cuek sambil menunduk memainkan ponselnya.Seolah ia tak merespon apa yang umi Atikah katakan barusan.Tidak merespon..atau tidak mendengar?entahlah....
"diminum dulu tehnya....sekalian sarapan aja ya...yuk..." ucap Umi.
"nggak usah umi...kita belum lapar....ini juga kita mau langsung ke rumah nenek...ntar keburu siang" ucap Nabila sopan.
"emang penerbangannya jam berapa?"
"jam sepuluh umi" ucap Nabila.
Umi Atikah hanya mengangguk.Merekapun larut dalam obrolan santai mereka sebelum akhirnya Zev berpamitan menuju ke rumah bu Lastri.
...----------------...
***Selamat pagi menjelang siang....
up 10:32
yukk...mana dukungannya...
klik like komen vote dan hadiahny....🥰🥰🥰***