
Ruang Khusus -
Mereka hanya bisa melihat tubuh Min Kyu yang terbaring lemas dari luar ruangan. Mereka dapat melihat karena sebagian pembatas antara mereka dan pasien terbuat dari kaca yang cukup tebal.
"Kakak," gumam Soo Hyun yang bingung.
"Ma, kakak masih tidur? Kenapa kakak tidur disini tidak di rumah saja?" Lanjut Soo Hyun.
Mama Jin Young memeluk erat Soo Hyun kecil, tentu saja ia tidak mengerti karena anak kecil pada umumnya belum mengerti dengan kondisi seperti ini. Walaupun Soo Hyun anak yang mudah paham akan sesuatu setelah sudah dijelaskan mengenai apa yang terjadi.
"Kenapa mama peluk Hyun? Kenapa mama menangis?" Tanya Soo Hyun bingung karena dengan tiba-tiba mama Young memeluknya dan menahan tangisnya, Soo Hyun sadar sebab tubuh mama Young yang cukup bergetar menahan tangis.
"Tidak, tidak apa-apa sayang."
.
.
.
Suara monitor yang tiba-tiba saja berbunyi dengan suara yang tidak beraturan membuat mama dana papa Young sangat cemas, pasalnya hal ini tidaklah wajar. Papa Young dengan sigap segera mencari dokter untuk segera memeriksa kondisi Min Kyu.
"Papa kenapa lari terburu-buru seperti itu ma?" Tanya Jin Young kecil yang bingung melihat papanya yang tiba-tiba saja berlari.
Kedua mata mama Young terus melihat dengan cemas kearah Min Kyu yang sedang terbaring lemas diatas hospital bed tersebut.
Dari kejauhan terlihat papa Young dengan seorang dokter dan disusul tiga suster berjalan cepat dan segera masuk keruangan Min Kyu.
.
.
.
Kini mereka hanya bisa melihat dari luar ruangan dan berharap jika Min Kyu baik-baik saja. Saat dokter itu mulai mendekatkan sebuah alat yang mampu mengangkat tubuh anak laki-laki berusia 10 tahun itu, Soo Hyun benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Benda yang dinamakan defibrilator tersebut membuat tubuh kakaknya terangkat dan situasi ini benar-benar sangat mencekam.
Mama Young yang sadar akan apa yang terjadi segera membalikkan tubuh Soo Hyun dan memeluknya, ia tidak ingin melihat gadis kecilnya trauma melihat hal itu. Ini benar-benar sangat mencemaskan, situasi berubah menjadi suram dan penuh kekhawatiran.
Hidup Min Kyu saat ini telah berada di antara hidup dan mati. Mereka hanya bisa berdoa akan kesempatan kedua untuk kehidupan Min Kyu.
Sudah beberapa menit berlalu, namun mesin monitor itu terus saja mengeluarkan bunyi panjang yang menandakan tidak adanya detak jantung dan denyut nadi pada pasien.
Suara monitor itu benar-benar menyeramkan, Mama dan Papa Young merasa frustasi mendengar suara yang dikeluarkan oleh alat itu.
"Keluarga Min Kyu?"
"Iya dokter, kami keluarganya," ucap papa Young yang berusaha menahan air matanya berharap mesin itu rusak.
"Maaf, kami tidak bisa.."
Belum sempat dokter tersebut menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja suara Monitor atau alat pendeteksi jantung tersebut kembali normal, dokter dan suster kembali untuk memeriksa kondisi Min Kyu dan ini sangat mengejutkan, kondisi pasien sekarang sudah kembali normal dan tidak dalam keadaan koma.
.
.
.
Setelah semua kembali normal, Min Kyu pun dipindah ruangkan ketempat perawatan biasa. Selang dan alat-alat lain yang sebelumnya memenuhi tubuh Min Kyu kini telah dilepaskan, hanya tersisa alat bantu pernapasan dan infus yang melekat di lengannya.
"Ini sangat mengejutkan, kondisi pasien sekarang sudah kembali normal dan tidak koma, saya sangat terkejut dengan keajaiban ini." Ucap seorang dokter setelah memeriksa kondisi Min Kyu.
Nafas lega semua orang akan kesehatan Min Kyu memberikan rasa bahagia, kecemasan yang mulai pudar setelah melihat kondisi Min Kyu membuat mereka cukup tenang untuk saat ini.
.
.
.
- Dua hari kemudian -
Kim Min Kyu telah sadarkan diri. setelah beberapa hari.
"A," gerang Min Kyu yang baru saja sadar ssambil memegangi kepalanya yang terasa sakit
"Kakak."
Semua hanya dapat diam dan senang dengan kondisi Min Kyu saat ini. Dokter kembali memeriksanya, dan kondisi Min Kyu sudah lebih baik, mungkin hanya sedikit pusing dan beberapa luka yang belum sembuh.
"Pasti sangat sakit ya," ucap Soo Hyun melihat luka yang dibalut perban pada kening Min Kyu.
"Tidak, sama sekali tidak sakit, bagaimana denganmu, apa ada yang sakit?" Tanya Min Kyu tersenyum sembari mengelus puncak kepala Soo Hyun dengan lembut.
"Tapi kakak baru bangun setelah 2 hari, Hyun takut kakak tidur begitu lama dan aku baik-baik saja sekarang," ucap Soo Hyun menahan tangisnya agar Min Kyu tidak khawatir akan dirinya.
"Tidak sayang, tidak apa, kakak baik-baik saja," ucap Min Kyu menghapus air mata Soo Hyun yang masih tetap mengalir walau sudah ia tahan dan memeluknya.
Soo Hyun membalas pelukan Min Kyu, ia merasa sangat senang setelah beberapa hari ia hanya melihat kakaknya yang hanya terbaring tanpa membuka kedua matanya.
- Beberapa Hari kemudian -
"Min Kyu, bagaimana keadaan mu?"
"Sudah lebih baik pa."
"Sukurlah."
sekarang mereka semua sedang berkumpul di ruang tamu, tepatnya rumah keluarga Kim Min Kyu.
"Pa? Kapan mama dan papa akan pulang, juga kenapa kami dirawat dirumah sakit pa?"
"Itu.. Papa harap, kalian tidak marah dengan kami jika papa beritahu!"
"Kenapa kami harus marah? Apa terjadi sesuatu yang kami tidak ketahui?"
"Maafkan papa dan mama ya. Papa dan Mama kalian..
Papa Jin-Young sengaja menggantungkan ucapannya sebab ia sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi setelah ia memberi tahu Min Kyu dan Soo Hyun.
"Ada apa pa?"
Namun pap dan mama Young masih diam tidak mengucapkan satu katapun yang membuat mereka puas.
"Ada apa pa? Mama sama papa tidak pernah pergi meninggalkan kami, kenapa sekarang mereka tidak disini?" Tanya Soo Hyun yang sudah tidak bisa menahan air matanya namun masih berusaha merendam suaranya agar tidak terdengar siapapun.
Min Kyu yang melihat adiknya menahan tangispun segera memangkunya dan menghapus air mata Soo Hyun dengan tangannya.
Perasaan Min Kyu saat ini benar-benar sangat cemas, padahal ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia sangat bingung sejak awal ia sadar dari koma dan menyadari sedang berada di rumah sakit.
"Kenapa, kenapa papa diam saja?"
"Orang tua kalian .. Orang tua kalian sudah meninggal dunia dalam kecelakaan lalulintas beberapa hari lalu.
Sontak Min Kyu benar-benar kaget dengan apa yang ia dengar, tubuhnya mulai bergetar dan berusaha menahan tangisnya dengan menggigit bibir bahwahnya. Namun itu semua hanya sementara dan ia tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi.
"Kakak kenapa?"
Tanpa menjawab pertanyaan adiknya, ia segera memeluk tubuh mungil itu sembari manahan suaranya namun air mata tetap mengalir tanpa ragu.
Itulah hal yang paling tidak disukai setiap orang. Kehilangan orang yang disayang adalah hal yang sangat menyakitkan.
.
.
.
Sinar mentari mulai terlihat, memberikan sedikit kehangatan disaat musim dingin mulai datang. sepasang mata yang indah dengan bulu mata lentik yang sedang memandangi seekor kucing yang sedang melahap makanannya. Senyum yang mengembang mencerminkan kebahagiaan.
"Aku akan keluar, apa kamu ingin sesuatu?"
Belum sempat Soo Hyun menjawab pintu depan sudah tertutup rapat.
"Apa dia tercipta hanya untuk bertanya?"
"Begitu juga kakak kamu," ucap Jin Young sembari menyalakan televisi.
Soo Hyun berjalan menuju sofa sembari membawa cemilan, ia duduk tepat disamping Jin Young dengan mata yang masih fokus melihat tayangan televisi favorit mereka.
Sudah hampir 3 jam, tidak ada yang pergi meninggalkan sofa yang empuk itu.
Tidak tahu mengapa mereka sangat betah berada ditempat tersebut.
...----------------...