The Life Behind The Painting

The Life Behind The Painting
Episode 9




Tak -



Tiba-tiba saja terdengar suara dari sebuah benda yang terjatuh dengan cukup keras.


"Suara apa itu kak?" Tanya Soo Hyun yang kaget dan menggenggam erat lengan Jin Young.


"Aku juga tidak tahu," balas Jin Young yang sama kagetnya juga menggenggam erat lengan Soo Hyun.


"Ayo kita cari tahu," lanjutnya.


"Tapi kak, bagaimana jika itu pencuri!"


Namun Jin Young hanya melihat Soo Hyun sekilas dan berjalan menuju dapur untuk mengambil stik golf, sedangkan Soo Hyun hanya bisa mengikuti Jin Young dari belakang dengan rasa cemas dan takut.


.


.


.


Tidak tahu tepatnya suara itu berasal dari mana dan yang pasti suara itu ada di lantai dua. Mereka melangkah menaiki setiap anak tangga menuju lantai dua secara perlahan. Saat sudah semakin mendekati beberapa anak tangga teratas di lantai dua, mata mereka sama-sama menangkap cahaya terang dari dalam kamar Soo Hyun.


Merekapun melangkah semakin dekat untuk mengetahui cahaya terang apa sebenarnya yang sedang memenuhi kamar Soo Hyun tersebut. Namun, saat mereka sudah semakin dekat dengan pintu, tiba-tiba saja cahaya tersebut menghilang begitu saja dan pintu kamar Soo Hyun tertutup hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


Kini, mereka berdua telah berada di ambang pintu dengan rasa takut dan penasaran yang besar. Jin Young dengan keberaniannya memutar gagang pintu perlahan dan mendorongnya kuat hingga pintu itu terbuka lebar.


Tidak terlihat siapapun disana, akan tetapi mata mereka menangkap sebuah hal yang mengejutkan. Mereka melangkah mendekati sebuah kotak kayu yang menutup rapat sebuah lukisan kuno yang kini telah hancur sebagian.


Mereka sangat bingung dengan hal ini, jika ada seseorang yang ingin mencuri lukisan tersebut pasti ia sudah membawanya, namun tidak terdapat jejak siapapun disana, bahkan pintu kaca pun masih terkunci dengan tirai yang masih menutupi pintu kaca tersebut.


.


.


.


"Tidak ada siapapun disini, darimana cahaya yang sangat terang itu datang dan mengapa box lukisan ini bisa hancur begitu saja seperti ini!" Ucap Soo Hyun bingung sembari menyingkirkan potongan kayu yang tersebar di atas lantai.


Setelah membersihkan kamar, Soo Hyun dan Jin Young kembali ke ruang tamu. Mereka hanya diam dan fokus pada pikiran mereka masing-masing.


"Hyun, bukankah itu aneh! Bagaimana bisa kayu tersebut bisa hancur begitu saja, itu adalah kayu yang cukup kuat."


"Benar, mengapa bisa terjadi dan cahaya terang itu darimana? Bahkan cahaya lampu kamar ini tidak seterang itu!"


"Hancurnya juga seperti dari dalam, karena beberapa kayu yang masih melekat mengarah keluar."


"Apa yang hancur?"


Mereka berdua tersentak, kaget melihat kedatangan Min Kyu yang tiba-tiba saja datang dan bertanya.


"A. I, itu."


Tidak tahu mengapa Soo Hyun merasa gugup dan sulit untuk mengatakannya. Karena yang ia tahu kakaknya sangat tidak suka dengan lukisan itu dan jika ia tahu pasti Min Kyu mengira jika ia berusaha membongkar box lukisan tersebut.


"Box lukisan di kamar Soo Hyun tiba-tiba saja hancur kak," ucap Jin Young dengan gampangnya.


Tanpa bicara lagi Min Kyu segera pergi ke lantai dua menuju kamar Soo Hyun. Jin Young yang melihat Min Kyu terburu-buru pun segera mengikutinya, begitupun dengan Soo Hyun.


.


.


.


"Apa yang terjadi?" Tanya Min Kyu sembari melihat ke dua adiknya.


Jin Young menceritakan semua yang baru saja terjadi kepada Min Kyu. Min Kyu mendengarkan dengan baik setiap kata yang diucapkan oleh Jin Young. Setelah menurutnya semua cukup jelas ia pun segera pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Aku belum selesai bicara!"


"Ada apa dengannya? Apa aku mengatakan hal yang salah?"


"Tidak tahu," ucap Soo Hyun yang sama bingungnya pada sikap Min Kyu.


.


.


.


- Kim Min Kyu -


Min Kyu menutup pintu kamarnya dan menguncinya, ia melangkah mendekati sebuah laci tersembunyi yang ada disamping meja belajarnya.


Tangannya meraih sebuah buku yang terlihat begitu lusuh dari dalam laci tersebut. Dengan mata yang masih memandangi buku itu ia duduk di tepi tempat tidurnya.


"Ini semakin menjadi rumit, benda itu tidak bisa lagi dihalangi. Apa yang kakek ceritakan itu benar?"


"Kehidupan baru dalam sebuah masalah masa lalu. Aku benar-benar masih tidak mengerti apa itu!" Ucapnya frustasi dan kembali menutup buku tersebut.


Perasaannya menjadi campur aduk dan pikirannya kacau, ia seperti tidak dapat berpikir dan tidak tahu mau melakukan apa lagi terhadap lukisan tersebut.


.


.


.


- Kim Tae Jun-


Pria berkulit putih itu mulai membuka matanya berlahan, bulu mata lentik yang berwarna kuning keemasan itu mulai memperlihatkan kedua matanya yang berwarna merah menyala.


Ia bangkit dari tidurnya dan dalam hitungan detik kedua matanya berubah menjadi cokelat terang. Sama halnya dengan rambut dan bulu mata yang sebelumnya berwarna kuning emas, kini berubah menjadi cokelat kehitaman.


Ia meraih baju yang ada di atas meja dan segera mengenakannya. Saat ia akan pergi keluar dan membuka pintu, pintu tersebut sama sekali tidak dapat dibuka.


Karena arah membuka pintu tersebut mengarah keluar, ia merasa seperti ada sesuatu yang menahannya. Tanpa berpikir lagi ia segera mendobrak dengan paksa pintu tersebut.


Beberapa kali ia melakukannya hingga pintu tersebut hancur. Cahaya terang yang berasal dari balik pintu itu membuat ia menutup matanya sebab cahaya itu begitu menyilaukan mata.


Perlahan ia mulai membuka kedua matanya dan berusaha melihat sesuatu dalam cahaya tersebut. Ia bingung dengan apa yang ia lihat saat ini, sebuah ruangan dengan gaya modern berada tepat di depan matanya.


Ia penasaran dengan hal itu dan melangkahkan kakinya, namun langkahnya terhenti seperti ada yang menahan tubuhnya. Semakin lama, ruangan tersebut semakin memudar dari pandangannya dan kembali menampakkan sebuah hutan yang ada didepan rumah kecil miliknya.


"Itu, barusan apa?"


Tae Jun benar-benar bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Sebuah ruangan yang sangat asing baginya dan secara berlahan menghilang begitu saja.


"Tempat apa tadi?"


"Apa aku baru saja berhalusinasi?"


Matanya kembali memandang sekeliling dan itu benar-benar hanya memperlihatkan sebuah hutan rindang.


"Aku pasti sedang berhalusinasi," ucapnya dan berlalu pergi.


...----------------...