The Life Behind The Painting

The Life Behind The Painting
Episode 3




Disekolah -



"Akhirnya aku kembali menginjak SMA ini lagi, setelah 2 (dua) bulan libur," ucap Soo Hyun sambil tersenyum melihat gedung sekolahnya.


"Buat apa kamu injak SMA?" Tanya Jin Young bingung dengan kalimat yang diucapkan Soo Hyun barusan.


"Sudahlah kamu sana jauh-jauh, itu ada teman-teman kamu," ucap Soo Hyun dengan sedikit mendorong pelan tubuh Jin Young agar menjauh darinya.


Sejak kecil Soo Hyun dan Jin Young selalu berada disekolah yang sama, hingga 2 (dua) bulan lalu Jin Young dan keluarganya pergi ke pulau Jeju dan berharap agar Jin Young melanjutkan pendidikan disana, namun ia tetap kembali kemari.


"Iya, iya aku pergi kesana dulu,"ucap Jin Young kesal dan berlalu pergi menuju teman-temannya yang kebetulan sedang ada di dekat mereka.


.


.


.


Soo Hyun sibuk melihat ke sana kemari, mencari seseorang yang ia rindukan. Namun sampai sekarang pun orang tersebut belum juga terlihat keberadaannya.


"SOO HYUN," teriak seseorang yang sedang berlari dengan melambaikan tangannya kearah Soo Hyun.


"Lama sekali, aku tunggu dari tadi."


"Maaf, aku mengantar adik aku dulu tadi," ucap Sae Ron sahabat perempuan Soo Hyun sejak Sekolah Dasar dengan memperlihatkan senyum manisnya.


"Bekal ku?" Tanya Jin Young pada Soo Hyun.


"Datang lagi, sekalian bawakan punya aku," ucap Soo Hyun memberi kantong kain berisi dua kotak bekal.


"Tunggu, kenapa kamu disini?" Tanya Sae Ron melihat Jin Young bingung karena yang ia tahu Jin Young akan pindah ke pulau Jeju.


"Kenapa? salah pangeran datang lagi?" Tanya Jin Young dengan penuh percaya diri.


Soo Hyun dan Sae Ron pun mengalihkan pandangan mereka setelah mendengar ucapan Jin Young yang terlalu percaya diri itu. Jin Young yang melihat mereka berdua bersikap seperti itu pun merasa kesal akan kekompakan dua sahabat ini.


"SELAMAT PAGI SEMUA," teriak Sung Jae yang tiba-tiba datang dari arah belakang mereka.


"Suka sekali kagetin orang," omel Sae Ron yang hanya dibalas senyuman oleh Sung Jae.


"Jin Young, kenapa ada disini?, anak dari mana kamu, bukannya akan pindah?," Tanya Sung Jae saat sadar bahwa Jin Young kini ada dihadapannya.


"Tidak lihat seragam yang aku kenakan," balas Jin Young kesal karena semua orang seakan mengingatkan ia benar-benar pindah dari kota ini.


Pada awal kenaikan kelas sebelum libur panjang musim panas, orang tua Jin Young memang akan pindah ke kota Jeju sebab pekerjaan. Namun ibu Jin Young ingin jika anaknya lulus lebih dulu dan tinggal di rumah Min Kyu dan orang tua Jin Young saja yang akan pindah ke pulau Jeju.


.


.


.


- Kririring .. Kririring .. -


Suara bel sekolah telah berbunyi menandakan agar pada murid segera masuk kedalam kelas masing-masing dan bersiap untuk pelajaran.


"Kamu sedang apa disini?" Tanya Soo Hyun dengan tatapan sinis terhadap Jin Young.


"Nama aku ada di depan nona muda," balas Jin Young kemudian duduk dibelakang Soo Hyun.


"Sudahlah Hyun ssi, sama sepupu jangan terlalu seperti itu," ucap Sae Ron menahan tawanya.


Namun ucapan Sae Ron hanya lewat tanpa singgah di telinga Soo Hyun. Sebenarnya Soo Hyun tidak benar-benar merasa kesal, ia hanya suka sedikit mengerjai Jin Young karena Jin Young pun melakukan hal yang sama padanya.


.


.


.


Seorang pria muda berusia sekitar 25 tahun dengan setelan kemeja dan dasi yang membuat dirinya terlihat menawan, masuk kedalam kelas mencuri pandangan para siswa yang kagum akan dirinya.


"Selamat pagi," ucap pria itu memberi salam dan memperkenalkan dirinya sebagai guru baru dan sekaligus wali kelas mereka.


- Istirahat -


"Kenapa anak ini senyum-senyum sendiri?" Tanya Sung Jae yang baru saja datang sembari berjalan menuju tempat Sae Ron dan Soo Hyun berada.


"SAE RON," teriak Soo Hyun di samping Sae Ron yang masih sibuk dengan lamunannya.


"Iya kenapa? Soo Hyun jangan teriak seperti itu, telingaku masih normal," omel Sae Ron.


"Guru baru itu tampan sekali dan masih muda," ucap Sae Ron malu-malu.


"Bagaimana dengan aku?" Tanya Sung Jae dengan ekspresi kesalnya.


"Kamu lebih tampan sebelum ada dia," balas Soo Hyun membuat semua tertawa kecuali Sung Jae yang terlihat kesal dengan ungkapan Soo Hyun.


.


.


.


- Rumah Min Kyu -


"Akhirnya bisa beristirahat, tubuhku terasa lemas sekali," ucap Soo Hyun sembari merebahkan dirinya ke tempat tidur setelah selesai membersihkan diri dan makan.


Belum ada beberapa menit ia memejamkan mata, ia sudah mulai memasuki dunia mimpi karena terlalu lelah di hari pertama sekolahnya.


.


.


.


- Mimpi -


"Em," gumam Soo Hyun dengan membuka matanya berlahan.


"Ini? Aku ada dimana? Kenapa aku disini?" Pikirnya setelah mengumpulkan kesadarannya kembali.


Matanya membulat sempurna, setelah sadar dimana saat ini ia berada dan masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia benar-benar sangat bingung, bagaimana ia bisa berada tempat seperti ini.


"Kakak pasti mengerjaiku, tapi ini tidak masuk akal," gumamnya.


"Kak? Kakak? Kamu dimana? Ini tidak lucu," ucap Soo Hyun sedikit berteriak.


"Kenapa aku ada di hutan? Kenapa kakak mengerjaiku seperti ini? Ini benar-benar tidak lucu," ucap Soo Hyun bingung dan takut.


Soo Hyun menyentuh rumput yang ia duduki, "Ini asli, ini rumput asli dan masih berembun, kakak tidak mungkin melakukan hal aneh seperti ini dan tidak mungkin aku tidak menyadarinya" gumamnya tidak percaya.


.


.


.


Ia segera berdiri dan merapikan pakaiannya, matanya kembali memandang sekeliling tempat itu, pepohonan besar namun tidak gersang juga suara kicauan burung membuatnya semakin tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Ini aneh, apakah aku sedang diculik?"


Ia terdiam saat mendengar ada suara dari kejauhan, suara itu adalah suara benda yang saling beradu. Jika didengar dengan lebih jelas, aduan suara itu terdengar seperti suara pedang yang saling bergesekan.


"Apa aku salah dengar? tadi suara itu cukup jelas dari arah sana, sepertinya suara itu sudah tidak ada sekarang."


Beberapa saat suara itu menghilang, namun kini terdengar sangat jelas dan membuat jantungnya berdebar dan merasa cemas juga takut.


Karena rasa penasaran yang sangat besar, ia memutuskan untuk mencari tau asal suara tersebut.


- Srak, srak, srak -


Suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari terus terdengar jelas di telinganya. Baru beberapa langkah ia mendekat, ia dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba saja menabraknya hingga terjatuh.


- Buk -


Pria itu terjatuh menindih tubuh Soo Hyun, ia terlihat begitu lemah dengan beberapa luka yang ada di tubuhnya. Terlihat jelas dari baju yang ia kenakan robek dan cukup basah karena darah dari tubuhnya.


"Pergi," ucap pria itu dengan suara lirih dan berusaha untuk bangkit.


Soo Hyun hanya diam dan kaget saat pria itu mengatakan agar Soo Hyun segera pergi, mata pria itu berwarna merah menyala seperti binatang buas saat itu. Ia masih memandangi pria itu, wajahnya tidak terlihat jelas karena mengenakan sebuah topeng yang menutupi sebagian wajahnya yang terlihat pucat.


Disisi lain bukannya Soo Hyun tidak ingin bangkit dari posisinya yang terbaring, namun tubuhnya tidak dapat mengikuti apa yang ia pikirkan untuk segera pergi. Tubuhnya yang terus bergetar tidak tahu sejak kapan membuatnya merasa lemas. Pikirannya kosong dan hanya teringat mata merah menyala yang mengagetkannya barusan.


.


.


.


"Apa kau masih ingin lari dariku?" Tanya seorang pria yang baru saja datang dengan menodongkan pedangnya ke arah Soo Hyun dan pria yang berdiri dengan lemas menopang tubuhnya dengan pedang yang tertancap ditanah tersebut.


Karena rasa takut yang cukup besar dan tubuhnya yang sudah tidak dapat bertahan membuat kesadaran Soo Hyun memudar dan tiba-tiba saja ia pingsan saat itu juga.


......................