
11:28 -
"Sudah pukul berapa sekarang?" Gumam Soo Hyun melihat jam mini yang ada di meja belajarnya.
"Eh, sudah jam segini, kenapa tugasnya banyak sekali dan besok harus segera di kumpul," lanjutnya sembari merapikan buku-buku yang ada di atas meja belajar.
Setelah selesai dengan rutinitas malamnya, Soo Hyun berjalan menuju tempat tidur. Ia mencari posisi ternyaman dan mulai memejamkan kedua matanya hingga akhirnya ia tertidur dengan nyenyak.
.
.
.
Jam telah menunjukkan pukul 1 (satu) malam, tidak ada terdengar suara perbincangan apapun lagi. Semua orang telah berada dalam posisi nyaman mereka masing-masing dan bermimpi.
- Mimpi -
"Ini.. Kenapa terasa hangat dan lembut?" Gumam Soo Hyun masih dengan matanya yang terpejam.
Soo Hyun mulai membuka matanya berlahan, ia mulai mengizinkan terangnya sinar mentari mengenai matanya dan ia melihat sesuatu yang terasa hangat pada tangannya.
"Kucing?" Gumamnya dalam hati.
"Aku ada dimana ini?" tanya Soo Hyun pada dirinya sendiri sembari memperbaiki posisinya yang sebelumnya berbaring untuk duduk dan melihat sekeliling ruangan.
"Apa sudah baikan?" Tanya seorang pria yang sedang berjalan menuju tempat Soo Hyun berada dengan membawa segelas air minum.
Soo Hyun cukup kaget akan kehadiran pria itu, namun pikirannya teralihkan setelah melihat tubuh pria tersebut berbalut oleh kain seperti perban yang melingkar di tubuhnya.
Sesaat Soo Hyun terpaku namun ia segera sadar saat pria itu semakin dekat dengannya.
"Anda siapa?" Tanya Soo Hyun sedikit takut karena kini ia tidak tahu dimana ia berada.
- Flash back -
"Merepotkan," ucap pria bertopeng itu saat memandang Soo Hyun yang sudah tidak sadarkan diri.
- Buk -
Dengan cepat pria itu melepaskan tinjunya pada pria berjubah serba hitam tersebut dan membuatnya tersungkur akibat pukulan keras di wajahnya. Pria berjubah hitam itu meringis merasakan sakit pada sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
- Buk -
Sekali lagi Pria bertopeng itu berhasil melayangkan pukulannya mengenai pria berjubah serba hitam bernama Hae Jin tersebut.
Hae Jin yang tidak terima setelah mendapat dua pukulan di wajahnyapun melawan, ia berusaha bangkit dan mulai mengayunkan pedangnya kearah pria bertopeng itu. Hampir saja pedang tersebut mengenai bagian tubuh pria bertopeng tersebut.
Aduan pedang pun kembali terjadi, pria bertopeng itu bergerak dengan gesitnya menghindari setiap ayunan pedang dari lawannya. Matanya menyipit mencari celah, ia berusaha membuat lawannya lengah untuk melepaskan pedang dari pemiliknya.
Beberapa menit berlalu, tanpa henti mereka terus beradu pedang dan terus bertahan walaupun mendapat banyak luka. Pria bertopeng itu kembali menyipitkan matanya, kemampuan yang ia miliki dapat mendengar walau dalam jarak yang cukup jauh sangat berguna.
Suara anak panah yang dilepaskan melesat dengan cepat lewat dihadapannya. Disaat bersamaan saat lawan lengah ia memutar pedangnya pada pedang lawannya hingga terjatuh dari genggaman.
Dengan cepat ia menggunakan pedangnya mengangkat dan melempar pedang lawannya tepat mengenai dada sebelah kiri seseorang yang melepaskan anak panah kearah mereka.
Mendapat kesempatan emas saat lawannya masih kaget akan seseorang yang terkena pedang di dadanya, memberikan kesempatan pria bertopeng itu untuk kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi namun tidak berniat untuk membunuhnya.
Melihat kondisi musuh yang semakin lemah, ia segera menghampiri dan menggendong tubuh Soo Hyun tanpa berpikir siapa sebenarnya gadis itu dan darimana ia datang ia tidak peduli dengan itu dan langsung pergi begitu saja.
.
.
.
- Kim Soo Hyun -
"Kim Tae Jun," jawab pria itu.
"Persembunyian atau bisa disebut sebagai tempat tinggal," jawabnya.
"Mengapa anda harus bersembunyi?" Tanya Soo Hyun setelah diam beberapa saat setelah melihat wajah pria itu pada saat melepas topeng yang menutupi sebagian wajahnya yang cukup familiar.
"Kamu tidak perlu tahu tentang itu, yang pasti bila kamu berada diluar harus tetap waspada pada penjahat yang berkeliaran."
"Mengapa kamu mengenakan pakaian seperti itu? Bukankah kamu anak perempuan dan mengapa bisa berada dihutan sendirian?" Lanjut Tae Jun penasaran.
Soo Hyun melihat tubuhnya dan benar saja, kini ia sedang menggunakan celana longgar panjang dan kaos polos yang kebesaran,"A.. Benar, karena cucianku belum kering aku mengenakan pakaian kakak," gumam Soo Hyun.
"Saya tidak tahu, yang saya ingat saya sedang tidur dikamar dan tiba-tiba saja terbangun di hutan itu," ucapnya lesu.
"Apa kamu ingat di mana kamu tinggal?" Tanya Tae Jun kembali.
"Saya tinggal di Kota Natales," jawab Soo Hyun dengan menatap manik mata Tae Jun, berharap jika pria tersebut adalah orang yang baik.
Namun semakin diperhatikan, mata pria itu sama seperti manusia biasa, cokelat terang. Namun apa yang Soo Hyun lihat saat itu berbeda, apa itu hanya halusinasinya saja.
"Jangan menatapku seperti itu, aku bukan orang jahat seperti yang kamu pikirkan. Apa kamu kabur hingga kemari dari Loesnatales?"
"Loesnatales?" Batin Soo Hyun.
"Kota itu sudah berubah nama sejak tahun 2000 menjadi Natales."
"2000?" Pikir Tae Jun sembari memberi segelas air putih dan diraih oleh Soo Hyun.
"Kamu pasti bercanda bukan!" Ucap Tae Jun sembari duduk menghadap Soo Hyun.
"Saya tidak bercanda, saya kelahiran 2007," ucapnya meyakinkan.
"Benarkah?" Ucap Tae Jun kemudian tertawa renyah.
"Ini tidak masuk akal," lanjutnya.
Setelah Tae Jun berhenti tertawa, tubuh Soo Hyun tiba-tiba saja mengeluarkan cahaya terang dan berlahan menghilang dari pandangan Tae Jun. Tae Jun yang melihat itupun merasa sangat kaget dan bingung akan apa yang ia lihat.
"Apa? Apa yang baru saja terjadi?" Tanya Tae Jun bingung.
.
.
.
Soo Hyun membuka matanya berlahan dan membiasakan kedua matanya dengan sinar mentari pagi. "Huf, mimpi itu seperti nyata, wajah pria itu sepertinya tidak asing, tapi siapa?" Pikir Soo Hyun.
"Sudahlah, lebih baik aku pergi mandi saja," ucapnya sembari bangkit dari atas tempat tidur dan menuju kamar mandi.
- Tok, tok.. Tok, tok, tok.. -
Min Kyu mengetuk pintu kamar Soo Hyun beberapa kali, berpikir apakah pemilik kamar tersebut sudah bangun atau belum. Ia membuka pintu tersebut dan tidak memperlihatkan siapapun disana.
"Dek?," ucap Min Kyu saat masuk kedalam kamar Soo Hyun.
"Sepertinya ia sedang mandi," gumam Min Kyu setelah mendengar suara air dari arah kamar mandi dan beranjak menuju lantai satu.
.
.
.
Setelah selesai mandi Soo Hyun merapikan buku-buku miliknya dan mengecek kembali pelajaran untuk hari ini. Setelah dipastikan tidak ada yang kurang iapun segera turun ke lantai satu menghampiri Min Kyu dan Jin Young yang sufah siap di posisi mereka masing-masing.
"Aku ingin begitu, aku ingin begini, ingin ini itu banyak sekali.. La, lalalala."
"Berhentilah menyanyi untuk kebaikan telinga, jangan merusak nafsu makanku,"
Mendengar ucapan Soo Hyun barusan membuat Jin Young merasa kesal, ia hanya ingin bernyanyi sedikit namun yang ada malah sindiran halus dari Soo Hyun. Min Kyu hanya tersenyum tipis melihat kelakuan kedua adiknya yang begitu bertolak belakang satu sama lain.
...----------------...