
"Ini pasti hanya kebetulan saja!"
"Tidak, ini benar, semua yang dia katakan benar."
"Tae Jun, apa kamu tidak tahu apapun?"
"Saya tidak tahu apa yang terjadi."
Min Kyu Yakin dengan pemikirannya dan meminta Tae Jun untuk mengikuti dia ke kamarnya.
"Kalian berdua pergilah untuk tidur dan kita bahas hal ini besok."
.
.
.
- Kamar Min Kyu -
Tae Jun tidak mengetahui apapun tentang apa yang terjadi, ia merasa asing dan bingung. Ia juga tidak mengenal siapapun disini dan hanya ingat tentang gadis yang baru saja ia temui.
"Sebenarnya, apa yang terjadi? Mengapa saya bisa ada disini?"
"Aku juga tidak tahu tentang ini, tapi ada buku yang harus kamu baca," ucap Min Kyu mengambil sebuah buku sari bawah lemari kerjanya.
"Aku tidak tahu alasan kakekku memberikan buku ini, ia hanya mengatakan.
Jika adikku sudah berusia 17 tahun, akan ada kehidupan baru dalam masa lampau."
"Aku benar-benar tidak mengerti."
Min Kyu memberikan buku yang terlihat usang tersebut kepafa Tae Jun. Tae Jun melihat buku tersebut dan mengambilnya. Pada saat ia mulai membacanya, ia kaget dengan apa yang ia baca di lembar ketiga pada buku itu.
Lembar ketiga tersebut menuliskan.
...--------------------------------...
Aku merasa sangat resah dengan sejarah ini, Aku pergi ketempat lain untuk mati. Tapi gadis itu menyelamatkan hidupku, Saat aku tertidur semua kembali, tempat tersebut tidak lagi aku lihat setelah aku menikah.
Tapi mimpi itu terus menghantuiku, Aku melukis seorang Pemuda yang dilahirkan dalam kehancuran. Ia tumbuh dewasa antara hidup dan mati.
Hal yang aku takuti adalah mimpi dimana pemuda itu hadir di kehidupan cucu ke tujuh belas ku, yang akan berada antara hidup dan mati dalam kemampuan sihir yang akan meledak.
...--------------------------------...
"Kenapa, kenapa seperti ini? Apa maksud dari tulisan ini?" Tanya Tae Jun yang bingung dengan maksud dari tulisan tersebut sembari melihat kearah Min Kyu.
"Aku tidak tahu mengenai hal ini, ini sudah terlalu lama, buku ini sudah turun-menurun dari keluargaku. Aku tidak ingin kehidupan keluargaku seperti ini. Awalnya aku mengira buku ini hanya sebuah tulisan, tapi hari ini semua membuktikan apa maksud dari buku itu."
.
.
.
Jam telah menunjukkan pukul dua malam, Tae Jun berdiri di samping jendela kamar Min Kyu, begitupun dengan Min Kyu. Tidak ada dari mereka yang angkat bicara, semua sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
"Jika kamu lelah, beristirahatlah."
"Aku akan istirahat sebentar lagi."
Min Kyu sudah tertidur pulas, sedangkan Tae Jun masih menatap langit yang cukup cerah dan bintang yang berkerlap kerlip diatas sana.
Ia bingung dengan apa yang terjadi, bagaimana bisa ia bisa berada ditempat yang tidak ia ketahui. Ia melirik sebuah guci mini yang tersusun rapi, dengan rasa penasaran yang tinggi ia menyentuh benda tersebut.
"Ini perak dan emas!"
Tae Jun memandangi seluruh kamar ini, banyak terdapat benda mini yang terlihat antik dan tersusun begitu rapi. Sepertinya pemilik kamar ini begitu terobsesi dengan barang antik.
Malam semakin larut, Tae Jun mulai merasakan kantuk yang jarang ia rasakan. Namun di tempat ini ia seperti tidak bisa menahan rasa kantuknya.
Dengan malas ia melangkah mendekati sofa yang cukup panjang di sampingnya, ia berbaring disana, menghadap keluar jendela yang sudah tertutup rapat dengan tirai dan mulai untuk tidur.
.
.
.
Tidak terasa matahari telah terbit menandakan sudah pagi. Pria itu mengerutkan kening setelah bangun dari tidurnya, ia ingat semalam tidak mengenakan selimut. Akan tetapi yang ia bingungkan bukanlah hal itu, melainkan dirinya yang masih berada ditempat yang sama.
"Matahari sudah terbit, mengapa aku masih berada disini?" Ucapnya sembari memandang langit dibalik jendelayang kini tidak tertutup oleh gorden lagi.
"Kamu sudah bangun, pergilah mandi dan kenakan pakaian milikku saja."
Tae Jun bangkit dari tidurnya dan melipat selimut yang ia gunakan. Ia mengikuti Min Kyu masuk kedalam kamar mandi dan mendengarkan semua penjelasan yang diberikan oleh Min Kyu bagaimana cara mandi di zaman ini.
"Pakaiannya aku letakkan disini, setelah itu carilah tangga dan turun, setelah itu kearah kiri untuk menuju dapur."
"Iya."
.
.
.
- Lantai Satu -
Seperti biasa, mereka sarapan bersama dan hanya terdengar suara piring serta sendok yang seakan saling beradu.
Soo Hyun dan Jin Young sesekali mencuri pandang melihat Tae Jun.
"Apa ada yang salah?" Tanya Tae Jun saat sadar jika Soo Hyun dan Jin Young terus saja memperhatikannya.
"A, Tidak."
Tae Jun hanya bisa melihat mereka dengan tatapan bingung, berpikir mungkin mereka melihat ia dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya.
...----------------...