
18.00 -
Matahari semakin tenggelam, menandakan bulan akan segera tiba.
Bintang yang melengkapi gelapnya langit, memberikan kesan indah dan damai. Namun itu semua hanya bertahan sesaat, sebelum awan gelap mulai menyembunyikan mereka seakan tidak ingin dilihat oleh orang lain.
Rintik air mulai berjatuhan, ditambah lagi dengan angin yang berhembus cukup kencang. Semakin lama semakin deras, mengingatkan pada masa lalu yang lama terpendam dalam hati.
"Mama, papa, mengapa kalian menangis?
Kakak dan aku baik-baik saja, kami sangat akur. Jin Young juga menemaniku walau ia cukup menyebalkan, tetapi ia tetaplah sepupu yang baik."
"Kami jarang bertengkar, mama sama papa jangan khawatir, kakak, Jin Young, paman, dan bibi sangat menjagaku," ucap Soo Hyun tersenyum melihat lukisan di hadapannya tersebut.
Soo Hyun hanya bisa tersenyum memandangi langit dan beralih kesebuah lukisan dan tanpa ia sadari, air matanya mulai mengalir. Ingin rasanya ia memeluk erat kedua orang dibalik lukisan tersebut, namun kini ia hanya bisa memeluk dirinya sendiri dengan erat.
Ia hanya bisa memandangi senyuman yang indah dari wajah mereka dibalik lukisan yang melekat kuat di dinding ruang tengah itu, tidak terasa ternyata jika seorang wanita dan pria itu sudah berada dalam lukisan tersebut sangat lama.
Soo Hyu terus memandangi lukisan tersebut dan ia tidak menyadari keberadaan Min Kyu yang sedari hujan belum berjatuhan ke bumi, telah berada dibelakangnya dan memperhatikan juga mendengarkan setiap kata yang diucapkan Soo Hyun.
"Soo Hyun," ucap Min Kyu berjalan mendekati Soo Hyun yang masih menatap lukisan itu dan memeluk adiknya.
Tangis Soo Hyun tiba-tiba saja pecah dalam dekapan Min Kyu. Pecahan kenangan kejadian masa lalu yang berhasil merenggut nyawa kedua orang tuanya kembali teringat, walaupun mereka sudah sekuat tenaga menerima kenyataan ini namun ingatan masih terus melekat meninggalkan luka dihati mereka.
.
.
.
- Tahun 2008 -
Keluarga pak Kim Son Ji sedang dalam perjalanan menuju rumah dengan mobil pribadinya, kebahagiaan selalu berada disekitar mereka. Saling berbagi cerita, canda, dan tawa memperlihatkan betapa bahagianya keluarga ini.
Jalan tol yg cukup luas dan sunyi, hanya terdapat beberapa kendaraan yang juga berlalu lalang disekitar mereka membuat perjalanan mereka tampa hambatan.
Hingga, ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang dari arah berlawanan lewat dijalur mereka. Mobil yang melaju kencang tersebut menabrak sebuah mobil didepan keluarga Kim Son Ji dan menghantam mobil mereka hingga terguling menubruk dinding terowongan dengan sangat keras.
Salah satu mobil meledak dan terbakar, sedangkan mobil yang satunya lagi menghantam pembatas jalan hingga membuat kerusakan parah dibagian kursi pengemudi.
Kejadian ini menjatuhkan beberapa korban hingga meninggal dunia, dan dua korban selamat dalam kecelakaan tersebut. Dengan cepat kejadian ini disiarkan di seluruh siaran berita selama 3 (tiga) hari berturut-turut.
.
.
.
- Rumahsakit -
Seorang anak laki-laki berusia 10 (sepuluh) tahun dan anak perempuan berusia 5 (lima) tahun selamat dalam insiden tersebut. Mereka adalah Kim Min Kyu dan Kim Soo Hyun. Namun tidak untuk kedua orang tua mereka karena kursi bagian depan benar-benar sangat serius dan membuat kedua orang tua mereka terluka parah.
Soo Hyun telah sadarkan diri setelah 1 hari, tetapi Min Kyu masih belum sadarkan diri dan kini ia sedang mengalami koma.
.
.
.
Gadis kecil itu mulai menggerakkan sedikit jari tangannya dan membuka matanya perlahan. Seorang dokter muda datang mendekatinya dan mulai memeriksa.
Soo Hyun mengikuti arahan yang diberikan oleh dokter tersebut, otaknya mulai berpikir dan mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.
"Baik lah, ini sudah bagus, hanya perlu beristirahat beberapa hari kamu akan baik-baik saja."
"Kalau begitu, saya permisi."
Soo Hyun berusaha untuk duduk, kepalanya benar-benar terasa sakit dan terus berdenyut.
"Jangan banyak bergerak dulu ya," ucap seorang wanita yang membantunya bersandar dengan menyusun bantal dibelakangnya. Terlihat sangat jelas ekspresi wanita itu sangatlah khawatir.
"Mama, papa, dan kakak Hyun mana ma?"
"I.. Itu, mama kamu itu.. Kamu sebaiknya istirahat dulu ya."
"Iya sayang, mama tau itu, sekarang kamu istirahat dulu ya. Mama sama papa keluar dulu, kamu jangan kemana-mana, nanti Jin Young kemari bawakan makanan kesini untukmu," ucap wanita itu tersenyum dan berlalu pergi dengan seorang pria seusianya.
"Kenapa? Aku tidak sakit."
"Auw," Soo Hyun meringis merasakan sakit di lengannya.
"Apa aku terluka, ini terasa sakit," ucap Soo Hyun melihat luka yang tertutup perban mengelilingi lengannya.
"Beberapa bagian tubuhku juga terasa sakit," pikirnya.
.
.
.
- Klik -
Pintu ruang rawat terbuka dan memperlihatkan seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun dengan kain yang berisikan sesuatu di tangannya.
"Soo Hyun, ini aku bawakan bubur, aku tahu kamu tidak suka, tapi harus dimakan ya," ucap anak laki-laki yang bernama Kim Jin Young tersebut sembari menyiapkan makanan untuk Soo Hyun.
Soo Hyun hanya melihat bubur itu, ia berpikir apa harus memakannya. Ia kurang suka bubur karena kurang bertekstur, tetapi setiap sakit ia harus makan bubur tersebut agar cepat pulih.
.
.
.
Keluarga Jin Young masih belum bisa memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi, melihat kondisi Soo Hyun yang baru saja sadar dan ia yang masih terlalu dini untuk menerima kebenaran membuat mereka berpikir apa sebaiknya merahasiakan hal ini.
Akan tetapi, lebih baik memberi tahu secepatnya agar rasa sakit dan sedih didalam hatinya tidak terlalu menyakitkan. Namun risiko terbesarnya adalah rasa trauma yang akan membuatnya takut akan suatu hal.
Namun mereka akan tetap memilih untuk memberi tahu Soo Hyun secepatnya karena ia masih terlalu dini mereka masih dapat mengontrolnya, jika ia sudah dapat berpikir dan melakukan hal dengan dirinya sendiri itu akan jauh lebih sulit untuk menerima kenyataan pahit tersebut.
.
.
.
- Keesokan harinya -
Setelah melakukan pemeriksaan untuk kesekian kalinya pada hari ini, Soo Hyun dinyatakan cukup baik dan sudah bisa dibawa pulang.
Padahal, jika dilihat dari kondisi mobil yang rusak parah, dipastikan tidak akan ada yang selamat dalam insiden tersebut. Namun Tuhan masih memberikan kesempatan kedua untuk Soo Hyun kecil dan Min Kyu.
"Mama, Hyun mau tanya."
"iya sayang?"
"Mama kemarin mengatakan mau kasih tahu aku hari ini! Aku ingin bertemu mama, papa, dan kak Min Kyu. Kenapa mereka tidak temani Hyun yang sedang sakit?" Tanya Soo Hyun sedih.
Mama Jin Young yang sadar akan kesedihan gadis kecil ini memeluk Soo Hyun dalam dekapannya. Ia berharap jika pelukannya bisa mengurangi kesedihan gadis kecil ini.
"Kakak kamu tidak bisa menemani mu saat ini sayang," ucap mama Young.
"Kenapa kakak tidak bisa, kakak pasti khawatir denganku, ini bukan waktunya untuk ujian sekolahkan ma?"
"Min Kyu.. Dia.. Karena dia.."
"Soo Hyun, Kakak kamu tidak bisa menemani kamu sekarang sebab dia sedang dirawat di ruang khusus," ucap papa Jin Young cemas.
Kenapa kakak dirawat, apa kakak juga sakit?" Tanya Soo Hyun menatap mama Jin Young penuh harap.
"Apa kamu masih merasa pusing atau ada yang terasa sakit?"
"Tidak ada ma, aku baik-baik saja, tidak ada yang sakit."
"Baiklah, ayo ikut mama melihat kakak kamu," ucap mama Jin Young menggiring Soo Hyun ke ruang dimana Min Kyu berada.
Saat ini, perasaan Soo Hyun benar-benar terasa sangat aneh, namun ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Ia belum bisa mengartikan apa yang ia rasakan perasaan cemas, takut, khawatir, semua menjadi satu dan rasanya sangatlah aneh.
...----------------...