
Tak, tuk, tak, tuk -
Suara langkah keki seekor kuda hitam besar yang ditunggangi oleh seorang pria setengah baya, melaju dengan kencang melewati dataran luas tanpa pepohonan.
Matanya yang terlihat tajam lurus memandang kedepan, dengan tangan kanan yang sudah siap untuk mengayunkan pedang.
"Yaaa.." Teriak pria itu dengan mengangkat pedang dan mengayunkannya mengenai mereka semua yang berusaha untuk membunuhnya.
Darah mencuat ke sana kemari hingga menodai pakaian mereka dan menambah ketajaman dari tajamnya mata pedang yang terus terayun.
.
.
.
- Sying, sying, sying -
Suara aduan pedang terus saja terdengar dari sudut manapun, bola-bola cahaya pun semakin mengganas menerjang siapa saja yang menjadi sasarannya.
Banyak korban berjatuhan dalam peperangan ini, melawan siluman bukanlah hal yang mudah untuk segera ditaklukkan. Apalagi, mereka hanyalah manusia biasa yang hanya bisa memainkan pedang melawan para siluman yang mampu menggukan sihir bukanlah tandingan para manusia biasa.
Sudah 2 (dua) malam 3 (tiga) hari perang ini terus berlanjut tanpa henti. Jika diteruskan mereka pasti akan kehilangan banyak prajurit, karena tidak mampu bertahan melawan para siluman yang tidak ada habis-habisnya.
Apa sebenarnya kelemahan para siluman itu? Hingga sekarang masih belum ada yang mengetahuinya. Mereka telah menguasai banyak kerajaan dan tidak ada yang tahu siapa kepala dari para siluman yang hanya diketahui oleh seorang manusia.
Beberapa puluh tahun yang lalu, ada seorang pendekar yang mengetahui kelemahan Raja siluman yang tidak pernah menampakkan diri, menghilang begitu saja secara misterius saat mengalami luka parah, bahkan pihak siluman pun dibuat bingung akan kehilangan pendekar tersebut.
Lama berlalu, mereka dari pihak manusia dan siluman berpikir jika pendekar itu telah tewas dan dimakan binatang buas. Hingga pencarian pendekar tersebut dihentikan dan para siluman semakin mengganas dan haus akan kekuasaan.
Para siluman ini, mereka nampak seperti manusia, namun itu bukanlah wujud asli dari mereka saat ini yang pasti sangatlah mengerikan, bahkan juga ada yang seperti binatang.
.
.
.
"Ini tidak bisa dibiarkan, jika terus seperti ini, kita pasti akan kehilangan banyak prajurit," pikir pria itu.
"Panglima, sebaiknya sebagian dari kita kembali ke kerajaan dan amankan keluarga kerajaan juga penduduk ketempat yang aman," lanjutnya bicara kepada seorang pria yang sebaya dengannya.
"Paduka raja, biarkan hamba yang akan tetap berada disini."
"Tapi Panglima, saya adalah raja, saya harus berkorban demi keluarga dan para penduduk kerajaan!"
"Tidak baginda, baginda harus tetap hidup untuk menjaga kami, tolong biarkan saya tetap berada disini."
"Baiklah, saya berharap kita dapat bertemu kembali dan saya tidak akan pernah melupakan pengorbananmu," ucap sang raja yang dibalas dengan anggukan dari panglima tersebut kemudian berlalu pergi dengan beberapa prajurit.
.
.
.
"BUKA GERBANG UTAMA, PADUKA RAJA TELAH TIBA," teriak seorang penjaga yang berada diatas gerbang.
Pintu gerbang utama telah terbuka, memperlihatkan isi kerajaan yang begitu besar dan sangat luas.
"Kumpulkan keluarga kerajaan dan semua penduduk desa. Serta, bawa mereka semua ke hutan pulau Timur," ucap sang raja kemudian berlari menuju kamar utama.
.
.
.
"Paduka raja," ucap sang ratu bingung juga senang.
"Bawa ratu kedalam kereta dan pergi menuju gerbang Timur," ucap sang raja sembari membantu sang ratu berdiri.
Saat ini, ratu dalam kondisi mengandung dan hanya dalam hitungan hari ia akan melahirkan anak pertamanya. Sebenarnya sang ratu pernah melahirkan seorang anak laki-laki, namun saat itu juga kondisi kerajaan dalam peperangan dan putra mereka menghilang bersamaan dengan musuh yang mengundurkan diri.
.
.
.
Semua orang telah berada di depan gerbang Timur untuk segera pergi sebelum para siluman itu datang kemari, karena mereka tahu bahwa sangat sulit mengalahkan para siluman tanpa persiapan yang kuat dan mereka dapat menggunakan sihir.
"RAJA TELAH TIBA, BUKA PINTU GERBANG TIMUR SEGERA."
Setelah pintu gerbang Timur terbuka, mereka segera keluar dari kawasan istana melewati hutan lebat menuju sebuah pulau dari bagian seberang. Hutan ini bukanlah hutan yang biasa dilalui karena tidak terlihat jalur terbuka bahkan jalan setapak tidak terlihat disana.
Pohon rindang dan rumput tinggi memenuhi hutan tersebut memaksa mereka untuk membuat jalur baru dan itu akan diketahui para siluman. Namun, mereka tetap melakukannya karena akan ada ladang yang luar setelah melewati hutan rindang ini dan membuat para siluman tidak akan menemukan jejak mereka setelah keluar dari hutan menuju lautan.
Pulau yang mereka tuju bukanlah bagian dari kerajaan. Namun, milik kerajaan raksasa yang cukup kuat bahkan bisa dikatakan sebanding dengan para siluman. Walaupun dikatakan pulau raksasa, bukan berarti mereka adalah raksasa yang sebenarnya, itu hanyalah nama dari pulau kedua terbesar dari Negara tersebut.
Alasan mereka pergi ke pulau itu karena pulau tersebut adalah hadiah dari penguasa kerajaan raksasa untuk kerajaan Loesnatales. Karena telah menyelamatkan putrinya dari kejaran prajurit seberang yang hampir membunuh putrinya hanya karena menyelamatkan seekor rusa dari jebakan mereka.
Pulau tersebut masih menjadi rahasia kedua kerajaan tersebut dan tidak ada pihak luar yang mengetahuinya.
.
.
.
- Dua hari kemudian -
"Paduka Raja, maaf, Ratu sepertinya akan segera melahirkan."
"Apa!" ucap sang raja tidak percaya dan kemudian berlari menghampiri sang Ratu.
"Maaf paduka, Ratu sedang dalam masa persalinan."
Semua orang yang berada disana merasa cemas, takut, juga senang. Bagaimana tidak, ditengah-tengah perjalanan dari kejaran para siluman akan lahir satu nyawa.
- Owe, owe, owe -
Suara tangis seorang bayi yang baru saja dilahirkan itu membuat Ratu dan Raja yang baru saja melihat bayi itu tercengang dengan apa yang mereka lihat. Rambut putih lebat dan mata cokelat terang yang sempat berwarna merah menyala dan tubuh yang bersinar membuat mereka kaget dan bingung.
Namun ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengagumi dan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada pangeran yang mereka tahu adalah putra dari Raja dan Ratu.
Raja sempat memeluknya sebentar sebelum ia memberikan putranya pada sang ratu. Ia sangat ingin melihat putranya dan memeluknya lebih lama serta mencari tahu mengapa rambut putranya berwarna putih dan matanya yang sempat menjadi merah menyala, namun keadaan saat ini membuatnya mengurungkan niat untuk melakukannya.
"Lanjutkan perjalanan, kita harus segera tiba sebelum malam tiba," ucap sang raja melihat istrinya tersenyum dan pergi kembali menunggangi kuda miliknya.
.
.
.
Mereka terus berjalan, langkah yang semakin bertambah berat dan waktu yang semakin terasa berputar cepat. Apabila tidak sampai di tujuan tepat pada waktunya, maka mereka harus siap menjadi budak para siluman.
Matahari sedikit demi sedikit mulai tenggelam menyembunyikan sinarnya, hanya dalam waktu 1 (satu) jam, mereka harus segera tiba di hutan tersebut untuk menarik sampan dan kapal yang dapat memuat cukup beban berat seperti kereta dan kuda.
Kini mereka telah berada di bibir laut, siap untuk segera meninggalkan pulau tempat tinggal mereka.
"Dahulukan wanita dan anak-anak!" Teriak raja yang sibuk menarik kudanya keatas kapal.
.
.
.
Kapal-kapal yang berada disini adalah kapal penyeberangan bagian Timur, itulah sebabnya kapal-kapal ini berukuran cukup besar.
Setelah kapal terakhir barulah sang raja ikut naik keatas kapal. Jika dipikir, seharusnya ia bersama istrinya berada dikapal pertama. Namun, ia adalah pemimpin yang harus berani mengorbankan diri untuk keselamatan keluarga dan rakyatnya.
Jarak yang harus mereka tempuh sekitar setengah jam melewati laut dengan rute lurus. Tetapi, karena cuaca yang cukup berangin membuat kapal tidak dapat terus lurus dan akan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan, jika dipaksakan pasti akan menyebabkan kapal terbalik dan tenggelam.
..........................