
"George apa kamu tidak bisa menjadikan pedangmu sebagai penerang? Ayolah, aku kegelapan tidak bisa berjalan," ujar Alice yang terus berkata tapi tidak terlihat di mana keberadaannya karena keadaan yang begitu gelap.
Mereka memasuki pohon itu lebih dalam, yang membawa mereka ke dalam tanah. Entahlah, ada serangga atau hewan melata.
Sedikit cahaya mulai muncul, pedang emas yang dimiliki George mulai memunculkan cahaya, Alice pun tidak protes lagi yang terus melangkah mengikuti arah.
Tiba di penghujung jalan mereka terhenti. Ada sebuah cahaya muncul dari sebuah lubang. George mengenal cahaya itu yang berasal dari batu mulianya, karena penasaran mereka pun masuk ke dalam lubang itu yang terus berjalan mengikuti letak cahaya.
Sontak, keduanya terbelalak saat melihat sebuah pedang dan batu mulia yang disatukan. Cahaya itu benar-benar dahsyat hingga terlihat dalam jarak yang jauh.
"George bukankah itu batu mulia yang kau miliki?" tanya Alice.
"Dan itu pedang ratu," ujar George yang menjawab.
"Tunggu!" George menarik tangan Alice menghentikan Alice yang akan berjalan.
"Kita harus mengambilnya," kata Alice.
"Jangan sembarangan. Bagaimana jika ada yang melihat? Olympus pasti memiliki banyak pengawal," ucap George Alice pun diam.
"Kita lihat dulu, apa yang akan terjadi pada pedang itu. Olympus menyatukan tiga benda itu hingga membiaskan cahaya dari satu sama lain, tepat pada bulan purnama."
George dan Alice masih tidak mengerti, hingga cahaya buku mengalihkan pandangan mereka. George segera mengambil buku itu, yang ternyata memberikan sebuah petunjuk.
"Kekuatan, jadi pedang dan batu mulia itu akan menyatu. Kekuatan pedang itu akan semakin dahsyat. Dan olympus akan menggunakan pedang itu untuk menyerang istana," ucap Alice.
Mereka tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Tiba-tiba pembiasan cahaya bulan purnama terhenti. Batu mulia itu menghilang yang bersatu dengan pedang yang kini sudah berubah.
Alice dan George segera mengambil pedang itu. Namun, mereka dihadang oleh beberapa pengawal.
Perkelahian pun terjadi. George dan Alice bertarung melawan para pengawal itu.
Pertarungan sengit masih berlangsung, para prajurit Olympus semua menggunakan sihir, mereka tidak mampu melawannya.
"Alice, cepat ambil pedang itu. Mereka ... serahkan kepadaku," ucap George Alice pun mengangguk dan pergi.
George terus menyerang pengawal itu. Pedang emas yang dia miliki mulai dikendalikan. Dalam satu gerakkan para pengawal pun tumbang tapi ... tidak berangsur lama mereka terbangun. Salah satu dari mereka membinasakan pedang itu dengan sihir sehingga pedang itu beku.
Alice masih terus berusaha mengambil pedang ratu. Namun, jarak yang ditempuh begitu sulit karena ada sungai api yang harus dilewati. Sedangkan tidak ada jembatan atau apa pun untuk menempuhnya.
"Bagaimana ini?" monolognya. Alice terus berpikir bagaimana caranya mengambil pedang itu.
Alice mencoba menjatuhkan apel yang langsung hangus membuat gadis itu ngeri.
"Alice!" teriak George membuatnya menoleh.
George tidak kuat lagi harus melawan mereka tanpa senjata. Tanpa pikir panjang, Alice melompat jauh ke atas bebatuan yang berada di tengah sungai api. Akhirnya Alice mendapatkan pedangnya.
"Yak!" teriaknya yang menjulurkan pedang ke bawah sungai, dalam seketika sungai api itu berubah menjadi air.
Alice segera turun berenang ke tepian. Namun, Alice terlambat karena George sudah terluka. Gadis itu marah, yang langsung menyapu semua pengawal dengan pedangnya. Mereka pun tumbang.
"George!" teriak Alice menghampiri George. Alice segera merobek ujung bajunya yang diikatkan pada perut Georg agar darahnya terhenti.
"George bertahanlah," ucap Alice dengan cemas.
"Kamu sudah mengambil pedangnya?" tanya George, Alice pun langsung menunjukkannya. Seketika mereka tertawa kemenangan.
"Kamu masih bisa tertawa sedangkan perutmu terluka," kata Alice.
"Kamu lupa? Batu mulia bisa menyembuhkannya. Sekarang dekatkanlah pedang itu pada perutku," ucap George.
"Kamu yakin?" tanya Alice memastikan.
"Ya," jawab George. Alice pun meletakkan pedang itu di atas perut yang terluka, dalam seketika luka dan darah itu hilang. George pun kembali bugar.
"Sudah sembuh. Sekarang kita pergi, kita tunjukkan pada mereka, ratu pasti senang," kata George yang diangguki Alice.
Mereka pun pergi meninggalkan gua itu. Sungguh menakjubkan saat melihat keadaan di luar. Para naga yang sedang di rantai, bahkan ada yang terluka mereka biarkan. Sungguh sangat kejam Olympus.
Alice mulai memejamkan mata, ia mulai bicara dengan para naga itu. Entah apa yang naga-naga itu katakan tapi Alice terlihat marah.
"George, kamu benar. Mereka naga-naga baik. Olympus hanya memanfaatkan mereka. Dia akan memberikan kekuatan, mengendalikannya dengan sihirnya, sehingga mereka semua berubah jadi jahat. Karena kekuatan itu mereka tidak bisa menolak perintahnya. Dan mereka bilang Olympus sedang menyerang istana," jelas Alice.
George terbelalak, ia memikirkan tentang teman-temannya di sana.
"Kita harus segera kembali," ujar George tetapi di sanggah Alice.
"Kita obati mereka dulu. Kita lakukan hal yang sama seperti Olympus. Namun, kita tidak memanfaatkannya tetapi membantu mereka lepas dari Olympus. Mereka pun akan membantu kita untuk melawan Olympus.
Setelah berpikir, Alice dan George langsung membantu para naga itu. Menyembuhkannya satu-persatu dengan pedang itu. Akhirnya puluhan naga kembali bangkit, yang kini Alice dan Georgelah yang memerintah.
"George siap!" teriak Alice yang sudah menunggangi naga.
Mereka serempak pergi meninggalkan tempat itu menuju istana.
.
.
Semua orang di istana terkejut. Raja dan Ratu mulai mundur dan mengarahkan para pengawal yang tersisa ikut mundur saat puluhan naga terlihat terbang di atas sana. Olympus menyeringai, merasa dirinya akan menang.
Namun, semuanya dikejutkan oleh para naga yang menyerang temannya sendiri. Olympus mulai aneh, karena naganya melawan sang majikan.
Namun, tidak dengan raja dan ratu yang tersenyum melihat George dan Alice, hingga pedang miliknya.
Derik, Stephen dan Lussi ikut tersenyum karena George kembali.
"Kita serang lagi ayok!" ajak Lussi mereka semua bangkit lagi dan menyerang Olympus.
Para naga tumbang, semua pengawal Olympus terluka begitu pun Olympus berakhir kalah. Tubuhnya tersungkur gosong dibakar naganya sendiri.
Semua yang di istana bersorak ria. Pengorbanan berakhir kemenangan. Ratu dan Raja memberikan hadiah pada George dan Alice, bahkan George membangun kembali kerajaan itu.
Tidak hanya berupa mahkota dan koin mas yang George dapatkan. Alice sang putri Raja berhasil ia dapatkan. Mereka menikah dan George mendapat gelar sebagai pangeran.
Semua orang ikut bahagia. Namun, George lupa bahwa misinya selesai. Tugasnya di dunia dungeon sudah berakhir dan George akan kembali ke dunianya.
"Alice apa kamu akan ikut denganku?" tanya George yang memeluk Alice.
"Tentu," jawab Alice.
"Walaupun ke duniaku," kata George lagi.
Alice tersenyum dan berkata, "Duniamu Duniaku, aku akan selalu ikut denganmu wahai pangeranku."
Satu kecupan lembut mendarat di bibir ranumnya. Alice begitu menikmati sentuhan lembut itu. Mereka pun kembali ke dunia modern melalui sebuah pintu. Pintu pertama yang George lewati dalam sedetik mereka sudah berada di dalam kamar George.
Semua buku, pedang pusaka, dan semua yang ia dapatkan di dunia dungeon akan di simpan sebagai kenangan. Mereka menutup pintu itu dengan rak buku lagi.
"Apa kita harus menutupnya?" tanya Alice.
"Ya, aku takut ada seseorang yang masuk dari dungeon," jawab George membuat Alice tersenyum.
Tangan George mulai menggenggam, berpindah pada pelukan, Alice dan George mereka kembali menyatukan cintanya yang sempat tertunda.
...****************...
...The End...
Terima kasih sudah membaca kisah Alice dan George. Juga saya berterima kasih karena kalian sudah memberikan dukungannya untuk saya. Jangan lupa mampir ke karyaku yang lain ya, hanya dengan klik profil kalian sudah bisa menemukan karya-karya ku.
Terima kasih 🙏🏻
Salam orang sunda 🥰