
Alice terus berenang ketepian, sedangkan George mencoba untuk melawan para predator itu. Puluhan predator semakin muncul Alice yang hampir menyentuh tepi danau tiba-tiba tenggelam ditarik oleh seseorang.
Detik itu juga tubuh Alice berada di dalam danau. Seekor buaya telah menyeret tubuhnya membawa Alice hingga ke dasar danau. Namun, Alice berhasil lolos yang hanya mengandalkan sebuah ranting pohon yang ia tusukkan pada mata predator itu.
Seketika mulutnya terbuka lebar, gigi-gigi runcing dan tajam itu sangat menyeramkan. Alice segera bergerak mundur yang kembali berenang ke atas danau.
George masih harus menghadapi puluhan buaya yang berdatangan. Aneh, saru buaya telah dia bunuh memunculkan predator yang baru.
George baru mengingat pedang dan batu mulia yang dia miliki. George memilih menggunakan batu mulia itu untuk melawan buaya. Satu liontin Goerge buka seketika sinar cahaya batu biru menyilaukan para predator itu. Dalam seketika predator itu lenyap menghilang tanpa jejak.
George merasa heran, apa predator itu hilang karena batu mulia itu? Atau benar-benar sudah mati. George tidak peduli yang langsung menghampiri Alice di tepi danau.
Segera George berenang mendekati Alice yang terluka.
Predator itu sudah menggigit paha mulusnya hingga bercucuran darah segar. Melihat itu George segera mengobatinya.
"Tuan Putri." Alice semakin meringis luka itu sangat perih.
"Ah!" jerit Alice. George segera membalut lukanya dengan kain.
"Maaf," ucap George sebelum merobek bawah gaun Alice yang dia gunakan untuk mengikat lukanya. Alice semakin lemah karena darah yang keluar dari tubuhnya.
"Aku harus mengobati lukamu," ucap George lalu membawa Alice ke bawah pohon beringin. George bingung harus mengobati lukanya dengan apa hingga George berpikir untuk membuka kalungnya.
Batu mulia pada liontin berharap bisa mengobati luka Alice. George pun membuka kalung itu, menyimpannya di atas paha Alice yang terluka. Sedetik cahaya orange muncul bersamaan dengan jeritan Alice yang semakin kencang.
Namun, itu hanya sesaat dan Alice kembali tenang. Wajah Alice begitu pucat dan tubuhnya mulai melemah. George mengambil kalungnya, dia tercengang ketika melihat luka pada paha Alice yang langsung kering, darah yang mengalir bersih tidak sedikit pun tersisa lada lukanya.
"Batu ini benar-benar hebat," ucap George lalu memakai kalungnya lagi.
George melihat Alice yang terpejam, tubuhnya sedikit demam, George berpikir untuk tetap di sini sampai Alice sembuh.
Dia seorang wanita yang terus menatap Raja dengan intens. Jari tangannya terus meraba wajah Raja tetapi wanita itu malah menangis. Karena tidak kuat menahan tangisannya wanita itu pergi keluar gubuknya dan Raja masih belum tersadar.
"Monster itu sudah menghancurkan istana dan kerajaan. Dia harus segera dimusnahkan. Aku harus menemukan batu mulia itu," ujar wanita itu yang menatap sebuah tongkat kerajaan tanpa mahkota.
George mengumpulkan beberapa ranting pohon untuk dijadikan api unggun sebagai penghangat. Bahkan George sudah memancing ikan yang banyak hanya dengan menenggelamkan batu mulia itu ikan-ikan dalam danau beterbangan hingga ke daratan.
Tentu saja George senang karena santapan makan malamnya lebih dari cukup. Beruntung George memiliki botol minum yang terbuat dari tanah liat yang selalu di bawa. George mencari air jernih untuk di minum.
Alice terbangun setelah lama pingsan. Segera George mendekat memberikannya minuman. "Minumlah," ujar George memberikan botol minumnya.
Perlahan Alice meneguknya. George berjalan ke arah ranting pohon yang sudah dia kumpulkan. Sedetik pedang emas yang dia miliki dikeluarkan, George hentakkan pada tanah hingga terciptalah percikan api yang muncul dibalik ranting.
Alice yang melihat itu terkagum-kagum. "George, pedang itu sangat hebat, luar biasa," ujar Alice yang hendak berdiri tetapi George segera mendekat untuk membantunya.
"Pelan-pelan, kakimu masih sakit." George berkata seraya menuntun Alice ke dekat api unggun.
"Hampir saja kakiku terputus," ujar Alice membayangkan kejadian tadi siang.
"Makanlah sedikit kita hanya punya ini," kata George memberikan satu ekor ikan bakar hasil pancingannya tadi.
"Kamu yang memancing?" tanya Alice.
"Hm ... lihatlah banyak bukan," jawab George memperlihatkan hasil ikan tangkapannya.
"Jika begitu aku tidak akan kelaparan," kata Alice dengan senyuman. Tiba-tiba Alice teringat sang ayah yang belum ditemukan.
"George apa ayahku akan baik-baik saja?"
"Yakinlah pasti baik-baik saja. Kita hanya memerlukan waktu, setelah lukamu sembuh kita aka mencari Raja kembali. Semoga saja teman-temanku sudah menemukan Raja," ucap George.