
"Alice!" teriak George mencari Alice.
"George!" teriakan Alice begitu menggema, tetapi George tidak bisa melihat keberadaan Alice.
Hingga saat teriakan kedua, pria itu mendongak, menatap Alice di atasnya.
"Alice!" Segera George membantu turun.
"Hutan ini sangat menyeramkan," kata Alice setelah turun.
"Bagaimana bisa kamu ada di atas?" tanya George.
"Semua karena akar ini. Tiba-tiba setiap akar muncul, merambat ke arahku dan mengikatku di atas pohon itu. Lalu, bagaimana denganmu? Di mana serigala itu?" Alice panik.
"Mereka sudah musnah, karena pedang ini." George berkata seraya menunjukkan pedangnya.
"Pedangmu sangat luar biasa. Lebih baik kita keluar dari sini." Alice memberi usul.
"Benar," ujar George. "Pintu dungeon ada di sana kita harus kembali," tambah George. Namun, disanggah Alice.
"Pasti ada pintu yang lain, kita cari ke arah sana." Tunjuk Alice ke dalam hutan.
Mereka pun memasuki hutan lebih dalam. Namun, langkah mereka harus terhenti. Para serigala kembali muncul. Alice dan George memundurkan langkahnya ketika melihat anak-anak serigala yang semakin bertambah.
Hewan buas itu mengelilingi mereka.
"George, bagaimana ini?" tanya Alice dalam keadaan waspada.
"Tidak ada cara lain selain melawan atau lari," jawab George. Mereka pun saling pandang.
Alice memejamkan mata membuat George heran. Perlahan mata itu terbuka, Alice berjalan gontai mendekati para serigala itu.
"Alice apa yang kau lakukan?" tanya George yang mulai panik.
George siap mengangkat pedangnya untuk menyerang, tetapi tindakannya terhentikan saat Alice mengelus lembut serigala-serigala itu. Dalam sekejap para serigala luluh, mereka seperti sudah saling mengenal dan akrab.
"Alice," panggil George.
Entah apa yang Alice bisikan, serigala itu pun pergi meninggalkan hutan.
"Apa yang kamu lakukan? Apa yang terjadi pada mereka?" tanya George heran.
"Mereka sudah pergi apalagi? Ayo kita lanjutkan perjalanan."
"Alice kamu belum menjawab pertanyaan ku," ujar George menghentikan langkah Alice.
Alice pun berbalik.
"Maksudmu berbicara dengan hewan itu? Apa kamu baru saja bernegosiasi?" tanya George membuat Alice tertawa.
"Mereka seperti itu demi untuk melindungi diri. Banyak manusia yang datang ke hutan hanya datang memburu itu sebabnya mereka tidak akan percaya pada manusia, sehingga mereka memilih untuk menyerang terlebih dulu," jelas Alice.
"Sebuah kemampuan yang luar biasa. Aku tidak pernah melihatnya, aku hampir saja membunuh serigala-serigala itu," ujar George.
"Apa kamu tahu? Berkat kemampuan ku aku bisa tahu jika di hutan ini banyak sekali tumbuhan yang bermanfaat. Kita jalan lurus saja, mereka bilang ada pohon apel di sana, itu lebih baik dari perkiraan mu bukan?"
"Ya, dalam sekejap kamu sudah menjadi teman serigala itu," kata George.
Mereka berdua pun berjalan dan berhenti di depan pohon apel. Banyak juga tumbuhan lainnya.
"Ini surganya dunia, mereka pasti senang kita mendapatkan makanan."
"Tunggu apalagi," ujar Alice.
George dan Alice pun segera memetik buah apel itu. Mereka tidak tahu keadaan di kerajaan sedang kacau saat ini. Olympus kembali menyerang, kini bersama naga besarnya, semburan api sangat besar hingga menghancurkan kerajaan, air yang mereka kumpulkan habis kering tidak tersisa.
"Lussi!" teriak Derik saat Lussi terkena semburan api bahkan tubuhnya terlempar jauh.
"Derik!" Stephen berhasil menyelamatkan Derik dari semburan api. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Stephen sedikit membentak.
"Lussi," jawab Derik menunjuk ke arah Lussi.
"Tapi kamu juga harus berhati-hati," kata Stephen. Mereka berdua pun melangkah ke arah Lussi.
Lussi mengalami luka bakar pada tangan kanannya juga kaki kanannya. Api itu sangat panas.
"Ini aneh, bukankah naga itu sudah musnah? George sudah mengambil kekuatan pada naga itu. Namun, apa yang terjadi? Naga itu kembali dengan kekuatan barunya," kata Stephen.
"Mungkin pria itu. Bukankah ratu pernah bilang jika semua naga-naga itu dikendalikan olehnya," balas Derik.
Alice dan George sudah mendapatkan buah apel yang banyak. Mereka berniat kembali ke istana.
"Ini sudah cukup ayo kita kembali," ajak Alice George pun mengangguk.
Mereka berjalan menyusuri hutan, mencari sebuah pintu yang mungkin bisa membawa mereka ke istana.
"George aku menemukannya," ungkap Alice yang berlari ke arah pohon besar yang terbelah.
Pohon itu mendapat celah dan lubang menuju bawah tanah.
"Bagaimana? Apa kita coba?" tanya Alice. George pun mengangguk.