
Alesa dan Alice awalnya hanya saling pandang. "Alice," panggil Ratu.
"Ibu," ucap Alice dengan mata yang berkaca-kaca. Alice masih ingat rupa dan wajah sang ibu. Bagi Alice menatap wajah Ratu seperti saat terakhir kali bertemu. Saat Alesa memasukannya ke dalam lemari.
"Ibu."
"Alice."
Akhirnya mereka bisa berpelukan setelah sekian lama. Alesa tidak melepaskan pelukannya begitupun dengan Alice. Raja yang melihat itu jadi terharu keluarganya kembali berkumpul
George duduk merenung di dalam kamar bersama ketiga pemburu. Mereka menanyakan ke mana George selama ini dan di mana dia bertemu Alice.
"George, katakan ke mana saja kamu selama ini? Kami mencari mu di hutan," ujar Stephen.
"Saat kita berpencar aku menemukan sebuah goa lalu masuk ke dalamnya. Namun, di dalam goa itu aku melihat tuan putri sedang melamun, awalnya aku tidak menyangka jika bisa bertemu tuan putri Alice," jelas George.
"Bagaimana bisa kamu mengenalnya? Bukankah kalian tidak pernah bertemu?" tanya Derik dengan ekspresi wajah tidak suka.
"Aku melihatnya dari lukisan yang ada di kamar Raja," jawab George.
"Apa kalian ingat hadiah yang dijanjikan? Koin emas dan mahkota kerajaan. George ... Kamu sudah menemukan Alice itu artinya kamu pemenangnya," kata Stephen dengan bangga.
Derik terlihat kesal yang tersenyum sinis. "George dipanggil Raja," kata seorang pemuda sebagai pelayan istana.
Stephen, Derik, dan Lussi langsung melirik pada George. "Mungkin Raja akan memberikan hadiah padamu George," bisik Stephen. George segera pergi dari kamarnya mengikuti seorang pelayan istana menemui Raja.
Raja terlihat berdiri di atas balkon, dia menoleh seraya tersenyum pada George ketika datang. Raja pun melangkah mendekat. "George," ucap Raja yang menyentuh pundak George dengan lembut.
"Dari awal aku sudah yakin jika kamu adalah pemenangnya. Kamu akan menyelamatkan putriku," ujar Raja.
"Sudah tugasku yang mulia." George berkata seraya membungkukkan badannya. Lalu kembali berdiri tegak.
"Sesuai janjiku aku akan memberikan hadiah padamu. Namun, sebelum itu ada yang ingin bertemu dengan mu dia sepertinya sudah tidak sabar ingin bicara dengan mu," ucap Raja membuat George heran.
George segera menoleh ke belakang di mana Alice berdiri sambil tersenyum padanya. Penampilan Alice juga sangat berbeda terlihat seperti seorang putri sungguhan, yang memakai gaun silver berkilau, rambut panjang yang terurai juga hiasan bunga di atas rambutnya.
Dengan senyum mengesankan Alice melangkah menghampiri George. George menjadi gugup ketika Alice semakin mendekat.
"Bicaralah dengan santai jangan terlalu tegang," pesan Raja yang menepuk pundak George lalu pergi meninggalkan mereka.
"George?" Panggil Alice.
"Hai A-Alice." Alice terkekeh melihat kegugupan George..
"Mm ... kamu sangat cantik," ucap George membuat Alice semakin tertawa.
"Kemarilah." Alice berkata seraya menuntun George ke pinggir balkon. "Terima kasih George berkat kamu aku bisa bertemu ibu dan ayahku. Aku tidak percaya bisa berada di tempat ini," ucap Alice lalu menatap George.
"Kita tidak tahu apa monster itu masih ada atau sudah tiada. Semoga saja monster itu tidak akan muncul lagi." George berkata seraya memandang kerajaan yang hancur di bawah sana. Banyak masyarakat dan para prajurit membenarkan kekacauan itu.
"Ladang dan kebun terbakar harus membuat yang baru. Serta bangunan-bangunan yang runtuh harus diperbaiki," ujar George.
"Apa kamu akan memperbaikinya?" tanya Alice George hanya mengangguk lalu berkata, "Akan aku coba," ucapnya.
"Apa kamu ingat tentang dungeon yang pernah aku katakan. Hari ini aku akan menunjukannya padamu."
Alice menarik tangan George, menuntunnya pergi dari balkon menuju kamarnya. Kebersamaan Alice itu terlihat oleh Lussi dan Derik. "Sepertinya hubungan mereka sangat dekat," ucap Lussi.
"Apa kamu cemburu?" tanya Derik seketika Lussi menoleh. "Aku bisa melihatnya dari pandanganmu pada George. Kadang aku berpikir George pria aneh dia datang dari negeri lain. Apa kamu ingat pertama George datang? Dia begitu ketakutan tapi tiba-tiba dia menjadi pemberani seperti itu," ujar Derik membicarakan keburukan George.
Lussi yang mendengarnya pun jadi kesal. "Menurutku kamu juga aneh. Sepertinya kamu iri dengan keberhasilan George, semua yang George miliki kamu menginginkannya," ucap Lussi dengan tatapan sinis. "Aku juga bisa melihat bagaimana kamu memandang George," tambah Lussi dengan tatapan tajam. Lalu pergi meninggalkan George.
***
Alice membawa George ke dalam kamarnya. Semua pintu di kunci, tirai jendela di tutup. Alice menggeser ranjang tidurnya yang memperlihatkan sebuah lubang bawah tanah tetapi memiliki anak tangga untuk dipijak.
"Lihatlah," ucap Alice.
"Ruang bawah tanah," kata George. Alice segera membawa George menuruni tangga itu.
"Ayo aku akan menunjukan sesuatu padamu." Alice berkata seraya menuruni tangga. George hanya diam mengikuti langkah Alice.
"Apa kamu pernah memasukinya?" tanya George.
"Pernah," jawab Alice. "Saat aku kecil," sambungnya. "Dulu aku bermain sebuah koin yang aku lemparkan. Tidak sengaja koin ini masuk ke bawah ranjangku, saat ku terawang tidak ada koinku tapi aku melihat sebuah lubang yang menuju ruang bawah tanah. Aku pikir tempatnya seram dan gelap ternyata sangat indah kamu akan takjub melihatnya," ujar Alice menceritakan tentang dungeon itu.
Keadaan yang gelap mulai terang, sebuah dunia baru mereka masuki. Alice tersenyum dan George tercengang melihat bukit yang hijau nan asri. Tetapi George tercengang bukan karena keindahannya tetapi karena itulah dunianya tempat tinggalnya.
Pintu yang mereka masuki membawanya ke dunia nyata yang George tinggali. "George kenapa kamu melamun?" tanya Alice dan George masih terdiam.
"Sejak kapan kamu ada datang ke duni ini?" tanya George.
"Dulu, saat aku masih kecil. Di sini banyak sekali anak-anak yang bermain. Aku suka melihatnya permainan yang mereka mainkan berbeda dengan di istana. Aku juga bertemu seorang anak laki-laki yang terus melihatku, hanya dia yang melihatku waktu itu. Karena aku takut ketahuan ya sudah, aku kembali masuk ke dalam pintu ini," ujar Alice.
George segera melirik pada Alice lalu berkata," Anak laki-laki itu adalah aku," ucap George membuat Alice terkejut.