The Kingdom Is Hidden In Dungeons

The Kingdom Is Hidden In Dungeons
Alice dan George



"Ah!"


"George!"


Hewan kecil itu tidak hanya ganas dia berubah menjadi seorang monster, tubuh kecilnya menjadi besar. George dan Alice perlahan mundur, tiba-tiba lidah monster itu keluar untuk membelit tubuhnya tetapi George dan Alice bisa menghindar.


Monster itu tidak menyerah yang terus melayangkan lidahnya. Alice dan George terus berlari hingga lidah itu berhasil membelit kaki Alice dan menariknya.


"Aa ... !" teriak Alice.


"Alice!" George segera mengeluarkan pedang emasnya, dalam sedetik pedang itu mampu memotong lidah monster yang panjang.


SREKK


Bugh


Alice pun terjatuh yabg segera melepaskan lidah itu dari kakinya lalu pergi berlari ke arah George. Namun, monster itu kembali terbangun dan lidahnya kembali utuh.


"George! Gunakan kalung mu!" teriak Alice. George baru mengingat batu mulia itu, dia pun segera membuka kalungnya melemparkan ke arah monster yang berlari ke arahnya..


Monster itu sudah siap menerkam yang menjulurkan lidahnya yang panjang. George dan Alice terbelalak seketika ketika lidah itu hampir mengenai mereka. Namun, sebelum itu terjadi George menarik tubuh Alice untuk menghindar dari lidah itu.


Tubuh keduanya terjatuh bersamaan dengan lenyapnya sang monster. Tiba-tiba monster itu meledak, tubuhnya hancur berkeping-keping dan akhirnya menghilang.


Sebuah kalung mengeluarkan cahaya, dan cahaya itu pun redup masuk ke dalam sebuah liontin. Batu mulia yang George lempar menyelamatkan mereka dari monster.


George dan Alice masih merunduk, George pun terbangun setelah sadar jika Alice berada di bawah kungkungannya. Dalam sesaat mereka bersitatap sampai George teringat kalungnya.


George langsung berdiri mencari kalung itu tanpa membangunkan Alice. George mendadak salah tingkah dan canggung.


"Apa monster itu sudah pergi?" tanya Alice. George segera berbalik menghadap Alice lalu menghampirinya.


"Batu mulia ini sudah menyelamatkan kita," ujar George memperlihatkan batu mulianya. Mereka berdua tersenyum kembali saling menatap.


Tatapan keduanya sangat beda seperti ada tatapan cinta. Sedetik mereka memalingkan wajahnya melemparkan pandangan ke sembarang arah.


"Sebaiknya kita kembali ke danau," ujar George. Alice pun mengangguk.


Mereka kembali ke danau untuk beristirahat, Alice mencoba memasak ikan hasil tangkapan George sedangkan George memotong beberapa kayu untuk dijadikan tempat berteduh.


"Kamu membuat tenda? Cukup kreatif," ujar Alice setelah mendekat.


"Ini cukup untuk kita tidur," kata George yang membuat pipi Alice merah merona. Alice membayangkan mereka akan tidur bersama dalam tenda.


"Alice duduklah."


"Untuk apa?" tanya Alice.


"Aku akan melihat luka di pahamu," jawab George Alice pun mengerti yang langsung duduk di dalam tenda. George jadi gugup ketika Alice mengangkat sedikit gaunnya memperlihatkan kaki jenjang yang begitu mulus.


Sampai George tidak bisa berkata dan terus menelan air liurnya.


"George?" Barulah panggilan Alice menyadarkan George.


"Sebelumnya maaf Tuan Putri aku harus menyentuh tubuhmu," ujar George yang semakin gugup.


"Ada apa denganmu George, kenapa gugup seperti itu?" tanya Alice yang tertawa. "Panggil saja aku Alice jangan tuan putri," ujar Alice lalu meminta George untuk segera mengobati lukanya.


"Baiklah Alice aku akan melihat lukamu sebentar." George pun menunduk, dengan perlahan dia membuka perban pada paha Alice. Lukanya cukup parah dan semakin basah mungkin karena tarikan sang monster tadi.


"Aku akan memberikan daun ini semoga bisa menyembuhkan luka mu dengan cepat." George menempelkan sebuah daun berbentuk seperti daun sirih yang dipercaya bisa menyembuhkan luka dengan cepat.


Alice hanya diam seraya memandang wajah George di depan matanya. "George kamu belum memberitahu ku dari mana kamu berasal?" tanya Alice membuat George tertegun menatapnya.


"Bagaimana jika aku berasal dari dunia lain?" tanya George membuat Alice tertawa.


"Dunia lain seperti apa?" tanya Alice.


"Aku akan membawa mu nanti untuk melihat dunia ku. Sudah aku bilang aku datang melalui sebuah dungeon, seperti sebuah pintu rahasia yang membawa kita ke dunia lain. Dan aku datang untuk menyelamatkan mu," ujar George membuat Alice tertegun.


"Aku tidak peduli dari mana kamu berasal walaupun dunia yang berbeda," ujar Alice menatap George dengan intens.


George sudah sangat terpesona pada Alice semenjak melihat lukisan wajahnya. Dan George semakin terpesona ketika bertemu Alice langsung. Wajah George semakin mendekat, hingga tidak bisa menahan hasrat yang terpendam.


Entah punya keberanian dari mana George mulai mendaratkan bibirnya. Sentuhan lembut yang George berikan membuat Alice memejamkan mata.