
Masa lalu.
Sejak kecil George suka menulis, dia selalu mencari-cari ide di tempat-tempat yang indah. George bermain di sebuah taman melihat teman-teman bermain bola, berlari, dan tertawa.
Namun, ada seorang gadis mengalihkan pandangannya, dia terlihat seperti seorang putri gaun yang indah, sepatu kaca berkelap-kelip dan rambut yang terurai. Wajahnya pun sangat cantik membuat George ingin melukisnya.
"Dia pasti senang melihat lukisan ini." George berkata seraya mengibarkan kertas lukisannya. Akan tetapi ketika George ingin memperlihatkan lukisan itu gadis kecil itu sudah menghilang.
"Ke mana perginya dia," kata George yang celingukan.
Kini mereka sudah dewasa dan George kembali bertemu dengan gadis itu yang tidak lain adalah Alice sang putri Raja.
"Apa lukisan itu masih ada? Aku ingin melihatnya," ujar Alice setelah mendengar cerita George.
"Mungkin, aku lupa menyimpannya." George berkata sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa kamu bisa melukis ku lagi," ucap Alice.
"Baiklah nanti aku akan melukisnya. Sekarang lebih baik kita kembali ke istana. Ayahmu pasti mencari mu."
"George tunggu," ucap Alice menahan George ketika hendak melangkah. George berbalik matanya terbelalak seketika saat benda kenyal dan lembut mendarat di bibirnya.
Alice terdiam dan melepas ciuman itu. Entah kenapa tiba-tiba Alice mencium George. Alice mulai gugup dan salah tingkah menatap George dengan ragu. Namun, tanpa diduga George membalas sentuhan itu.
Alice tercengang hingga terpejam saat sentuhan lembut itu mulai menyesap, dan membelit lidahnya. Pertemuan mereka berdua membuahkan cinta. Alice dan George tersenyum dan saling menatap setelah melepas pagutan bibirnya.
Genggaman tangan semakin erat, mereka melangkah kembali ke istana.
***
George terus tersenyum sampai memasuki kamarnya. Ketiga temannya terus memperhatikan terutama Lussi dan Derik yang tahu apa yang membuat George bahagia.
"George apa yang membuatmu senang? Senyuman mu itu sungguh mencurigakan," ujar Stephen menatap curiga.
Lussi pergi meninggalkan kamar dan mengabaikan George. Mungkin hatinya terasa sakit ketika George bersama Alice.
Derik pun melakukan hal yang sama yang pergi meninggalkan George.
"Ada apa dengan mereka?" tanya George.
"Mungkin mereka iri. George Raja baru saja mengumumkan jika besok adalah penobatan mu sebagai pemenang. Raja akan memberikan mu mahkotanya dan kamu juga akan mendapat koin emas, aku bangga pada mu George," ujar Stephen membuat George tersenyum.
"Apa aku akan kembali ke duniaku?" tanya George "Aku rasa aku tidak ingin kembali dan tetap ingin di sini," ucap George yang kembali membayangkan Alice.
"Wah! George apa yang sudah terjadi? Kenapa tiba-tiba kamu tidak ingin kembali?" tanya Stephen menatap George penuh curiga. "Apa karena tuan putri Alice?" tanya Stephen lagi. "Sepertinya iya," lanjut Stephen. George hanya tersenyum.
****
Hari penobatan pun tiba semua orang bersorak saat Raja memberikan George mahkota sebagai pemenang sayembara. Juga Ratu yang juga mendapat mahkotanya lagi. Kembalinya Ratu dan Alice membuat keluarga kerajaan bahagia.
Namun, dibalik semua itu ada seseorang yang merasa iri, diantara ribuan rakyat seorang pria bercadar pergi meninggalkan istana. Pria itu terus melangkah menjauhi kerajaan, menyusuri hutan, sungai, hingga dia sampai di dalam gua yang terpencil di dalam hutan.
Pria itu memasuki gua itu lebih dalam dikira hanya ruangan gelap dan sempit ternyata gua itu memiliki dunia yang luas, dunia monster. Seorang pria berdiri dihadapannya sambil melihat naga-naga yang berterbangan dan monster-monster raksasa yang sedang dilatih.
"Seseorang telah membantu istana. Hari ini acara penobatan orang itu yang diberikan mahkota kerajaan," ucap si pria bercadar.
"Apa dia juga yang memusnahkan naga-naga ku?" tanya pria itu yang tetap fokus ke depan.
Pria itu pun mendongak memperlihatkan tatapan tajamnya, wajah yang sangar dan bulu-bulu halus memenuhi wajahnya. Dialah Olimpus Priestley si pengendali naga.
"Senjata apa yang dia miliki? Sehingga memusnahkan naga-naga ku dengan mudah," kata Olimpus.
"Sepertinya dia memiliki batu mulia," jawab si pria bercadar.
"Batu mulia, dia bukan pria biasa jika memiliki batu itu," ucap Olimpus.
"Satu lagi Ratu sudah kembali," kata pria bercadar itu. "Apa yang akan kita lakukan? Haruskah kita menyerang lagi?" tanya pria bercadar.
"Tahan dulu. Naga-naga ku belum pulih mereka masih terluka. Biarkan saja mereka untuk sesaat sebelum kita menyerangnya. Pemuda itu harus dikalahkan." Olimpus berkata seraya mengepalkan tangannya dengan kuat. Lalu dia pergi meninggalkan naga-naganya.
***
"George!" Panggil Lussi, George segera berbalik.
"Lussi?" Panggil George.
"Selamat," ucap Lussi seraya menjabat tangan George.
"Terima kasih," ujar George. "Di mana yang lain?" tanya George mencari Derik dan Stephen.
"Itu Stephen," ucap Lussi menunjuk ke arah Stephen yang berjalan ke arahnya.
"Untuk Derik aku tidak tahu," lanjut Lussi.
"Koin mas ini milik kita, kalian yang membawaku ke sini jadi sesuai keinginan dan kesepakatan. Koin emas ini milik kita bersama," ujar George memberikan koin mas itu pada Lussi..
"Tapi kamu yang menemukan tuan putri," ucap Lussi.
"Dan kalian yang membantu ku melawan monster. Kalian juga berhak mendapatkannya," ujar George.
"Terima kasih," ucap Lussi. Stephen pun datang di susul oleh Derik. Derik yang awalnya iri kembali bersikap baik setelah George memberikan koin emas padanya.
"Raja menyediakan banyak makanan lebih baik kita berpesta sekarang ayo!" ajak Stephen yang menarik tangan George begitu pun dengan Derik yang menuntun Lussi.
Kini seluruh rakyat istana sedang berbahagia tanpa mereka tahu bahaya akan segera datang dan menyerang. Derik dan Stephen tidak henti-hentinya memakan semua kue Lussi hanya diam dan tertawa melihatnya.
"Apa kau tidak makan?" tanya Lussi pada George.
"Aku hanya mencicipi kue," jawab George memakan kue. Dari atas sana Alice melihat George yang langsung berlari menemuinya. Raja dan Ratu melihat itu, mereka berpikir jika Alice menyukai George tetapi mereka tidak melarang melainkan senang.
"Bagaimana menurutmu apa George pantas menjadi bagian dari kerajaan?" tanya Alesa.
"Kenapa tidak? Kehebatannya sudah terlihat. Alice sepertinya sangat menyukai George," jawab Raja yang memandangi Alice dan George yang sedang mengobrol.
Raja memeluk Ratu dan tersenyum.
...****************...
Hai reader makasih buat kalian yang masih setia membaca The Kingdom is Hidden in Dungeons. Maaf jika ada kekurangan dan masih banyak typo. Jangan sungkan untuk memberi saran dan kirim komentar kalian. Mohon dukungannya karena cerita ini sedang ikut event. 🙏🏻
Like, vote, hadiah, dan ulasan bintang 5 jangan lupa 🤗 terima kasih semoga kalian suka dengan karya ini.
Follow IG dini_rtn - Untuk saran kalian bisa DM aku ya. Mampir juga ke karya ku yang lain bisa kunjungi profilku 😉.