
Raja dan para rakyat sedang berbondong-bondong memperbaiki istana juga lahan pertanian, peternakan, pasar yang hancur di bangun ulang.
George tidak lupa membantu mereka. Bekerja sama membangun kerajaan kembali. Alice bersama Ratu sedang berada di dalam istana membantu menyiapkan hidangan untuk semua rakyat.
Di lain tempat Olimpus sedang merencanakan penyerangan yang akan dilakukannya pada istana. Semua naga peliharaanya di latih sekuat mungkin. Dengan energi dalamnya dia memberikan kekuatan kepada naga-naga itu.
Pria bercadar kembali datang, yang membisikkan sesuatu pada telinganya. Tatapan mata Olimpus mendadak menakutkan. Kedua tangan yang di gerakkan ke udara memberikan isyarat pada naga-naganya untuk bergerak.
Sayap-sayap besar itu mulai terbuka, bergerak naik turun hingga terbang ke udara. Mereka semua serempak menghadap Olimpus, seolah tahu jika Olimpus adalah tuannya.
Dengan satu kali gerakkan, Olimpus mengayunkan tangannya para naga itu mulai terbang bebas melewatinya. Naga-naga yang pintar sudah tahu ke man dia harus pergi.
Suara erangan begitu menyeramkan, Olimpus terbang menuruni bukit entah dengan kekuatan apa Olimpus bisa terbang tanpa sayap. Pria sangar itu mendekati sang monster yang masih terbaring lemah, dialah monster yang sudah George kalahkan dan mengambil batu mulia itu.
"Bagaimana keadaan monster ini?" tanya Olimpus pada pria bercadar.
"Masih lemah, pedang emas itu menyayat sekujur tubuhnya hingga luka. Kita tidak mungkin membiarkan monster ini ikut bertarung," jelas pria bercadar
"Semua ini karena batu mulia yang diambil," tambah pria bercadar.
"Mereka tidak akan bisa menggunakan batu mulia tanpa tongkat itu," ujar Olimpus. "Para naga-naga ku tidak akan terkalahkan hanya karena mereka memiliki batu mulia, akan ku pastikan untuk mengambil kembali batu itu," ujar Olimpus lalu memanggil seekor naga untuk dia tunggangi.
Naga itu membawa olimpus pergi ke udara meninggalkan kediamannya. Pria bercadar masih bertengger menatap monster itu.
Di istana semua orang masih di sibukkan dengan gotong royong membangun kembali kerajaan. Hampir selesai, lahan-lahan pertanian kembali dipenuhi tanaman, tembok-tembok beton sudah berdiri kokoh sebagai benteng kerajaan.
Alesa dan Samuel terus memperhatikan pekerjaan rakyatnya, hingga netra mereka tertuju pada Alice yang sedang berjalan menghampiri George. Alice membawakan minuman dan makanan untuk George dan membantu pekerjaan George.
"George aku membawakan ini untuk mu, biar aku bantu pekerjaanmu," ujar Alice.
"Semua rakyatku bisa melakukannya kenapa aku tidak bisa, lebih baik kamu makan saja dulu."
"Baiklah," ucap George tersenyum yang terus memperhatikan Alice.
Bersamaan dengan itu Lussi juga memperhatikannya. Lussi merasa cemburu melihat kebersamaan Alice dan George.
"Lussi apa yang kau ...," ucap Stephen tertahan lalu melihat ke arah George yang sedang diperhatikan Lussi.
"Apa kau cemburu?" tanya Stephen Lussi langsung meliriknya. "Apa tidak ada kerjaan lain selain memperhatikan ku?" tanya Lussi dengan mata mendelik lalu pergi meninggalkan Stephen.
"Lussi benar-benar cemburu," ucap Stephen. "Apa itu?" Stephen mendongak ke atas langit, sekumpulan naga sedang berkumpul memantau kerajaan, mereka seperti akan menyerang.
Tidak hanya Stephen, Raja dan Ratu juga melihat itu. "Apa itu sekumpulan burung?" tanya Samuel pada Alesa.
Alesa yang tengah duduk santai langsung melangkah mendekati pagar tembok, memperhatikan sekumpulan bayangan hitam di ata langit sedang memperhatikan kerajaannya.
Alesa meminta pada pelayan untuk mengambilkan teropong. "Ambilkan teropong," ujar Alesa.
Mendengar perintah, sang pelayan segera pergi membawakan barang yang Alesa minta. Alesa mengarahkan teropong itu ke arah para naga, mendekatkannya pada mata untuk melihat apa yang ada di atas sana.
Sedetik bola matanya membulat seketika, mulutnya mengucapkan satu nama Olimpus. Merasa akan datangnya bahaya Ratu berteriak memerintahkan semua rakyat untuk berlindung, para prajuit untuk menutup pintu istana, serta lonceng peringatan adanya bahaya langsung di bunyikan.
"SEMUANYA BERLINDUNG!"
Teng ... Teng ... Teng ... Teng ...
Bersamaan dengan teriakan Alesa, Olimpus memerintahkan naga-naganya untuk menyerang