
George segera berlari ke arah kamarnya mengambil sebuah buku yang dia simpan di bawah bantal. George membuka lembaran demi lembaran hingga akhirnya terhenti ketika melihat gambar tongkat kerajaan.
"Tongkat? Apa maksudnya ini?" George langsung pergi keluar untuk menemui Alice, dia berpikir Alice akan tahu tongkat apa itu.
"Alice!" Panggil George saat melihat Alice yang sedang mengintip kamar Raja.
"George." Alice memanggil dengan suara pelan.
"Sedang apa?" tanya George.
"Aku sedang menguping," jawab Alice. "Ada apa kamu mencari ku?" tanya Alice.
"Ikutlah, ada yang ingin aku bicarakan."
George menarik tangan Alice menuju balkon, kini mereka duduk di atas balkon bersamaan. George memperlihatkan buku itu pada Alice, sebuah tongkat kerajaan dengan dua batu mulia.
"Apa kamu tahu tongkat apa itu?" tanya George.
"Tongkat mulia," jawab Alice.
"Tongkat mulia?"
"Baru saja tongkat kerajaan milik Ratu hilang dicuri seorang penyihir sekaligus pengendali naga. Dia juga mengambil batu mulia mu. Namun, itu bahaya buat kita. Olympus bisa lebih kuat karena tongkat mulia itu. Sebuah tongkat yang disatukan dengan batu mulia. Sehingga kekuatannya tidak akan tertandingi. Dia sudah menyihir kerajaan menjadi kering, dan jika tongkat itu bersamanya, maka monster-monster itu akan semakin kuat menyerang kita. Merek dikendalikan Olympus yang memberikan energinya pada monster dan naga sehingga mereka menjadi jahat dan ganas," jelas Alice.
"Kita harus mengambil tongkat dan batu mulia itu lagi," ujar George.
"Benar, tetapi kita tidak tahu di mana Olympus bersembunyi. Dan sekarang kita harus memikirkan bagaimana cara kita mendapatkan air, menyuburkan tanaman yang sudah tandus. Jika kerajaan tidak segera bertindak rakyat akan menderita."
"Dan cara menyelamatkannya kita harus mendapatkan tongkat itu," ujar George.
Di tempat lain seorang pria bercadar memasuki gua, pria itu melangkah hingga sampai di depan tongkat mulia, langkahnya terhenti. Pria bercadar itu mengambil tongkat dengan paksa, tanpa diizinkan berani membawanya.
"Tongkat ini akhirnya milikku. Aku akan mengalahkan Olympus dengan ini, dan semua naga-naga dan monster mereka akan nurut kepadaku, sehingga aku jadi penguasa dungeon dan naga-naga itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Olympus yang menangkap basah pria itu. "Apa yang kamu lakukan dengan tongkatku?" tanya Olympus.
"Tongkat ini sekarang milikku, akulah penguasa dungeon dan pengendali naga. Mulai saat ini aku adalah pemimpin mu."
"Dasar pengkhianat," ujar Olympus.
Olympus segera mengambil tongkat itu. "Kamu lupa apa akibat dari mengkhianati ku." Olympus berkata dengan senyum sinis nya. Begitu juga yang terjadi pada monster dan naga, mereka semua manusia yang Olympus kutuk. Hanya tongkat itulah yang akan membebaskan mereka tetapi, tongkat itu berada di tangan yang salah.
***
George masih memikirkan bagaimana cara menemukan Olympus. Para penghuni istana mereka tidak tertidur keadaan di istana sangat panas, sedangkan mereka kekurangan air dan makanan.
Mereka pun tidak bisa pergi ke luar karena sihir itu membentuk dinding kubah yang tidak bisa dilewati kapan pun.
George tidak bisa membantu karena dirinya tidak memiliki batu mulia. Hanya pedang emas saja yang tersisa.
"George?" Panggil Alice yang menghampirinya.
"Apa kamu tidak menggunakan pedang itu? Cobalah, mungkin pedang itu bisa membantu kesulitan kita," ujar Alice.
George menatap pedang itu, lalu menatap pada Alice. Mereka lalu berjalan ke sisi sungai yang kering, tidak ada setitik air pun yang tersisa. Sedangkan para rakyat kelaparan dan kehausan, bahkan di antara mereka ada yang tidak bisa bertahan hingga meninggal dunia.
"George cobalah, setidaknya masih ada sedikit air di bawah tanah ini. Untuk penambah tenaga dan ion tubuh kita."
"Tapi aku tidak yakin pedang ini bisa menghasilkan air."
"Apa kamu akan menyerah? Lakukanlah." Perintah Alice.
"Baiklah," ucap George lalu menancapkan pedang itu pada tanah.
"Tidak bereaksi apa pun," ujar George.
George melupakan sesuatu yang penting jika pedang itu akan menjadi penolongnya jika memintanya dengan tulus.
George menghela nafas panjang, dengan pelan pedang itu diangkat lalu ditancapkan pada tanah. Cahaya emas bersinar sangat terang hingga tanah itu bergetar. Sebuah elemen air muncul dari bawah tanah, keluar melewati lubang-lubang kecil yang kering.
Hingga saat pedang itu dilepaskan air mancur besar keluar, sungai yang dulu kering mulai basah dan terisi air. George dan Alice segera naik ke atas daratan.
Mereka tersenyum ketika melihat genangan air yang menenggelamkan sungai itu.
"George kita berhasil." Saking bahagianya Alice memeluk George.