
Alesa diam melamun di atas balkon istana. Memandang kerajaan yang selama ini dia rindukan. Bangunan roboh, kebun dan hutan hangus, juga para rakyat yang terdampar tanpa tempat tinggal. Semua itu karena ulah monster yang tiba-tiba datang tidak tahu dari mana asalnya.
Alesa turun dari istana berjalan menyusuri setiap rumah rakyatnya. Menjenguk mereka yang sakit, kelaparan, dan meninggal. Banyak korban dari pertarungan itu.
"Berhentilah kalian!" teriak para prajurit menahan para peserta sayembara. Mereka berhenti tidak ingin lagi mengikuti sayembara yang memilih pulang dari pada harus mati sia-sia.
"Berhentilah kalian!"
"Jangan tahan kami. Kami tidak ingin mati sia-sia," kata seorang pria.
"Kami berhenti tidak peduli lagi dengan hadiah emas yang kalian janjikan," ujar temannya.
"Benar. Kami tidak ingin mati karena monster," sambung pria itu. Tiba-tiba langit mendadak gelap mereka semua mendongak, tidak hujan atau petir tapi langit mendadak mendung.
"Apakah akan hujan? Kita pergi sekarang," ujar seorang peserta. Namun, baru saja mereka akan melangkah tiba-tiba angin datang dengan kencangnya, gemuruh suara mulai terdengar, mereka semua mendongak bola matanya membulat seketika.
Di tempat lain George dan Alice berada di tengah hutan. Mereka mencari jalan untuk kembali ke istana tetapi mereka terdiam ketika melihat langit yang tiba-tiba gelap.
"Apa ini? George ada apa ini?" tanya Alice.
"Entahlah," jawab George.
"Alice!" George menarik tubuh Alice untuk bersembunyi. Ribuan naga terbang memenuhi langit.
"Apa itu?" George terdiam sejenak lalu teringat pada istana. Naga itu terbang menuju arah timur. Sedetik George terbangun membawa Alice pergi.
"Kita harus segera sampai di istana Alice. Mereka menyerang istana," ujar George membuat Alice gelisah yang memikirkan Raja.
"Sembunyi!" teriak semua orang yang ada di kerajaan. Mereka yang akan pergi kembali memasuki istana saat para naga menyerang.
Raja dan Ratu segera mengambil tindakan, mengarahkan semua prajurit untuk bersiap-siap menyerang. Jeritan dan teriakan mulai terdengar.
"Aaa ...!"
Para peserta yang sempat mengeluh dan ingin pergi satu persatu mereka ditarik naga. Naga-naga kecil itu berhamburan memasuki istana dan menyerang.
"Derik! Stephen!" teriak Lussi yang langsung berlari ke atap.
"Banyak sekali," ujar Derik melihat naga-naga itu.
"Sebanyak apa pun mereka pasti mati jika kita menyerangnya," ucap Lussi yang langsung mengarahkan panahnya.
George dan Alice masih terjebak dalam hutan. Mereka juga di serang olah naga. "George awas!" teriak Alice George segera menunduk saat naga itu akan memakannya.
"Ah sial. Sebanyak apa naga-naga itu." George segera bangun lalu mengeluarkan pedangnya. Namun, pedang itu tidak mungkin bisa menembak.
Siapa sangka batu mulia memancarkan cahayanya. Pedang emas itu berubah menjadi sebuah panah emas. George tercengang dengan keajaiban yang telah terjadi.
"Panah emas," ucap George menatap takjub pedang itu. Segera George mengarahkan panahnya ke atas langit, di mana ribuan naga berkumpul.
Tangan George mulai bergerak menarik mundur busur panah , matanya mulai menyipit untuk menerawang pergerakan naga dari jauh. Hingga saat sudah siap busur panah itu George tembakan.
Cahaya panah sangat menyilaukan dalam satu tarikan panah itu membuat naga-naga punah dan hancur.
"George, panah ini luar biasa. Berkat batu mulia naga-naga itu hilang," ucap Alice.
"Tunggu apalagi kita pergi ke istana sekarang juga." Alice mengangguk, George menggenggam tangannya lalu menuntunnya pergi meninggalkan hutan.
Di istana naga-naga semakin banyak, semua orang bersembunyi tidak sedikit para prajurit yang gugur. Raja kewalahan dia sudah lelah, kerajaannya yang terus diserang.
Hingga Raja hilang keseimbangan, dia hanya melamun ketika seekor naga mengarah padanya. Alesa yang melihat itu berlari untuk menyelamatkan Raja.
"Samuel!" teriak Alesa yang langsung mendorong tubuh Raja hingga jatuh ke atas tanah. Merasakan dorongan itu barulah Raja tersadar.
"Sadarlah! Apa kamu ingin mati!" tegas Alesa sepertinya Raja sudah menyerah.
Di saat naga itu akan kembali menyerang tiba-tiba sebuah cahaya muncul, menyilaukan mereka semua. Sebuah busur panah yang melesat ke arah naga dalam seketika naga-naga itu musnah. Ribuan naga menghilang dan langit kembali terang.
"Apa itu?"
Semua orang menatap takjub termasuk Raja, Ratu, dan ketiga pemburu.
"George," ucap Lussi tercengang melihat George yang muncul di bawah sana. Derik dan Stephen tertegun menatap seorang wanita yang datang bersama George.
"George ... Alice," ujar Raja mengalihkan pandangan Ratu Alesa. Alesa menatap samuel sesaat lalu menatap kembali pada kedua orang yang datang ke kerajaannya.
"Alice ... George?" tanya Alesa, Raja menoleh padanya lalu menggenggam tangan Alesa dan tersenyum. "Dia Alice putri kita," ucap Raja setelahnya. Alesa memandang Alice dengan haru, putrinya kini sudah dewasa.
"Alice ... Alice putriku," ucap Alesa dengan titik air mata yang terjatuh.