
RAHMA menyusuri setiap sudut ruangan yang dihias dengan berbagai pernak-pernik ala negeri dongeng tersebut sambil berdecak kagum. Tidak biasanya dia berdecak seperti itu, pikirnya. Mungkin karena ruangan itu memang sangat bagus, atau karena suasananya yang membuat Rahma ingin berdecak seperti itu.
Dengan bola mata yang terus memindai ke seluruh ruangan, Rahma tak berhenti mengagumi keindahan ruangan tersebut. Mulai dari dinding yang dilukis menggunakan cat, menampilkan pemandangan indah sebuah kastel bermenara tinggi yang megah, yang berada dekat dengan sebuah pantai berpasir putih dan air yang mengarak berombak. Rahma terpaku mengamati lukisan dinding tersebut, terutama beberapa sosok manusia yang menjadi tokoh dalam negeri dongeng yang tergambar dalam lukisan itu.
Tiga sosok manusia, mungkin tepatnya dua orang yang benar-benar manusia, sementara yang satunya adalah wujud seorang puteri duyung. Puteri duyung berambut cokelat kemerah-merahan itu berada di dalam air, dengan setengah tubuhnya berada di permukaan. Ia memandang dengan wajah sedih dua orang yang tengah berdiri agak jauh darinya, tepatnya di tepi pantai dengan posisi saling berhadapan. Rahma tak melihat terlalu jelas ekspresi yang ditampakkan oleh dua orang tersebut, namun dia menebak bahwa sosok yang menggambarkan sang puteri kerajaan itu sedang tersenyum ke arah sosok di depannya, yang menggambarkan seorang pangeran. Kedua tangan mereka saling menggenggam satu sama lain, seolah mereka sedang mengikat janji.
“Kasihan sekali, Ariel harus merelakan sang pangeran bersama sang puteri. Memang sakit, tapi begitulah akhirnya. Dua orang tokoh utama yang tidak ditakdirkan bersama.” Rahma menggumam sambil menyentuh gambar tersebut.
“Bukankah itu tidak adil? Seharusnya sang pangeran adalah milik Ariel, bukan sang puteri!”
Suara itu mengejutkan Rahma dan membuatnya spontan menoleh ke arah sumber suara. Matanya membeliak kaget mendapati seorang gadis dengan rambut terkepang yang disampirkan di pundaknya, duduk di tepi kasur dengan tangan bersidekap di depan dada. Rahma mengenali gaun malam yang dipakainya, gadis itu adalah Arina. Namun wajahnya lebih pucat pasi dengan bola mata kecokelatan yang menyorot tajam ke arahnya.
Kenapa Arina ada di sini? Bukankah tadi aku tidur sendiri di kamar ini? Lagipula, bagaimana dia bisa masuk? Bukankah kamar sudah kukunci, sesuai permintaan Dokter Hanif?
Rahma bertanya-tanya dalam hati. Wajahnya nampak bingung, namun rasa ingin tahunya menggerakkan kakinya untuk melangkah, mendekati gadis yang memasang wajah datar tersebut. Setelah beberapa langkah, Rahma berhenti tepat di hadapan gadis tersebut.
“Sepertinya kamu sangat menyukai cerita Ariel,” ujar Rahma sembari melipat tangannya di depan dada.
“Suka? Tidak juga. Aku benci dengan bagian terakhirnya.” Gadis itu menjawab dengan wajah yang masih berkespresi datar.
“Kenapa? Bukankah akhir ceritanya memang seperti itu? Sang puteri yang mendapatkan sang pangeran. Sementara Ariel, kembali ke dasar laut sebagai buih,” tutur Rahma sambil menggerakkan jemari tangan kanannya seolah bermain sulap.
“Itulah yang aku benci. Kenapa harus seperti itu, jika Ariel sebenarnya bisa memaksa sang pangeran menjadi miliknya.” Gadis itu bangkit dan berdiri di hadapan Rahma, dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya.
“Bagaimana bisa dia mendapatkan pangeran, sementara dia tak bisa bersuara?”
“Dia tidak perlu suara untuk membuat pangeran mencintainya, jika memang perlu, maka dia cukup meminta bantuan si penyihir untuk memberinya suara.”
“Tapi, bukankah itu perlu pengorbanan? Ariel sudah mengorbankan suaranya demi sepasang kaki, lalu apa yang akan dia korbankan demi sebuah pita suara?”
Gadis itu terdiam. Rahma tersenyum menang.
“Dia bisa mengorbankan sang puteri.”
Rahma tersentah mendengar jawaban tersebut. Senyum kemenangannya tadi menghilang, berganti dengan senyum getir yang berasal dari rasa gugupnya. Di salah satu sudut hatinya, Rahma seolah de javu, merasa seolah semua yang dialaminya saat ini pernah terjadi di masa lalu.
“Kita tidak bisa seenaknya mengubah cerita seperti itu. Seharusnya, kita bisa menjadikan semuanya sebagai pelajaran, bahwa cinta memang tak selamanya bisa dimiliki sesuai dengan keinginan kita. Kita harus siap merelakan apabila pada akhirnya, takdir cinta itu tak berpihak pada kita.”
“Lemah sekali,” sinis gadis itu. Rahma tertegun dan ikut tersenyum sinis pada gadis tersebut.
“Lalu, jika pada akhirnya Ariel tetap tak bisa bersama sang pangeran, dan puteri ternyata tidak bisa dikorbankan. Apa yang harus dilakukan Ariel? Ah, dalam cerita, Ariel diberi pisau belati oleh penyihir dengan rambut panjangnya sebagai ganti pisau tersebut. Menurutmu, apakah seharusnya Ariel membunuh pangeran saja, ketimbang melakukan bunuh diri seperti yang dilakukannya dalam cerita?”
Gadis itu tertawa sinis. “Pangeran tidak boleh mati! Dia adalah cintanya Ariel!”
Rahma tertawa kecil. “Berarti kamu setuju dia bunuh diri sesuai yang terjadi dalam cerita? Kamu setuju, dia mengorbankan dirinya sendiri demi kebahagiaan sang pangeran?”
Gadis itu nampak kesal. Dengan wajah yang dibuat angkuh, gadis itu menjawab pertanyaan Rahma dengan santai. “Kenapa harus mengorbankan diri, kalau dia bisa mengorbankan orang lain demi kebahagiaannya? Kenapa dia harus bunuh diri, kalau dia bisa membunuh sang puteri dan hidup bahagia bersama pangeran?”
Rahma terdiam. Matanya menatap nanar gadis tersebut. Dia mundur selangkah ke belakang dengan raut serius.
“Kamu akan membunuh sang puteri?” tanya Rahma dengan nada serius.
Gadis itu tersenyum hiperbolis. Menggerakkan tangan kanannya yang ternyata sudah memegang benda tajam yang mirip kepunyaan tokoh utama dongeng Puteri Duyung tersebut. Berjalan mendekati Rahma yang memundur demi menjauh darinya. Suara tawa seram keluar dari mulutnya dan memenuhi ruangan itu. Sekejap, ruangan yang semula berwarna itu berubah gelap, dan gambar di dinding pun seolah bergerak dan pemandangan yang indah berubah menjadi suram. Air laut yang berombak kini bergelombang. Udara sejuk dan dingin kini berubah panas.
Rahma merasa sesak, seolah dia sedang tenggelam di dalam air yang gelap gulita. Lehernya seolah tercekik, dan dia pun berusaha membebaskan diri dari cekikan tersebut, namun tak berhasil. Rahma merasa udara di dalam tenggorokannya semakin menipis, dan itu membuat pandangannya menjadi kabur, seolah sebentar lagi dia akan mati.
Sementara gadis yang berjalan perlahan di depannya nampak tertawa terbahak, seolah sedang menertawainya yang tengah kesusahan melepaskan cengkeraman yang sangat kuat di lehernya. Gadis itu mendatanginya dengan cepat dan bergerak mengayunkan tangannya yang memegang belati.
Rahma!
“AAAKKHH!”
Rahma terbangun dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya pucat pasi, dan keringat di dahinya nampak bercucuran. Netranya memindai seluruh ruangan, dan sejenak memejam untuk memastikan bahwa semuanya hanyalah mimpi. Napasnya secara perlahan teratur, dan saat itu juga dia langsung mengembuskan napas lega.
Seketika tubuhnya menggigil. Entah sejak kapan suasana di dalam kamar itu menjadi sangat dingin, seolah penuh dengan aura menyeramkan. Rahma pun jatuh pingsan di lantai, bersamaan dengan Hanif yang datang berteriak memanggil namanya.
***
Sayup-sayup Rahma mendengar suara percakapan dari luar ruangan. Matanya membuka perlahan, mengerjap demi menormalkan fokusnya. Setelah semua menjadi jelas, Rahma memindai sekelilingnya sambil bangun dari posisi tidurnya secara perlahan. Rahma meringis sambil mengusap tengkuknya, menggeliat untuk menormalkan aliran darah di daerah punggungnya yang terasa kaku.
“Anak ibu hampir membunuh orang lagi, apa ibu paham itu?!”
Rahma terkejut mendengar suara bentakan yang berasal dari depan pintu ruangan tempatnya berada. Ingin sekali dia menguping dari dekat, menempelkan telinganya ke dinding atau mengintip lewat pintu yang sedikit terbuka. Namun, niat itu diurungkannya karena merasa tak baik jika mendengarkan pembicaraan orang lain secara diam-diam. Lagipula, energinya masih belum pulih untuk melakukan hal itu.
“Ini sudah ketiga kalinya, bu! Apa ibu masih belum paham?! Hanif nggak mungkin semarah ini, kalau ini belum pernah terjadi! Ini sudah pernah terjadi, dan bahkan dua kali! Dan sekarang sudah menjadi yang ketiga kali!”
Tubuh Rahma mematung. Tanpa diinginkan, tubuhnya gemetar sendiri dan entah sejak kapan keringatnya menjadi dingin, membuatnya menggigil. Memorinya membawanya ke gambaran kejadian beberapa menit yang lalu, saat dia bangun dan mendapati Arina tergeletak pingsan dengan jarum suntik tertancap di pundak, dan belati berada di dekatnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Rahma bingung.
Suara pintu berdecit mengejutkan Rahma, bersamaan dengan Hanif yang juga sama terkejutnya saat masuk dan melihatnya sudah duduk kaku di sofa panjang dalam ruangan tersebut. Hanif bergerak gugup menutup pintu, kemudian berjalan menghampirinya. Duduk di dekat Rahma, tangannya bergerak untuk menyentuh kening gadis berhijab tersebut yang spontan memundurkan kepalanya dengan wajah takut.
Hanif tersentak dengan tindakannya sendiri, menurunkan tangannya dan mengalihkannya ke belakang kepala, menggaruk seolah kulitnya sedang gatal. Rahma bergerak mengubah posisi duduknya dengan menjatuhkan kakinya ke lantai. Namun hanya beberapa menit, karena dia kemudian mengubah posisi duduknya dengan menekuk lutut ke atas dan membenamkan wajahnya ke atas lututnya.
“Kamu… baik-baik saja?” tanya Hanif dengan wajah iba. Tentu, karena tamunya itu baru saja mengalami hal yang menakutkan bagi siapapun.
“Menurutmu?”
Hanif tersentak mendengar intonasi bicara gadis berhijab itu. Dia mencoba tetap tenang demi menjaga komunikasi tetap baik dan tidak tegang. Hanif berdeham sebelum melanjutkan pembicaraan dengan Rahma yang masih betah dengan posisinya.
“Apa yang terjadi?” Rahma terlebih dulu bersuara sebelum Hanif sempat membuka mulutnya.
Lelaki itu menghela napas lemah sebelum memberi jawaban. “Maaf. Kamu harus mengalami kejadian tidak mengenakkan di rumah ini.”
Terdengar dengusan kesal dari arah lawan bicara. Rahma menegakkan kepalanya dan melihat ke arah Hanif, dengan sorot tajamnya yang mampu menusuk Hanif hingga lelaki itu tertunduk takut. Menghela napas amarah, Rahma menyahut ucapan Hanif dengan kata-katanya yang tak kalah tajam dengan tatapannya.
“Menurut dokter, apa saya sedang ingin mendengarkan kata ‘maaf’ dari dokter? Saat ini saya ingin mendengar jawaban dari pertanyaan saya, bukan permintaan maaf penuh iba? Lagipula, untuk apa dokter merasa iba dengan saya? Apa saya terlihat perlu dikasihani?”
Hanif mematung. Rahangnya mengeras, dan kedua tangannya terkepal hingga buku-buku jemarinya memucat. Namun seolah tahu bahwa situasi tersebut tidak cocok untuknya menumpahkan emosi, Hanif pun menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Setelah dirinya tenang, dia pun merogoh saku celana olahraganya dan mengeluarkan iphone X miliknya. Setelah melakukan sesuatu pada ponsel tersebut, disodorkanlah olehnya pada Rahma yang mengernyitkan dahi namun tetap menyambut ponsel tersebut dengan tangan kirinya. Dilihatnya dengan tatapan heran layar gawai tersebut, dan menyentuhnya dengan jari telunjuk tangan kanannya.
Rahma menahan napas melihat adegan demi adegan yang ditampilkan di layar. Nampak sekali bibirnya gemetar, pun kedua tangannya ikut gemetar hingga ponsel tersebut jatuh begitu saja dari genggamannya. Hanif hanya memerhatikannya dalam diam, tak peduli dengan gawainya yang jatuh ke lantai.
“Antar saya pulang, sekarang!” pinta Rahma dengan suara tercekat di lehernya.
“Oke, tapi nanti. Sekarang masih terlalu pagi untuk pulang,” ujar Hanif dengan nada lembut.
“SEKARANG! Saya minta antar saya pulang sekarang!” tegas Rahma membuat Hanif sekali lagi tersentak dan membeliak padanya. Dan mereka pun berbalas tatap dengan sorot saling menajam pada satu sama lain.
Sejenak kemudian, Hanif pun mengalah. Dia bangkit dan menuju nakas di dekat lemari buku di ruangan tersebut. Setelah mengambil benda kecil disana, Hanif menghampiri Rahma lagi dan memintanya untuk bangun dari posisi duduknya. Rahma menurutinya dan berjalan mengiring di belakangnya.
Rahma pulang setelah berpamitan dengan sang ibu yang menampakkan wajah penyesalan dan terus meminta maaf padanya. Sementara gadis berhijab itu hanya bisa tersenyum lemah, terpaksa menampakkan wajah ramah agar tidak menyinggung perasaan sang ibu. Rahma tak berpamitan dengan Arina, karena gadis itu memang tak terlihat batang hidungnya.
Sepanjang perjalanan, Rahma dan Hanif tak banyak bicara. Saling memandang pun mereka enggan. Hanya suara musik klasik yang mengalun lembut di dalam ruang mobil sedan putih milik dokter tersebut, yang menjadi penengah antara keheningan mereka berdua.
Setelah sampai di depan gang menuju asrama, Rahma turun tanpa membuka suara sedikitpun. Dia berjalan meninggalkan Hanif, melangkah cepat seolah tak ingin lagi berada dekat dengan lelaki itu. Sementara dokter spesialis Ortopedi itu hanya bisa menghela napas berat melihat ke arah punggungnya yang tertutup jaket milik Hanif.
“Rahma, kita masih bisa ngobrol lagi, kan?” Hanif mencoba mengutarakan permintaannya dengan nada agak keras, agar didengar Rahma yang sudah menjauh darinya.
Gadis berhijab itu berhenti, menggerakkan kepalanya sedikit seolah ingin menoleh, namun tidak jadi. Dia kembali berjalan dan meninggalkan Hanif, masuk ke dalam gerbang asrama yang sudah terbuka. Hanif yang ditinggalkan hanya bisa mendengus dan memukul pintu mobilnya dengan keras, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dan menjalankannya, bergerak meninggalkan gang tersebut dengan hati yang terbalut emosi.
{}{}{}