The Doctor'S Sister

The Doctor'S Sister
Episode 10



RAHMA memutuskan tak berkomunikasi dengan Hanif lagi untuk sementara waktu. Rahma sadar, mereka membutuhkan waktu untuk mengatasi emosi mereka masing-masing. Rahma dengan ketakutannya pada kejadian yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Hati dan pikirannya masih perlu waktu untuk mencerna semua yang dia alami, mulai dari alasan mengapa dia menjadi gemetar dan takut terhadap kejadian tersebut.


Sementara di lain tempat, Hanif duduk lemas di kursi kayunya, memandang lesu mobilnya yang ringsek di dalam bengkel pribadi miliknya. Mobil sedan putih itu sudah seperti barang bekas yang siap dijual ke tukang besi. Keempat bannya kempes, semua kacanya pecah, badannya penyok, bempernya terlepas dari posisinya, dan spionnya pun tak lagi berada di tempatnya. Mobil itu benar-benar menyedihkan.


“Selamat tinggal, mobil favoritku, White Angel,” gumamnya kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ditekannya tombol saklar untuk mematikan pencahayaan dalam ruangan itu. Ditariknya pintu besi dengan sekali tarikan, dan pintu itupun tertutup. Mengunci pintu, Hanif meninggalkan bengkel pribadinya itu dengan badan lesu seolah baru saja kehilangan kekasih hatinya.


***


“Aku butuh bantuan.”


“Ya, kamu memang selalu menelponku saat butuh bantuan saja, kan?” Rahma tertawa kecil sambil berjalan menuju pintu keluar dari ruang dosen, sambil membawa paper bag berisi satu rangkap draf skripsi miliknya. Dia bisa saja menaruh draf tersebut ke dalam ransel yang disandangnya, namun dokter yang menangani perawatan punggungnya tersebut melarangnya untuk membawa beban berat untuk sementara waktu.


Sementara waktu yang lama. Begitulah keluhnya setiap diingatkan soal itu oleh sang dokter.


“Aku serius. Aku sangat butuh bantuanmu sekarang.”


“Aku juga serius. Ada apa?” Rahma duduk di kursi besi yang berada di depan pintu ruang dosen tersebut, meletakkan paper bag di sampingnya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


“Ini masalah adik kelasku.”


“Aku baru tau kalau kamu peduli dengan adik kelas. Biasanya kamu kan cuek,” sahut Rahma sebelum suara di seberang sana menjelaskan maksudnya. Alhasil, terdengar dengusan kesal di seberang yang membuatnya tertawa kecil.


“Memangnya aku nggak boleh berubah? Serius… aku ingin kamu membantuku soal ini.”


“Baiklah, Anak Mami. Ada apa?”


“Aku bukan anak mami!”


“Kamu mau bantuanku atau nggak?” sahut Rahma memberi tekanan pada nada suaranya. Terdengar suara dengusan di seberang sana yang membuatnya tersenyum simpul.


“Kamu kenal Mei, kan? Mei Naumira Assyifa…”


“Hmmm… anaknya tante Rosita?” Rahma mengerutkan keningnya, mencoba mengingat nama yang disebutkan si penelepon.


“Ya. Dia mengalami kecelakaan siang ini. Sekarang dalam perjalanan menuju Samarinda.”


Rahma melihat layar ponselnya, jam digital di gawainya tersebut menunjukkan pukul dua siang. “Jam berapa dia berangkat kesini? Rumah sakit mana?” tanyanya dengan nada serius.


“Dia mengalami kecelakaan sekitar pagi menjelang siang, dan menurut yang kudengar dari kak Yasya, mereka berangkat jam dua belas siang ini. Mereka ke rumah sakit Drajat, kabarnya dirujuk kesana atas permintaan Tante Rosita. Katanya dia punya keluarga yang bekerja sebagai dokter disana.”


Rahma membuat gerakan menghitung dengan jemari tangan kirinya. “Berarti, dia akan sampai sekitar satu sampai dua jam lagi, jika nggak ada masalah di jalan. Oke, jadi, apa yang menjadi masalahnya sampai kamu minta bantuanku?” ujarnya sambil menekan tombol volume di sisi kiri ponselnya dan suara di earphone yang terpasang di telinganya pun terdengar sedikit keras.


“Kebenaran.”


“Maksudmu?” Rahma menautkan alisnya.


“Aku minta bantuanmu untuk mencari kebenaran.”


“Mencari kebenaran apa? Bicaralah dengan jelas. Aku bukan Sherlock Holmes yang bisa mengetahui segalanya hanya dengan satu kode,” protes Rahma seraya mendengus.


“Begini, sebelum kecelakaan terjadi, mereka sebenarnya mengalami masalah. Dan aku sebenarnya yakin kalau semua itu hanyalah salah paham.”


“Mereka? Hmmm…,” Rahma menggumam seolah paham. “Foto dan video yang tersebar di media sosial itu? Memangnya apa yang kamu ingin aku lakukan dengan itu?” tanyanya dengan raut wajah biasa, seolah sudah bisa menebak jawabannya dari si penelepon.


“Apa kamu bisa meretasnya? Kurasa kebenarannya bisa terungkap jika akun pengirim itu bisa diketahui. Ayolah, aku nggak ingin mereka terpisah karena salah paham.”


Rahma tertawa kecil. “Sepertinya kamu berubah. Aku nggak kenal Norwen yang sekarang,” ujarnya kemudian tertawa saat mendengar dengusan kesal di seberang sana.


“Ayolah, aku serius.”


“Aku juga serius. Dan maaf, aku bukan Hacker.”


“Kenapa nggak minta bantuan ayahmu? Kurasa ayahmu punya banyak koneksi dengan orang-orang yang punya kemampuan seperti itu.”


“Mana aku bisa minta bantuan orang tua satu itu. Kamu tau, kan, kalau dia sudah berbicara soal syarat jika aku meminta bantuannya?”


Rahma menghela napas. Dia meraih paper bag miliknya dan beranjak dari kursi besi tersebut, kemudian berjalan keluar dari gedung akademik. Saat dia melihat ke arah kirinya, matanya menangkap seseorang yang tengah berdiri mematung dengan sorot sendu padanya. Rahma yang semula tersenyum kecil karena mendengar keluhan di seberang sana, mengubah raut wajahnya menjadi sedater mungkin dan menghela napas.


“Aku akan memberimu kontak temanku. Dia punya rekan yang bisa membantumu. Katakan saja padanya, jika dia membantumu, maka aku akan memberinya petunjuk kode rahasia yang dicarinya.”


“Oke, siap.”


“Oke, aku tutup telponnya. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam. Terima kasih, Rahma.”


Sambungan diputus, Rahma menarik kabel earphone dan bagian ujung kabel itupun terlepas dari telinganya dan keluar dari bagian bawah hijabnya. Disimpannya kabel earphone tersebut ke dalam paper bag dan diapun melangkah santai ke arah seseorang yang masih terus memandanginya sedari tadi. Sampai di dekat orang tersebut, Rahma duduk di pelataran dengan permukaan keramik di samping gedung kelas mahasiswa sastra. Rahma menyandarkan punggungnya ke dinding tembok, menyilangkan pahanya yang tertutup rok gamisnya, dan bersidekap. Orang tersebut ikut duduk di dekatnya, dengan jarak sekitar setengah meter darinya. Dengan sorot mengarah ke depan, orang tersebut memulai pembicaraan terlebih dulu.


“Apa kabar?” tanyanya dengan lembut.


Di sudut hati Rahma yang terdalam, ada sedikit titik rindu terhadap suara itu. Suara khas lelaki yang membuatnya selalu tersenyum setiap hari, di tengah kejamnya para pembuli. Namun, Rahma sadar diri. Dengan sekuat tenaga, dia pun menepis titik rindu itu dan membuat sikapnya sedingin mungkin.


“Alhamdulillah, aku baik. Gimana kabarnya?” ujarnya menjawab dengan nada datar.


“Aku baik—“


“Aku menanyakan kabarnya, bukan kakak. Ran, gimana kabarnya?” Rahma melirik malas ke arah lelaki tampan berkacamata itu.


Terdengar helaan napas lemah dari mulut lelaki itu. Walaupun meliriknya dengan malas, Rahma sebenarnya memerhatikannya dan mendapati raut lelah dari wajah itu. Sepertinya bebannya terlalu berat saat ini.


“Entahlah. Aku nggak tau, apa dia baik-baik saja atau nggak. Diliat dari luar mungkin, tapi di dalam… intinya, saat ini dia sedikit merepotkan.”


“Apa itu kata yang pantas diucapkan oleh lelaki yang katanya menikahinya karena cinta? Jangan mengeluh, kakak sudah memilihnya, maka kakak harus bertanggungjawab penuh atasnya!” ujar Rahma dengan nada sedikit kesal.


“Maaf, aku hanya sedikit lelah dengannya. Aku nggak bisa memahami dirinya saat ini. Semenjak kejadian waktu itu, dia seolah lebih senang mengurung diri di dalam kamar ketimbang bergaul dengan orang-orang. Dia punya kebiasaan yang aneh baru-baru ini, yaitu membuang semua benda yang berwarna merah. Dia juga suka histris sendiri saat melihat cairan berwarna merah, walaupun itu bukan darah. Pernah suatu hari, aku membawa pulang ikan hasil memancing bersama Afif dan yang lain. Aku memintanya untuk mengurusinya. Awalnya, dia menolak. Namun, kemudian dia mengambil pisau dan mencoba mengurusi ikan itu. Aku meninggalkannya di dapur untuk berganti pakaian. Tapi, belum sampai lima menit aku pergi ke kamar, aku mendengar suaranya berteriak di dapur. Aku berlari ke dapur, dan sedikit panik saat melihat tangannya berlumuran darah. Kupikir itu darahnya, lantas kuambil air dan menyiramkannya ke tangan Ran. Nggak ada luka sedikitpun di jemari maupun telapak tangannya. Ternyata itu adalah darah ikan.” Lelaki itu menghela napas setelah menyelesaikan ceritanya.


Rahma membuat raut serius di wajahnya, dan menghela napas lemah.


“Hemophobia. Ketakutan pada darah. Sepertinya itu berasal dari trauma karena dia menyaksikan kejadian nahas itu,” pungkas Rahma sembari menegakkan punggungnya dan melirik lelaki itu sebelum melanjutkan perkataannya. “Saat ini, dia perlu dirimu. Jadilah suami yang baik, dan jangan membuatnya menyesal karena menikahimu. Kalau kakak tau apa yang menyebabkannya menjadi seperti itu, maka kakak nggak akan lagi bisa mengeluh seperti itu.”


“Aku tau, ini salahku, kan?” lelaki itu nampak tersenyum getir.


“Ya, ini salah kakak. Ini juga salahku. Maka dari itu, lebih baik kita jangan ketemu lagi. Jangan cerita tentangku lagi padanya. Jangan bicarakan masalalu apapun itu yang berkaitan denganku. Kakak sudah punya dia, maka hargai dirinya. Kalian sudah punya cerita sendiri sekarang. Jangan masukkan aku ke dalam cerita kalian berdua.”


Lelaki itu nampak sedih. Airmatanya turun membasahi pipinya.


“Maafkan aku, seharusnya….”


“Sudahlah, kak. Lupakan saja masalalu. Ibarat dalam cerita dongeng puteri duyung, kakak adalah pangeran, dan aku adalah Ariel. Kita berdua adalah dua tokoh utama, tapi bukan berarti ditakdirkan bersama. Jika memang takdir kakak adalah Ran, maka aku bisa apa? Aku tentu harus rela, ikhlas pergi menjauh demi kebahagiaan sang puteri yang menjadi permaisurimu. Kita nggak bisa mengubah takdir yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, kan?”


Rahma bangkit dan menjinjing paper bag miliknya dan berdiri menghadap lelaki tersebut. “Beritahu Ran, jangan lagi bergaul dengan orang yang nggak memberinya manfaat apapun. Mulut ular seperti mereka sama sekali tak pantas menjadi teman kelinci.”


Setelah berkata seperti itu, Rahma beranjak meninggalkan lelaki itu dan berjalan santai menuju para gadis yang berkumpul agak jauh dari mereka berdua. Kumpulan gadis itu nampak takut karena melihat sorot tajam milik Rahma yang siap menusuknya. Salah satu dari mereka bahkan tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya ke tanah semen dan membuat layar benda pipih itu retak. Dan layar benda itu akhirnya pecah saat Rahma dengan sengaja melangkah tepat di atasnya, dan menginjak benda itu kuat-kuat. Suara histris pun terdengar memecah gendang telinga. Namun Rahma tak peduli, dia melangkah santai menuju gerbang kampus dan meninggalkan para gadis tersebut.


{}{}{}