
RAHMA duduk bersandar ke kepala ranjang yang sengaja sedikit ditegakkan agar dia bisa duduk dengan nyaman. Wajahnya yang masih sedikit pucat itu terlihat sendu dan murung dengan tatapan mata mengarah ke jendela kamar. Pemandangan di luar jendela nampaknya sangat indah, namun tak lantas membuat gadis yang saat ini memakai hijab Bergo berwarna putih gading tersebut merasa bahagia. Suasana hatinya saat ini seolah sedang tak bersahabat dengan keceriaan dan keindahan embun pagi yang menyelimuti alam di luar jendela, namun lebih dekat dengan kegelapan awan yang menutup sebagian langit dan memberi kesan mendung seakan sebentar lagi hujan akan turun.
Helaan napasnya terdengar berat, seolah beban pikirannya saat ini begitu banyak dan membuatnya susah untuk sekedar tersenyum. Dan dalam suasana yang begitu berat tersebut, ketukan pintu mengalihkan perhatiannya dari jendela dan sosok yang masuk membuatnya sedikit tergerak untuk memberi ekspresi senang meskipun sangat tipis.
“Assalamu’alaikum,” ucap seorang lelaki berjas putih sambil tersenyum dan masuk diiringi seorang perawat perempuan yang membawa selembar laporan medis yang dijepitkan ke sebuah clipboard.
“Wa’alaikumsalam,” sahut Rahma dengan nada sedikit tak bersemangat. Dengan sikap tak peduli dengan apa yang mereka lakukan, Rahma berdiam diri membiarkan lelaki tersebut yang adalah seorang dokter dan perawat yang masuk bersamanya itu melakukan pemeriksaan padanya.
“Dimana ibumu?” tanya dokter tersebut padanya dengan nada lembut dan sopan.
Rahma meliriknya acuh. “Pulang,” jawabnya singkat.
“Hmmm… kedua adikmu?” tanya dokter itu lagi, sambil memeriksa pangkal selang infus yang mengalirkan cairan ke dalam tubuh Rahma melalui jarum yang ditusukkan ke urat pergelangan tangan kirinya.
“Ikut dengan ibu,” jawab Rahma lagi, dengan sikap acuh tak acuh.
“Hmmm…,” gumam dokter tersebut sambil menulis sesuatu di atas lembar laporan medis yang berada di tangan kirinya tersebut. Sementara perawat perempuan yang bersamanya saat itu hanya diam berdiri agak dekat dengannya.
“Kamu bisa keluar duluan dan berikan ini pada dokter Ali,” ujar dokter tersebut sambil memberikan laporan medis yang sudah selesai diisinya itu pada sang perawat yang menerimanya dengan anggukan kepala. Setelah perawat tersebut keluar dan menutup pintu ruangan tesebut, sang dokter kemudian mengambil kursi yang berada tidak jauh dari ranjang pasien dan meletakkannya di sisi dekat ranjang, dan mendudukinya.
“Mereka pulang untuk apa? Mandi?”
Rahma menghela napas dan bergerak sedikit untuk mengubah posisi duduknya senyaman mungkin. “Hari ini kedua adikku akan pulang kampung,” jawabnya dengan nada malas.
“Ibumu? Ikut pulang kampung juga?”
“Ibu hanya mengantar. Beliau akan segera balik setelah mereka berdua dijemput mobil travel. Dokter ada perlu dengan ibu?”
Dokter itu menggeleng sambil tersenyum. “Hanya bertanya,” ucapnya sambil meringis singkat.
“Kalau mereka pulang, berarti ibumu akan sendirian disini menjagamu. Apa tidak apa-apa?”
Helaan napas Rahma kembali terdengar. Dia menatap datar dokter tersebut dan menjawab dengan nada malas. “Aku punya paman yang tinggal bersama istrinya di Teluk Lerong, jadi tenang saja. Ibuku nggak akan sendirian, dan lagipula, kenapa harus takut sendirian? Disini kan banyak dokter dan perawat yang bisa ikut menjaga. Bukankah itu tugas kalian, para dokter dan perawat bekerja di rumah sakit?”
Dokter tersebut nampak terdiam. Bibirnya nampak manyun seolah memikirkan perkataan Rahma yang sedikit tajam tersebut. Rahma memerhatikannya dalam diam. Mulai dari ujung rambut sampai ke bagian dada, berfokus pada nametag yang tergantung di saku kiri sang dokter. Sebuah nama dan gelar terpampang jelas di bawah foto berukuran dua kali tiga tersebut.
“Dokter A. Hanif, Sp.OT?” Rahma membaca nama di nametag dengan nada tanya di bagian akhir. Lelaki berjas putih dengan stetoskop melingkar di lehernya yang sejak tadi asyik terdiam karena memikirkan perkataan Rahma tersebut sedikit tersentak dan menatap Rahma bingung. Dia kemudian melirik ke arah dada kirinya, dan nampak paham apa yang sedang terjadi.
“Kamu baru tau namaku?”
Rahma mengangguk pelan, membuat dokter tersebut tertawa kecil melihat ekspresinya yang sedikit lugu saat menjawab dengan isyarat tubuh.
“Kupikir kamu sudah mengenalku. Tapi, kalau memang belum tau, kenapa tidak bertanya? Kenapa malah mencari sendiri? Bukankah itu tidak sopan?”
Rahma memutar bola matanya malas. Menghela napas, Rahma kemudian memberikan jawaban bernada datar namun sanggup menusuk sang dokter karena kalimatnya yang tajam. “Maaf kalau saya nggak sopan. Tapi, itu artinya dokter juga nggak sopan dong, karena ngajak orang ngobrol tanpa mengenalkan diri terlebih dulu… bukankah jika kita ingin mengenal orang lain, maka kita harus mengenalkan diri kita terlebih dahulu? Itu kan, adab perkenalan dan komunikasi?”
Rahma menaikkan alisnya dan tersenyum sinis yang ditanggapi sang dokter dengan tatapan melongo. Lelaki itu nampak terdiam tanpa bisa menanggapi perkataan Rahma yang memang sudah tak bisa dibantahnya lagi tersebut. Sejenak kemudian, dia tertawa sumbang sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Oke, kalau begitu, mari berkenalan. Namaku Ahmad Hanif. Dokter spesialis bedah ortopedi tertampan dan termuda di rumah sakit Drajat, Samarinda. Memiliki hobi bermain gitar di pagi hari dan bermain sepak bola di sore hari, serta mendengarkan musik di malam hari. Giliranmu?”
Rahma terdiam sejenak karena tak percaya bahwa lelaki yang adalah seorang dokter di hadapannya saat ini, yang memiliki karisma seorang pria dewasa tersebut ternyata bisa menampilkan ekspresi konyol saat memperkenalkan dirinya seperti tadi. Rahma berusaha menahan tawanya agar tidak pecah saat itu juga, dengan cara berdeham pelan.
“Namaku Rahma Aisyah. Mahasiswi semester akhir fakultas Ilmu Budaya. Jurusan sastra Inggris,” ujarnya memperkenalkan diri secara singkat. Tanpa ekspresi berlebihan seperti yang ditunjukkan oleh sang dokter tadi.
“Hmmm… semester akhir? Berarti kamu sedang skripsian sekarang, ya?” tebak dokter tersebut sambil tersenyum.
Rahma mengangguk malas dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela di samping kanannya. “Seandainya nggak berada disini, mungkin… saat ini saya akan sedang berada di kampus dan melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing, dan kemudian akan melaksanakan sidang pendadaran pekan depan. Dan kemudian, tak berapa lama lagi akan mengikuti yudisium dan wisuda di akhir Desember.” Rahma menghela napas berat seolah ada rasa kesedihan dan penyesalan bersarang di dadanya. Tanpa menyadari bahwa lelaki yang tengah bersamanya saat ini juga menunjukkan ekspresi yang sama.
“Tapi semuanya sudah berlalu. Sudah terlambat untuk disesali.” Rahma melirik sang dokter yang nampak sendu dan menunduk.
“Tidak apa-apa. Kamu masih bisa mencapai semuanya saat sembuh dan keluar dari rumah sakit ini,” kata dokter tersebut menyemangati.
“Ya, mungkin. Tapi semuanya jelas akan berbeda dengan rencana yang sudah saya susun dari awal. Karena target yang ingin dicapai sudah lepas,” sahut Rahma sambil menghela napas lemah.
Dokter tersebut tersenyum manis. “Jangan terlalu dipikirkan apa yang sudah berlalu. Jika target awalmu lepas, maka kamu cukup menggantinya dengan target yang baru. Gampang, kan?”
Rahma meliriknya malas. “Bicara memang mudah, tapi dalam realisasinya, apa akan semudah itu?” ujarnya dengan ekspresi seolah kurang menyetujui perkataan sang dokter tadi.
Dokter itu kembali terdiam dan memikirkan perkataannya. Dan tak lama, dia kemudian menggaruk pelipisnya sambil berkata, “Maaf.”
Rahma tertawa kecil mendengar kata maaf terucap dari mulut lelaki yang memang diakuinya sangat tampan tersebut. “Kenapa minta maaf? Dokter hanya memberi pendapat, dan saya hanya menanggapi. Apa ada yang perlu dimintai maaf?” ujarnya dan kemudian tertawa lagi. Tawanya itu seolah memengaruhi sang dokter yang ikut tertawa bersamanya.
“Jadi, Dokter spesialis bedah ortopedi tertampan dan termuda di rumah sakit ini, saya penasaran dengan cara Dokter mendapatkan posisi tersebut dengan usia yang bila dilihat dari wajah, memang terlalu muda untuk posisi sebagai dokter spesialis… apa Dokter masuk sekolah terlalu dini?”
Dokter tersebut tertawa dan menggeleng. “Tidak juga. Aku mendaftar sekolah dasar dengan usia yang sesuai standar peraturan sekolah pada umumnya, yaitu enam tahun. Hanya saja aku pernah mengikuti kelas akselerasi sebanyak tiga kali, di sekolah dasar dua kali dan sekolah menengah pertama satu kali. Kemudian, saat kuliah di bidang kedokteran, aku berhasil menyelesaikannya dalam waktu tidak lebih dari empat tahun. Masa koasku juga tidak lama, hanya satu tahun lebih sedikit, setelah itu aku ditransfer ke pedesaan selama kurang lebih 2 tahun, sebelum kembali lagi kesini dan mengikuti kuliah sebagai dokter spesialis.” Dokter tersebut mengakhiri penjelasannya dengan senyum lebar yang menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.
“Hmmm…,” gumam Rahma sambil mengangguk.
“Kamu tidak penasaran dengan usiaku? Tidak mau bertanya berapa usiaku sekarang?” ujar lelaki tersebut dengan nada jenaka. Namun tak mampu membuat Rahma tertawa dengan kelucuannya.
“Hmmm...,” gumam Rahma sambil menggeleng. “Saya nggak tertarik dengan usia Dokter. Tanpa Dokter beritahu sekalipun, saya sudah bisa menebak berapa usia Dokter sekarang. Yang jelas, usia dokter berada di atas dua puluh lima tahun.”
“Yakin?” sahut dokter tersebut sambil tersenyum jahil. “Bisa jadi usiaku malah berada di bawah dua puluh lima tahun…”
Rahma menggeleng mantap. “Nggak mungkin semuda itu. Karena kalau usia Dokter berada di bawah duapuluh lima tahun, maka kelas akselerasi yang Dokter ikuti harusnya bukan tiga kali, tapi empat sampai lima kali.”
Dokter tersebut mencebikkan bibirnya, merasa kalah melawan debat dengan gadis yang duduk nyaman di atas ranjangnya itu. Sementara Rahma kembali mengalihkan perhatiannya ke arah jendela. Cuaca di luar jendela masih mendung, namun hanya sekedar mendung saja. Belum ada tanda bahwa hujan akan segera turun ke bumi.
“Dokter, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Boleh.”
“Apa Dokter tau, siapa yang memasukkan saya ke ruang VIP ini?”
Dokter tersebut nampak tersentak dan ragu untuk menjawab. Rahma meliriknya dan memberinya tatapan penuh tanya.
“Saya berasal dari keluarga sederhana, menengah ke bawah… ayah saya hanya seorang petani Sawit di kampung, dan ibu saya hanya seorang guru ngaji di sebuah langgar di kampung. Jadi nggak mungkin mereka bisa memasukkan saya ke ruang mewah khusus pasien yang berasal dari keluarga menengah ke atas ini. Bahkan keluarga lain seperti paman saya juga nggak mungkin bisa melakukan hal tersebut. Jadi, siapa yang memasukkan saya ke ruangan ini? Apa dokter tau soal itu?”
Dokter itu nampak gugup. Bibirnya tertutup rapat dan wajahnya seolah memucat hingga membuat Rahma menaikkan alisnya, menaruh rasa curiga pada sikap sang dokter.
“Kenapa, Dok? Ada yang salah dengan pertanyaan saya?” tanyanya dengan nada heran.
Dokter tersebut tersenyum sumbang dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Tidak apa-apa… aku hanya…”
“Halo? Baik. Oke. Saya kesana.”
Sambungan diputusnya secara sepihak. Dokter tersebut bangun dari tempat duduknya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
“Aku harus pergi. Ada pasien yang siap untuk dioperasi hari ini.”
Rahma hanya mengangguk pelan. Nampak sikap canggung sang dokter tersebut saat dia berjalan menjauhi Rahma dan membuka pintu untuk keluar dari ruangan tersebut. Sebelum dia benar-benar melangkah keluar, dia membalikkan badannya dan memberi senyum yang seolah dipaksakan pada Rahma yang menanggapinya dengan senyum simpul.
“Kita akan ngobrol lagi, kan?” tanyanya dengan sikap gugup. Seolah takut jika setelah itu mereka tidak akan mengobrol lagi.
“Tentu. Hati-hati. Selamat bertugas,” ujar Rahma sambil tersenyum.
Nampak dokter tersebut menghela napas lega dan kemudian keluar sambil tersenyum manis. Saat pintu ruangan tersebut ditutup dari luar, ekspresi Rahma yang semula nampak senang berubah datar seolah yang tadi hanyalah topengnya semata. Dia melirik ke arah jendela, dan kembali tenggelam dalam pikirannya.
Tak jauh berbeda dengan sang dokter yang sudah meninggalkan kamar VIP tersebut dam berjalan menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai dimana pasien sudah menunggunya di ruang operasi. Saat memasuki bilik lift tersebut, wajah sang dokter yang semula nampak senang dan ceria seketika berubah murung dan datar. Di dalam lift tersebut, sang dokter menyandarkan punggungnya ke dinding bilik, dan sesekali menghela napas seolah dia sangat lelah hari ini.
“Apa yang akan terjadi selanjutnya, saat dia tau siapa yang menjadi pelakunya? Apa dia masih bisa memberi senyum itu padaku nanti?”
Sang dokter kembali menghela napas berat sambil membenturkan kepalanya ke dinding lift dengan pelan sambil memejamkan mata.
***
Flashback on
Keluar dari ruang operasi, Hanif langsung disambut oleh seorang perawat yang nampak tersengal-sengal seolah habis berlari beberapa kilometer. Sambil melepas sarung tangan karet dan masker yang dipakainya, Hanif bertanya dengan nada gurauan pada si perawat tersebut.
“Habis lari berapa putaran?”
“Jangan ajak saya bercanda deh, Pak. Saya kesini buat ngasih tau Bapak kalau adik bapak baru saja sadar.”
Hanif nampak terdiam dan menunjukkan ekspresi kaget. “Siapa?”
Sang perawat nampak heran dengan ekspresi yang diberikan Hanif. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Bapak nggak tau kalau adik Bapak masuk rumah sakit siang ini?”
Hanif menggeleng. “Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?”
“Dia mengalami kecelakaan siang ini, Pak. Katanya mobilnya tabrakan di persimpangan jalan menuju Samarinda Central Plaza. Untungnya dia nggak luka parah. Cuma sedikit lecet di bagian kening dan memar di bagian dada. Juga di bagian tubuh yang lain, hanya ada luka-luka kecil yang nggak perlu dikhawatirkan.”
“Kenapa saya harus khawatir soal dia?”
Sang perawat terdiam mendengar ucapan Hanif yang bagaikan jarum suntik yang tajam menembus urat lehernya, hingga membuatnya tak mampu berkata apa-apa. Perawat tersebut kemudian mengeluarkan ponselnya dan memutar video yang beberapa saat lalu diunduhnya dari media sosial Facebook.
“Coba liat ini, deh, Pak.”
Hanif melirik sang perawat dan mengambil ponsel layar sentuh yang disodorkan si perawat padanya. “Apa ini?” tanyanya sambil melihat layar ponsel tersebut.
“Video yang sedang viral siang ini. Bapak bisa langsung paham kan, siapa yang ada di video tersebut?”
Hanif mengerutkan keningnya. “Ini video kecelakaan itu?”
“Hm.” Si perawat mengangguk. “Banyak yang merekam kejadian itu, tapi nggak dari awal terjadinya kecelakaan sih. Bapak bisa liat kan, siapa korban yang dimasukkan ke dalam ambulans tersebut? Dia adalah pasien yang barusan selesai bapak operasi bersama dokter Ali tadi.”
“Lalu?” tanya Hanif dengan nada datar.
“Coba liat mobil yang ringsek di sisi kanan jalan raya tersebut. Bukankah itu mobil ibunya Bapak?”
Hanif mengikuti arahan perawat tersebut dan memerhatikan mobil mewah berwarna hitam metalik yang sudah seperti barang rongsokan akibat menabrak tiang listrik di sisi kanan jalan raya tempat terjadinya kecelakaan tersebut. Benar saja, dari plat nomor polisi yang nampak sangat jelas di video tersebut, siapapun yang menonton video tersebut, terutama karyawan rumah sakit, pasti akan langsung tahu bahwa mobil mewah tersebut milik ibunya. Ekspresi Hanif langsung berubah dari datar menjadi marah. Tanpa berkata apapun lagi, Hanif langsung berjalan cepat setelah melepaskan jubah operasinya dan melemparkannya kepada sang perawat yang langsung menyambut sambil memanyunkan bibirnya.
“Bapak… tunggu! Ponselku!” seru sang perawat sambil meringis karena ponselnya dibawa pergi oleh Hanif yang sudah jauh di depannya. Perawat tersebut terlihat bingung untuk meletakkan jubah yang tadi dilempar begitu saja oleh Hanif padanya, dan kemudian saat dia melihat seorang perawat lain lewat di dekatnya, dia langsung menyerahkan jubah tersebut dan berlari mengejar Hanif tanpa peduli teriakan dari rekan sesama perawat yang dia titipi jubah operasi milik Hanif.
Hanif membuka pintu kamar VIP yang berwarna gelap tersebut dengan keras dan masuk ke dalamnya dengan langkah cepat. Sambutan hangat dari seorang gadis yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan perban di kepala tersebut tak dihiraukannya. Fokus pandangnya tertuju pada seorang wanita separuh baya yang tengah berdiri di samping ranjang tersebut.
“Apa maksudnya ini?!”
Suara bentakan keras diikuti lemparan ponsel ke atas ranjang tersebut membuat semua yang berada di dalam ruangan tersebut tersentak kaget. Tak terkecuali sang perawat yang tadi berhasil menyusulnya masuk ke dalam ruangan tersebut, meskipun dalam keadaan masih tersengal-sengal.
“Apa-apan kamu, Hanif? Masuk bukannya menyapa adikmu, malah…”
“Jangan sebut dia sebagai adikku, Bu! Sudah kubilang, dia bukan adikku! Jawab saja pertanyaanku, apa maksudnya ini? Ibu kasih izin dia buat mengendarai mobil sendiri?”
Wanita itu terdiam. Si gadis yang duduk bersandar di ranjang itu juga tak bisa menjawab apa-apa. Hanya ada raut bersalah yang terukir di wajah keduanya.
“Apa Ibu sudah pikirkan resikonya, sebelum Ibu kasih dia izin mengendarai mobil? Ah… aku lupa, kalau Ibu sudah pikirkan resikonya, maka hal seperti ini tidak akan terjadi. Apa Ibu tau kalau hari ini dia hampir saja membunuh orang?”
“Hanif, jaga perkataanmu!”
“Ibu yang harus menjaga sikap Ibu disini. Hanif tau Ibu sayang dengan Arina, tapi bukan seperti ini caranya. Seseorang hampir mati karena ditabrak oleh anak kesayangan Ibu ini!” tunjuk Hanif pada gadis yang menunduk kaku di atas ranjang tersebut. “Tulang punggung dan lehernya patah, kepalanya mengalami trauma dan dia hampir kehabisan darah kalau saja petugas ambulans tidak cepat membawanya ke rumah sakit! Kalau saja dia saat itu tidak terselamatkan, dan keluarganya menuntut Arina ke pengadilan, apa Ibu siap merelakan anak manis ibu ini mendekam di dalam penjara?”
“Nggak! Arina nggak mau masuk penjara! Arina nggak mau penjara! Nggak mau!”
Gadis itu nampak histris hingga menangis tersedu-sedu. Wanita separuh baya itu pun memeluknya dan mencoba menenangkannya.
“Hanif! Cukup! Apa-apaan kamu ini?!”
“Hah!” Hanif tertawa sumbang mendengar bentakan ibunya yang bernada tinggi. Mata Hanif kemudian mengarah pada gadis muda yang menangis di dalam pelukan wanita separuh baya tersebut. “Mengendarai mobil dengan usia di bawah delapanbelas tahun, tanpa SIM, ugal-ugalan dan melawan arah… menabrak orang hingga hampir mati? Menurutmu apalagi yang layak menjadi hukumanmu selain penjara?” ujar Hanif bernada sinis pada gadis muda tersebut. Gadis itu memandangnya dengan tajam dan misterius.
“Hanif, cukup! Jangan memprovokasinya!”
Hanif tertawa sinis sambil melirik ibunya yang terus menenangkan gadis muda dalam pelukannya itu. Lelaki yang masih mengenakan scrub atau seragam khusus untuk dokter bedah berwarna hijau tersebut kemudian berbalik badan dan melangkah menuju pintu. Namun langkahnya kemudian berhenti, dan menoleh ke arah dua perempuan yang masih saling berpelukan itu.
“Ah, aku lupa. Gadis itu terlahir dengan sendok perak di mulutnya, jadi tombak hukum mungkin takkan bisa menembusnya… karena dia memiliki tameng besi yang sanggup menahan tombak tersebut. Ya, kan, Bu?”
Setelah berkata seperti itu dan mengakhirinya dengan senyuman sinis, Hanif berjalan dengan cepat keluar dari ruangan tersebut diikuti sang perawat yang sejak tadi hanya bisa diam karena terkejut melihat interaksi buruk antara ibu dan anak tersebut. Namun, sang perawat teringat sesuatu yang kemudian membuatnya berbalik lagi masuk ke ruangan itu dan berjalan menuju ranjang pasien dimana dua perempuan yang merupakan keluarga atasannya itu masih saling berpelukan satu sama lain. Perawat tidak ingin mengganggu mereka berdua, jadi dengan gerakan cepat dia mengambil ponselnya yang tergeletak bergitu saja di atas ranjang dan tanpa kata pamit langsung melangkah cepat menuju pintu untuk keluar dari ruangan tersebut. Namun langkahnya harus terhenti lagi saat namanya dipanggil oleh wanita separuh baya yang masih berusaha menenangkan gadis muda tersebut.
“Kamu tau dimana ruangan pasien yang dimaksud Hanif? Tunjukkan padaku.”
Flashback off
{}{}{}