
RAHMA sudah diperkenankan untuk melakukan gerakan-gerakan ringan sebagai terapi karena selama beberapa hari ini dia hanya berdiam di atas kasur saja. Gadis itu pun memutuskan untuk memanfaatkan waktunya selama terapi tersebut dengan menyusuri lorong-lorong rumah sakit sambil mengamati keadaan di sekitar. Saat itulah dia baru menyadari sebuah fakta bahwa dia tidak dirawat di bangsal biasa, melainkan sebuah ruang khusus untuk pasien kelas atas.
“Dokter, apa boleh aku menanyakan sesuatu?” tanyanya saat Hanif, sang dokter tampan datang melakukan visit ke kamarnya.
“Boleh, tanya apa?” Dokter itu mengulas senyum manis sambil menatap penuh perhatian. Rahma berusaha untuk tidak terbawa oleh tatapan itu dengan mengalihkan sorotnya ke arah jendela.
“Apa Dokter tau, siapa yang membawaku ke ruangan ini?”
Mungkin Rahma tak menyadari bahwa ekspresi Hanif saat mendengar pertanyaan itu seperti seseorang yang baru saja ditusuk jarum. Dahinya mengernyit dan matanya membulat samar. Senyum yang mengembang berubah datar dalam sekejap. Namun, saat Rahma kembali mengalihkan tatapan padanya, ekspresi itu kembali berubah. Senyum tipis terukir, sorot mata menghangat, meski tampak sekali di mata Rahma bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu.
“Aku tidak tau,” jawabnya singkat dengan seulas senyum yang benar-benar sukses membuat gadis itu heran. Bagaimana bisa seorang dokter tidak mengetahui soal ini? Bukankah saat pemindahan ruang, yang memberitahu adalah sang dokter? Atau sistemnya memang berbeda di sini? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang menyambangi Rahma sesaat kemudian.
Gadis itu pun semakin dibuat heran saat lelaki yang hari ini mengenakan kemeja putih senada dengan jas yang melapisinya, dan celana bahan berwarna hitam itu tampak terburu-buru menyelesaikan pemeriksaan dan pamit keluar setelah itu. Rahma mengerutkan keningnya, mencoba menelaah apa yang terjadi.
“Apa pertanyaanku salah?” gumamnya dengan mata menyimpit dan alis bertaut.
***
“Jadi, dia yang membuat lelaki itu marah padaku?”
Rahma membuka mata, terkejut mendengar suara percakapan di belakangnya. Ingin bergerak membalik badan dan melihat siapa yang berbicara, namun tubuhnya terasa kaku seperti batu.
“Kau ingin membunuhnya?”
“Jika aku bisa melakukannya, sudah kulakukan. Mungkin seharusnya dia mati saat itu juga, agar tidak membuat masalah di kemudian hari. Seperti yang terjadi padaku saat ini.”
Mata gadis itu membulat, dan dalam satu tarikan napas, dia bangkit dari pembaringan. Rahma langsung bergerak turun tanpa peduli tubuhnya yang masih sakit karena baru saja bangun secara tiba-tiba, menuju pintu kamar dan membukanya. Tak ada siapapun di sana, kecuali fakta lampu lorong yang redup dan hanya beberapa orang berpakaian khas petugas rumah sakit yang berlalu-lalang. Rahma menutup kembali pintu kamar dan memindai ke setiap sudut di sekelilingnya. Hanya ada dia di ruangan ini.
Lalu siapa yang bicara dengan suara jelas terdengar oleh telinga itu?
Gadis yang mengenakan hijab instan berwarna hijau daun itu kembali ke ranjang, dan duduk di atasnya dengan kedua lutut ditekuk. Rahma bisa merasakan tubuhnya gemetar hebat, seperti orang yang menggigil di tengah padang salju. Baru kali ini dia merasakan sebuah teror nyata—jika itu bisa disebut teror. Beberapa opini yang cukup menenangkan bermunculan di pikirannya, mencoba memberi sugesti positif untuk menormalkan kembali napas yang tercekat. Akan tetapi, sepertinya hal itu sia-sia.
“Nak, kamu kenapa?”
Rahma terkejut dan menoleh ke arah pintu. Matanya membulat dan tanpa aba-aba dia langsung beranjak turun lagi dari ranjang, menghambur pada sang ibu yang tak kalah kaget melihat aksi anaknya. Dalam pelukan hangat wanita paruh baya itu, Rahma menangis sesenggukan.
“Ada apa?” tanya sang ibu dengan nada pelan. Gadis itu hanya menggelengkan kepala. Pelukannya yang erat itu perlahan mengendur seiring napas yang kembali normal. Rahma melepas dekapan ibunya dan menatap wajah wanita itu dengan mata bersimbah air mata.
“Mama kemana aja?” tanyanya dengan nada agak kesal.
“Maaf, mama tadi dari luar, cari angin sebentar. Kamu nggak apa-apa, kan?”
Keesokan harinya, Rahma mencoba untuk tidak lagi bersikap lengah. Dia menatap penuh waspada setiap sudut ruangan, bahkan pergerakan di luar pintu kamarnya yang memiliki kaca kecil di bagian atas gagang. Sambil makan, dia sesekali memperhatikan kaca kecil itu dan mengerutkan kening setiap seseorang yang mencurigakan baginya melintas.
“Kamu ngapain, Nak? Makan yang benar!” tegur sang ibu yang sejak tadi tampak gemas dengan aksi anaknya.
“Mama tadi malam liat orang lewat di depan kamar ini?” tanya Rahma tanpa peduli ekspresi sang ibu yang seolah ingin sekali mencubit pipinya.
“Banyak, perawat, dokter, sama petugas kebersihan.”
Rahma mendesah sambil memutar bola mata malas. Sementara sang ibu hanya tertawa dan melanjutkan makan. Mau tak mau Rahma pun ikut melanjutkan santap paginya, tanpa banyak bertanya lagi. Setidaknya sampai dia teringat sesuatu.
“Ma, Rahma boleh nanya?”
“Tanya apa?”
“Mama tau, siapa yang ngasih ruangan ini ke kita?”
Sang ibu menghentikan aktivitas makannya, dan menatap Rahma dengan ekspresi terkejut. Melihat sikap itu, Rahma meletakkan sendok ke atas piringnya yang hampir kosong dan menegakkan punggung yang masih dalam masa penyembuhan. Kedua tangan disidekapkan di depan dada.
“Mama tau, Rahma sudah bertanya hal yang sama pada dokter Hanif. Mama tau ekspresi seperti apa yang dia tunjukkan? Persis yang Mama tunjukin sekarang.”
Rahma memang tak menyadari perubahan sikap saat Hanif terkejut mendengar pertanyaannya kemarin. Akan tetapi, dia mengetahui perubahan sorot mata yang ditunjukkan oleh sang dokter saat dia menatapnya. Sama seperti yang diperlihatkan oleh sang ibu sekarang ini, sorot mata yang menyembunyikan sesuatu.
“Ada apa sebenarnya, Ma?” tanya Rahma dengan nada mendesak pada sang ibu. Wanita paruh baya itu hanya menunduk dan diam, membuat sang anak mendesah kesal. “Sebenarnya, apa yang Mama dan dokter itu sembunyikan dari Rahma? Kenapa sepertinya kalian nggak mau Rahma tau mengenai hal ini?”
“Bukan begitu. Mama nggak menyembunyikan apapun, Nak. Hanya saja ….”
“Hanya saja apa?” tanya Rahma setelah sang ibu menggantung kalimatnya. Tepat saat dia melirik ke arah pintu kamar, sebuah sesosok bayangan tampak menatapnya dari luar sana. Rahma terkejut dan bangkit tanpa aba-aba, berlari menuju pintu dan membukanya lebar-lebar.
“Siapa kamu?” tanyanya dengan nada tegas pada seorang gadis remaja yang tampak gugup di hadapan, mengenakan piayama pasien yang sama dengannya. Gadis itu menunduk, persis seperti orang yang baru saja ketahuan berbuat kesalahan. Akan tetapi, Rahma bisa merasakan aura aneh pada sikapnya. Sebuah sikap yang tak menunjukkan bahwa dia merasa bersalah.
“Boleh … aku … masuk?” pinta gadis itu dengan nada memohon. Suaranya mirip seperti anak kecil yang meminta untuk dibelikan mainan. Bahkan ekspresinya pun menunjukkan itu. Rahma mengerutkan keningnya, dan mau tak mau mundur beberapa langkah sebagai isyarat bahwa dia mengizinkan gadis berambut panjang itu masuk.
Dalam sekejap, seolah memiliki kekuatan seorang manusia super, gadis itu masuk dan menutup pintu kamar dengan cepat. Rahma kembali mundur beberapa langkah hingga terkejut bahwa dia sudah terduduk di atas kasurnya. Sementara remaja berwajah cantik dengan kulit putih bersih itu tampak tersenyum manis, meski kilat matanya menunjukkan sebuah keangkuhan yang penuh misteri.
[][][]