
RAHMA duduk dengan tangan bersidekap di depan dada, sambil memandang seorang gadis yang duduk di hadapannya, asyik menyeruput minuman berwarna cokelat di atas meja. Rahma memerhatikan gadis itu dengan mata menyimpit. Dalam hatinya, Rahma tak meragukan kecantikan yang dimiliki oleh gadis remaja berusia tujuh belas tahun tersebut.
“What are looking at?” tanya gadis itu dengan bahasa Inggris yang fasih.
Rahma menipiskan bibirnya, dan menjawab pertanyaan itu dengan juga menggunakan bahasa Inggris yang cukup fasih. “I’m just looking at a girl who has a beautiful face and hair, but seems mysterious. I’m wondering about what she needs from me. Can you say it?”
Rahma bisa melihat walau hanya sekilas, gadis itu tersenyum sinis padanya. Namun dia tak bersuara, dan lebih menginginkan jawaban dari pertanyaan yang dilontarkannya pada gadis itu. Alis Rahma bergerak samar saat melihat perubahan ekspresi yang ditunjukkan oleh gadis di depannya tersebut.
“Aku kesini untuk meminta bantuanmu. Apa kamu mau membantuku?” tanya gadis itu sambil tersenyum hiperbolis.
Rahma menipiskan kembali bibirnya. “Bantuan apa?” tanyanya tenang.
“Karena berhubung ini tahun baru, jadi aku ingin membelikan sesuatu untuk seseorang sebagai hadiah tahun baru. Aku ingin kamu membantuku memilih hadiahnya!” ujar gadis itu dengan nada antusias yang bagi Rahma, terlihat menggelikan.
“Siapa? Pangeran?” Rahma sengaja mengajukan pertanyaan yang memancing reaksi lain dari gadis tersebut. Dan, tentu saja pancingannya berhasil mendapat mangsa.
“Apa maksudmu?”
Gadis remaja itu nampak kesal. Raut wajahnya terlihat bak serigala yang marah. Rahma pun entah kenapa menikmati situasi itu dengan terus memancingnya.
“Apanya yang ‘apa maksudmu’? Bukankah ‘seseorang’ yang kamu maksud itu adalah dokter Hanif, kakakmu sendiri?” ujar Rahma sambil tersenyum tipis.
“Kenapa mudah sekali bagimu memanggil namanya?” lirih gadis remaja itu dengan tangan terkepal di atas meja. Alis Rahma terangkat mendengar kalimat pertanyaan itu. Dia tertawa geli dan itu membuat gadis remaja yang menjadi lawan bicaranya saat ini memasang raut kesal padanya.
“Maaf, aku nggak bermaksud mengejekmu. Hanya saja, aku merasa lucu dengan pertanyaanmu. Kenapa harus merasa sulit memanggil namanya? Kalau aku harus menyebutkan gelarnya, atau memanggilnya seperti ini, ‘dokter spesialis bedah Ortopedi Ahmad Hanif’, itu baru sulit. Hanya menyebut nama panggilannya, itu mudah!” jelasnya sambil masih memasang senyum geli.
“Why? You, a little princess can’t call your prince’s name by yourself?” lanjut Rahma menggoda gadis remaja itu.
Nampak di matanya gadis itu berusaha menahan amarahnya agar tak meledak di keramaian. Meskipun mereka sebenarnya duduk di meja paling sudut di kafe kekinian yang berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Samarinda tersebut, namun tetap saja, jika gadis itu mengamuk, maka otomatis dirinya akan menjadi pusat perhatian banyak pengunjung di sana.
Rahma tersenyum tipis. Kembali dia bersidekap dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Oke, jadi, kapan kamu akan pergi? Atau mungkin kamu bisa pergi sendiri tanpa harus kutemani, kan? Lagipula, mana mungkin aku tau selera kakakmu itu!” ujarnya mengalihkan topik pembicaraan.
“Tidak. Aku butuh bantuanmu untuk memilih hadiah. Aku tau, kamu sangat tau mode. Kita berangkat sekarang.” Gadis remaja itu bangkit dari kursinya dan menyandang tas yang tadi digantungnya di sandaran kursinya. Rahma memutar bola mata malas dan ikut bangkit dari kursi serta menyandang tas ranselnya, mengekor gadis remaja yang mengenakan dress dengan motif renda itu keluar dari kafe. Mereka berjalan seperti orang asing yang kebetulan menuju arah yang sama. Tak ada pembicaraan selama perjalanan menuju tempat mereka akan berbelanja, atau lebih tepatnya gadis remaja itu akan berbelanja. Rahma hanya diam saja memerhatikan gadis itu dari belakang. Mencoba menerka apa yang ada di dalam pikiran gadis itu. Tanpa tahu kalau gadis itu tengah menunjukkan ekspresi dinginnya sambil bergumam pelan, seolah membaca mantera.
***
Berada di tengah keramaian pengunjung distro khusus fesyen laki-laki di dalam pusat perbelanjaan tersebut, membuat Rahma merasa gerah. Dia bergerak meninggalkan Arina yang masih sibuk memilih beberapa jaket yang harganya setara dengan jatah uang bulanan Rahma selama satu bulan. Namun belum lagi dia sampai ke depan pintu distro tersebut, Arina sudah memanggilnya dan memperlihatkan dua jaket yang sebenarnya sangat bagus dan hampir menyilaukan mata Rahma, seandainya dia tidak sadar bahwa dia sedang dalam kondisi yang tak memungkinkan untuk berbelanja barang mahal.
“Dua-duanya bagus,” jawabnya singkat saat gadis remaja itu menanyakan pendapatnya.
“Kenapa jawabanmu datar sekali?” tanya Arina jengkel dengan ekspresi Rahma.
“Aku lelah, Nona Kecil! Dari tadi kamu memilih barang tanpa berniat membeli! Kita sudah beberapa kali keliling, dan kamu sama sekali nggak tertarik dengan semua yang kamu sendiri minta pendapatku? Jadi maumu apa?” protes Rahma emosi.
Gadis itu memasang wajah datar. Mendengus kesal, dan akhirnya bergerak meninggalkan Rahma sambil membawa kedua jaket dengan dua tangannya. Sementara Rahma hanya tertawa sumbang dan berjalan menuju pintu distro. Keluar dari distro, Rahma menyandarkan punggungnya yang terasa sedikit nyeri, mungkin karena kelelahan. Rahma berusaha menahan nyeri punggungnya dengan menarik napas dan mengembuskannya perlahan, menyandarkan punggung ke dinding kaca distro khusus untuk para penggemar fesyen kelas atas itu.
“Bawakan!”
Rahma tersentak saat sebuah tas berbahan karton tersodor ke depannya. Dengan malas Rahma melirik sosok yang menyodorkan tas tersebut padanya. Sambil tertawa jengkel, Rahma berdiri tegak dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket hoodie yang dipakainya hari ini. Menatap datar gadis remaja yang masih menyodorkan tas ke hadapannya.
“Maaf, aku bukan kacung. Kamu yang belanja, jadi bawa aja sendiri!” ujar Rahma sambil berlalu, tak mempedulikan Arina yang membeliakkan matanya dan menghentakkan kakinya marah.
Rahma berjalan cepat menuju ke lantai utama gedung pusat perbelanjaan itu, ingin segera keluar dari sana dan terbebas dari Arina. Rasanya sudah tak betah lagi Rahma berada di dekat remaja tujuh belas tahun tersebut, seolah aura di sekelilingnya terasa panas dan gelap. Rahma ingin segera pulang dan merebahkan diri ke atas kasurnya.
Namun, apa dayanya yang berjalan sambil menahan nyeri di punggungnya yang masih belum sembuh total. Langkahnya sedikit melambat saat nyeri itu tak tertahankan. Dan itu memberi kesempatan bagi gadis yang coba dihindarinya untuk mengejarnya dan gadis itu berhasil.
“Mau kemana sih, buru-buru? Kita kan belum selesai.” Arina bersidekap angkuh di samping Rahma.
Rahma hanya memutar bola mata malas. Dia kembali berjalan dan setelah berada di luar area mall, Rahma mengeluarkan ponsel layar sentuhnya dari dalam saku jaket. Niatnya ingin memesan taksi online, namun belum lagi dia melakukan niatnya itu, Arina menarik sikutnya hingga dia sedikit terhuyung ke samping.
“Apaan sih?” ujarnya kesal. Arina tak menjawab, melainkan menunjuk ke arah sebuah mobil merah yang terparkir di pinggir jalan dekat pintu gerbang gedung tinggi tersebut.
“Mobilmu?” tanya Rahma dengan alis sebelah terangkat.
Arina mengangguk singkat, membukakan pintu bagian penumpang, dan menggerakkan kepalanya seolah memberi isyarat pada Rahma untuk masuk.
Rahma berpikir sejenak, menghela napas dan memutar bola mata malas. Dengan hati mau tak mau, akhirnya Rahma masuk ke dalam mobil dan duduk diam bersandar di dalam mobil.
***
Rahma berdiri dengan kedua tangan masih berada di dalam saku jaket, menatap lelah gedung rumah sakit tempatnya dirawat beberapa minggu yang lalu. Dalam hatinya meronta ingin pulang, bukan kembali ke rumah sakit tersebut. Apalagi, hari ini dia tak punya jadwal kontrol, karena masih beberapa hari lagi dia baru akan datang sebagai pasien rawat jalan. Tapi, mau bagaimana lagi, gadis remaja yang masih asyik mengobrol dengan seorang laki-laki berpakaian modis yang menjadi supir mobil merahnya itu, sudah membuatnya lelah hingga tak bisa menolak saat gadis itu membawanya ke rumah sakit ini.
“Memangnya itu hadiah nggak bisa dikasih entar aja, ya?” keluh Rahma diam-diam.
“Sorry, udah bikin kakak nunggu lama! Tolong pegangin ini, dong!” ujar gadis itu dengan nada yang membuat Rahma langsung mendengus pendek.
“Maaf, tanganku sibuk! Pegangin aja sendiri, atau taruh di lantai!" ketusnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan mengambil duduk di kursi lobi dekat lorong menuju IGD.
Sementara gadis remaja yang dia tolak permintaannya itu mendesis kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai seperti anak kecil. Entah disadari atau tidak olehnya, tingkahnya itu benar-benar seperti bocah lima tahun yang merengek jika ada yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dan itu membuat Rahma semakin lelah dengannya.
Rahma meringis pelan saat merasakan nyeri di punggungnya datang lagi. Dia mencoba mengatur napasnya agar tetap tenang menghadapi rasa nyeri itu. Rahma memejamkan matanya dan bersandar di sandaran kursi lobi tersebut.
“Rahma?” Suara seseorang menyentaknya dan membuatnya membuka mata. Rahma melirik ke arah suara itu berasal, dan seorang lelaki berjas putih yang dikenalnya datang menghampirinya dengan wajah cemas.
“Kamu kenapa?” tanya lelaki itu sambil menatapnya khawatir. Tangannya bergerak menyentuh kening Rahma yang tentu saja mencoba memundurkan kepalanya untuk menghindari sentuhan itu. Namun terlambat, sentuhan lembut itu telah mengenai keningnya, dan membuatnya mematung. Dokter tersebut menyentuhnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menyentuh keningnya sendiri. begitulah caranya memeriksa suhu tubuh setiap pasien yang dilihatnya mengalami gejala demam.
Hanya sekitar beberapa detik saja, namun bagi Rahma sentuhan itu terasa lama sekali. Matanya terus terpaku pada Hanif yang sudah melepaskan sentuhannya dan mendesah karena mengetahui kondisi gadis berhijab tersebut.
“Kamu habis dari mana, kok bisa demam begini?” tanya Hanif sembari kembali menyentuh Rahma lagi, kali ini pergelangan tangannya yang menjadi objek sentuhan. Hanif menyentuh bagian nadi, mencoba merasakan denyut nadi tersebut sambil melihat gerakan jarum kecil di benda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Rahma mencoba bersabar menerima setiap perlakuan sang dokter spesialis bedah ortopedi tertampan dan termuda di rumah sakit itu, sambil sesekali menghela napas kesal. Cukup beralasan, karena Rahma memang tak biasa disentuh lelaki yang bukan mahramnya. Satu-satunya yang biasa menyentuhnya adalah ayahnya, adik-adiknya, dan semua yang berstatus keluarga kandungnya.
Lagipula, bukankah dokter itu biasa menggunakan alat untuk memeriksa kondisinya? Kenapa hari ini malah menggunakan sentuhan kulit secara langsung? Rahma menjerit kesal dalam hati.
“Saya nanya kok tidak dijawab? Kamu habis dari mana?” Dokter itu bertanya lagi, setelah meletakkan tangan kanan Rahma yang tadi dia sentuh. Rahma tersentak dan bergerak tidak nyaman berada di dekat lelaki itu. Lelaki itupun sadar dengan tingkahnya, dan bergeser sedikit menjauh dari Rahma. “Maaf,” ujarnya sambil meringis malu.
Kalimat Rahma terpotong saat gadis remaja yang tadi ditinggalnya di depan pintu rumah sakit datang dan langsung menyosor Rahma dengan pelukan erat yang bagi Rahma terasa aneh.
“Kak Rahma kok ninggalin aku, sih? Kak Rahma capek, ya? Sorry!” ujarnya dengan nada dibuat manja. Rahma mengerjap bingung dan hanya tersenyum tipis menanggapi raut manjanya itu.
Rahma berusaha melepaskan diri dari pelukan Arina yang terus menggelayutkan diri padanya itu, saat tiba-tiba tangan Hanif menggenggam ujung lengan jaketnya yang lebih panjang dari tangannya tersebut dan menariknya sehingga Rahma pun mau tak mau bangkit dari posisinya. Pelukan Arina terlepas, berganti dengan tarikan sang dokter yang menyeretnya bak sedang menggeret sebuah koper. Rahma berusaha mengimbangi langkah sang dokter dan saat berhasil, dia hampir tertabrak punggung kokoh dokter tersebut jika saja dia tidak ikut berhenti saat dokter itu tiba-tiba mengerem langkahnya.
Mereka berdua berdiri saling berhadapan di pelataran luar rumah sakit. Mata Hanif menatapnya serius, dan dia hanya menanggapinya dengan tatapan heran seraya mengangkat tangan bajunya yang masih berada di genggaman Hanif. Lelaki itu spontan melepas dan bersikap canggung di depannya.
“Kamu sedang apa sama gadis itu? Kenapa kamu bisa bersama dia?” tanya Hanif setelah berhasil mengatasi sikapnya yang sedikit gugup tadi.
“Adikmu memaksaku untuk ikut dengannya dengan alasan butuh bantuan memilih hadiah tahun baru,” jawab Rahma santai sambil bersidekap di depan Hanif.
“Kenapa tidak ditolak saja?” sahut Hanif bernada jengkel.
“Dan membuat adikmu mengamuk di mall? Oh no!” jawab Rahma tegas sembari menunjukkan gerakan menolak dengan kedua tangannya.
“Kalian bertemu di mall?” Hanif bertanya lagi, masih dengan nada serius.
“Tepatnya di kafe yang ada di dalam mall.” Jawab Rahma seraya meringis sambil memegang bahunya. Hanif menautkan alisnya dan mendekati Rahma yang spontan mundur selangkah karena merasa lelaki itu terlalu dekat dengan dirinya.
“Kamu tidak apa-apa?” menyetarakan tingginya dengan Rahma yang memang sedikit lebih rendah darinya. Tinggi Rahma hanya sedada Hanif, itu membuatnya harus sedikit mendongak ketika harus melihat sang dokter tampan tersebut.
“Hanya sedikit nyeri di punggung,” jawab Rahma sambil melakukan peregangan pada punggungnya.
“Kamu bawa obat pereda nyeri?” lanjut Hanif bertanya dengan nada khawatir. Tanpa meminta izin, dia melepaskan ransel yang sedari tadi disandang oleh gadis berhijab tersebut. Rahma awalnya membeliak kaget, namun akhirnya tak bisa protes karena setelah ransel itu dilepaskan dari pundaknya, dia merasa lega dan pundaknya seolah terasa ringan. Dan nyeri punggungnya secara perlahan berkurang.
“Kayaknya aku lupa, deh. Soalnya tadi buru-buru.” Rahma meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tertutup hijab. Hanif memutar bola matanya jengkel.
“Kenapa bisa lupa?” tanya lelaki itu dengan alis bertaut.
“Ya, mana tau! Namanya juga lupa!” dengkus Rahma balas memutar bola matanya jengah. Hanif hanya bisa memejamkan matanya dan menghela napas kesal.
Rahma menengok ke arah dalam, dan mendapati Arina sedang berjalan sambil berbicara dengan seorang laki-laki yang mengenakan scrub dengan jas putih bersih sebagai luarannya. Mereka berdua nampak akrab, atau lebih tepat dibuat seolah sedang akrab. Rahma mengangkat alisnya sebelah, penasaran dengan sosok lelaki yang sesekali tertawa sambil memandang Arina itu.
“Kayaknya aku pernah liat…,” gumamnya sambil mengusap dagunya. Hanif membuka matanya dan ikut menengok ke arah tatapan gadis berhijab tersebut.
“Reza Ramadhan, spesialis syaraf di rumah sakit ini. Kamu kenal dia?” ujarnya sambil menyandang ransel milik Rahma ke bahunya.
“Nggak, cuma merasa pernah liat aja,” jawab Rahma sambil menggeleng, meskipun dari ekspresinya, dia nampak ragu dengan jawabannya sendiri.
“Dia itu sebelas dua belas aja sih, sama aku.” Hanif menatap ke arah dua orang yang asyik mengobrolkan sesuatu tersebut. Tanpa tahu bahwa gadis berhijab di sampingnya tengah mengerjap seolah sedang menebak apa maksud dari perkataannya. “Dia juga pernah mengikuti kelas akselerasi saat sekolah. Dulunya dia kuliah di jurusan Psikiatri, tapi entah kenapa langsung banting setir ke jurusan kedokteran dan menjadi seorang spesialis syaraf,” ungkapnya seraya mengalihkan perhatian pada lawan bicaranya yang melongo dengan tatapan mengarah padanya.
“Hmmm…,” gumam Rahma sambil mengangguk saat tersadar kalau ekspresinya sudah membuat lelaki di hadapannya itu heran.
“Kenapa?” tanya Hanif dengan wajah heran sekali.
“Nggak, nggak ada. Tadi kupikir Dokter mau bilang apa. Ternyata itu…,” lirih Rahma tertawa geli.
“Memangnya kamu pikir aku mau bilang apa?” tanya Hanif masih dengan wajah heran.
“Tadi kupikir Dokter mau bilang kalau dia sebelas dua belas sama Dokter soal menjadi dokter tertampan dan termuda di rumah sakit ini,” ujar Rahma sambil menipiskan bibirnya dengan mata menatap lurus ke arah lelaki yang tersenyum manis pada Arina.
“Memangnya kalau aku bilang begitu, kamu mau apa?” Hanif bersidekap, mencoba angkuh di depan Rahma yang lantas menatapnya geli.
“Saya nggak setuju,” jawabnya singkat. Kemudian bergerak membalik badan dan berjalan menuju anak tangga.
“Loh, kenapa?” Hanif makin terheran-heran.
Rahma berhenti, dan menoleh ke arahnya sambil tersenyum dengan mata menyimpit. Dia memindai Hanif dari atas sampai bawah. Tersenyum lagi, semakin lebar. Setelah itu mengalihkan pandangannya ke arah anak tangga, namun belum bergerak untuk melangkah.
“Karena menurutku, dia lebih tampan dari Dokter Hanif, meskipun udah nggak muda!” ujarnya seraya terkekeh, kemudian bergerak menuruni satu demi satu anak tangga.
Hanif membeliakkan matanya dengan mulut terbuka setengah, terperangah mendengar ucapannya. Menghela napas kesal, lelaki itu ikut menuruni anak tangga dan mengejar Rahma dengan langkah sedikit berlari.
“Mau kemana?” tanyanya sambil menghadang Rahma dengan tangan kirinya.
“Aku mau pulang, menenangkan punggung sebentar sebelum lanjut mencetak draf skripsi buat konsul besok!” jawab Rahma santai sambil meminta tasnya dikembalikan.
“Nggak mau diantar?” Hanif menahan ransel Rahma dan menatapnya khawatir. Sementara gadis berhijab itu mengernyit samar mendengar ucapannya. Seolah ada yang aneh dengan ucapan itu. Tapi Rahma memilih untuk tak memikirkannya sekarang.
“Aku bisa pesan ojek online kok.” Rahma meraih tasnya tanpa menunggu protes dari Hanif.
“Sebentar, tunggu disini. Aku belikan obat pereda nyeri dulu di apotik!” pinta Hanif seraya berlari menuju apotik yang berada tak jauh dari area rumah sakit. Rahma hanya menghela napas dan tertawa sumbang melihat kelakuan Hanif yang menurutnya sangat lucu itu.
Asyik memandangi punggung Hanif yang sedang melakukan transaksi jual beli obat pereda nyeri untuknya di apotek, Rahma tak sadar kalau gadis remaja yang dia tinggalkan bersama seorang dokter tadi sudah berada di belakangnya. Rahma pun tersentak kaget saat kedua tangan gadis itu memeluknya dari belakang.
“Mau kemana? Sedang apa disini?”
Rahma bisa merasakan bulu kuduknya merinding. Seolah ada aura kegelapan mengitari sekelilingnya, saat gadis remaja itu berada di dekatnya. Rahma tak menampik kalau batinnya seolah menerima sebuah firasat buruk, namun dirinya mencoba tenang dan mengabaikan firasat tersebut. Sambil melepaskan pelukan Arina, Rahma menjawab pertanyaan gadis itu dengan nada dibuat sedatar mungkin.
“Pulang. Urusan kita sudah selesai, bukan?”
Gadis itu menautkan alisnya, tak setuju dengan kalimat itu. Sembari tersenyum miring, gadis itu bersidekap dengan gaya angkuhnya.
“Siapa bilang?”
{}{}{}