
RAHMA duduk berhadapan dengan Hanif di sebuah kafe kekinian yang hampir semua menu makanan dan minumannya viral di media sosial. Rahma nampak santai menikmati Ice coffee miliknya yang tersisa setengah, sementara Hanif sedang serius mendengarkan rekaman di ponsel milik gadis berhijab tersebut melalui handsfree yang terpasang di telinganya dan terhubung ke ponsel melalui jaringan Bluetooth. Sesekali lelaki itu memasang ekspresi kaget dan mengerutkan keningnya sambil menghela napas. Rahma hanya tersenyum tipis setiap kali dokter spesialis bedah ortopedi itu memandangnya dengan tatapan khawatir.
Hanif mematikan sambungan menekan tombol di bagian handsfree-nya dan sambungan Bluetooth antara ponsel dan alat canggih tersebut pun terputus. Dia kemudian menyodorkan ponsel pintar berwarna hitam itu pada Rahma yang langsung menyambutnya sambil tersenyum simpul.
“Sudah didengar sampai selesai?” ujarnya sambil meletakkan ponsel dengan layar hampir penuh itu ke atas meja dekat dengan gelas tinggi yang isinya sudah kosong.
Hanif hanya mengangguk dan menghela napas berat. “Apa benar itu yang dikatakannya?” tanyanya dengan nada ragu.
“Dokter pikir aku mengeditnya? Aku nggak punya bakat seperti itu, sayangnya!” sahut Rahma sambil tersenyum tipis.
“Maaf.” Ringis Hanif karena malu setelah mendengar nada bicara dan kalimat Rahma yang seolah menyanggah tuduhannya. “Bagaimana dia bisa tau alamatmu?”
Rahma menggedikkan bahunya. “Entahlah. Dia bilang dari rumah sakit.”
Hanif tertawa kecil dan menggeleng. “Bagaimana mungkin? Pihak rumah sakit tidak mungkin memberi data apapun mengenai pasien pada siapapun yang tak punya hubungan apa-apa dengan pasien tersebut.”
“Bisa saja, jika memintanya bukan pada pihak administrasi. Melainkan pihak lain. Dan bisa dilakukan secara diam-diam.”
Hanif terdiam mendengar sanggahan Rahma. Keningnya berkerut menandakan bahwa dia juga memikirkan hal tersebut. Hanif menghela napas dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu jati yang dia duduki.
“Apa yang dia lakukan selain berbicara aneh seperti itu?”
“Nggak ada, dia langsung tidur setelah minum susu cokelat.”
“Susu cokelat?” Hanif mengernyitkan alisnya.
Rahma mengangguk. “Kenapa?”
“Kamu minum cokelat?” tanya Hanif sambil memasang wajah tak percaya. Tak percaya bahwa gadis seusia Rahma masih meminum susu cokelat.
“Hanya saat aku perlu gula. Seorang mahasiswi tingkat akhir sepertiku memang harus banyak makan dan minum yang manis-manis karena akan selalu begadang setiap malam demi skripsi.”
Hanif mengangguk. “Yah, tidak hanya seorang mahasiswi tingkat akhir sepertimu yang perlu gula saat begadang, petugas medis seperti kami juga sama.”
“Of course, you need it, too.” Rahma bersendang dagu. “Jadi, Dokter spesialis bedah ortopedi yang terhormat, apa yang ingin Anda bicarakan denganku? Dokter nggak mungkin memintaku datang kemari hanya karena khawatir soal tadi malam, kan?”
Hanif menutup mulutnya rapat dan memandang lurus ke arah gadis berhijab di depannya. Setelah menghela napas sejenak, dia pun menegakkan punggungnya dan meletakkan kedua tangannya keatas meja, dengan posisi jemari saling bertaut.
“Begini, mengenai kejadian sebelum kecelakaan itu. Ada hal yang sangat aneh menurutku terjadi saat itu.”
Kedua alis Rahma terangkat, dan membuat keningnya berkerut. Dia kemudian membuat posisi siap mendengarkan cerita dengan menyandarkan punggungnya yang masih dalam tahap pembiasaan ke sandaran kursi berjenis sama dengan kursi lelaki tampan di depannya saat ini, dan melipat kedua tangannya di depan dada.
“Go on.”
“Begini, aku mendapat informasi dari seorang saksi bahwa Arina saat itu mengendarai mobil dari kafe yang dia kunjungi bersama teman-temannya. Aku kemudian datang ke kafe itu dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi saat itu pada pegawai kafe yang kebetulan bertugas hari itu. Mereka mengatakan bahwa saat itu sempat ada teriakan dari kamar mandi, semacam teriakan ketakutan. Semua orang disana terkejut dan melihat ke arah kamar mandi, kemudian mereka melihat Arina keluar dari kamar mandi tersebut dan berlari seperti orang yang sedang ketakutan, mengambil tasnya dan keluar dari kafe… masuk ke mobil dan mengendarai mobilnya dengan kondisi seperti itu, dan… seperti yang kamu sudah bisa prediksi selanjutnya….”
Rahma mengangguk pelan dengan tatapan serius ke arah Hanif. “Apa yang terjadi di kamar mandi? Apa ada saksi yang melihat?”
“Ada. Salah satu temannya yang bernama Dina. Aku juga sudah melihatnya. Tapi, dia bilang dia tidak tau apa yang membuat Arina ketakutan. Dia saat itu hanya khawatir karena Arina sangat lama di kamar mandi, dan kemudian menyusulnya. Dan saat itu, dia melihat Arina sedang gemetar dan ketika melihatnya, gadis itu spontan berteriak. Dina bilang, Arina sempat mendorongnya hingga terjatuh sebelum keluar dari kamar mandi.”
Rahma menggigit bibirnya, memasang ekspresi berpikir. “Arina, apa Dokter juga sudah menanyainya?”
Hanif tampak ragu untuk menjawab. Dia menarik napas pelan, dan mengembuskannya perlahan. “Aku… tidak menanyainya.”
“Why? Bukankah dia yang paling bisa menjelaskan apa yang terjadi padanya saat itu?”
“Ya… aku tau. Tapi, aku tidak bisa menanyainya.”
“Kenapa?” Rahma memasang wajah heran, meskipun sebenarnya dia bisa menduga jawaban apa yang akan diberi lelaki tampan itu.
“Kami tidak dekat. Sudah kubilang, kan?”
“Dan kenapa kalian tidak dekat? Bukankah kalian saudara?”
“Dia bukan adikku, oke? Dia hanya anak ibuku. Sudah kubilang kan?”
“Dia anak ibumu, itu artinya dia adikmu. Entah Dokter suka atau tidak, terima atau tidak, itulah kenyataannya. Lagipula kenapa Dokter bisa sebenci itu padanya? Apa yang terjadi?”
“Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?”
“Tentu! Karena aku harus tau apa yang menjadi alasan kenapa aku harus menanggung beban yang sama sekali nggak aku inginkan!” Rahma membentak dengan nada setengah tinggi sambil menunjuk pundaknya dengan jari telunjuk kanannya. Hanif membelalak dan suasana kafe itu pun mendadak hening. Rahma menyadari bahwa suaranya tadi telah mengganggu pengunjung kafe. Dia menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan untuk menghilangkan amarah dari dalam benaknya. Setelah tenang dia pun menengok ke samping dan menundukkan kepalanya sebagai isyarat maaf. Para pengunjung kafe tersebut kemudian kembali ke aktivitasnya masing-masing.
“Oh ya? Aku memaafkan, bukan melupakan. Lagi pula, bukankah Dokter sudah berjanji untuk jujur?”
Hanif menatap sorot mata tajam milik gadis berhijab tersebut dan terpaku padanya. Dia bisa merasakan tubuhnya enggan bergerak, seolah terhipnotis oleh bentuk dan warna bola mata yang sedang menatapnya serius saat ini.
“Jika ingin jujur, maka lakukan dengan baik, jangan setengah-setengah.” Satu kalimat itu mampu membuat Hanif bergetar, seolah dia dijatuhkan dari ketinggian ratusan meter.
“Maaf,” lirihnya sambil menunduk.
Suasana di meja yang berada di sudut ruang kafe itu hening sejenak. Tak ada yang membuka suara. Keduanya hanya diam dan terpaku dalam pikirannya masing-masing. Hanya suara-suara pengunjung dan pegawai kafe serta musik Jaz yang terdengar memenuhi ruangan kafe tersebut.
“Orangtuaku bercerai saat aku berusia tujuh tahun. Aku yang di usia itu masih belum tau apa-apa soal kehidupan orang dewasa, tidak terima dengan perceraian mereka, dan marah. Apalagi setelah itu, ibuku menikah lagi, setahun setelah dia bercerai dengan ayahku. Awalnya aku tidak terima dengan pernikahan keduanya itu, dan mengancam bahwa aku akan ikut ayahku pulang ke Negara asalnya, yaitu Korea Selatan. Tapi ibuku tidak mendengarkan dan tetap menikah dengan lelaki asal Jepang itu. Dia bilang, ini demi keluarga kita. Hah! Apanya demi keluarga? Dia hanya menikah demi dirinya sendiri!”
Emosi Hanif nampak meluap seolah beban berat yang mengendap di dalam dirinya itu telah dipancing keluar hingga mengalir tanpa kendali. Rahma hanya diam saja dan tetap serius mendengarkan tanpa berniat memotong satu katapun yang terucap dari bibir merah gelap itu.
“Setelah itu, setahun kemudian, ibuku mengandung Arina. Dan lelaki yang dianggapnya sebagai ayah tiriku itu pamit pulang ke negaranya dengan alasan diminta ayahnya untuk melanjutkan perusahaan milik mereka di sana. Dia berjanji akan kembali ke Indonesia saat Arina lahir, tapi nyatanya sampai sekarang batang hidungnya pun tak kelihatan.”
Hanif menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran kursi, dan menunduk sambil terus melanjutkan ceritanya. “Semenjak saat itu, ibu selalu murung dan hanya mengurung diri di dalam kamarnya, dan jarang memiliki nafsu makan yang baik. Aku tentu tak tega melihatnya seperti itu, jadi kemudian aku mendekatinya dan memperlakukannya dengan baik. Aku bilang padanya aku tidak lagi marah dan berjanji akan menerima anak yang dikandungnya sebagai adik. Ibu pun kembali membaik dan wajahnya tak lagi murung, nafsu makannya juga perlahan membaik. Tapi aku tau, dibalik senyum dan raut cerahnya yang dia tunjukkan padaku, tetap saja rasa hampa karena ditinggal oleh suami yang bahkan sekalipun tak pernah memberi kabar padanya akan terus mengganggunya dan membuat batinnya terluka.”
Perlahan airmata itu jatuh dari pelupuk mata lelaki tampan tersebut dan Rahma tetap diam saja tanpa berniat menyuruhnya berhenti, walau sekedar untuk menghapus airmatanya. Dia tetap membiarkan lelaki itu menumpahkan semua bebannya yang mungkin tak pernah dia tumpahkan pada siapapun selama ini. Rahma bisa menduga itu dari cara lelaki tersebut bercerita saat ini.
“Tepat saat usiaku sepuluh tahun, Arina lahir dengan selamat sementara ibuku dalam kondisi yang memprihatinkan. Tubuhnya lemah dan kebahagiaan yang harusnya dia miliki karena mendapatkan seorang anak perempuan malah tidak nampak sama sekali dari raut wajahnya. Akupun merasa punya tanggungjawab sebagai satu-satunya laki-laki dalam keluarga kecil kami. Aku memutuskan untuk menghapus egoku, dan merawat ibu dan Arina dengan sebaik mungkin hingga keadaan menjadi lebih baik.”
Merasa Hanif sudah menyelesaikan ceritanya, Rahma pun membuka suara. “Jadi, dulunya Dokter dan Arina sangat dekat sebagai kakak beradik? Lalu kenapa bisa jadi jauh dan bahkan Dokter sendiri sepertinya benci sekali pada Arina?”
Hanif menggeleng pelan. “Entahlah. Aku tidak tau awalnya kenapa aku menjadi benci padanya. Yang kutau adalah aku tidak bisa terima sikapnya yang terlalu agresif dan posesif. Aku hanya saudaranya, tapi dia bertingkah seolah dia pemilikku! Dia membenci semua teman perempuanku, dan bersikap buruk pada mereka. Dia bahkan pernah membuka ponselku tanpa izin dan menghapus semua kontak teman kuliahku yang perempuan dan memblokir mereka semua sehingga aku dianggap sebagai pembenci perempuan. Saat teman perempuanku datang ke rumah untuk mencariku, dan dia yang membuka pintunya, maka dia akan mengatakan bahwa aku tidak ada dan menyuruh temanku itu untuk tidak datang lagi! Kamu bisa bayangkan bagaimana tersiksanya punya saudari macam dia! Karena itulah aku bilang padanya bahwa dia bukan adikku, dia hanya anak ibuku. Itu semua supaya dia sadar akan posisinya, dan tidak lagi mengganggu kehidupanku.”
Rahma bersendang dagu dan mengangguk pelan. “Benar juga, masuk akal. Aku pun bisa gila jika punya adik seperti dia.”
Hanif tertawa mendengar ucapan Rahma, dan memasang ekspresi seolah mengatakan, “Aku benar kan?” yang disambut gadis berhijab itu dengan tawa. Keduanya pun tertawa bersama-sama seolah menertawai kesamaan pikiran mereka masing-masing.
Keduanya memutuskan keluar dari kafe dan berjalan beriringan sambil menikmati pemandangan kota yang sibuk dengan segala aktivitas yang terjadi di siang Minggu itu.
“Kamu masih tidak penasaran dengan usiaku?”
“Hmm… nggak tuh!” geleng Rahma sambil tersenyum sinis. “Dari cerita Dokter, aku sudah bisa menebak usia dokter dengan cukup tepat.”
“Owww… benarkah? Coba saja, aku ingin dengar.” Tantang Hanif sambil berjalan mundur di hadapan Rahma.
“Mau mendengar berdasarkan yang mana? Yang tadi atau yang kemarin saat pertama kali kita mengobrol?”
Hanif memasang sikap seolah sedang berpikir. “Yang mana saja boleh.”
Rahma memutar bola matanya malas membuat lelaki itu tertawa. “Oke! Berdasarkan cerita yang tadi, Dokter bilang bahwa ibumu bercerai dengan ayahmu saat usiamu tujuh tahun, kemudian menikah lagi setahun setelah itu. Artinya saat itu usiamu delapan tahun. Kemudian, saat usiamu Sembilan tahun, ibumu hamil Arina dan melahirkan tepat saat usiamu sepuluh tahun. Itu artinya, perbedaan usia kalian adalah sepuluh tahun. Jika Arina masuk sekolah dasar pada usia enam tahun dan tanpa akselerasi, maka usianya saat ini adalah tujuh belas tahun. Itu artinya, usia Dokter tahun ini adalah dua puluh tujuh tahun.”
Hanif berhenti berjalan mundur dan terpaku di depan Rahma. Wajahnya nampak takjub mendengarkan penjelasan gadis berhijab yang diungkapkan dengan penuh semangat itu.
“Mau yang lebih tepat lagi? Oke! Berdasarkan cerita Dokter saat kita pertama kali mengobrol di rumah sakit kemarin. Dokter bilang, Dokter masuk sekolah dasar pada umur enam tahun. Normalnya usia lulus sekolah dasar jika tanpa masalah adalah dua belas tahun. Dokter bilang saat itu Dokter mengikuti program akselerasi sebanyak dua kali di sekolah dasar, itu artinya Dokter lulus pada usia sepuluh tahun. Kemudian, saat SMP Dokter bilang bahwa Dokter mengikuti program akselerasi sebanyak satu kali, itu artinya Dokter lulus SMP saat usia Dokter masih duabelas tahun. Cukup mengejutkan! Kemudian, saat SMA Dokter lulus tanpa mengikuti program akselerasi jadi saat itu Dokter lulus dengan usia sekitar lima belas tahun. Program pendidikan dokter adalah empat tahun, artinya Dokter lulus di usia sekitar Sembilan belas tahun. Dokter bilang bahwa Dokter menyelesaikan masa koas hanya kurang lebih satu tahun itu artinya usia Dokter saat koas selesai adalah dua puluh tahun. Kemudian Dokter menyelesaikan tugas sebagai Dokter desa selama kurang lebih dua tahun, artinya Dokter kembali ke kota saat usia Dokter sudah dua puluh dua tahun, dan mengikuti kuliah sebagai dokter spesialis bedah ortopedi selama kurang lebih empat tahun. Itu artinya, Dokter lulus sebagai dokter spesialis bedah ortopedi di usia dua puluh enam tahun. Dan duapuluh enam tahun itu adalah tahun lalu. Tahun ini Dokter Hanif tentu berusia dua puluh tujuh tahun.”
Hanif merapatkan bibirnya sambil memandang penuh takjub pada Rahma yang memasang ekspresi bangga pada dirinya sendiri. Hanif menatap jenaka wajah itu dan tersenyum.
“Bagaimana kamu yakin bahwa duapuluh enam tahun itu adalah tahun lalu? Bisa jadi dua puluh enam tahun itu adalah tahun ini, kan?”
Rahma menggeleng mantap. “Hmmm… Aku nggak mungkin berkata seperti ini jika nggak merasa yakin. Dokter ingin bukti? Aku bisa tunjukkan foto wisuda dokter spesialis bedah yang terpajang di salah satu lorong rumah sakit Drajat yang menuju ruangan spesialis ortopedi sekarang juga.”
Hanif terdiam mendengar tantangan itu. Tentu saja dia tidak akan bisa menerimanya, karena dia tahu hasil akhirnya sudah pasti dia yang kalah. Dia hanya bisa tertawa sumbang dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Itu artinya kamu harus memanggilku…. Kakak?”
Rahma tertawa geli mendengar nada lelaki itu saat menyebut kata ‘kakak’. Terdengar lucu di telinga siapapun yang mendengarnya.
“Nggak, ah. Aku lebih suka memanggilmu… Oppa?”
Hanif membelalak. Dan hanya perlu waktu sedetik untuk mereka berdua kemudian tergelak bersama-sama di jalan khusus untuk pejalan kaki sambil berdiri berhadapan. Tanpa menyadari bahwa jauh di seberang mereka, ada seseorang yang tengah mengawasi dengan ekspresi penuh kebencian.
{}{}{}