
HANIF keluar dari ruang operasi diiringi rekannya yang berpakaian sama dengannya, yaitu scrub yang dilapisi baju terusan operasi, penutup kepala dan masker yang menutup hidung dan mulutnya. Apron dan sarung tangan operasi sudah dilepas dan dimasukkan ke dalam bak penampungan seragam operasi yang sudah kotor. Pun baju terusan operasi yang dikenakan mereka akhirnya ikut dimasukkan ke dalam bak tersebut. Setelah mensterilkan kedua tangan, mereka berdua keluar melalui pintu otomatis untuk menemui keluarga pasien yang baru saja selesai menjalani operasi. Mereka berdua berjalan beriringan tanpa bicara.
“Bagaimana, Dok? Bagaimana anak saya?” tanya ibu pasien yang langsung histris saat keduanya baru saja keluar dari ruang tindakan.
“Operasi berjalan baik, Alhamdulillah. Akan tetapi, pasien harus menjalani perawatan di ruang ICU untuk sementara, karena kondisinya masih belum stabil sepenuhnya.” Hanif memberi jawaban sembari menyunggingkan senyum ramah.
“Bapak dan ibu tidak usah khawatir, disini kita punya dokter spesialis yang profesional. Tapi, Bapak dan Ibu juga harus berdoa selalu, demi kesembuhan anak Bapak dan Ibu,” sambung rekannya yang tingginya lebih sedikit darinya itu. Senyumnya pun tak kalah ramah dari Hanif.
“Terima kasih, Dok!” ucap wanita paruh baya itu sembari menangis haru.
“Sama-sama, saya hanya menjalankan tugas saya sebagai dokter. Selebihnya, berterima kasihlah pada Allah, Bu, Pak. Kalau begitu, saya permisi.” Hanif berlalu setelah berpamitan dengan pasangan suami istri tersebut, diiringi rekannya yang juga menyunggingkan senyum sebelum pergi.
Langkah Hanif terhenti saat netranya menangkap seseorang yang berdiri sambil bersandar di tembok, agak jauh dengan pasangan suami istri tersebut. Dia tersentak, dan menatap gadis berhijab satin dengan motif bunga Anggrek dan bergamis biru dengan bahan yang sama dengan hijabnya. Rautnya menunjukkan kerinduan, namun bibirnya tak berani membuka untuk mengeluarkan kata sapa. Dengan hati yang diliputi keraguan antara menyapa atau mengabaikan, akhirnya Hanif memilih untuk mengabaikannya dan berlalu saja. Gadis berhijab itu nampak santai dengan sikapnya, beranjak dari posisinya dan berjalan menuju kedua orangtua pasien yang masih menunggu anaknya keluar dari ruang tindakan tersebut.
“Kamu, Rahma?”
Langkah Rahma terhenti saat namanya disebut dari belakang. Dia membalikkan badan dan menatap datar lelaki yang berdiri dengan kedua tangan berada di saku celana scrubnya. Rahma mengangkat alisnya sebelah, dan bersidekap sambil melangkah pelan ke hadapan lelaki tersebut.
“Dokter Reza Ramadhan, Spesialis Bedah Saraf, ada perlu apa denganku?”
“Kamu mengenalku?” Lelaki itu mengernyitkan alisnya.
Rahma tertawa geli melihat ekspresi lelaki itu yang nampak seolah terkejut dan heran. Menghela napas bangga, Rahma maju satu langkah lagi sambil tersenyum ke arah lelaki itu. “Tentu aku mengenalmu, semua orang disini mengenalmu, Dokter!” ujarnya sambil tersenyum jenaka.
Lelaki itu mengangkat alisnya sebelah. Mendengus pelan dan maju satu langkah ke depan hingga jarak mereka berdua hanya sekitar satu meter. Mengeluarkan kedua tangannya dari saku celana, lelaki itu kemudian menyilangkan kedua tangannya ke depan dada dan memasang ekspresi angkuh.
“Kalau begitu, aku tidak akan basa-basi lagi. Aku punya permintaan padamu.”
Rahma tersenyum geli. “Permintaan? What’s that?” tanyanya dengan ekspresi yang sama dengan yang ditunjukkan lelaki di hadapannya itu.
“Jauhi Hanif. Jangan terlibat dengannya lagi. That’s for your sake,” ujarnya dengan wajah serius. Seolah berharap dengan begitu, Rahma akan menuruti kata-katanya.
Namun, sayangnya, hal tersebut tak berhasil. Bukannya ikut serius, Rahma justru tertawa geli mendengar kalimat peringatan tersebut. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menghentikan tawanya agar tak membuat lawan bicaranya tersebut merasa tersinggung.
“For my sake? Or for that girl’s sake?” Rahma berujar sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Memiringkan kepalanya sedikit ke sisi kanan, dan memerhatikan dokter tampan itu dari atas sampai bawah dan balik lagi ke arah matanya. Menghela napas sejenak, Rahma kembali berujar yang membuat lelaki itu menautkan alisnya kesal.
“Aku nggak tau apa hubungan spesialmu dengan dokter Hanif. Dan itupun bukan urusanku, sebenarnya. Sebaliknya, Dokter pun nggak tau apa hubungan kami berdua, jadi apapun yang terjadi padaku, seharusnya bukan menjadi urusanmu.” Rahma berbalik badan untuk meninggalkan lelaki itu, namun berhenti sejenak dan menolehkan kepalanya ke arah kiri, melirik dari sudut matanya ke arah lelaki itu.
“Jangan ikut campur, Dokter Reza. That’s for your sake.”
Rahma mengembalikan kata-kata dokter tersebut dengan telak. Lelaki itu tak bisa berkata apa-apa selain mendengus kesal dan mengepalkan kedua tangannya. Namun, seolah teringat sesuatu, lelaki itu kembali membuka mulutnya untuk bersuara.
“Kalau begitu, sebaiknya kamu meminta Hanif membeli mobil baru.”
Rahma baru saja mau melangkah, akhirnya tidak jadi dan membalikkan badannya lagi, berhadapan dengan lelaki itu. Wajahnya nampak heran dengan ucapan lelaki itu. “Kenapa aku? Lagipula, kenapa dengan mobil lamanya?” tanyanya dengan nada bingung.
“Rusak? Bagaimana bisa?” Rahma mengerutkan dahinya.
“Dia merusaknya,” jawabnya lagi, singkat.
“Hah?” Rahma terheran-heran, memiringkan kepalanya ke kanan.
“Jangan tanya kenapa. Aku pun tidak tahu. Yang kutahu, dia punya hobi merusak barang kesayangannya saat sesuatu yang tidak disukainya terjadi.” Dokter tersebut tersenyum tipis seraya mengangkat bahunya.
“Dan, kenapa harus aku?” Rahma menyilangkan kedua tangannya ke depan dadanya.
“Entahlah. Aku hanya merasa dia mungkin melakukannya jika kamu yang meminta.” Lelaki itu mengangkat bahunya lagi dengan alis juga ikut terangkat hingga membuat dahinya berkerut.
Rahma menggeleng sambil tertawa sumbang. “Apaan, coba?” ujarnya seraya berbalik badan dan meninggalkan lelaki itu dengan masih tertawa sambil menggeleng.
“Coba saja! Aku yakin kamu akan terkejut dengan hasilnya.” Lelaki itu tersenyum, berbalik badan dan pergi dengan senyum sinis.
***
Sementara itu, di dalam ruangan yang cukup luas dengan satu meja kerja lengkap dengan kursi empuk yang beroda dan bisa berputar berwarna hitam, satu set sofa minimalis berwarna hitam polos yang terletak sekitar satu meter di depan meja kerja berbahan titanium itu, dan beberapa lukisan yang terpajang di dinding ruang tersebut, Hanif bergerak kebingungan sambil terus menghela napas sesal. Nuansa dark yang menghias ruang tersebut pun kompak memperparah kebingungannya yang tak tahu harus bagaimana mengatasi masalahnya saat ini.
Hanif merasa kesal dengan dirinya sendiri. Padahal mereka sudah bertemu, Hanif bisa saja menyapanya, menanyakan kabarnya, dan mengatakan banyak hal padanya. Tapi, semua hal itu menjadi sebatas keinginan yang tak tercapai karena keraguan yang menyerangnya, rasa gugup yang menahannya, dan rasa bersalah yang membekukannya. Hanif mendengus kesal dan memukul kepalanya sendiri.
“Bodoh!” dengusnya seraya menyakiti dirinya sendiri.
Sejenak dia terdiam dengan mulut tertutup rapat. Tangannya terkepal, helaan napasnya terdengar mantap seiring kakinya melangkah ke arah pintu berwarna cokelat tua yang mengantarkannya keluar ruangan. Hanif berlari menuju lift dan memencet tombol di samping pintu lift tersebut yang membuatnya terbuka. Hanif langsung masuk ke dalamnya dan menekan tombol angka yang menjadi arah tujuannya. Hanya beberapa detik, lift tersebut berhenti dan terbuka secara otomatis mempersilakan Hanif untuk keluar dari dalamnya. Setengah berlari, Hanif meninggalkan lift dan menuju ruang ICU. Kepalanya menoleh ke kanan dan kekiri, seiring matanya memindai ke seluruh sudut depan ruang tersebut, mencari sosok yang dia berharap bisa bertemu kali ini.
Hasilnya, nihil. Gadis itu tidak ada lagi di sana. Hanif menghela napas kecewa.
“Kalau kamu mencari gadis itu, dia sudah pulang bersama dengan salah satu keluarga pasien tadi.”
Hanif menoleh ke belakang, dan mendengus pelan melihat siapa yang berkata seperti itu padanya. Hanif menegakkan bahunya yang tadi jatuh karena kecewa tak menemukan yang dicarinya. Berniat meninggalkan lawannya tersebut, Hanif melangkah tegap dengan kedua tangan di saku jas putihnya.
“Jangan libatkan gadis itu lagi, Nif. Demi keselamatannya dan juga demi kebaikanmu.”
Langkah Hanif terhenti dan dengan senyum kesal dia menoleh ke arah pemilik ujaran itu. “Dan sebaiknya, kamu jangan ikut campur, Re. Ini bukan urusanmu.”
Setelah berkata seperti itu, Hanif melangkah lagi dan benar-benar meninggalkan lelaki yang hanya bisa menghela napas pelan dan menggelengkan kepalanya melihat ke arah punggung Hanif yang terus menjauh.
“Justru karena sikapmu yang seperti ini, membuat semuanya menjadi urusanku, dan aku harus ikut campur.” Lelaki itu menarik langkahnya, dan pergi meninggalkan area depan ruang ICU tersebut.
{}{}{}