The Doctor'S Sister

The Doctor'S Sister
Episode 12



HANIF sukses membuat Rahma terperangah dengan kehadirannya di dekat gerbang fakultas tempatnya menimba ilmu selama kurang lebih empat tahun ini, beberapa hari setelah obrolannya dengan dokter spesialis bedah saraf rumah sakit Drajat tersebut. Apa yang membuat Rahma terkejut bukanlah penampilan Hanif, karena lelaki itu tak perlu memakai apapun yang perlu membuat Rahma terpana dan terpesona. Kaos berkerah polos berwarna biru laut dan celana berbahan kain dengan warna putih gading, sudah membuatnya terlihat sangat tampan. Apalagi rambutnya yang kini sudah dipangkas sedikit di bagian atas telinganya, membuat sinar ketampanannya semakin terlihat memancar. Rahma bisa melihat antusiasme para gadis yang memandangi lelaki itu, dan itu membuatnya menghela napas.


Lelaki itu berdiri sambil menyenderkan punggung bawahnya ke bagian sisi sebuah mobil mewah berwarna kuning terang di belakangnya. Mobil itulah yang sebenarnya membuat Rahma terpana hingga mulutnya terbuka. Dia pun berjalan cepat menghampiri lelaki yang melambaikan tangannya sambil menyunggingkan senyum manis yang sukses membuat para gadis di sekitar Rahma itu histris. Gadis berhijab biru dongker itu hanya mendengus kesal dengan bola mata memutar malas.


Kehisterisan mereka pun berhenti saat Rahma berdiri di depan Hanif dengan tangan bersidekap. Rahma tersenyum sinis merasakan hawa tak suka dari para gadis tersebut. Tak memedulikan mereka, Rahma menarik pintu bagian depan khusus penumpang dan masuk ke dalamnya dengan penuh percaya diri. Dia pun tak peduli dengan teriakan kesal dari gadis-gadis yang pernah membulinya semasa satu semester pertama di kampus tersebut. Rahma memasang sabuk pengamannya dan tersenyum tipis ke arah mereka yang memberinya tatapan kesal.


“Apa ini cuma kebetulan? Atau yang dikatakan dokter Reza itu memang benar?” gumam Rahma sesaat sebelum Hanif masuk dan duduk di kursi bagian driver, dan memasang sabuk pengamannya serta menghidupkan mesin mobil. Digerakkannya mobil tersebut meninggalkan gerbang fakultas di mana para gadis tersebut hanya bisa menggigit ibu jarinya karena melihat Rahma masuk ke dalam mobil mewah bersama lelaki tampan. Lebih tampan daripada idola mereka selama ini.


“Ini mobilmu?” tanya Rahma tanpa basa-basi.


Hanif mengangguk. “Yap, aku membelinya dua hari yang lalu. Aku menamainya Sunlight,” ujarnya dengan penuh bangga mengenalkan nama mobilnya pada Rahma.


Rahma hanya tersenyum geli mendengar nama itu. Dia memilih untuk tak menanggapi percakapan itu lagi, dan mengalihkannya ke topik yang lain. Topik yang membuat mereka memutuskan bertemu hari ini.


“Jadi, kita kemana?” tanya Rahma sambil menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sandaran kursi mobil yang empuk itu. benar-benar empuk menurutnya, seperti sedang berbaring di atas bantal kesayangannya di rumah.


“Seperti yang aku bilang di WA tadi malam, kita akan ke tempat kakak sepupuku.” Hanif menjawab dengan mata menatap lurus ke arah jalan di depannya.


“Korban kedua?” Rahma mengerutkan dahinya. “Kenapa bukan ke korban pertama dulu?” ujarnya menawarkan.


Hanif menggeleng. “Kalau kamu mencari korban pertama, maka kamu harus membuat paspor terlebih dahulu, dan memesan tiket ke Amerika. Karena dia sekarang tinggal di sana. Aku sudah tak menyimpan nomor teleponnya atau kontaknya yang lain. Lagipula, aku nggak yakin dia akan mau memberimu informasi soal ini. Karena terlalu berat buatnya.”


Rahma menghela napas pelan. Pikirannya mencoba menerka apa yang terjadi pada korban pertama yang mengalami kejadian yang sama dengannya saat di rumah Hanif tersebut, sampai Hanif sendiri mengatakan tak yakin kalau ia mau bercerita. Pasti lebih mengerikan dari yang kualami, pikirnya.


“Bahkan untuk kakak sepupuku sendiri, kamu jangan terlalu banyak berharap. Meskipun aku sudah memintanya untuk bercerita padamu sebagai sesama korban gadis aneh itu, dan dia sudah mengiyakannya, aku tetap merasa ragu dia mau berbagi secara terbuka padamu. Mengingat kejadian itu sudah membuatnya trauma, sampai-sampai melihatku pun dia tidak mau. Perlu kamu ketahui, ini adalah pertemuan pertama kita setelah lima tahun.”


Rahma memandangi dokter itu dengan perasaan iba. Dia membayangkan apa yang terjadi sehingga kedua sepupu itu harus saling menjauh karena kelakuan seorang adik kecil yang pikirannya pun masih labil. Rahma tak berani bertanya lebih jauh, karena waktunya belum tepat. Dia menyimpan pertanyaannya tersebut untuk dikeluarkan nanti saja, saat bertemu dengan sepupu Hanif.


Sampai di tempat tujuan, Hanif memarkirkan mobil mewah barunya di depan pagar sebuah rumah mewah. Rahma keluar dari mobil tanpa menunggu dibukakan pintu oleh si pemilik mobil tersebut. Melihat ke sekeliling, Rahma menghela napas takjub. Rumah itu benar-benar mewah, lebih mewah dari rumah Hanif yang sudah pernah dia masuki. Dalam batinnya, Rahma berdecak kagum memikirkan betapa kayanya keluarga Hanif.


Ting tong!


Hanif membunyikan bel rumah tersebut. Tak lama kemudian, pagar gerbang rumah itu secara otomatis terbuka. Hanif kembali masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya masuk ke dalam gerbang yang terbuka tersebut. Sementara Rahma mengiring masuk ke dalam gerbang itu, dan menunggu Hanif memarkirkan mobilnya di area parkir milik keluarga kaya tersebut.


Luarnya aja sudah bagus begini, apalagi di dalamnya? Aku penasaran, apa aku bisa lebih terkejut lagi dari saat di rumah Dokter Hanif, ya? Rahma menggumam dalam hati.


Rahma mengiring Hanif yang sudah lebih dulu menaiki anak tangga menuju teras rumah mewah tersebut. Sebelum Hanif bergerak mengetuk pintu rumah yang terbuat dari bahan kayu jati itu sudah terlebih dulu terbuka dan seorang wanita cantik dengan pakaian rumah berdiri santai di ambangnya.


Rahma memerhatikan wanita itu dari atas hingga bawah. Sangat cantik, rambutnya tergerai panjang bergelombang sedikit di bawah bahunya, kulitnya putih bersih, hidungnya mancung berada di antara mata dengan iris kecokelatan yang memandang teduh ke arah Hanif. Alisnya tidak tebal, tapi tidak juga tipis. Tubuhnya yang langsing tertutup oleh daster bermotif bunga mawar. Rahma benar-benar terpana oleh penampilan wanita yang kabarnya sudah menikah dengan seorang laki-laki asal Australia itu.


“Jadi ini, gadis yang kamu ceritain waktu itu?”


Rahma terkejut mendengar wanita itu bersuara sambil menatapnya dan Hanif secara bergantian. Sambil tersenyum malu, Rahma menyapa wanita itu dengan nada ramah.


“Wa’alaikumsalam. Selamat datang di rumah kami yang sederhana ini, ya, calonnya Hanif.” Wanita itu berujar dan tersenyum manis ke arah Rahma yang lantas membeliak kaget. Dia memandangi Hanif dengan tatapan bingung, meminta penjelasan tentang maksud perkataan wanita tersebut.


“Jangan hiraukan dia. Terkadang dia memang suka mengatakan sesuatu yang tak masuk akal,” kata Hanif seraya mendengkus kesal karena perkataan sepupunya tadi. “Ini pertemuan pertama kita setelah lima tahun, dan kamu malah ingin membuatku malu di depan temanku?” ujarnya kesal pada wanita dengan rambut berwarna kecokelatan itu.


Wanita itu tertawa terbahak-bahak seolah kalimat yang diucapkan Hanif itu adalah hal yang lucu. “Maaf, aku hanya bercanda. Tapi, bukannya harusnya kamu aminkan. Kan siapa tau kalian memang jodoh, kan?” kelakarnya kemudian mempersilakan Rahma dan Hanif masuk ke dalam rumah, tanpa memedulikan dengusan kesal lelaki tampan itu.


“Dimana suamimu?” tanya Hanif seraya duduk di kursi sofa panjang mewah berwarna merah bata dengan motif bunga sakura berwarna merah muda. Rahma menyusul duduk di sofa yang sama diduduki Hanif. Keduanya menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. Hal itu membuat wanita cantik yang kini duduk di sofa mewah yang dikhususkan untuk satu orang, berhadapan dengan pasangan tanpa status tersebut, tertawa geli secara diam-diam.


“Suamiku sedang ke Jepang, menghadiri rapat bisnis dengan perusahaan tekstil disana.” Wanita itu menjawab santai. “Siapa namanya?” ujarnya selanjutnya, dengan tatapan mengarah pada Rahma yang duduk dengan kaki merapat dan punggung tegak di depannya.


“Rahma Aisyah, itu nama saya.” Rahma memperkenalkan diri. Wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Rahma.


“Syana Rifanni Sanjaya. Salah satu sepupu Hanif yang cantik jelita,” ujarnya dengan penuh percaya diri. Rahma tertawa kecil seraya menyambut uluran tersebut, bersalaman dengan wanita cantik tersebut. Sedangkan Hanif hanya menggelengkan kepalanya karena melihat kelakuan sepupunya yang memang tak pernah di dalam batas kewajaran baginya.


“Aku sudah menyiapkan jamuan untuk kalian berdua, sebentar lagi datang. Selagi menunggu, bagaimana kalau kita langsung ke topik utama. Aku sudah dengar dari Hanif, kalau kamu menjadi korban ketiga di kamar gadis itu.” Syana berujar sambil bersidekap dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. “Jadi, bagaimana rasanya?”


“Frontal sekali,” sindir Hanif dengan nada datar.


“Entahlah. Aku tak bisa bilang seperti apa rasanya. Yang jelas, itu membangkitkan adrenalin keingintahuanku. Apalagi saat aku diberitahu bahwa ada korban pertama dan korban kedua. Adrenalin itu semakin terpancing hingga aku tak bisa menahannya lagi. Aku ingin mendengar cerita itu, dan membandingkannya dengan ceritaku.”


Hanif memandangi Rahma dengan mata terbelalak. Begitu juga Syana yang mulutnya spontan terbuka setengah, benar-benar terperangah mendengar jawaban gadis berhijab tersebut.


“Kurasa ada yang lebih frontal dariku, Han-chan!” Syana menyindir sambil memandang Hanif dengan alis terangkat.


“Selamat, kamu mendapat saingan!” puji Hanif sambil bertepuk tangan. Membuat Rahma tersentak dan spontan menunduk malu dengan bibir bagian bawahnya digigit.


“Aku suka gaya bicaramu. Tak perlu malu. Jadi, apa yang ingin kamu dengar?”


Rahma mengangkat kepalanya, dan memberi senyuman tipis. Menghela napas sejenak, Rahma pun membuka peti pertanyaan yang sudah disimpannya sejak dari awal perjalanan tadi.


“Semuanya. Dari awal sampai akhir. Aku ingin mendengar semuanya tanpa potongan, tidak kurang dan tidak lebih. Sesuai fakta. Itu saja dulu, sisanya bisa nanti setelah cerita Mbak Syana selesai.”


Syana menatap serius Rahma. Tak ada yang perlu ditertawakan, karena perkataan Rahma itu bukanlah candaan. Syana pun tak berniat untuk menertawai setiap kalimat yang diucapkan dengan nada serius itu, karena itu akan membongkar sikap aslinya yang disembunyikannya dari Rahma dan Hanif saat ini. Dengan helaan napas yang terdengar berat, Syana mengepalkan kedua tangannya dan menghembuskan napas panjang sebelum mengiyakan permintaan Rahma tersebut.


“Sepertinya, kamu sangat percaya diri sekali. Baiklah, aku akan menceritakan semuanya yang ingin kamu dengar. Tak kurang, tak lebih, sesuai fakta. Selamat mendengarkan.”


{}{}{}