
RAHMA tengah asyik menikmati tidurnya saat dia mendengar sebuah suara yang teramat asing dan aneh masuk ke dalam gendang telinganya. Matanya tetap terpejam, namun telinganya dengan sadar mendengar suara itu mengudara di ruangan pasien VIP tempatnya dirawat saat itu.
Sebuah suara milik perempuan. Masih muda, atau bahkan mungkin seorang remaja. Rahma berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya bergejolak ingin membuka mata dan melihat siapa pemilik suara yang menurutnya sangat aneh dan menyeramkan untuk didengar siapapun itu.
“Jadi ini, gadis yang kutabrak kemarin? Yang membuat pangeranku menjadi marah padaku?”
Rahma bisa merasakan bulu kuduknya sedang berdiri tegak saat itu. Bukan sekedar karena rasa takut, namun juga karena rasa penasaran sebab selama ini dia tidak pernah tahu siapa yang menjadi pelaku tabrakan yang melibatkannya sebagai korban saat itu. Rahma merasa tidak tenang, namun tetap berusaha mengontrol diri agar tidak serta merta bangun dan mendapati pemilik suara itu lari karena ketahuan olehnya. Rahma masih ingin mendengar lebih lanjut lagi apa yang akan dikatakan oleh pemilik suara tersebut.
“Ini semua salahku. Harusnya aku tidak menabrakmu. Maaf.”
Rahma tertegun mendengar nada suara tersebut, yang seolah penuh sesal dan sedih. Namun kalimat berikutnya terdengar begitu menyeramkan hingga membuat Rahma yang semula hanya merinding menjadi gemetar dan mengeluarkan keringat dingin.
“Mungkin seharusnya tabrakan itu tidak terjadi, jika hanya membuatmu dirawat di rumah sakit. Mungkin seharusnya kamu mati saja saat tabrakan tersebut, agar tidak membuat masalah untukku di kemudian hari, seperti hari ini.”
“Kamu ingin membunuhnya?”
Ada suara lain terdengar, seperti suara orang dewasa. Rahma terkejut, namun tetap mempertahankan posisinya dan memejamkan mata agar tidak ketahuan menguping pembicaraan dua suara tersebut.
“Menurutmu? Kenapa aku harus membawa pisau bedah ini jika aku tidak berniat membunuhnya?”
Mendengar kalimat tersebut, Rahma sudah tidak sanggup lagi untuk menahan diri. Dia langsung membuka matanya dan bangun dari posisi tidurnya. Menyalakan lampu tidur, dan melihat ke sekeliling ruangan yang cukup luas untuknya tersebut. Rahma mengerutkan keningnya. Tidak ada siapa-siapa. Dia kemudian beranjak dari ranjang dan berjalan dengan cepat menuju saklar dan menekan tombolnya. Lampu ruangan itupun menyala dengan terang. Tetap tidak ada siapapun di dalam ruangan tersebut. Hanya ada dirinya.
“Mama?” gumamnya sambil melihat ke sekeliling ruangan. Sang ibu tidak ada di ruangan tersebut. Rahma kembali ke ranjangnya dan duduk sambil memeluk lututnya.
Suara decit pintu dibuka dari luar mengagetkannya dan membuatnya menatap pintu tersebut dengan sorot tajam. Saat melihat siapa yang masuk, Rahma menghela napas lega dan merebahkan diri ke atas ranjang dengan posisi miring ke kiri.
“Loh, kok udah bangun?”
“Mama kemana tadi?”
Sang ibu tersenyum dan mendekati Rahma. Sambil memperbaiki posisi tidur puteri semata wayangnya itu, sang ibu berkata, “Mama tadi habis ketemu sama dokter Ali. Beliau barusan ngasih tau kalau dua hari lagi kamu boleh keluar dari rumah sakit. Sehabis itu, tinggal rawat jalan aja.”
Rahma tersenyum simpul mendengar penjelasan ibunya. Dia kemudian mendekatkan diri ke pelukan sang ibu dan membenamkan wajahnya di dada wanita separuh baya tersebut. Sang ibu hanya tertawa dan membalas pelukan puterinya tersebut.
Keesokan harinya, Rahma yang sudah menghabiskan sarapan paginya kembali sibuk dengan aktivitas membosankannya selama di rumah sakit, yaitu duduk bersandar di atas ranjang sambil memandangi jendela. Meskipun sebenarnya bukan pemandangan diluar jendela yang menjadi fokusnya saat itu. Pikirannya sedang memproses rangkaian memori mengenai kejadian semalam, saat dia mendengar dua suara yang berbeda sedang bercakap mengenai dirinya.
Tak hanya pikiran mengenai hal tersebut, Rahma juga sedang bertanya-tanya kenapa sang dokter tidak lagi datang ke ruangannya setelah obrolan mereka tersebut. Selama beberapa hari setelah obrolan itu, setiap jadwal visit ke ruangannya hanya dilakukan oleh sang perawat yang memang biasanya datang bersama dokter tersebut. Setiap Rahma bertanya dimana sang dokter, perawat tersebut mengatakan bahwa sang dokter sedang sibuk dengan pasien lain.
“Ada apa sebenarnya? Apa aku salah ngomong waktu itu?”
“Ada apa?”
Rahma tersentak dari lamunannya saat mendengar suara sang ibu menyeletuk di samping ranjang. Sang ibu duduk di kursi yang pernah diduduki sang dokter saat mengobrol dengannya waktu itu. Rahma menggeleng dan menghela napas menyadari betapa konyol pikirannya saat ini.
“Nggak ada, ma.”
Sang ibu hanya tersenyum dan mengangguk mendengar jawaban puterinya. Dia kemudian kembali dengan aktivitas santainya selama menjaga Rahma di rumah sakit, yaitu bermain game di ponsel milik Rahma.
“Ma, Rahma boleh nanya sesuatu, nggak?”
“Nanya apa?”
“Mama tau, siapa yang masukin Rahma ke ruangan VIP ini?”
Gerakan jemari sang ibu di layar ponsel terhenti. Sang ibu menegakkan kepalanya dan menatap Rahma yang juga menatapnya dengan tenang namun tajam seolah menyelidik. Saat itu juga, Rahma mendapati ekspresi sang ibu sama seperti yang ditunjukkan oleh sang dokter saat dia bertanya persoalan yang sama tempo hari.
“Rahma kemarin pernah nanyain soal ini juga ke dokter Hanif, pas dia datang kemari untuk visit. Dan, mama tau? Ekspresinya sama kayak yang mama tunjukin ke Rahma sekarang,” ujar Rahma sambil memandang datar ibunya.
“Ada apa sih ma? Apa yang mama dan dokter itu sembunyikan dari Rahma? Kenapa kalian berdua nunjukin ekspresi yang sama saat Rahma nanyain soal ini? Apa yang salah dari pertanyaan Rahma, ma?”
Sang ibu menggeleng ragu. “Nggak… nggak ada yang salah kok dari kamu… nggak ada yang salah dari pertanyaan itu… Cuma… Cuma masalahnya…”
“Masalahnya apa? Rahma nggak boleh tau soal kenapa Rahma masuk ruangan ini? Apa ada yang ngancam mama buat bilang sesuatu sama Rahma?”
“Nggak… bukan itu…,” sang ibu nampak semakin gugup. Hal itu membuat Rahma menghela napas kesal. Dan saat itu juga, matanya menangkap sesosok bayangan yang seolah sedari tadi memerhatikan mereka dari luar pintu.
“Siapa itu?” tegasnya bertanya sambil menatap ke arah pintu ruangan tersebut. Sang ibu juga ikut menoleh ke arah pintu, kemudian bangkit dan berjalan mendekati pintu tersebut untuk membukanya.
“Kamu? Ngapain disini?” ujar sang ibu bernada kaget.
“Siapa, ma? Suruh masuk aja,” kata Rahma seraya beranjak dari atas ranjang. Nampak olehnya sang ibu terlihat ragu untuk mempersilakan sosok di luar tersebut untuk masuk ke dalam. Saat Rahma melangkah untuk mendekati ibunya, tiba-tiba dari luar bergerak masuk dengan cepat seorang gadis muda berambut panjang yang terurai lurus dan berwarna hitam pekat.
“Astaghfirullahal’adzim!” pekik sang ibu kaget.
Rahma pun sama terkejutnya, namun dia lebih tenang dan mundur satu langkah untuk menjauh dari gadis muda yang berwajah pucat tersebut. Keduanya saling bertatapan dengan sorot sama-sama tajam dan penuh tanda tanya. Rahma mundur lagi dan duduk di atas ranjang dengan kaki disilangkan dan tangan bersidekap di depan dada.
“Jadi, itu kamu? Yang mengintip dan menguping di luar pintu?”
Gadis itu tak menjawab. Bibirnya seolah terkunci rapat dan dia hanya berdiri tegak di depan Rahma dengan jarak sekitar satu meter. Sementara sang ibu nampak gugup dan takut di ambang pintu.
“Mama bisa keluar dan biarkan Rahma mengobrol dengan gadis ini,” ujar Rahma sambil melirik ibunya sambil tersenyum iba. Dia tidak bisa membiarkan ibunya terus menunjukkan ekspresi ketakutan seperti itu meskipun dia sangat penasaran dengan alasan kenapa ibunya berekspresi demikian.
Sang ibu menggeleng keras. “Ibu akan tetap disini menemani kamu,” tegasnya dengan mantap.
Rahma diam sejenak. Setelah menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, Rahma kembali fokus pada gadis yang sejak tadi hanya diam saja tanpa mengatakan atau bahkan melakukan apapun selain berdiri tegak di depannya itu.
“Apa kamu tau, kalau mengintip dan menguping pembicaraan orang lain secara diam-diam itu merupakan tindakan kriminal?” ujar Rahma dengan nada serius.
Gadis itu menundukkan kepalanya. Kedua jemarinya bergerak seolah sedang memainkan sesuatu, namun tidak kelihatan apa yang dimainkan. Rahma tetap mencoba tenang meskipun dalam hatinya, dia bertanya-tanya kenapa sebenarnya gadis di hadapannya ini.
“Siapa namamu?”
Gadis itu menatapnya. Ekspresinya yang tadi datar berubah polos, membuat Rahma menaikkan alis kirinya.
“Arina Yumi.”
Gadis itu menjawab, dengan suaranya yang pelan hingga seperti menggumam. Namun Rahma bisa mendengar dengan jelas nama yang disebutkannya.
“Arina Yumi? Nama yang bagus.,” pujinya seraya tersenyum pada gadis itu. Dan reaksi yang ditunjukkan oleh gadis tersebut mampu membuat Rahma terkejut.
Rahma tertawa kecil. “Baiklah, Arina Yumi. Kamu ingat pertanyaanku yang tadi, kan? Aku akan memaafkanmu jika kamu mau memberitahuku alasan kenapa kamu berada disini.”
Gadis itu kembali menatapnya datar. Membuat Rahma kembali menaikkan alis kirinya.
“Kenapa? Tadi kamu tersenyum saat kupuji, dan sekarang kamu kembali berekspresi seperti itu saat kutanya alasanmu datang kesini? Apa kamu nggak suka dengan pertanyaanku?”
Gadis itu menggeleng pelan.
“Baik. Kalau begitu, silakan jawab.”
Gadis itu terdiam sejenak. Nampak matanya memindai ke sekeliling ruangan tanpa kendali. Rahma mengikuti arah sorot mata gadis itu tertuju, sebelum kemudian kembali memandangnya dengan sorot penuh tanya.
“Jawab pertanyaanku selagi aku bertanya baik-baik,” ujarnya datar.
“Aku… kesini untuk minta maaf,” ucap gadis itu pelan.
“Minta maaf? Untuk apa?”
“Untuk yang kemarin.”
“Kemarin? Apa itu?”
“Kecelakaan itu…”
Rahma terdiam dan mengerutkan keningnya. Dengan sorotnya yang tajam menyelidik itu, Rahma memindai dari ujung rambut sampai ujung kaki gadis tersebut. Dan kemudian tertawa sinis.
“Maksudmu? Kamu pelakunya? Kecelakaan itu, kamu yang sebabkan?”
Gadis itu menatapnya kembali, dengan mata terbelalak. Terdengar bunyi gemertak giginya seolah menahan emosi.
“Kenapa? Kalau bukan, kamu nggak perlu marah, kan?” kata Rahma sambil berdiri dan mendekat ke arah gadis tersebut. Sambil terus menatapnya dengan tajam, Rahma mengambil ponsel yang tersimpan di saku depan bagian bawah baju gadis tersebut.
“Apa yang kamu lakukan?!” pekik gadis tersebut sambil mengangkat tangannya untuk meraih ponselnya yang dengan cepat dijauhkan oleh Rahma.
“Aku nggak tau kamu siapa, jadi aku perlu bertanya pada siapapun yang ada di ponselmu ini, untuk mengetahui siapa dirimu.”
Rahma kembali duduk di atas ranjangnya sambil membuka layar sentuh yang tak dikunci tersebut. Menekan ikon kontak, dan mendapati hanya sedikit kontak yang ada di sana.
“Pangeran? Siapa dia?” sinis Rahma sambil menunjukkan layar tersebut pada gadis yang nampak kesal dengannya itu.
“Pangeran adalah pangeran, kamu tak perlu tau!”
“Ah, begitu? Apa kamu lebih suka aku menelpon polisi dan mengatakan bahwa ada seorang penguntit di kamarku saat ini? Kemudian mereka akan datang kemari dan membawamu pergi ke…. Penjara?”
“Arina nggak suka penjara!” Teriakan gadis itu mengejutkan Rahma dan sang ibu yang langsung menutup telinganya.
“Rahma, hentikan! Jangan provokasi dia!” tegur sang ibu.
Namun Rahma tidak menghiraukannya. Reaksi sang gadis muda itu malah semakin memancing adrenalinnya untuk melihat lebih banyak reaksi gadis tersebut.
“Kamu nggak suka penjara? Kalau begitu, seharusnya kamu menuruti apa yang kukatakan. Saat aku bertanya, maka jawab dengan benar!”
Gadis itu terdiam dan menatap tajam Rahma. Tatapan itu tak membuat Rahma takut, malah semakin tertantang.
“Jadi, siapa pangeran?”
Gadis itu mengepalkan kedua tinjunya. Napasnya nampak ditarik panjang, dan dihembuskan secara perlahan.
“Kakakku,” jawabnya singkat.
Rahma mengangkat alisnya. Dia kemudian menekan kontak tersebut, dan menghubunginya. Didekatkannya layar ponsel ke telinga kanannya. Tak ada yang bersuara lagi di dalam ruangan tersebut, semuanya fokus mendengarkan nada yang menyambungkan panggilan dengan nomor ‘Pangeran’.
“Halo.”
“Halo. Apa ini dengan kakaknya Arina Yumi?”
Terdengar suara desahan napas di ujung sana. Seolah kesal karena mendengar nama yang disebutkan Rahma.
“Ya. Kenapa?”
“Adik Anda sedang berada di ruangan saya. Apa anda bisa menjemputnya?”
“Dimana?
“Di ruangan VIP Rose, rumah sakit Drajat.”
“Apa?!”
Rahma menjauhkan layar ponsel tersebut karena mendengar pekikan di ujung sana yang menusuk telinganya. Setelah beberapa detik, didekatkannya kembali layar itu dan mendengar suara panik orang yang berlari menaiki tangga.
“Hanif! Hanif!”
Rahma terdiam dan mengerutkan keningnya. Seolah berusaha menajamkan pendengarannya karena baru saja menangkap sebuah nama yang tak asing di telinganya.
“Ada apa, bu?”
“Adikmu! Adikmu, Arina menghilang!”
Rahma membelalak.
“Dokter Hanif?”
{}{}{}