The Doctor'S Sister

The Doctor'S Sister
Episode 4



RAHMA memandangi dirinya di depan cermin yang berada di dalam kamar mandi ruangan VIP Rose, ruangan dimana dia dirawat sebagai pasien selama tiga minggu terakhir. Kini Rahma sudah diperbolehkan untuk pulang, dan akan menjalani proses rawat jalan selama beberapa bulan ke depan. Rahma menghela napas sambil melihat pantulan dirinya di cermin yang sangat jernih itu, sambil memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan secara berulang-ulang.


“Terlihat normal, tapi sebenarnya tidak normal. Good job,” desahnya seraya beranjak meninggalkan cermin tersebut dan keluar dari kamar mandi dengan langkah santai. Di luar kamar mandi tersebut, sang ibu sedang sibuk membereskan segala perlengkapan yang mereka gunakan selama menginap di rumah sakit. Mulai dari pakaian, selimut, peralatan makan dan sebagainya.


Rahma memerhatikan punggung ibunya yang tengah sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam tas besar berwarna hitam di atas ranjang. Dia merenung dalam diamnya, teringat bagaimana sikapnya pada ibunya kemarin, saat tiba-tiba seorang gadis berambut panjang dan memakai piyama ala pasien rumah sakit masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi, dan membuatnya menjadi lelah karena harus meladeni amukan si gadis yang tidak terima dirinya dijemput paksa oleh sang kakak dan ibunya yang datang setelah mengetahui keberadaan gadis tersebut lewat telepon. Rahma merasa bersalah karena sudah melukai hati ibunya dengan amarahnya yang disebabkan karena sang ibu tak memberitahunya tentang keberadaannya di ruang VIP tersebut dan biaya rumah sakit yang ternyata ditanggung oleh keluarga si gadis yang mengamuk di kamarnya kemarin itu.


“Rahma, kamu kenapa?”


Lamunan Rahma membuyar saat suara ibunya yang lembut menyapa telinganya. Rahma tersentak dan kemudian memasang senyum canggung sambil berjalan menghampiri ibunya. Gadis yang hari ini memakai gamis berwarna biru gelap dengan motif bunga sakura di bagian lengan dan ujung bawahannya tersebut memeluk ibunya dengan hangat yang langsung dibalas sang ibu dengan belaian di kepalanya yang tertutup hijab berwarna hitam dengan motif bunga tulip.


“Maafin Rahma ya, Ma. Rahma udah nyakitin Mama,” ucapnya sambil membenamkan wajah ke pundak ibunya.


Sang ibu tersenyum dan terus membelai lembut kepala anak gadisnya yang usianya sudah menginjak duapuluh dua tahun tersebut.


“Mama juga minta maaf, karena udah bohong sama kamu.”


Rahma melepas pelukan ibunya, dan menggeleng tidak setuju pada pernyataan ibunya. “Mama bukan bohong, mama Cuma nggak mau kasih tau Rahma karena mama takut Rahma merasa nggak adil, ya  kan? Mama takut Rahma bakal nuntut mereka karena udah bikin Rahma kayak gini, ya kan?”


Sang ibu tersenyum sendu, dan mengangguk pelan. “Mama cuma takut kamu bakal ngalamin hal yang sama kayak dulu. Makanya mama nggak bilang soal ini…”


Rahma memeluk ibunya lagi dan kali ini semakin erat dan hangat. “Mama nggak usah khawatir, Rahma bukan lagi anak kecil yang labil kayak dulu. Rahma sekarang udah bisa mengontrol diri, dan tau mana yang boleh dilakuin dan mana yang harus dihindarin. Jadi, mama nggak usah khawatir lagi, ya? Mama harus jujur sama Rahma, apapun yang terjadi.”


Kedua perempuan beda usia itu saling tersenyum, dan berpelukan lagi sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut sambil membawa barang-barang yang sudah dikemas tadi.  Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri lorong dan berhenti di depan lift yang akan mengantar mereka ke lantai utama. Rahma menekan tombol di samping pintu lift dan saat pintu tersebut terbuka, Rahma tertegun sejenak sebelum akhirnya menghela napas dan segera mengajak ibunya untuk masuk ke dalam.


Di dalam lift tersebut, Rahma dan ibunya memutuskan untuk berdiam diri sambil terus berpegangan tangan. Sampai saat lift berhenti, dan pintu terbuka secara otomatis, barulah keduanya saling melirik dan melempar senyum.


“Ayo, nak!” ajak sang ibu sambil keluar terlebih dahulu yang kemudian diikuti oleh Rahma dari belakang. Saat Rahma baru saja keluar dari bilik lift tersebut, suara dari dalam lift menghentikan langkahnya.


“Bisa bicara sebentar?”


Rahma menoleh ke belakang. Seorang lelaki berjas putih dengan stetoskop di lehernya keluar dari dalam lift sambil memandangnya dengan penuh kecanggungan. Nampak sekali tangannya gemetar karena gugup seolah saat ini dia sedang berhadapan dengan sosok yang menakutkan. Itu mungkin karena Rahma memang sedang memandangnya dengan tatapan tajam bak Singa betina yang marah.


“Ma, mama duluan aja keluar, dan temui paman. Rahma mau pamitan dulu sama dokter Hanif.” Ujar Rahma tanpa melepaskan tatapan mematikannya pada lelaki di hadapannya tersebut. Sang ibu yang ternyata tadi juga berhenti karena mendengar suara lelaki itu hanya bisa menghela napas pelan dan mengangguk walau tak dilihat oleh anaknya yang berdiri membelakanginya.


“Mama kasih waktu sepuluh menit ya.”


“Iya, Ma.”


Setelah sang ibu pergi menuju pintu utama rumah sakit, Rahma pun berjalan menuju lobi dan duduk di salah satu kursi tunggu yang berada di dekat lorong menuju ruang IGD. Hanif yang mengikutinya dari belakang duduk berdampingan dengannya di kursi yang sama. Mereka memutuskan untuk bicara tanpa saling memandang satu sama lain dan hanya menatap dinding cokelat gelap di hadapan mereka.


“Jadi, dia adikmu?” Rahma memutuskan untuk menjadi yang pertama membuka suara.


“Aku lebih senang jika kamu tidak menyebutnya sebagai adikku,” ujar Hanif sambil menyandarkan punggungnya ke dinding di belakangnya.


“Kenapa? Bukannya memang begitu kenyataannya? Dia anak ibumu, otomatis dia adikmu, bukan?”


“Dia hanya anak ibuku. Bukan adikku.”


Rahma tertawa kecil. “Baiklah. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan, Dokter?”


“Aku ingin minta maaf.”


“Untuk apa?”


“Untuk semuanya. Terutama soal kemarin.”


Terdengar helaan napas yang diiringi dehaman yang keluar dari mulut gadis berhijab tersebut. “Sebelum kalian masuk dan membuat kacau suasana di ruanganku, gadis itu sempat bilang kalau kalian menguncinya di kamar. Dia juga bilang kalau dia bisa keluar dengan cara mengambil kunci dari seorang perawat yang kalian tugaskan untuk menjaganya di kamar tersebut. Apa benar?”


“Nggak juga. Karena kalau memang benar dia dikunci di kamar, maka seharusnya dia nggak mungkin bisa mengawasiku dari dekat, sampai datang ke kamarku tadi malam.”


“Apa?” Hanif menegakkan tubuhnya dan menoleh ke arah gadis yang masih setia memandang dinding di hadapannya tersebut.


“Lupakan, mungkin hanya halusinasiku saja. Mungkin karena efek anastesi masih ada dalam tubuhku.” Rahma bangkit dari posisi duduknya.  Matanya kemudian menatap Hanif dengan tatapan mistrius yang tak bisa dibaca oleh lelaki itu. “Aku memaafkanmu, bahkan semua yang terjadi sebelum kemarin. Masalah ruangan VIP, masalah biaya rumah sakit, dan bahkan masalah gadis itu sebagai orang yang sudah membuatku seperti ini. Semuanya, sudah kumaafkan.”


Hanif menghela napas dan tertawa kecil sambil menggigit bibir bawahnya. “Kamu bisa memaafkan semuanya dengan semudah itu?”


“Menurutmu semudah itu? Tentu saja nggak, Dok. Aku memaafkan, tapi bukan melupakan. Aku memaafkan bukan karena aku pemaaf, tapi aku hanya nggak mau terus melihat wajah penyesalanmu yang membosankan itu,” ujar Rahma seraya beranjak meninggalkan Hanif yang kemudian mengikuti dari belakang.


“Membosankan? Lalu wajahku yang seperti apa, yang tidak membuatmu bosan memandang?”


Rahma menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang. Memindai lelaki yang lebih tinggi darinya tersebut dari atas hingga bawah. Kemudian menatap ke arah bola matanya yang jernih dan berwarna sedikit kecokelatan. “Entahlah. Mungkin Dokter bisa tanya para penggemar Dokter di meja administrasi sana!” ujarnya sambil menunjuk ke arah meja layanan administrasi dimana beberapa perawat nampak sedang berbisik-bisik sambil tersenyum genit melihat ke arah mereka berdua, atau lebih tepatnya ke arah Hanif.


“Aku sebenarnya punya sesuatu yang ingin kuceritakan padamu,” kata Hanif tanpa menghiraukan tatapan para perawat tersebut.


“Apa?” tanya Rahma sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku samping gamisnya.


Hanif nampak tak langsung menjawab. Dia menarik napas, dan menghembuskannya perlahan. “Tidak jadi. Mungkin nanti saja, saat kita ketemu lagi.”


“Yakin, kita bakal ketemu lagi?” sinis Rahma sambil berbalik.


“Kamu tidak mau bertemu denganku lagi?”


“Memang kenapa aku harus bertemu denganmu lagi?”


“Ya…”


Hanif tak meneruskan kalimatnya. Dia terdiam sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Rahma berbalik lagi dan memandangnya sambil tertawa geli. Tawanya itu kemudian disambut Hanif dengan tawa yang sama. Mereka berdua pun tertawa bersama-sama tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar mereka.


Setelah puas tertawa, Rahma pun pamit pergi sambil melambaikan tangan kanannya pada dokter tampan tersebut. Sebelum dia benar-benar keluar melewati pintu utama, suara Hanif membuatnya berbalik lagi dan melemparkan senyuman manis yang mampu menyentuh hati lelaki itu secara diam-diam.


“Kita masih bisa ngobrol lagi, ya, kan?”


“Entahlah. Mungkin, asalkan nggak ada kebohongan lagi. Karena jujur, aku sangat benci itu.”


“Aku janji, tidak ada kebohongan lagi.”


Rahma membuat gerakan menangkap udara dan memasukkan udara tersebut ke dalam saku gamisnya. “Janji Dokter sudah kusimpan.”


Hanif tertawa melihat tingkah gadis tersebut, kemudian melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Gadis yang dimaksud pun keluar tanpa melepas senyum dan disambut ibunya yang sudah menunggu di halaman rumah sakit bersama pamannya yang sibuk menelepon.


“Bahagia sekali… ngomongin apa sama dokter Hanif? Udah baikan memang?” ujar ibunya sambil tersenyum senang karena melihat anak gadisnya yang beberapa hari terakhir selalu murung dan berwajah datar kini seolah sedang disinari cahaya kebahagiaan.


“Hmm…banyak hal. Ayo, Ma! Ayo, Om!” jawab Rahma tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya ingin didengar oleh sang ibu. Dia meraih lengan ibunya dan menuntunnya ke mobil sedan berwarna silver milik sang paman yang terparkir di parkiran depan rumah sakit. Setelah sang paman juga masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin, mobil pun mulai bergerak meninggalkan rumah sakit secara perlahan.


Beberapa saat sebelum mobil benar-benar meninggalkan halaman depan rumah sakit, Rahma bisa melihat sosok yang mencurigakan tengah memandanginya di depan pintu utama gedung rumah sakit tersebut. Ada dua orang, satu lelaki dan satu perempuan. Untuk si perempuan, Rahma sudah mengenalinya. Tentu saja adik sang dokter, Arina Yumi.


Namun, untuk si lelaki… siapa dia?


{}{}{}