The Doctor'S Sister

The Doctor'S Sister
Episode 5



RAHMA tengah membereskan barang-barang di dalam kamarnya saat sebuah nada dering telepon dari smartphone miliknya membuat kegiatannya menjadi terhenti. Rahma mengambil ponsel yang diletakkannya di atas meja belajar tersebut dan menatap layar yang menunjukkan nama si pemanggil. Dengan helaan napas panjang dia menggeser ikon hijau dan mendekatkan layar atas ponselnya ke dekat telinga kanan.


“Halo.”


“Hi, how are you?”


“Fine, how about you?”


“Well, nothing changes here. Aku udah lihat video kecelakaan itu, sebelum dihapus. sepertinya parah… yakin kau baik-baik saja?”


“Ya, aku baik-baik saja. Ada apa menelpon?”


“Tidak ada, hanya ingin mendengar suara seorang teman yang sudah lama tidak kutemui.”


Rahma tertawa kecil, sedikit bernada mengejek. “Oh ya? Bukan karena kamu sedang ada masalah?”


“Sudah kuduga aku tak bisa menyembunyikan apapun darimu. Itu benar. Aku sedang dalam masalah. Dan sangat sulit.”


“What’s that about?” Rahma duduk di kasurnya dan menyandarkan punggungnya pada dinding bercat putih di belakangnya.


“Kami sudah menemukan benda itu. Tapi untuk membukanya, diperlukan sandi dan itu yang menjadi masalah disini. Kami tidak tahu seperti apa sandinya. Aku sudah mengirimkan gambarnya padamu melalui email.”


Rahma tertawa kecil. “Kenapa seorang detektif sepertimu malah minta bantuanku? Aneh sekali!”


“Biar kutegaskan sesuatu, aku baru satu bulan disini, dan aku disini bukan karena keinginanku, dan aku bukan detektif! Aku hanya kebetulan memiliki nama yang mirip dengan tokoh kesayanganmu itu. Lagipula, aku harus minta bantuan siapa lagi kalau bukan padamu? Sahabatku yang serba tahu segalanya?”


“Kamu orang kedua yang mengatakan hal itu padaku, ‘serba tau segalanya’. Memangnya aku ini cenayang? I’m just human, oke? Lagipula, kamu bukannya tidak tahu, tapi belum tahu. Dan kenapa kamu kesulitan? Karena kamu terlalu fokus pada teori yang kamu pikir benar.”


“Maksudmu?”


“Kamu pikir dia hanya bisa membuat sandi seperti yang kamu selesaikan kemarin? Tentu saja tidak! Dia tentu banyak memiliki jenis sandi yang lain dan lebih rumit, jika dilihat dari kecerdasan intelektual yang dimiliki seorang gadis sepertinya. Kurasa kamu harus lebih membuka lagi wawasanmu dan mencari lebih detil lagi seperti apa gadis itu, kebiasannya dan hobinya.”


Terdengar suara menggumam di ujung telepon. Seolah lawan bicara Rahma tersebut sedang berpikir keras. Rahma menghela napas.


“Apa hobi gadis itu?”


“Entahlah. Irish pernah bilang padaku kalau dia punya beberapa koleksi buku di dalam kamarnya yang membuat kamar itu terlihat seperti perpustakaan pribadi.”


“Buku apa yang dikoleksinya?”


“Aku belum memeriksanya.”


Rahma mendengus keras. “Kalau begitu, periksalah! Siapa tahu kamu bisa menemukan petunjuk disana.”


“Baiklah. Aku akan memeriksanya nanti. Terima kasih sudah memberiku pencerahan, Teman Warga Sipilku yang serba tahu.”


“Sudah kubilang, jangan memanggilku seperti itu, Detektif yang membosankan!”


Terdengar suara tawa keras di ujung sana. “Kau memang tak berbakat membuat julukan.”


“Maaf saja, aku memang bukan kamu yang berbakat melawak.”


Terdengar lagi tawa keras di ujung telepon tersebut yang membuat Rahma menjauhkan ponsel dari telinganya dan mendengus keras karena kesal. Lawan bicaranya itu memang benar-benar berhasil membuatnya jengkel dengan ulahnya.


“Kak Rahma! Kak Rahma!”


Perhatian Rahma teralihkan dari telepon, karena mendengar namanya dipanggil oleh seseorang dari lantai bawah. Dia pun beranjak dari kasur dan keluar kamar untuk melihat siapa yang memanggilnya.


“Ada apa, Dek?”


Seorang gadis berambut pendek dan berpenampilan setengah laki-laki nampak menunjuk ke arah pintu keluar di lantai bawah. “Ada yang cari Kakak!”


“Nggak tau, Kak! Cewek, masih muda! Coba Kakak ke bawah bentar deh!”


“Oke, bentar!” Rahma kembali ke kamar untuk memakai hijabnya dan kemudian keluar lagi dan berjalan cepat menuju tangga. “Nona Detektif, sepertinya aku harus meninggalkanmu sekarang.”


“Baiklah. Hati-hati. Aku punya firasat buruk.”


Rahma hanya tersenyum simpul dan memutuskan sambungan telepon. Sampai di lantai bawah, dia kemudian keluar melewati pintu keluar dan nampak kaku saat matanya menangkap siapa yang datang mengunjunginya malam ini.


“Arina? Apa yang kamu lakukan disini?”


***


Rahma membawa nampan berisi segelas cokelat panas dari dapur menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Tanpa menghiraukan tatapan khawatir dari sebagian penghuni kamar lain yang tadi turut menyaksikan siapa tamunya malam itu, Rahma berjalan santai dan masuk ke kamarnya dimana gadis berpakaian serba putih dengan rambut itu berada.


“Jadi, darimana kamu tau tempat tinggalku?” tanyanya sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja belajar, dan mengambil gelas berisi cokelat panas dan meletakkannya di lantai dekat dengan gadis yang menjadi tamu tak diundang tersebut.


Gadis itu hanya diam saja dan menatap kosong dirinya. Rahma berdiri dan mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamarnya, dan menghampiri gadis yang rambutnya basah seolah terkena air hujan itu.


“Kamu darimana basah-basahan begini? Padahal diluar nggak hujan,” ujar Rahma seraya mengeringkan rambut gadis tersebut yang masih diam saja, namun atensinya seolah terus mengikuti kemanapun Rahma bergerak. Sorot matanya datar, namun seolah menyembunyikan sesuatu.


“Kalau kamu nggak mau jawab, nggak apa-apa. Mungkin aku bisa cari tau sendiri nanti. Silakan minum cokelat panas itu, sebelum menjadi dingin sedingin dirimu saat ini,” ucap Rahma seraya bangkit dan bermaksud menggantung kembali handuknya ke paku yang tertancap di belakang pintu.


“Aku tau alamatmu dari rumah sakit.”


Rahma mengangkat alis kirinya. “Oh ya, aku baru tau kalau pihak rumah sakit akan dengan seenaknya memberikan data pribadi pasien kepada orang lain. Jadi, apa maumu kesini?”


Terdengar sebuah gumaman tak jelas. Rahma mengerutkan keningnya.


“Apa?”


“Aku kesini untuk membunuhmu!”


Rahma membelalak, dan langsung menoleh ke arah gadis yang ternyata sudah berada tepat dibelakangnya tersebut sambil memberikan senyuman jahat.


“Aku kesini untuk membunuhmu, Rahma! Selamat tinggal!”


Sebuah benda tajam pun menancap dengan cepat di perut Rahma dan membuatnya tersentak kaget. Dengan cepat dia membuka matanya dan bangkit dari posisi tidurnya, dan menarik napas dengan terengah-engah. Melihat kesekelilingnya dan tidak mendapati siapapun di kamarnya kecuali pintu kamar yang terbuka sedikit. Dia melihat ke arah perutnya, dan menghela napas lega karena tidak ada luka apapun di sana.


“Kenapa mimpinya terasa nyata sekali?” gumamnya sambil meringis.


Dia bangun dan melangkah pelan keluar kamar. Melihat ke sekeliling, dan hanya mendapati beberapa teman satu asramanya sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Saat seorang gadis muda berpenampilan tomboy melewatinya, Rahma langsung mencegatnya dan bertanya, “Liat tamu yang datang tadi malam, nggak, Dek? Dia nggak ada di kamar soalnya.”


“Tadi udah pulang, Kak. Katanya udah pamit sama Kakak.”


“Oh ya? Nggak ada pamit, sih, tadi. Kakak aja baru bangun. Naik apa dia pulang? Ada liat nggak?”


“Kayaknya tadi sih dijemput sama orang pakai mobil gitu, Kak. Mobilnya warna merah.”


Rahma tertegun sejenak, kemudian mengangguk. “Oke, makasih ya, Dek.”


Gadis berambut pendek itu mengangguk dan pergi meninggalkan Rahma untuk melanjutkan kegiatannya mengepel lantai. Sementara Rahma kembali masuk ke kamar untuk membereskan kamarnya yang terlihat berantakan. Dan saat dia membersihkan kasurnya, dia mendapati sebuah benda tajam tersimpan di bawah bantal yang dipakai oleh tamunya semalam. Rahma hanya bisa terdiam dan mengepalkan tangannya erat. Tanpa disadarinya, tubuhnya gemetar dan bulu kuduknya pun berdiri membayangkan apa yang ada di dalam mimpinya beberapa saat yang lalu.


{}{}{}