The Doctor'S Sister

The Doctor'S Sister
Episode 1



“RAHMA!”


Gadis berhijab biru itu berhenti di ambang gerbang fakultas. Dia membalikkan badannya dan menatap penuh kesal gadis berhijab merah muda yang berdiri di belakangnya. Nampak gadis berhijab merah muda itu menundukkan kepalanya saat gadis berhijab biru itu memberinya tatapan tajam.


“Apa lagi sekarang, Ran? Semua yang kamu mau sudah kamu dapatkan. Kamu mau Kak Ade? Kamu dapatkan dia. Kamu mau aku jauhin Kak Ade? Sudah aku lakukan. Aku sudah jauhin dia, putus komunikasi dengannya dan bahkan kontaknya sudah kuhapus semua dari ponselku! Kita udah nggak berteman di semua aplikasi media sosial dan bahkan di dunia nyata, kita udah kayak orang asing, udah nggak pernah saling menegur satu sama lain! Kita udah lose contact, oke? Sekarang apa lagi?”


Gadis berhijab merah muda itu menggigit bibir bagian bawahnya dan menatap gugup gadis berhijab biru di depannya yang nampak sangat kesal. Gadis berhijab biru itu menghela napas panjang dan mencoba untuk mengontrol emosinya yang sepertinya akan meledak jika terus dipancing.


“Rahma… tadi itu… nggak seperti yang kamu pikirkan…,” ujar gadis berhijab merah muda itu seolah mencoba menjelaskan sesuatu. Namun karena rasa gugupnya yang seolah diiringi rasa bersalah, membuatnya tak mampu mengucapkan kalimatnya dengan benar dan lancar.


“Nggak seperti yang aku pikirkan? Heh! Jelas-jelas tadi kamu sama teman-temanmu yang punya hobi nyinyir itu ngomongin aku dan mengumbar dengan keras seolah-olah aku ini seorang pelakor yang berusaha merebut suami kamu! Gila ya? Mau sampai kapan sih, aku terus jadi yang jahat disini? Mau sampai kapan kamu terus menyalahkan semuanya ke aku, Ran?!”


Gadis berhijab merah muda itu tersentak. Nampak bahunya gemetar seperti orang yang sedang kedinginan. Dari sudut matanya, bulir air asin keluar dan jatuh ke pipinya yang sedikit tirus. Hal itu membuat gadis berhijab biru itu menghela napas seolah merasa bersalah karena membuat gadis di hadapannya tersebut menangis.


“Ada apa lagi sekarang, heh?” ujarnya dengan nada pelan yang dipaksakan lembut.


“Kak Ade… dia masih sering cerita soal kamu… dia masih sering bilang kalau dia kangen sama kamu… kangen sama kebersamaan kalian dulu… kangen sama momen-momen yang kalian buat dulu… itu… itu…”


Gadis berhijab biru itu menghela napas dengan keras. Dia berkacak pinggang dan merapatkan bibirnya. Kemudian, dia bersidekap dan menatap gadis berhijab merah muda itu dengan tatapan malas.


“Ran, Kak Ade itu suami kamu, dan kamu adalah istrinya… kalau kamu nggak suka dia ngomongin aku terus, ya ngomong sama dia! Bilang kalau kamu nggak suka dia begitu! Bilang kalau kamu nggak suka, kamu benci semua yang ada hubungannya sama aku! Bilang sama dia, Ran! Bukan sama mereka yang nggak tau apa-apa, tapi merasa tau segalanya! Bukan sama mereka yang bisanya cuma nyinyir tanpa paham apa yang sebenarnya terjadi antara kita!”


Gadis berhijab merah muda itu semakin tertunduk dan airmatanya semakin deras jatuh membasahi pipinya. Emosi yang dikeluarkan oleh gadis berhijab biru tersebut benar-benar membuatnya tertekan dan hanya bisa menangis tanpa kendali. Suara isak tangisnya terdengar lirih membuat siapapun yang menyaksikan kejadian itu terdiam sejenak dan memerhatikan mereka berdua.


Gadis berhijab biru itu menatap ke sekeliling, dan menghela napas panjang saat menyadari dirinya dan si gadis berhijab merah muda telah menjadi tontonan yang cukup menarik bagi orang-orang di sekitarnya. Gadis berhijab biru itu hanya berharap tak ada yang merekam kejadian itu karena akan menjadi sangat memalukan jika rekaman dalam bentuk video tersebut tersebar di media sosial.


Dan harapannya itu memang terkabul. Tak ada yang berani merekam apapun yang mereka lihat saat itu. Bukan karena mereka tidak mau, namun karena mereka tidak berani. Kondisi itupun menjadi keberuntungan bagi si gadis berhijab biru.


Gadis berhijab biru itu menatap tajam si gadis berhijab merah muda. Setelah menghela napas untuk ke sekian kalinya, gadis berhijab biru itu berbicara dengan nada pelan pada lawan bicaranya yang masih menangis tersebut.


“Kita udah bukan anak kecil lagi, Ran. Kita sama-sama tau posisi kita masing-masing. Kamu seorang istri, jadi kamu harusnya tau bahwa menyebar masalah rumah tanggamu pada orang lain yang bahkan nggak bisa kasih solusi bagus buat kamu, itu sama aja melakukan dosa pada suami kamu. Aku sama Kak Ade udah bukan siapa-siapa. Aku bahkan nggak punya feeling apapun buat dia, semuanya udah hilang bersama waktu. Kamu harusnya menatap ke depan dan memikirkan gimana caranya agar dia bisa mencintai kamu seperti yang kamu lakukan, bukan merengek seperti anak kecil yang takut mainannya direbut orang!”


Setelah berkata seperti itu, gadis berhijab biru itu melangkah ke trotoar dan terus berjalan sampai ke persimpangan, hingga tiba di jalan penyeberangan. Langkah kakinya terhenti sebelum sampai di jalan penyeberangan tersebut saat namanya dipanggil dari arah belakang.


“Rahma!”


Gadis berhijab biru itu membalikkan badannya dan menatap datar gadis berhijab merah muda yang berjalan cepat ke arahnya.


“Bagaimana jika… jika aku sudah melakukan semuanya, aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan untuk membuatnya mencintaiku, dan ternyata itu nggak berhasil? Bagaimana jika aku sudah berusaha membuatnya melupakanmu, tapi ternyata kamu masih ada di dalam pikiran dan hatinya? Karena itulah yang terjadi sampai sekarang ini. Aku sudah berusaha, tapi hasilnya nggak pernah ada. Dia masih sama. Masih terus memikirkanmu. Masih terus mengingatmu. Masih terus… masih terus… mencintaimu…”


“Terus? Kamu mau apa dari aku? Apa kamu mau aku yang mengubahnya? Dengan cara apa? Menghilang? Mati? Apa itu yang kamu mau?”


Gadis berhijab merah muda itu terpaku saat mendengar kalimat demi kalimat yang terucap begitu saja dari si gadis berhijab biru. Matanya membelalak seolah tak percaya bahwa gadis di hadapannya itu bisa membaca pikirannya. Gadis berhijab merah muda itu mengepalkan kedua tangannya. Kepalanya menggeleng berusaha mengelak dari apa yang dikatakan gadis berhijab biru itu padanya.


“Itu yang kamu mau, ya? Oke. Jika kamu mau, aku bisa mati sekarang.”


Gadis berhijab biru itu kemudian berjalan mundur di atas jalan bergaris putih dan hitam tersebut hingga akhirnya dia berada di tengah-tengah jalan raya. Saat itu lampu lalu lintas masih menunjukkan tanda merah. Gadis berhijab merah muda tentu tak tenang hingga kemudian menyusul lawan bicaranya itu ke tengah jalan.


“Rahma! Jangan! Aku nggak mau kamu lakukan itu! Aku nggak pernah berpikir seperti itu! Please, jangan!”


“Kenapa? Ini yang kamu mau, kan?” gadis berhijab biru itu tersenyum sinis dan menghela napas sambil melihat ke arah lampu lalu lintas yang masih merah. Sementara gadis berhijab merah muda sudah berada di hadapannya dan menarik tangannya. Dia mencoba menyeretnya ke tepi, namun tak berhasil. Genggamannya itu ditepis si gadis berhijab biru yang memberinya ekspresi datar. “Kamu hanya perlu bersyukur jika nanti aku berhasil memberi apa yang kamu inginkan, Ran. Jangan coba menghalangiku.”


“Rahma…” rengek gadis berhijab merah muda itu sambil menangis. Kepalanya terus menggeleng dan airmatanya terus jatuh membanjiri pipinya.


“Kenapa lampu merahnya lama sekali?” keluhnya. Saat matanya mengarah ke sebelah kirinya, matanya membelalak dan langsung berlari ke arah gadis berhijab merah muda.


“Ran, awas!” teriaknya sambil mendorong tubuh gadis berhijab merah muda itu hingga gadis itu termundur tanpa kendali dan tersungkur di tepi jalan.


Brakkk!


Gadis berhijab biru itu bisa merasakan tubuhnya melayang di udara, seolah dia sedang terbang. Namun hanya dalam beberapa detik, dia merasakan tubuhnya jatuh menghantam aspal panas hingga terguling. Suara patah dari bagian dalam tubuhnya itu terdengar dengan jelas olehnya, namun dia tak punya daya untuk memikirkan apa yang patah. Tubuhnya melemah, dan bisa dia rasakan napasnya melambat. Fokus pandangnya mengabur dan sesaat sebelum semuanya menggelap, gadis berhijab biru itu bisa melihat wajah ketakutan dari si gadis berhijab merah muda.


***


Seorang lelaki tampan dengan jas putih berlengan panjang yang sangat bersih itu tengah asyik melakukan visit dari bangsal ke bangsal. Sambil sesekali tersenyum ke arah pasien perempuan yang terus menatapnya tanpa berkedip, lelaki itu memeriksa dengan teliti kaki berbalut perban milik pasien perempuannya tersebut.


“Nampaknya sudah agak membaik. Mungkin sekitar satu minggu lagi, Anda sudah bisa melepas perban dan keluar dari rumah sakit,” ujarnya sambil tersenyum.


“Nggak pulang juga nggak apa-apa, Dok. Selama dokter yang merawat saya,” ucap perempuan berusia sekitar tigapuluh tahunan itu dengan nada genit sambil mengedipkan matanya pada si lelaki tampan dengan stetoskop melingkar di lehernya tersebut.


Lelaki itu hanya bisa tersenyum sumbang dan memilih pamit daripada meladeni ucapan genit si pasien. Saat dia keluar dari bangsal terakhir yang masuk dalam daftar kunjungannya tersebut, ponsel lelaki itu berbunyi menandakan seseorang sedang memanggilnya lewat sambungan telepon. Lelaki itu langsung mengeluarkan ponsel yang terus berbunyi tersebut dari dalam saku jasnya dan menggeser ikon hijau di layar ponselnya, kemudian mendekatkan layar gawai tersebut ke telinga kanannya.


“Halo?”


“Dok, ada pasien yang harus segera ditangani. Pasien mengalami patah tulang punggung dan leher, kode merah.”


“Baik, segera bawa ke ruang operasi. Saya akan segera kesana dan bersiap.”


“Baik, Dok. Segera menuju ke ruang operasi.”


Sambungan terputus, dan lelaki itu segera berlari menuju lift yang akan mengantarnya ke ruang yang akan dia tuju. Saat dia baru memasuki ruang lift tersebut, ponselnya kembali berbunyi. Lelaki itu menatap layar ponsel dan menghela napas. Dia kembali menggeser ikon hijau dan mendekatkan layar ke telinganya.


“Ada apa?”


“Hanif… adikmu… Arina…”


“Ada apa lagi dengannya? Apa dia buat masalah lagi?”


“Bisa nggak kamu jangan bicara sinis begitu soal adikmu?”


Saat itu bunyi lift sampai di lantai yang dituju terdengar dan pintu lift terbuka. Lelaki tersebut keluar dengan cepat dan berlari lagi menuju ruang operasi dimana pasiennya tadi akan ditempatkan.


“Hanif sedang sibuk sekarang, Bu. Jadi nanti saja, ya! Lagipula, dia bukan adikku. Dia hanya anak Ibu, tapi bukan adikku. Jadi Ibu yang harus mengurusnya, bukan aku. Assalamu’alaikum.”


“Han—“


Sambungan diputus secara sepihak oleh lelaki tersebut, yang langsung bergegas menuju ruang operasi dimana pasiennya sedang menunggu.


{}{}{}