The Doctor'S Sister

The Doctor'S Sister
Episode 8



RAHMA menatap takjub bagian depan rumah mewah yang bergaya modern klasik dengan nuansa warna putih dan keemasan. Memang bukan pertama kalinya bagi Rahma melihat rumah mewah seperti itu, karena dia sudah sering melewati jalan-jalan kompleks perumahan mewah dan melihat rumah-rumah dengan macam gaya arsitekturnya. Termasuk rumah di depannya ini. Dia sangat sering melewati rumah ini saat pulang menuju asramanya, tentunya dengan menumpang angkutan umum. Tapi baru kali ini dia berdiri di depan rumah itu, yang ternyata adalah rumah si gadis remaja berambut panjang yang berdiri di sampingnya sambil merangkul lengannya.


“Ini rumahmu?” tanya Rahma bernada polos.


Gadis remaja di sampingnya hanya tersenyum miring dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Tak lupa memberi salam yang disahut oleh suara seorang wanita separuh baya dari dalam rumah tersebut. Diam-diam Rahma mengagumi sosok Arina, yang meskipun kelakuannya agak membingungkan namun tetap memiliki adab yang baik bahkan saat masuk ke dalam rumah.


“Selamat datang di rumah sederhana kami, Nak Rahma!” sapa sang ibu dengan Ramah sambil memeluk Rahma hangat.


Rumah semewah ini dibilang sederhana. Apa kabar rumahku di kampung, ya? Mungkin dianggap pondok kali, sama keluarga ini. Rahma membatin dalam pelukan ibu dari Hanif dan Arina tersebut.


“Maaf sudah merepotkan ibu. Ibuku sudah cerita soal kemarin. Terima kasih sudah menempatkanku di ruangan yang mahal, juga sudah membayar semua biaya rumah sakitku.” Rahma berujar dengan nada ramah, namun dalam nadanya itu tersimpan jarum yang tajam menusuk jantung. Terbukti dengan ekspresi sang ibu yang hanya bisa tersenyum getir dengan tangan yang sedikit gemetar.


Diam-diam Rahma mengumbar senyum kemenangan, karena sindirannya berhasil mengenai sang ibu. Meskipun dalam benaknya dia merasa iba karena ucapannya pasti melukai hati wanita itu. Saat dirinya dipersilakan untuk duduk di ruang tamu, Rahma bergerak menuju kursi sofa untuk satu orang dan duduk di sana. Namun, baru saja dia duduk seraya melepaskan ranselnya, sebuah suara pintu dibanting membuatnya tersentak kaget dan spontan menatap ke arah pintu utama rumah tersebut.


Mata Rahma membeliak ketika netranya bertemu tatap dengan seorang lelaki yang masih mengenakan jas putih kebanggannya masuk dengan langkah cepat menuju dirinya yang bangkit perlahan sambil menatap heran. Tanpa bicara, lelaki itu menarik ujung lengan jaketnya dan menyeretnya masuk ke dalam sebuah ruangan yang tak kalah luas dengan ruang tamu rumah tersebut. Dan sekali lagi, Rahma hampir menabrak punggung lelaki itu jika saja dirinya tak sempat menginjak rem dengan cepat.


“Kamu ngapain disini?” tanya lelaki itu. Rahma mengerjap sesaat mendengar apa yang baru saja didengarnya. Ah, Rahma baru sadar bahwa ternyata lelaki itu sedang mencoba berbicara santai dengannya, tanpa memakai bahasa baku. Rahma mengulum senyum, menetralkan rasa kagumnya agar tak terlalu nampak di mata lelaki yang sedang kesal tersebut.


“Adikmu memaksaku kemari. Dia bilang ibumu sudah menyiapkan makan malam untuk kita.”


Hanif menghela napas kesal sambil menutup mata. “Dan kamu nggak menolak lagi?” tanyanya dengan nada emosi.


“Kurasa sangat nggak sopan kalau menolak permintaan seorang ibu, apalagi beliau sudah berjasa padaku dan keluargaku.” Rahma tersenyum tipis.


Hanif terpana mendengar jawaban itu. Dia nampak gugup dan bergerak gelisah dengan menghela napas secara berulang-ulang. Itu membuat Rahma kembali tersenyum tipis dan mengatakan sesuatu untuk menenangkannya.


“Tenang aja, Dok. Aku nggak apa-apa, kok. Lagipula hanya makan malam, kan? Setelah itu aku akan pulang. Dan tentunya diantar oleh dokter Hanif,” ujarnya sambil menunjuk dokter tersebut dengan jemari tangannya. Senyumnya yang terlihat lucu dan menggemaskan itu membuat Hanif berhenti gelisah, menatapnya dengan raut terpesona dan selanjutnya tertawa sumbang.


“Oke, aku akan pastikan ini Cuma makan malam, dan kamu akan aku antar pulang!” tegasnya dengan serius lalu merogoh saku jas putihnya. “Ini obat pereda nyerimu. Nanti harus diminum setelah makan malam. Tapi, kamu bisa minum obatnya setelah sampai di asrama nanti malam!” lanjutnya seraya menyerahkan kantong plastik berisi obat pereda nyeri berbentuk tablet tersebut pada Rahma. Gadis itu mengambilnya dan memasukkannya ke dalam saku jaket.


“Asyik, ya, berduaan di ruang keluarga?” celetuk Arina dari ambang pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga sambil memain-mainkan rambutnya dengan menggunakan jari telunjuknya. Rahma bisa melihat raut wajah tak suka Arina saat itu, dan itu entah kenapa membuat dirinya seolah terpancing untuk bermain api dengan Arina.


“Ya, tentu saja. Apalagi jika berduaannya dengan dokter bedah ortopedi tertampan dan termuda di rumah sakit Drajat,” ujarnya seraya tersenyum hiperbolis pada Hanif. Kalimat itu harusnya terdengar seperti sebuah candaan, namun tak membuat lelaki itu tertawa. Ekspresi yang ditunjukkannya malah sebuah kekhawatiran yang mendalam. Seolah ada sesuatu yang akan terjadi jika Rahma terus bertindak seperti itu pada Arina, gadis yang sedang mengepalkan tangannya dan menatap Rahma nanar penuh kebencian.


***


Niat akan pulang setelah makan malam akhirnya tak terlaksana saat gadis remaja itu meminta secara paksa Rahma untuk menginap. Meskipun bukan Rahma yang menolak, melainkan Hanif yang melarang Rahma untuk menerima tawaran secara paksa tersebut. Akan tetapi, suara sang ibu mengalahkan segalanya. Rahma menerima permintaan Arina dengan senyuman, meskipun di hatinya terbesit rasa kekhawatiran. Apalagi tatapan Hanif yang membuatnya makin merasakan ada firasat yang tak mengenakkan.


“Mau yang ini atau yang ini?” Arina mengangkat dua jenis pakaian rumah, masing-masing satu di tangan kanan dan kirinya. Rahma yang awalnya tertegun, bergerak memindai seperti seorang pelanggan toko pakaian yang sedang memilih baju yang akan dibelinya. Setelah puas memindai kedua pakaian tersebut dari atas sampai bawah, Rahma mengambil daster gamis bermotif bunga mawar dengan dominan warna biru muda di tangan kanan Arina.


“Yakin yang itu? Kenapa bukan yang ini? More fashionable, right?” tanya Arina dengan wajah heran. Karena menurutnya baju pilihan Rahma itu sangat old ketimbang baju miliknya, sementara Rahma masih terlalu muda untuk memakai baju ala emak-emak itu.


“Ya, tapi fesyen yang kamu tawarkan itu sangat tidak cocok untukku. Bisa membuatku masuk neraka!” seloroh Rahma sambil tertawa. Dia kemudian meninggalkan Arina sambil tertawa kecil dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di ruang dapur besar milik keluarga sang dokter tersebut.


Setelah berganti pakaian, Rahma mencari Hanif yang sejak sehabis makan malam tadi pergi entah kemana. Rumah itu terlalu besar bagi seorang Rahma yang baru bertandang sebagai tamu. Belum lagi, ruang-ruang di rumah itu sedikit berliku, seolah bagai labirin yang jika tidak hati-hati, maka yang ditemukan malah jalan buntu. Rahma mencoba bergerak perlahan mencari keberadaan sang dokter dari ruang ke ruang. Dan akhirnya bertemu dengan lelaki itu di sebuah kamar depan dekat dengan ruang tamu.


“Kupikir dimana, ternyata disini?” ujar Rahma membuat dokter tersebut kaget dan menoleh ke belakang. Dia tersenyum kaku dan menghampiri Rahma yang berdiri di ambang pintu.


Hanif memindai Rahma dari atas sampai bawah. Hijabnya masih yang dipakainya tadi pagi hingga saat makan malam bersama di rumah sang dokter, dan sepertinya akan dipakai sampai besok pagi lagi. Hanya pakaiannya yang berbeda. Hanif terpana melihat daster gamis yang dikenakan gadis itu.


“Kenapa? Kayak emak-emak, ya?” tanya Rahma merasa heran dirinya dipandangi terus oleh Hanif. Ada rasa malu dalam hatinya, karena setelah sekian lama dirinya tak pernah dipandang lama dengan ekspresi wajah seperti yang lelaki tersebut suguhkan ke hadapannya.


Hanif tersentak dan mengerjap. Dengan senyum malu dia berucap, “Nggak… kamu kelihatan cantik, kok. Sama sekali nggak kayak emak-emak.”


Mendengar pujian itu, entah kenapa Rahma merasa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Rasa panas mulai dirasakan, naik hingga ke pipinya yang kemudian terlihat merona merah. Rahma berdeham dan mundur keluar dari ambang pintu. Seolah memberi batas agar dia tak terlalu dekat dengan lelaki tampan itu.


Sementara lelaki tersebut, menyadari dirinya telah berbicara aneh, langsung menutup mulutnya rapat dan menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Dia keluar kamar mengikuti Rahma dan memasang wajah menyesal.


“Ma-maaf! Bukan maksudku…,” ujarnya dengan gugup. Seolah sedang salah tingkah di hadapan gadis yang membuat jantungnya semakin kencang berdegup.


“Nggak, nggak apa-apa, kok. Jangan dipikirkan!” Rahma mengulum senyum.


Berdeham sejenak, Hanif yang semula menundukkan kepala karena gugup akhirnya memberanikan diri menatap Rahma. Mengatur napasnya agar kembali normal, Hanif mencoba mengalihkan pembicaraan yang semula sempat menuju ke arah yang tak wajar. Setidaknya, itu yang terbesit dalam pikirannya.


“Kamu yakin, mau menginap disini?” tanya Hanif setelah beberapa menit tanpa suara.


“Kenapa?” Rahma balas bertanya dengan kedua alis saling ditautkan.


“Nggak dilarang sama ibu asrama?”


“Di asramaku nggak ada yang namanya ibu asrama, adanya pengurus asrama.”


Hanif terkekeh dan tersenyum manis. Senyuman itu pun disambut Rahma dengan senyum yang lebih manis. Tentunya bagi Hanif, bukan bagi orang lain.


“Ah, baiklah. Jadi, apa kamu sudah izin ke pengurus asrama?”


Rahma mengangguk.


Hanif menengok ke arah kamar tamu di belakangnya, sebelum beralih lagi pada Rahma. “Kamu mau tidur disini, atau naik ke kamarku aja?” tanyanya tanpa pertimbangan. Dan tentu saja, setelah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya sendiri, Hanif langsung terkejut dan menutup mulutnya. Sementara Rahma hanya bisa tertawa geli melihat tingkahnya.


“Ma-maaf! Maksudnya, kamu tidur di kamarku, dan aku tidur disini.” Hanif meringis menahan sakit di dalam dadanya, akibat perbuatannya sendiri yang terus menerus gugup dan salah tingkah di depan gadis berhijab tersebut. Kepalanya pun semakin digaruk seolah benar-benar gatal.


“Kamar kakak maksudnya apa? Kak Rahma bakal tidur satu kamar sama Arina.”


Keduanya tersentak dan menengok ke arah sumber suara. Arina dengan baju tidur berbahan satin dan berwarna putih polos miliknya berdiri tegak di belakang Rahma. Posisinya memang agak jauh, namun tetap sanggup membuat bulu kuduk Rahma tanpa sadar merinding. Rambut panjang berwarna hitam kecokelatan itu tergerai hingga ke bawah pinggang, membuat penampilannya bak seorang tokoh hantu di film Jepang berjudul The Ring. Hanya saja, dia tidak muncul dari sumur dan keluar melalui televisi. Yang ini muncul tiba-tiba dari belakang, entah darimana. Tak ada yang tahu, termasuk Hanif dan Rahma.


“Rahma akan tidur di kamarku, begitu maksudnya. Kenapa?” ujar Hanif bernada sinis sambil menghampiri Rahma dan menarik lengan bajunya, bergerak melewati Arina yang memberi tatapan marah.


Rahma pun menjadi korban tarik menarik antara adik dan kakak beda ayah tersebut, bak seutas tali tambang yang ditarik kedua ujungnya secara berlawanan. Hanif yang semula hanya menarik ujung lengan baju, kini malah menarik tangan Rahma. Begitu pula Arina, yang semula hanya menarik tangan beralih merangkul pinggang Rahma dan menariknya dengan kuat, hingga Rahma akhirnya berteriak karena tak tahan dengan tingkah mereka.


“STOP! Lepasin aku sekarang!”


Keduanya berhenti tarik menarik dirinya, dan itu memberi Rahma kesempatan untuk melepaskan diri. Menghela napas kesal dan lelah, Rahma berniat membuka suara untuk meluapkan kemarahan yang sudah ditahannya sejak dirinya diperlakukan sebagai tali tambang.


“Kalian—“


Belum sempat lagi dia bicara, sang ibu muncul dengan langkah tergopoh-gopoh sambil mengelap kedua pelupuk matanya, seolah baru saja mengeluarkan airmata.


“Ada apa ini? Malam-malam malah ribut? Nak Rahma, kenapa teriak? Ada apa?” tegur sang ibu dengan wajah heran sambil memandang ketiga manusia di hadapannya secara bergantian.


“Mama, Arina mau bawa kak Rahma tidur bareng Arina di kamar Arina! Tapi kak Hanif malah mau ajak kak Rahma tidur di kamarnya!” adu Arina pada ibundanya sambil menunjuk Hanif yang mendelik tak percaya dengan ucapannya.


Sang ibu terperangah, dan memandang puteranya sambil bertanya, “Benarkah itu, Hanif? Kamu…”


“Bu, ibu berpikiran yang aneh-aneh, ya? Maksudku bukan seperti yang dipikirkan oleh anak itu, bu! Aku minta Rahma tidur di kamarku, dan aku akan tidur di kamar tamu. Kenapa? Karena kamar tamu belum dibersihkan! Lagian, kok bisa kalian minta orang buat menginap tapi kamar tamu dibiarkan berantakan? Kalian mau Rahma tidur di tempat kotor?” ucap Hanif dengan penuh emosi karena merasa dirinya sudah difitnah oleh adik tirinya sendiri.


Arina diam tanpa kata, hanya memberi tatapan nanar sebagai tanggapan. Sementara ibu hanya menghela napas sesal, merasa bersalah karena sudah berpikiran macam-macam. Dia pun menghampiri Rahma dan tersenyum tipis sambil menggenggam kedua tangan gadis itu.


“Maafkan ibu, ya, Rahma. Ibu lupa bersihkan kamar tamu, padahal ibu sudah memintamu untuk menginap. Ya sudah, kamu pilih aja, mau tidur di kamar Arina atau di kamar Hanif? Atau mau tidur di kamar ibu saja?” ujarnya menawarkan satu persatu kamar pada Rahma. Gadis itu mengerjap seolah kehilangan kata.


“Kamarku saja,” tanggap Hanif singkat.


“NGGAK! Kak Rahma tidur sama Arina, di kamar Arina!” sahut Arina nyaring sambil mencak-mencak.


“Diam! Kalian jangan kayak anak kecil, deh!”


Keduanya terdiam, hanya dengan satu kali bentakan tajam. Sementara Rahma mengulum tawa dalam diam.


“Begini saja, Rahma tidur di kamar Arina, aku setuju. Tapi Arina tidur di kamar ibu,” ujar Hanif memberi jalan tengah.


“Loh, kok gitu?!” sergah Arina tak terima.


“Kenapa? Tidak setuju? Ya sudah, Rahma kuantar pulang saja.”


Baru saja Arina menarik napas kesal dan ingin bersuara, sang ibu sudah menariknya dan memberinya tatapan tajam. Gadis itu menunduk, masih dengan wajah kesal.


“Oke. Rahma tidur sendirian di kamar Arina, ya? Arina bakal tidur di kamar ibu. Hanif, kamu mau tetap di kamarmu atau di kamar tamu,terserah kamu! Asal jangan diam-diam ke kamar adikmu!”


“Jangan sebut dia adikku!”


Sang ibu menarik napas panjang melihat kelakuan anak lelaki satu-satunya itu yang terlihat gigih tak ingin mengakui Arina sebagai adiknya.


“Maafkan kami, ya. Kamu seharusnya disambut dengan baik disini, tapi malah disuguhkan pemandangan seperti ini.”


Rahma hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, mengisyaratkan bahwa dia tidak masalah dengan semua yang dilihatnya.


“Ma, kok gitu sih? Arina kan mau tidur sama kak Rahma!” rengek Arina manja. Meskipun itu sangat aneh bagi Rahma, gadis itu hanya diam saja. Tak memberi respon apa-apa.


“Sudah, kamu jangan debatkan ini lagi. Nak Rahma pasti lelah sekarang, dan jadi tambah lelah karena kelakuan kalian berdua! Sudah, ini waktunya untuk tidur. Sudah hampir tengah malam,” ujar sang ibu sambil menyeret lengan Arina menuju kamarnya di lantai dua, bersebelahan dengan kamar gadis remaja tersebut.


Seusai kedua ibu dan puterinya itu berlalu meninggalkan mereka berdua, Rahma dan Hanif saling berpandangan dengan sikap canggung.


“Maaf, sudah membuatmu melihat adegan tadi,” ujarnya meminta maaf dengan tulus.


“Nggak apa-apa. Aku jadi lebih kenal dokter sekarang, setelah kejadian tadi.” Rahma menjawab seraya memberi senyum manis yang tak mampu ditolak Hanif.


“Aku hanya ingin menjagamu dari hal-hal yang buruk. Itu saja. Nggak ada niatan yang lain.”


“Hal yang buruk?”


Keduanya saling berpandangan.


{}{}{}