THE COLD LECTURER WAS MY HUSBAND

THE COLD LECTURER WAS MY HUSBAND
Kecewa



Keputusannya baru tadi siang nak, sudah gak usah cemberut nanti cantiknya ilang loh" goda bunda Nita sambari mencolek dagu putrinya itu...


"Iyaiya bunda ku sayang,,


Eh Kakak kemana? Belum pulang yaa?" tanya Dita


"Belum nak" jawab bunda Nita


"Begitulah kakakmu sangat sibuk dengan pekerjaannya sampai lupa kalau dia punya keluarga" sambung ayah Zamsul di sela sela makannya


"Ayah kok ngomong gitu sih? Berarti kakak orangnya pekerja keras iya kan bunda?" kata Dita saraya menyuapi makanan ke dalam mulutnya


"Iya nak tapi kakakmu itu terlalu berlebihan, sampai lupa waktu" ucap bunda Nita yang tidak membela


"Iya juga sih.. Tapi ayah dan bunda banggakan sama kakak?" kata Dita dengan nada menggoda


"Bangga dong kan anak ayah dan bunda" kata ayah Zamzul


"Dita pengen deh,, suami Dita kayak kakak nantinya, udah ganteng, pekerja keras rendah hati lagi. Idaman banget" ucap Dita yang membayangkan kakaknya


"Kamu ini ngomong apa sih? Kamu itu masih semester enam loh, fokus sama sekolah aja dulu, baru kamu bunda Nikahin. Udah habisin makanannya ngak usah ngelantur" suruh bunda Nita


"Hehehe, iya bunda ku sayang" kata Dita sambil cengegesan


Setelah selesai makan malam mereka berdua memilih bersantai di depan tv sedangkan Dita kembali ke kamarnya.


***


~Pramudya Home


Tepat pukul 18.30 Nafisya terbangun dari tidurnya karna mendengar suara ketukan pintu. "Non Ibu dan Bapak sudah menunggu di meja makan untuk makan malam" ucap bi Irma dibalik pintu


Lalu Nafisya beranjak dari tempat tidur menuju pintu dan membukanya "Iya bi Fisya mau ganti baju dulu setelah itu turun kebawah" jawab Nafisya tersenyum lalu menutup kembali pintu kamarnya.


Setelah selesai bersiap Nafisya langsung turun dan menuju ke ruang makan yang disana sudah ada papa dan ibunya menunggu.


"Selamat malam pa, bu, maaf Fisya lama" ucap nafisya lalu duduk di samping papanya, tepat di depan ibunya duduk


"Malam nak, makanlah" jawab papa Rizal dan ibu Linda kompak lalu tersenyum.


Begitulah nafisya sangat mudah melupakan masalah yang telah terjadi tapi sangat sulit untuk mengobati luka yang membekas di hatinya.


"Fisya" panggil papa Rizal dan Nafisya menoleh ke arah papanya.


"Ingat keluarga calon suamimu akan datang untuk melamarmu besok malam" kata papa Rizal mengingatkan.


Degg


"Kenapa cepat sekali pa?" tanya Fisya bingung pasalnya tadi sore saat papa Rizal memberitahunya, Nafisya tidak terlalu fokus mendengarkan penjelasan papanya itu karna Nafisya langsung syok dan pikirannya sudah tercampur aduk.


"Pa Fisya memang setuju untuk di jodohkan tapi tidak secepat ini juga. Apakah papa sudah tidak sanggup membiayai Fisya?" tanya Nafisya dengan mata berkaca kaca.


"FISYA" teriak papa Rizal tidak terima


"Pa tenang pa, jangan marah marah didepan makanan ngak baik" kata ibu Linda menenangkan suaminya "Nak kamu ngak boleh ngomong gitu, papamu sayang sama kamu dan dia tidak ingin kamu pergi keluyuran yang tidak jelas" lanjutnya


"Nafisya kamu itu harusnya mencontohi kakakmu! dia ngak ada tuh yang namanya pergi ke CLUB dan keluyuran yang ngak jelas. makanya dia selalu mendapatkan prestasi yang memuaskan dan dia bisa dapat beasiswa untuk kuliah ke luar negri sedangkan kamu apa? ngak ada sama sekali NAFISYA!!! yang ada guru-guru mu selalu mengeluh karna kenakalan kamu di sekolah!" kata papa Rizal dan lagi-lagi membuat hati Nafisya sakit bagaikan ditusuk pisau yang tajam.


"Please pa,, papa bisa bilang apa aja sama Fisya, tapi jangan sekali-kali papa membanding-bandingkan ku dengan orang lain, apa lagi dengan kakak tiriku. Fisya ngak suka pa. Rasanya sakit sekali pa, !!!" batin Nafisya


"Fisya memang nakal tapi Fisya bisa jaga diri kok.." kata Nafisya dengan tangis yang sudah pecah


"Fisya kamu itu anak perempuan tidak seharusnya kamu pergi keluyuran yang tidak jelas dan papa mau kamu tinggalkan pergaulan bebasmu itu" Kata papa Rizal penuh penekanan


Memang Nafisya sudah terjerumus dipergaulan bebas yang sering keluar masuk CLUB namun dia sama sekali tidak suka dengan minuman yang berbau dengan Alkohol karna dulu saat dia mencoba minum alkohol, Nafisya langsung demam tinggi walaupun hanya meminum sedikit. Bahkan dia sama sekali tidak tertarik untuk pacaran karna Nafisya mempunyai trauma.


"Kenapa harus Fisya tinggalkan? Fisya tidak akan mau! Karna diluar sana adalah teman sekalian kebahagiaan bagi Fisya" balas Nafisya dengan tangisnya


"Kamu kenapa jadi keras kepala begini? Apa semua ini karna teman temanmu?" tanya papa Rizal


"Ini semua karna papa. Papa terlalu sibuk dengan pekerjaan papa, papa dimana saat Fisya butuh kasih sayang dari papa hikss.. hikss.." jawab Nafisya


"Fisya hanya butuh perhatian pa, tapi apa papa pernah peduli sama Fisya? tidak kan. Dari Fisya kecil papa selalu sibuk sama pekerjaan papa dan papa selalu membeda bedakan fisya sama kak Sasa, Papa tidak pernah menghargai semua usaha Fisya dan Papa selalu bilang kalau Fisya ini bodoh bodoh dan bodoh, papa tidak pernah memikirkan perasaan Fisya sedikitpun Hanya bi Irma dan sahabat Fisya yang selalu peduli sama Fisya. Fisya hanya butuh kasih sayang paaa... " sambung Nafisya yang mengeluarkan semua unek uneknya


Papa Rizal hanya bisa diam menatap anak gadisnya menangis dengan pilu, memang benar dari kecil sampai sekarang Nafisya terabaikan hanya karna keegoisannya. Akhirnya Nafisya meluapkan semua kesedihannya dan mencari kebahagiannya sendiri.


"Fisya kecewa sama papa" kata Nafisya dengan tangisnya lalu meninggalkan papa dan ibunya dimeja makan, bahkan dia sama sekali tidak sempat memakan makanannya.


.


.


.


Bersambung🌻


.


.


.


Hay guys, ini adalah novel pertamaku


Jangan lupa Vote, Like, Coment dan beri saran ya kak...


Biar author semangat bikin ceritanya🌹