
Malam semakin pekat, yact milik Arvas dan anak buah nya pun berlayar tanpa halangan sejauh ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 01:25. Terlihat Arvas dan beberapa orang telah istirahat, dan hanya menyisakan beberapa pengawal untuk berjaga.
"Apakah barang barang kita aman disana?"
"Aku dengar tadi tuan menelpon Mateow dan semua aman" Jawab salah satu pengawal.
"Syukurlah"
Terlihat pengawal sedang berkumpul di depan yact dan belakang yact, mereka memainkan kartu uno untuk menghilangkan rasa bosan agar tidak tertidur.
"Tapi aku dengar putri perdana menteri yang hilang minggu lalu ada disana"
"Benarkah? Tuan pasti tidak bisa menjamin dia akan hidup, kau tahu wanita itu sangat menyukai tuan"
"Tuan memang tampan, jad....."
Dorrrr
"AKHHHH"
"BERSIAP SEMUANYA! KITA DISERANG!!!"
"Cepat kau panggil tuan dan Zack"
Salah satu pengawal pun berlari masuk kedalam yact untuk memanggil Arvas dan Zack.
"Kita diserang tuan" Lapor pengawal itu setelah sampai didepan pintu kamar Arvas.
Arvas dan Zack memiliki kamar yang bersebelahan, tidak perlu membangunkan karena kedua pria itu tidak akan tidur nyenyak, apa lagi dalam keadaan seperti ini. Mendengar suara tembakan keduanya langsung terbangun dan keluar dari kamar.
"Ayo"
"Mereka menyerang dari dua sisi tuan, salah satu pengawal tertembak" Info pengawal itu.
"Jangan terlalu dekat dengan yact kita dan kapal kecil, itu akan memberi mereka peluang besar untuk menghabisi kita secara bersamaan" Ucap Zack.
"Baik Zack, aku akan memberitahu mereka" Pamit pengawal itu dan berlalu pergi.
Arvas mengeluarkan Raging Bull 454 milik nya, Arvas mengecek bahwa peluru nya telah siap untuk menghabisi lawannya malam ini.
"Ini tuan"
Zack menyerahkan sebuah belati kecil berwarna perak dengan hiasan berbentuk ular di gagangnya, belati itu juga salah satu senjata kesayangan Arvas untuk membunuh musuh nya dari jarak dekat.
Arvas dan Zack pun berlari keluar Yact, terlihat pertarungan antar peluru atau pun baku hantam di yact Arvas ataupun anak buah nya. Begitu cepat musuh menyerang seakan tanpa persiapan, bahkan mereka menyerang secara terang-terangan.
"Tetaplah didekat ku tuan" Ucap Zack dan mulai menyerang.
Dorrr
Dorrr
Dorrr
Suasana hening lautan kini berubah menjadi hiruk piruk antar dua kubu, ketenangan yang tadi mengiringi perjalanan mereka kini sudah berubah menjadi kekacauan.
Mereka sudah menetralisir bahwa kejadian ini kemungkinan besar akan terjadi, sebab itu mereka mempersiapkan bagian besar penjaga dan pengawal agar tidak kalah jumlah. Bahkan persiapan senjata juga tak kalah matang, karena dari awal sudah sadar ada yang mengawasi pergerakan mereka menuju pulau Tripszilla.
Tappp
Bughh
Seseorang mendarat tepat dihadapan Arvas dan hendak memukul bagian vital Arvas, tetapi tidak semudah itu jika pria ini sangat peka akan sesuatu.
"Akhirnya aku berhadapan langsung dengan ketua Dark Ghost" Ucap pria itu dengan seringaian nya.
Dark Ghost adalah nama klan mafia yang dipimpin oleh Arvas, dulu klan ini bernama Arcane Death saat klan masih di pimpin sang kakek tetapi semua nya dirubah setelah berada di tangan Arvas.
Sempat ditentang anggota keluarga lain saat Arvas mengganti semua peraturan bahkan nama klan, tapi siapa yang berani menentang pria itu? Tentu saja tidak ada.
"Senang bertemu dengan mu Lexis Argland" Jawab Arvas dengan wajah datar.
Lexis Argland adalah ketua mafia Dragon Black, rival Arvas baik didunia bisnis bersih maupun dunia bawah tanah. Perseteruan yang sudah terjadi sejak jaman kakek mereka hingga kini mereka lah yang melanjutkan, Arcane Death tidak pernah kalah melawan Dragon Black sehingga menimbulkan dendam kesumat sampai saat ini.
Setiap pertarungan mereka Dragon Black lah yang rugi besar besaran karena kehilangan wilayah nya dan juga anak buah nya. Lexis yang merasa dirinya mampu melawan Arvas pun dengan berani mengusik wilayah pria ini, tidak tahu apakah Lexis berhasil menenggelamkan nama Arvas kali ini setelah nama ayah nya yang di tenggelamkan Arvas saat Arvas berusia 20 tahun.
Rasa dendam dan amarah yang menggebu dihati Lexis membuat pria berusia 27 tahun ini mengambil langkah gegabah, Lexis secara terang terangan mengusik wilayah Arvas dengan cara mencuri senjata senjata Arvas yang akan dijual kepada rekan kerja Arvas.
Arvas yang merasa urusan klan nya dengan Dragon Black telah selesai pun langsung tersulut emosi, Arvas tidak pernah menyerang seseorang lebih dulu jika tanpa alasan.
"Kali ini kau yang akan mati bajingan"
Arvas tersenyum miring "benarkah? Ataukah kau yang pergi menyusul ayah mu? Bukankah kau merindukan nya Lexis?".
"BAJINGAN!!"
Bughhh
Bughhh
Bughhh
Baku hantam pun terjadi di antara keduanya, terlihat keduanya memiliki kekuatan yang seimbang dengan tubuh yang sama-sama tegap.
Arvas dengan sigap menangkis segala pukulan yang dilayangkan Lexis kepadanya, Arvas juga langsung membalas serangan Lexis dengan teliti.
Bughhhhh
Srettttt
Belatih Arvas melayang dan mengenai bagian dada Lexis membuat luka menganga disana.
"****! Rasakan ini bajingan!"
Bughhh
Bughhh
Lexis membalas serangan Arvas dengan brutal, tetapi Lexis juga kesulitan karena luka yang diberikan Arvas begitu menyakitinya dan juga dalam.
Bughhh
Satu bogeman melayang tepat di rahang Lexis hingga membuat pria itu terhuyung kebelakang, darah segar keluar dari lobang hidung Lexis, kepala Lexis juga mulai berdenyut karena bogeman Arvas. merasa dirinya mulai kehabisan energi dan merasa juga akan kalah melawan Arvas, Lexis berlari menjauhi Arvas.
"Jangan lari kau bajingan!" Teriak Arvas.
"Kejar Lexis!" Teriak Zack pada beberapa pengawal nya.
Terlihat begitu banyak tubuh dengan bersimbah darah telah terkapar di atas Yact kubu Arvas, pengawal Arvas mencoba untuk mengejar kubu Lexis yang tersisa tetapi gagal karena ada bantuan helikopter dari pihak kubu mereka.
"Tidak terkejar tuan!"
"Kembalilah, dia akan mati pada waktunya. Kabarkan pada Mateow untuk langsung menyerang jika ada pergerakan dan percepat Yact ini" Titah Arvas.
"Baik tuan" Jawab Zack dan langsung mengambil ponsel yang ada di dalam saku nya.
Arvas berjalan kembali menuju kamar nya untuk membersihkan tubuh nya, Arvas terkena beberapa cipratan darah saat melawan pengawal Lexis.
Drtttt
Drtttt
Drtttt
Arvas yang tadinya hendak membuka baju pun urung karena ponsel nya yang bergetar, Arvas melihat panggilan masuk dari Vivian
Arvas mengerutkan kening nya dan melihat jam, ternyata waktu menunjukkan pukul 02:25 tetapi kenapa wanita ini menelponnya? Tadi orang kepercayaan Arvas menelpon bahwa Vivian tetap berada di kamar setelah kepergian nya, lalu apa yang membuat Vivian menelpon Arvas tengah malam begini?.
"I....."
"Kamu kenapa lama banget sih? Aku tuh udah dari satu jam yang lalu nelponin kamu terus tau? Kamu kemana sih? Bisa ga kalau aku nelpon itu langsung di angkat? Bisa ga sih, sok jadi paling sibuk? Bis...."
"Sayang dengar dulu, ak...."
"APA!!!" bentak Vivian.
Arvas terjingkat kaget karena teriakan Vivian, Arvas mencoba menahan emosi nya agar tidak membalas bentakan Arvas.
"Maaf ya sayang, aku kan lagi di perjalanan jadi tadi aku lagi di luar kamar sedangkan ponsel aku dikamar, kamu kenapa hem? Udah jam berapa ini tapi kamu belum tidur, ada apa?"
"Aku badmood" Keluh Vivian.
"Perempuan kalau badmood suka ngajak ribut pasangan yah" Gerutu Arvas dalam hati.
"Jangan mengumpati ku dalam hati tuan Arvas!"
"Enggak, kamu nuduh aku. Emangnya badmood kenapa cantik?" Tanya Arvas dengan suara lembut.
"Kak Abel, aku sebel karena dia terus bertanya hal hal yang tidak ingin aku jawab. Bisa ga sih nikahnya dicepetin aku mau serumah sama kamu aja"
Arvas terkekeh "semuanya sudah di tentukan sayang, bersabarlah sebentar lagi oke, yasudah kamu tidur ya sudah malam"
"Yasudah deh, good night sayang"
Tuttttt
Vivian langsung mematikan sambungan telepon nya secara sepihak.
Arvas hampir saja tersulut emosi saat Vivian membentak dan berteriak kepadanya tadi, sepertinya Arvas harus memperluas kesabarannya untuk kedepannya, karena tidak lama lagi Arvas akan menghadapi berbagai ujian yang sebelumnya tidak pernah di bayangkan nya.
Di luar kamar Arvas, beberapa pengawal setengah mati menahan tawa mereka saat mendengar obrolan Arvas dan Vivian di telpon, bagaimana tidak dengar jika pintu kamar sang tuan tidak tertutup sepenuhnya nya.
Para pengawal merasa ini adalah hal baru, dimana singa jantan seperti Arvas akan kalah dengan singa betina segalak Vivian, tidak tahu pemandangan selucu apa yang akan mereka hadapi jika keduanya sudah berada di satu atap yang sama.
"Sedang apa kalian?"
Brukkkk
"Zack! Kau ini seperti hantu, mengejutkan saja" Gerutu salah satu pengawal yang sedari tadi menguping didepan kamar Arvas.
"Bagus aku yang mengetahui nya, jika tuan? Mungkin saat ini juga kepala dan tubuh kalian akan terp...."
"Suttt berisik, ga seru Zack. Ayo kita kembali ke kamar" Ajak nya pada beberapa teman yang juga berada disana.
Zack menatap datar kepergian anak buah nya, lalu berlalu kedalam kamar.
"HAHAHAHAHA" Zack tertawa terpingkal pingkal setelah memastikan pintu nya terkunci.
"Aku tidak tahu apakah aku dapat menahan tawa jika tuan dan nona muda sudah menikah nanti, kau benar benar hebat nona Vivian hahaha" Kelakar Zack. Asisten kurang ajar!.