
𝙃𝘼𝙋𝙋𝙔 𝙍𝙀𝘼𝘿𝙄𝙉𝙂 𝙂𝙐𝙔𝙎 💜
Di pagi yang sangat cerah, Vivian berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan dimana keluarga nya yang lain sudah menunggu.
Sebenarnya Vivian begitu malas melakukan sarapan bersama keluarga nya, apa lagi tahu bahwa samuel masih saja disini bersama istrinya. Tapi mau bagaimana lagi?
"Hufffff" Terdengar helaan nafas Vivian saat memasuki ruang makan keluarga.
Crakkkk
Bughhh
Vivian membanting bokong nya di kursi makan yang berjarak 2 kursi dengan kursi ibu tirinya, sangat malas melihat wajah-wajah menyebalkan.
Julio memandang lekat wajah putrinya, wajah Vivian membuat perasaan Julio bercampur aduk antara rindu, benci dan cinta menjadi satu.
"Ehem" Dehem Anin saat menyadari Julio termenung sembari memandang wajah cantik Vivian.
Julio yang sadar pun langsung mengalihkan pandangan nya "Mari makan" Ucap Julio dan memulai sarapan pagi ini.
Sarapan pagi dengan penuh keheningan pun dimulai, hanya ada suara sendok dan garpu yang berdenting dengan piring. Bukankah memang selalu begitu?
Drtttt
Drtttt
Drtttt
Ponsel Vivian bergetar, Vivian melirik dan mendapat satu panggilan dari orang yang tak dikenal nya.
Vivian milirik Julio sekilas dan langsung menyambar ponsel nya, lalu langsung mengangkat panggilan yang belum terputus.
"Halo" Ucap Vivian setelah panggilan terhubung.
"......."
Vivian hanya diam dan mendengarkan apa yang diucapkan dari seberang sana "Baiklah, aku akan bersiap".
Vivian menutup panggilan yang tidak tahu dari siapa dan langsung beranjak berdiri untuk meninggalkan ruang makan, padahal sarapan nya pagi ini masih dimakan beberapa suap saja.
" Mau kemana? Selesaikan sarapan mu" Titah Julio dengan wajah datar.
Tanpa memandang atau pun menjawab, Vivian berlalu pergi begitu saja tanpa mengindahkan ucapan sang papa.
"Anak itu memang tidak tahu sopan santun" Ketus Anin memandang kesal kepergian Vivian. Julio menghela nafas melihat pancaran kebencian dari mata sang istri yang diarahkan pada putrinya. Namun dirinya tidak mampu untuk membuat rumah ini di penuhi rasa cinta lagi.
•
Vivian memasuki kamar nya dan langsung bersiap setelah menerima panggilan telepon tadi. Vivian mengenakan stelen one set berwarna coklat muda dan di padu dengan sepatu berwarna putih. Tidak lupa pula sebuah tas kecil yang senada dengan pakaian nya, bertengger dibahu nya.
Setelah selesai Vivian berjalan menuruni anak tangga dan melihat kehadiran Abel disana, dan itu cukup merusak mood nya. Sedari dulu mereka memang tidak pernah akur, apa lagi dulu ketika Abel membuat salah Vivian lah yang menjadi tersangka atas tuduhan Abel, Vivian yang baik hati pun selalu memaafkan nya dan membantu nya dalam segala hal. Namun kali ini kesalahan Abel tak dapat lagi di toleransi oleh Vivian, sebab itu Vivian selalu menghindari percakapan intens dengan Abel.
"Mau kemana kamu?" Tanya Abel memandang penampilan Vivian dari atas sampai bawah, sarapan belum selesai dan wanita ini ingin pergi? Pikir Abel.
Vivian memandang malas "Kepo" Jawab Vivian dan berlalu begitu saja meninggalkan Abel yang memandang nya dengan dongkol.
Vivian langsung menuju garasi untuk mengambil mobil nya, Bentley Mulliner Bacalar berwarna biru mobil kesayangan Vivian yang dihadiahkan oleh Victor saat usia Vivian menginjak 17 tahun. Memang baru setahun mobil mewah itu Vivian miliki karena sebelumnya Vivian sangat jarang mengendarai mobil sendiri.
"Pak Mul, mobil Vivi udah selesai?" Tanya Vivian pada pak Mul, Vivian sempat mengirimi pak Mul pesan untuk menyiapkan mobil nya.
"Sudah non, mau bapak antar saja?" Tawar pak Mul.
"Emm, engga deh. Vivi pergi sendiri aja" Tolak Vivian dengan senyuman.
"Hati hati ya non"
"Dahh.. Pak Mul" Ucap Vivian melambaikan tangan dan melajukan mobil nya meninggalkan pekarangan rumah mewah.
Vivian mengendarai mobil nya dengan santai sembari menikmati lalu lintas jalanan kota Meksiko. Semenjak pulang dari boston, Vivian memang belum menyempatkan diri untuk berjalan-jalan terlebih pernikahan Abel yang menguras tenaga dan batin.
"Kok macet sih" Kesal Vivian saat mendapati kemacetan yang ada dihadapan nya, tidak di pungkiri jam segini adalah jam-jam nya macat disetiap jalan.
Tinnn
Tinnn
Tinnn
"Apaan sih!" Getutu Vivian saat mobil yang dibelakang nya terus membunyikan klakson, dan itu cukup mengganggu Vivian yang juga mulai jengah melihat kemacetan yang tak kunjung usai.
Tinnn
Tinnn
Tinnn
"WOYYYY!" teriak Vivian sembari mendongakkan kepalanya melalui jendela mobil, apakah pengendara itu tidak punya otak? Pikir Vivian.
Tinnn
Tinnn
Tinnn
"Brengsek!"
Brakkk
Vivian keluar dari mobil nya dan langsung menghampiri pengemudi yang terus memencet klakson mobilnya, bukan hanya Vivian yang terganggu tentu saja pengendara lain juga merasa kebisingan.
Tokk
Tokk
Tokk
Sang empunya kuda besi mewah itu pun keluar dari mobil.
Terlihat seorang pria tampan dengan stelan serba hitam yang dipadu juga dengan kaca mata hitam sedang berdiri dihadapan Vivian. Pria itu menatap wajah cantik Vivian dengan begitu lekat, kecantikan bak dewi yang membuat mata siapa saja enggan berpaling.
Vivian mengernyitkan dahi nya saat melihat pria berisik itu terdiam membatu sembari memandang wajah nya.
"WOYYY!"
Seketika pria tampan itu pun tersadar dari lamunan nya dan memberikan senyuman bodoh kearah Vivian.
"Maaf membuat mu tidak nyaman, aku hanya sedang terburu buru" Ucap pria tampan itu.
"Aku juga buru buru jadi harap mengerti!" Ketus Vivian dan berlalu begitu saja kembali ke mobilnya.
Senyum tipis tersemat dibibir tipis pria itu, wajah cantik nan menggemaskan Vivian membuat dunia nya teralihkan, bukan hanya pria ini. Setiap lelaki yang melihat Vivian pasti akan terpesona akan kecantikan nya.
"Sok ganteng banget! Dikira dia aja yang sibuk" Gerutu Vivian setelah masuk kedalam mobil nya dengan hati yang sedikit kesal.
Setelah beberapa saat kemudian, kemacetan pun berakhir dan Vivian pun bisa kembali melanjutkan perjalanan nya.
Vivian menikmati perjalanan pagi menjelang siang hari ini menuju suatu tempat. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit karena terjebak macet, mobil Vivian pun memasuki pekarangan perusahaan terbesar yang ada di Meksiko, gedung pencakar langit yang dulu nya sering Vivian kunjungi.
Citttt
"Selamat siang nona muda" Sapa satpam yang menjaga di depan pintu utama perusahaan.
"Siang Pak" Jawab Vivian dan berjalan memasuki perusahaan setelah memberikan kunci mobil nya pada sang satpam.
•
Di perusahaan AR Company tepatnya di lantai paling atas, Victor sedang duduk disofa yang ada diruangan nya bersama beberapa tamu penting nya. Terlihat pembicaraan serius yang sedang mereka lakukan. Walaupun sudah berumur 60 tahun, tidak sedikit pun mengurangi kewibawaan dan ketampanan seorang Victor Aldirch.
Victor hanya memiliki seorang putri bernama Regeta dan itu adalah ibu kandung Vivian. Niat awal ingin memberikan seluruh harta nya pada Julio itu menjadi urung karena perlakuan menantunya kepada putri dan cucu nya. Jujur saja, Victor masih tidak Terima atas perlakuan Julio pada regeta dulu. Penghianatan yang diberikan Julio membuat regeta begitu terpukul, hingga akhirnya Vivian kehilangan ibunya, gadis yang malang.
Itu sebabnya Victor masih bekerja dan memimpin perusahaan nya hingga kini, Victor juga akan memberikan perusahaan ini kepada Vivian dan akan dikelola oleh Vivian sendiri atau bersama suami nya nanti. Hanya Vivian lah satu satu nya pewaris yang Victor miliki setelah kepergian Regeta
"Senang bisa bekerja sama dengan AR Company tuan Victor, terlebih anda adalah orang yang begitu berpengalaman" Ucap salah satu klien Victor.
"Jangan terlalu menyanjung ku, setelah cucu ku menyelesaikan pendidikan nya, kalian akan berhadapan dengan nya bukan aku lagi" Jawab Victor.
Semua orang yang ada diruangan itu tersenyum mendengar jawaban Victor, siapa yang tidak tahu cucu semata wayang keluarga Aldirch, gadis pintar yang memiliki IQ tinggi.
Siapa juga yang tidak tahu, sikap Victor yang begitu memanjakan cucu nya tetapi tidak membuat sang cucu besar kepala.
Sehingga Vivian dikenal sebagai anak yang begitu berharga dan keluarga nya begitu beruntung karena memiliki gadis cantik itu, tapi siapa yang tahu dirumahnya sendiri Vivian dianggap seorang musuh oleh ibu dan saudara tirinya.
Tok
Tok
Tok
Ceklekk
"Kakek" Panggil Vivian dengan pelan sembari menimbulkan kepalanya disela pintu, tamu Victor langsung menoleh dan tersenyum ramah melihat orang yang baru mereka bicarakan datang.
"Kau sudah datang nak?" Jawab Victor.
"Kakek sedang ada tamu, Vivi akan menunggu didepan. Permisi tuan dan nyonya" Pamit Vivian dengan sopan dan kembali menutup pintu ruangan kerja Victor.
"Cucu mu begitu menggemaskan tuan Victor, jika saja belum ada yang memiliki nya, dia pas...."
"Vivi sudah memiliki calon suami tuan, aku tahu mana yang terbaik untuk cucu ku" Jawab Victor menyela ucapan salah satu pria paruh baya yang akan bekerja sama dengan nya, Victor sudah tahu arah pembicaraan klien nya. Bukan dia orang pertama kali yang mengajukan diri untuk menjadikan Vivian sebagai menantu dirumah nya, hanya saja Victor tidak semudah itu untuk melepas cucu kesayangan nya.
Pria paruh baya itu hanya bisa tersenyum kecut, siapa yang tidak ingin menjadikan gadis cantik dan sopan milik keluarga Aldrich itu sebagai menantu.
Hanya saja selama ini mereka terhalang oleh kehadiran Samuel yang menjadi pemenang hati Vivian, kabar bahwa Samuel menikahi Abel pun membuat para orang tua berharap Vivian akan menjadi menantu mereka.
Tetapi itu semua pupus ketika mulut Victor sendiri yang mengatakan bahwa sang cucu sudah dipilihkan seorang pria oleh kakek nya sendiri, siapa yang berani merubah keputusan Victor Aldirch? Terlebih pria yang dipilihkan untuk Vivian adalah pria yang disegani di mana-mana.
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙘𝙤𝙢𝙢𝙚𝙣𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙟𝙖𝙠 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙮𝙖 𝙜𝙪𝙮𝙨. 𝙗𝙚𝙧𝙞 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙡𝙞𝙠𝙚, 𝙘𝙤𝙢𝙢𝙚𝙣𝙩, 𝙨𝙪𝙗𝙨𝙘𝙧𝙞𝙗𝙚 𝙨𝙚𝙧𝙩𝙖 𝙧𝙖𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙪𝙥𝙙𝙖𝙩𝙚 🥰 𝙨𝙚𝙚 𝙪 𝙖𝙜𝙖𝙞𝙣 😗