THE ARVAS

THE ARVAS
BAB.7 HAL TERINDAH



HAPPY READING BESTIE 🥰


Vivian masih asik dengan game nya, seperti tidak terganggu dengan kehadiran Zack disana yang sedang membicarakan beberapa pekerjaan dengan Arvas. Bukan tidak dengar, Vivian hanya menulikan telinganya saja karena tidak ingin ambil pusing akan pekerjaan calon suami nya. Ada masanya Vivian ikut campur akan semua urusan Arvas tapi tidak untuk sekarang.


"Sayang" Panggil Arvas dan membuat Vivian menoleh padanya.


Arvas bangkit dari kursi nya dan mendekati sofa dimana Vivian duduk sembari memangku IPadnya. Arvas mengulurkan tangan nya dan langsung digapai oleh Vivian.


"Sudah?"


"Sudah, mau kemana setelah ini?"


"Taman bagaimana?"


Arvas hanya mengangguk sekali, seketika senyum cerah secerah cuaca hari ini terbit diwajah cantik Vivian membuat hati Arvas menghangat.


"Tunggu" Ucap Vivian saat mereka hendak keluar dari ruang kerja Arvas.


"Aku belum mengenalnya" Ucap Vivian menatap sekilas Zack dan beralih ke wajah tampan calon suaminya.


"Saya Zack, nona muda. Asisten tuan muda Arvas" Ucap Zack memperkenalkan diri sembari membungkukkan tubuh nya sebagai tanda penghormatan.


"Hay Zack, aku Vivian. Aku calon istri Arvas"


"Senang bertemu dengan anda nona muda"


Vivian sudah sangat sering menghadapi orang orang berwajah kaku dan berhati datar seperti mereka, sehingga tidak ada rasa kesal dihati Vivian saat mereka menanggapi dengan acuh.


"Ayo sayang"


Keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka dengan Zack di belakang nya, seluruh mata terus memandang mereka dengan tatapan yang berbeda-beda, ada pandangan kagum pada kecantikan Vivian, ada pandangan kagum pada kegagahan Arvas, dan ada pandangan iri benci pada Vivian yang berhasil sedekat itu pada Sang CEO.


Arvas pun langsung melesatkan mobilnya pergi meninggalkan pekarangan kantor, Zack sendiri entah pergi kemana dengan mobil pribadinya.



Vivian terus menatap gemerlap dan keramaian kota meksiko disiang menjelang sore ini, Vivian memang anak yang sangat aktif bahkan dia tidak pernah berdiam diri dirumah. Bahkan ketika di boston, Vivian menjalani hidupnya dengan begitu bebas.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, Trevita berwarna hitam mewah itu pun berhenti di sebuah taman yang ada di pusat kota, taman dengan danau buatan ditengah nya dan ditumbuhi berbagai macam warna bunga disekitarnya.



"Ini taman kesukaan ku, darimana kamu tahu?"


"Aku tahu semua tentang mu sayang" Jawab Arvas sembari mengikuti langkah kecil Vivian.


"Terakhir kali kemari saat aku ingin berangkat ke Boston, jika bukan karena paksaan dari papa aku tidak akan meninggalkan kota ini" Ucap Vivian menatap sendu sekeliling taman.


Vivian menghentikan langkah nya "aku ingin ice cream, apakah boleh?" Tanya Vivian menatap lekat wajah Arvas.


Arvas mengangguk "tunggu disini sebentar dan jangan kemana mana" Ucap Arvas dan berlalu pergi.


Vivian duduk di bangku taman yang menghadap ke danau buatan, Vivian diam dengan mata yang terus tertuju pada keindahan taman itu. Begitu banyak kenangan yang ada disini.


Terlebih kenangan Vivian bersama sang ibu, Regeta dulu sangat sering mengajak Vivian ke taman ini sehingga membuat Vivian sering mendatangi tempat ini kala merindukan sang ibu.


Arvas berjalan menuju minimarket terdekat


"Jaga saja dari jauh, dia tidak suka jika merasa diawasi" Ucap Arvas pada seseorang yang ada di sambungan telepon genggam nya.


Arvas meninggalkan Vivian sendiri bukan tanpa pengawasan, tanpa Vivian ketahui ada beberapa pengawal Arvas yang menyamar di sekeliling taman untuk menjaga calon nyonya muda Arlington itu.


Arvas cukup tahu tabiat istrinya yang sangat benci akan kekangan, tentu saja Victor melakukan hal yang sama terhadap Vivian jika Vivian berpergian tanpa siapa pun. Vivian akan marah besar jika tahu bahwa dirinya selalu diawasi seperti seorang tahanan, sebab itu selama ini Victor dan Arvas menjaga Vivian dengan cara diam-diam.


Arvas masuk kedalam minimarket itu dan langsung memilih ice cream kesukaan Vivian, semua mata pengunjung tertuju pada paras tampan nya yang sangat mencolok.


"I...ini saja tuan?"


"Hem.."


Penjaga kasir saja melayani Arvas dengan tangan bergetar, bukan karena keprivasian hidup membuat tidak satupun orang mengetahui paras tampan tuan muda Arlington, Arvas cukup sering datang ke taman ini sehingga penjual sekitar taman sudah tahu siapa dirinya.


Arvas langsung menoleh dan melihat wanita muda dengan pakaian minim dan make up yang sangat tebal, Arvas menebak wanita ini berumur 25 tahun kurang lebih.


"Kau sangat tampan dan tubuh mu begitu menggoda" Ucap wanita itu dengan suara yang mendayu dayu, sembari meraba dada bidang Arvas.


Seketika tangan Arvas mengepal kuat karena sentuhan dari wanita ini.


Plakkkk


Dorrrrrr


"AAAAAAAAAAAAA"


"Ehhh.. Apa tuh? Seperti suara tembakan" Terkejut Vivian saat mendengar suara yang begitu nyaring.


Vivian langsung berdiri dari duduk nya dan hendak berjalan meninggalkan taman, entah mengapa pikiran nya langsung tertuju pada Arvas yang tadi sedang membeli ice cream untuk nya.


"Kakak cantik!" Teriak seorang gadis kecil sembari memegang setangkai bunga tulip di tangan nya, dan berlari menuju kearah Vivian.


"Hay, kamu kenapa berlari lari heem? Dengan siapa kamu disini?" Tanya Vivian sembari berjongkok didepan gadis kecil itu.


Gadis kecil itu memberikan setangkai bunga tulip berwarna putih kepada Vivian "untuk kakak cantik karena kakak cantik seperti bunga tulip ini"


"Kamu manis sekali sayang, terimakasih dan tulip memang bunga kesukaan kakak" Ucap Vivian menerima bunga tulip itu.


"Sayang"


"Arvas? Aku tadi ingin menyusulmu tapi ada gadis kecil menghampiri ku dan memberikan bunga ini"



"Dah... Kakak cantik" Ucap gadis kecil itu dan berlari menjauh.


"Ehh, nama kamu siapa sayang?" Teriak Vivian tetapi tidak diperdulikan gadis kecil itu.


"Sudahlah, ini ice cream nya"


"Wahh rasa taro, ini kesukaan ku. Dari mana kamu tahu?"


"Semua tentang mu, aku mengetahui nya" Jawab Arvas dan memberikan ice cream taro itu pada Vivian setelah membuka bungkus nya.


"Aku tadi mendengar suara letusan seperti suara tembakan, sebab itu aku ingin menyusul mu karena aku khawatir"


"Mungkin ban mobil pengendara yang lewat"


"Benar juga, baju kamu kok berubah sih? Tadi kan bukan pakai setelan jas ini" Tanya Vivian.


"Tadi ada orang yang tanpa sengaja menumpahkan minuman di jas ku, itu sebabnya aku berganti pakaian" Ucap Arvas.


Tentu saja itu semua alasan, wanita yang sempat menggoda Arvas tadi telah tewas didepan mata pengunjung dan kasir minimarket, wanita itu ditembak tepat dibagian kepala nya dan darah segar nya mengenai pakaian Arvas sehingga Arvas harus mengganti nya.


Gadis kecil yang menghampiri Vivian tadi rupanya suruhan salah satu pengawal Arvas, tidak tahu dapat anak dari mana sehingga mereka mampu menahan Vivian yang akan menyusul Arvas.


Arvas tahu bahwa status nya sebagai pimpinan mafia terkuat sudah tersebar dimana mana, hanya saja Arvas tahu bahwa Vivian sangat membenci kekerasan sehingga sebisa mungkin Arvas menghindarkan Vivian dari hal hal yang membuat Vivian tidak nyaman.


"Apa pun itu Viv, sekarang bukan lagi nyawa dan harta ku yang harus aku jaga melainkan diri mu. Tidak akan ku biarkan barang satu ekor nyamuk pun menyakiti mu, kau hidup ku Viv, kau jiwa ku. Kau lebih berharga dari apa pun yang ada didunia ini, kau hal yang paling indah dan begitu cantik yang ku miliki, segalanya untuk mu Viv, Sekuat mungkin aku menjaga mu jadi maaf jika aku harus berbohong seperti ini karena ini semua demi dirimu" Batin Arvas bermonolog dalam hati.


.


.


.


.


𝙏𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙨𝙩𝙖𝙮 𝙙𝙞 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙣𝙞, 𝙮𝙪𝙠 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙧𝙖𝙢𝙚𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙞𝙖𝙧 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩. 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙡𝙞𝙠𝙚, 𝙘𝙤𝙢𝙢𝙚𝙣𝙩, 𝙨𝙪𝙗𝙨𝙘𝙧𝙞𝙗𝙚 𝙙𝙖𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙧𝙖𝙩 𝙮𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧.


𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 😗🥰