THE ARVAS

THE ARVAS
BAB.3 SUGAR DADDY



π“—π“π“Ÿπ“Ÿπ“¨ π“‘π“”π“π““π“˜π“π“–πŸŒΈπŸŒΈ


Dengan hati yang dongkol, Vivian kembali ke aula pernikahan dan duduk tepat disamping kakek nya. Pria tua yang sedang memakai setelan jas berwarna coklat itu tersenyum lembut kearah cucu nya. Wajah cantik cucunya yang selalu mengingatkan dirinya, akan wajah sang pujaan hati dan putri tercinta.


Victor Aldirch, seorang pria tua kaya yang menduduki posisi orang terkaya kedua setelah keluarga Arlington.


Nama belakang Vivian dulunya Lembert, tetapi diganti menjadi Aldirch sama seperti Victor karena tahu mantan menantunya itu sering menyakiti hati cucu cantik nya, lagi pula hanya Vivian lah satu satu nya pewaris yang Victor miliki.


"Kau sakit hati dengan pernikahan mereka?" Tanya Victor sembari mengelus lembut surai Vivian.


"Tidak, aku bersyukur karena Tuhan memperlihatkan keburukannya lebih awal" Jawab Vivian menyenderkan kepalanya dibahu sang kakek. Tidak munafik, Vivian memang sakit hati hanya saja untuk apa menangisi pria yang tidak tahu diri.


"Per......"


"Permisi tuan besar" Ucap salah satu pelayan wanita yang mendekati dua orang yang berbeda generasi.


"Ada apa?" Tanya Victor.


"Mereka sedang menunggu anda" Jawab Sang pelayan dengan sopan.


Victor tersenyum samar dan langsung melirik cucu nya yang sedang memainkan ujung jas nya, terlihat seperti anak kecil dan sangat menggemaskan.


"Ayo ikut kakek" Ajak Victor dan Vivian pun hanya mengikut saja.


Victor dan Vivian berjalan melewati beberapa tamu yang menyapa mereka, hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah meja bulat yang diisi oleh sepasang suami istri paruh baya.


"Dimana ayah mu?" Celetuk Victor.


"Paman, aku tidak tahu kau tadi dimana jadi ku suruh pelayan memanggil mu" Jawab pria paruh baya yang duduk berdampingan dengan istrinya.


Pria itu pun berdiri dan Mereka pun saling memberikan pelukan hangat satu sama lain.


"Mereka pasti orang tua Arvas" Batin Vivian.


Keluarga Arlington terbilang memiliki privasi yang ketat, tidak ada media yang berani mengunggah tentang keluarga itu.


Sehingga wajah mereka jarang sekali terekspos, hanya orang tertentu saja yang mengetahui wajah wajah keluarga kaya itu. Hanya satu berita tentang kekejam Arvas dan juga tentang Arvas yang dikatakan dalam berita bahwa pria gagah dan tampan itu sangat anti dengan wanita, tetapi setiap berita yang mengunggah berita Arvas tidak pernah mencantumkan poto nya.


Sehingga Vivian tidak tahu seperti apa wajah Arvas dan bagaimana wujudnya, Vivian acuh saja atas pemikiran nya yang satu itu. Jika Arvas pilihan kakek nya berarti sudah lebih dari baik untuk menjadi pendamping hidup nya.


"Vivian, kau cantik sekali nak, putraku sangat beruntung mendapatkan wanita seperti dirimu" Puji wanita paruh baya dengan senyum lembut.


"Nah kan benar" Tebak Vivian dalam hati.


"Senang bertemu dengan mu bibi" Ucap Vivian menyalami sepasang paruh baya didepannya dengan sopan.


Lucian Arlington dengan Camila Arlington, pasangan paruh baya keluarga Arlington, siapa lagi jika bukan orang tua Arvas.



(Lucian Arlington dan Camila Arlington)


"Maaf paman, kau tadi bertanya tentang ayah ku bukan? Dia hanya menitipkan hadiah karena kesehatannya sedang tidak baik" Jawab Lucian.


Victor hanya mengangguk paham jawaban yang dilontarkan Lucian kepadanya, memang sahabat nya itu sudah mulai sering sakit-sakitan setelah segalanya diambil alih oleh sang cucu. Victor menamainya sebagai "PRIA TUA MANJA".


"Cucu mu sangat cantik paman, dia sangat cocok dengan Arvas" Ucap Lucian tersenyum lembut pada Vivian.


"Kau benar sayang, putra kita sangat beruntung mendapatkan gadis sepertinya" Ucap Camela menambahkan.


"Kami sama sama beruntung paman bibi" Jawab Vivian tersenyum manis.


Hati Lucian menghangat melihat senyum Vivian yang seakan mengingatkan nya pada seseorang.


"Dia sangat sibuk nak, maaf ya dia belum bisa menemui mu" Ucap Lucian dengan sedikit menyesal, putranya itu memang sangat sibuk dan begitu terobsesi akan pekerjaan.


"Tidak apa paman" Jawab Vivian dengan senyum manis.


β€’β€’


Vivian sedang memandang hamparan taman bunga yang ada disamping rumah nya dari teras balkon lantai 2, Vivian menghirup segarnya udara pagi dengan diiringi angin sepoi-sepoi yang menerpa surai indah nya.



"Vivi" Panggil Sam yang tiba tiba muncul dan berdiri tepat disamping Vivian. Vivian memutar bola mata nya malas, kenapa bajingan ini harus tinggal dirumah ini pikirnya.


Sam dan Abel memang masih tinggal dikediaman Julio karena permintaan dari Anin, Samuel memiliki rumah sendiri tetapi untuk beberapa saat Anin memaksa untuk kedua nya tinggal disini lebih dulu.


"Menjauhlah, aku ti....."


"Abel tidak akan cemburu jika kau menerima ku kembali dan menjadi yang kedua" Ucap Sam menyela kata kata Vivian.


"Siapa yang ingin bersamamu lagi, aku hanya takut Arvas mematahkan kepala mu saat melihat calon istrinya didekati bajingan seperti mu" Cibir Vivian dan berlalu meninggalkan Samuel. Samuel memandang sendu kepergian Vivian, wanita ini tidak pernah berbicara seperti itu pada nya dulu, tapi mengingat lagi akan kesalahan yang dibuat nya sehingga membuat Vivian seperti ini.


Vivian masuk kedalam kamar nya dengan bibir mengerucut, perasaan kesal nya kepada Samuel masih ada terlebih harus menghadapi drama keluarga ini setiap harinya. Membuat hati Vivian dongkol dengan segudang emosi dihatinya.


"Menyebalkan" Gerutu Vivian membanting tubuh nya diatas sofa.


"Nona muda, ini jus segar" Ucap wanita paruh baya yang baru saja memasuki kamar Vivian, dengan membawa segelaa jus jeruk.


"Wahh jeruk" Ucap Vivian dengan mata berbinar.


"Terimakasih bibi iyum" Ucap Vivian setelah menerima segelas jus jeruk itu. Wanita paruh baya tadi bernama yumi, yumi adalah babysitter Vivian sedari Vivian bayi sehingga Vivian masih memanggil nya dengan sebutan iyum sama seperti dirinya saat kecil dulu. Bik Iyum merawat Vivian layaknya putri kandung nya sendiri sehingga Vivian tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang walaupun ibu nya telah pergi.


"Sama sama nona muda" Jawab bik Iyum sembari mengelus surai Vivian. "Bibik lihat wajah nona sangat masam saat memasuki kamar tadi, ada apa hem?" Tanya bik Iyum sembari menyelipkan surai Vivian kebelakang telinga, bik Iyum begitu peka atas apa yang dirasakan Vivian.


"Si bajingan itu, kenapa dia dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi terus menawarkan aku agar menjadi istri keduanya" Jawab Vivian dengan kesal.


Bik Iyum terkekeh gemas melihat bibir Vivi yang mengerucut kedepan, walaupun usianya sudah 18 tahun tapi bagi bik Iyum, Vivian tetaplah gadis kecil yang sering bermain bersamanya dulu.


"Oh iya bik, seperti apa wajah Arvas calon suami ku?" Tanya Vivian dengan antusias, Vivian bertanya pada bik Iyum karena bik Iyum pernah bercerita bahwa dirinya dan almarhum mama Vivian pernah membantu Camela menjaga putra semata wayang nya itu, terlebih Camela adalah wanita yang sibuk dengan pekerjaan.


"Yang jelas dia itu sangat tampan, mata nya berwarna Almond dan tatapan nya begitu tajam" Jawab bik Iyum.


"Wahh sepertinya dia akan menjadi type ku" Jawab Vivian dengan wajah berbinar, Vivian jadi membayangkan setampan apa calon suami nya itu.


"Dia milikmu nona muda, setelah menikah nanti pertahankan lah hubungan kalian apa pun yang terjadi karena kalian memang ditakdirkan bersama" Ucap bik Iyum tersenyum lembut.


"Baik bik, walaupun dia sudah tua tapi aku yakin ketampanan nya tidak pudar" Jawab Vivian membuat bik Iyum terkekeh gemas. "Dia sugar daddy ku kan bi, haha lucu sekali ketika pria berumur 30 tahun menikah dengan gadis berusia 18 tahun" Kelakar Vivian yang di barengi dengan tawa renyah nya.


"Tapi dia sangat tampan" Goda bik Iyum.


"Bibik tahu karena dulu menjaga nya bersama almarhum mama" Ucap Vivian.


"Datang lah kepusara nyonya terlebih dulu non, katakan kepada nya jika anak gadis nya ini akan segera menikah dengan pria tampan yang saat kecil dulu sering di timang nya" Ucap bik Iyum tersenyum hangat.


"Aku akan mengunjungi nya nanti" Jawab Vivian, "Aku sangat menyayangi mu bik Iyum, bik Iyum hanya milikku seorang" Ucap Vivian dengan girang dan langsung memeluk bik Iyum.


Seakan kekesalan nya sudah hilang, Vivian tersenyum manis sembari memeluk bik Iyum yang menjadi pengganti ibu nya. Pelukan hangat yang dirindukan Vivian dari sang ibu selalu digantikan oleh bik Iyum yang siap kapan pun dirinya butuh.


"Bibik juga sangat menyayangi nona muda, tapi nona muda akan dimiliki oleh tuan Arvas dalam waktu yang segera" Jawab bik Iyum membalas pelukan Vivian.


Bik Iyum mengusap lembut surai Vivian, wanita imut ini begitu disayangi oleh bik Iyum layaknya seorang anak. Hati bik Iyum juga sakit saat mengetahui bahwa Samuel berselingkuh dengan Abel hingga akhirnya Abel hamil, tanpa memikirkan hati seorang gadis yang sedang mengejar prestasi nya di kota Boston. Tapi bik Iyum cukup lega saat mengetahui Victor menjodohkan Vivian dengan pria yang tepat.