THE ARVAS

THE ARVAS
BAB.13 PERTENGKARAN



Victor masuk kedalam ruangan dimana Vivian dirawat, Victor melihat Vivian yang masih menangis saat dokter mengambil tindakan untuk luka nya.


"Kakek..." Rengek Vivian dan langsung dipeluk oleh Victor.


Victor mengepalkan tangan nya saat melihat luka menganga dikedua kaki mulus milik cucu nya. Victor selama ini selalu berusaha menjaga keadaan Vivian, disaat melihat Vivian terluka seperti ini membuat Victor merasa bersalah karena gagal menjaga nya.


"Luka ini terkena potongan kaca tuan, anda mencabut nya sendiri ya nona?" Tanya dokter itu pada Vivian.


Vivian hanya menyembunyikan wajah nya didada bidang sang kakek, rasa sakit yang diterimanya membuat wanita itu tak mampu lagi mengatakan sepatah kata pun.


"Dia sempat berlari, luka nya semakin parah"


"Lalu?"


"Saya sudah menangani nya, hanya saja nona belum di perbolehkan untuk berjalan untuk penyembuhan secara cepat. Nona Vivian harus full bedrest"


"Akan saya urus"


"Saya permisi tuan Victor, nona Vivian" Pamit dokter itu dan berlalu pergi.


"Hiks hiks hiks" Isak Vivian masih dalam posisi memeluk Victor.


"Ada apa sayang? Beritahu kakek" Pinta Victor sembari menghapus air mata cucu nya.


𝙁𝙡𝙖𝙨𝙝𝙗𝙖𝙘𝙠 𝙤𝙣𝙣:


Vivian baru saja terbangun dari tidur nya, Vivian berjalan keluar kamar dengan masih menggunakan piyama tidur nya yang berwarna merah terang dan terbilang cukup tipis. Vivian sudah terbiasa memakai pakaian minim jadi apa salah nya.


Vivian berjalan menuruni tangga sembari menyapa setiap pelayan yang berselisihan dengan nya, Vivian dapat melihat Abel dan Samuel yang seperti sedang bertengkar diruang keluarga. Vivian tidak perduli dan tetap melanjutkan langkah nya menuju dapur.


"Kamu selalu saja begitu, apa sih yang membedakan aku dengan Vivian? Aku sedang mengandung anak mu Sam"


"Apa yang membedakan mu dengan nya? Ego Bel, ego mu begitu tinggi sehingga aku tidak mampu mengimbangi nya" Jawab Sam dengan emosi yang memuncak juga.


Vivian yang dengar nama nya disebut sebut pun berusaha untuk acuh, walaupun sebenarnya sangat geram mendengar mereka bertengkar dengan menyebut nama nya sedari tadi.


"Egois kamu Sam, kamu bisa mencintai Vivian dengan hebat tapi kenapa aku tidak?!" Bentak Abel.


"Seharusnya kamu sadar Abel! Kau yang sudah menjebak ku jika malam itu tidak terjadi mungkin sekarang aku sudah men...."


Plakkkkk


"Tutup mulut mu bedebah" Maki Vivian setelah tiba tiba menampar wajah tampan Samuel.


"Kau pikir aku mau menikah dengan pria murahan seperti mu? Yang dengan senang hati menabur benih dimana mana? Tidak Sam, aku bersyukur Tuhan menunjukkan pada ku seperti apa dirimu sebelum aku menyesal seumur hidup".


"Dengar dulu Viv, kau tahu ini sem..."


"Diam! Jangan pernah sebut nama ku di pertengkaran kalian, cukup urus rumah tangga kalian jangan pernah menyeret aku kedalam nya"


"Viv, aku masih mencin....."


Plakkkkk


"Apa yang kau lakukan!" Bentak Abel saat Vivian memberikan satu tamparan lagi pada Samuel.


"Apa? Aku hanya menghentikan omong kos..."


Plakkkkk


"Apa yang kau lakukan Abel?!" Bentak Samuel. "Apa kau baik baik saja Viv? Apakah sa...."


"Lepas!"


Pyarrr


Vivian menghempas tangan Samuel hingga tangan Samuel tanpa sengaja menyenggol Vas kaca yang ada dimeja.


"Jangan pernah menyentuh ku dengan tangan kotor mu yang sudah menyentuh banyak wanita" Ucap Vivian.


"Tutup mulut mu sialan!"


Brukkk


"Ahhh" Pekik Vivian saat Abel mendorong nya hingga tersungkur, pecahan kaca itu pun mengenai tepat dikedua lutut Vivian membuat wanita cantik itu meringis sakit.


"Apa yang kalian ributkan!" Teriak Anin yang tiba tiba datang. "Apa kau masih mengganggu Samuel, Viv? Berhentilah menjadi wanita ****** seperti mendiang mama mu"


"Tutup mulut mu!" Bentak Vivian "terserah kau mau menghina ku seperti apa, tapi jangan pernah menghina nama almarhum mama ku. Status mu hanya ibu tiri dirumah ini dan kau juga hanya menyandang nama nyonya Lembert bukan Aldrich. Jangan bangga atas apa yang kau miliki saat ini jika kau mendapatkan nya dengan cara merusak kebahagiaan orang lain".


Anin bertepuk tangan " Hebat sekali putri tiri ku sudah memiliki keberanian mengatakan hal demikian kepada ku, perlu kau ketahui bahwa papa mu tidak pernah mencintai mendiang mama mu. Aku dan Julio sudah menjalin hubungan lama karena kehadiran mama mu lah yang membuat Julio menghindari ku" Ucap Anin "tapi semuanya tidak berlangsung lama, kami bersama lagi karena Julio tidak ingin mempunyai istri yang tidak waras seperti mama mu"


"Tutup mulut mu! Mama ku selalu sehat dia tidak gila, kau yang gila karena sudah merusak kebahagiaan seorang istri dan putri nya" Ucap Vivian.


"Benarkah? Ah tapi sudahlah, paling tidak mama mu sudah tiada saat ini sehingga aku dapat menguasai seisi rumah hahaha" Ucap Anin dengan sombongnya. "Jadi berhentilah mengganggu rumah tangga putri ku jika kau tidak ingin kehilangan apa yang kau miliki saat ini".


Vivian yang sudah tidak sanggup menahan rasa sakit hati dan sakit dikaki nya pun berlalu pergi meninggalkan ruang keluarga menuju garasi.


"Nona muda!" Teriak bik Iyum.


Vivian berlari kedalam garasi dan langsung menyambar kunci mobil nya, Vivian langsung melesat pergi meninggalkan kediaman keluarga Lembert.


"Nona Vivi!" Teriak bik Iyum tapi tidak di perdulikan oleh Vivian.


Vivian menekan gas nya menyalurkan segala emosi yang membuncah didalam dada, Vivian begitu tidak sanggup jika ada orang yang dengan lantang menghina mendiang mama nya.


Hatinya begitu sakit kala mengingat masa masa kelam dimana Vivian harus kehilangan orang yang sangat berarti dihidupnya, lalu harus dihadapkan oleh kenyataan bahwa papa nya telah menikah lagi dan membawa seorang putri.


𝙁𝙡𝙖𝙨𝙝𝙗𝙖𝙘𝙠 𝙤𝙛𝙛:


Tangan Victor terkepal kuat hingga buku buku tangan nya memutih, menahan amarah dan sakit hati setelah mendengar cerita dari sang cucu yang dapat merobek hati nya menjadi hancur.


Victor sadar kesalahan nya yang tidak memaksa Vivian untuk tinggal bersama nya, membiarkan sang cucu tetap berada dirumah itu adalah suatu keputusan yang salah yang pernah di ambil Victor. Bukan kali pertama Vivian menangis karena mulut tajam Anin dan Abel, Victor tahu Vivian tidak akan menangis didepan orang orang itu melainkan menangis sendiri ditempat yang sunyi tanpa siapa pun tahu.


Tapi baru kali ini Vivian sampai terluka, jika dibiarkan kemungkinan besar akan jauh lebih parah atau bisa saja nyawa sang cucu yang akan terancam, karena sampai sekarang tuan besar Lembert hanya mencantumkan nama Vivian sebagai pewaris harta dan menghapus nama Julio yang sebagai putra nya disana. Mungkin itu lah yang membuat Anin dan Abel merasa dendam kepada Vivian.


"A...aku mungkin akan diam jika mereka menghina ku tapi aku tidak akan diam jika ada yang menghina mama, mama adalah wanita terbaik didunia yang sangat mencintai ku. Kenapa mereka begitu jahat kakek? Apa salah mama hingga papa pun mengkhianati nya? Aku terus berusaha untuk tidak membenci papa atas apa yang papa lakukan pada mama, tapi kenapa semakin kesini semakin sakit kakek?" Keluh Vivian.


Victor memeluk cucu nya dengan erat, ingin rasanya Victor membunuh Julio sekarang juga karena tak hentinya menyakiti Vivian setelah menyakiti istrinya dulu, jika bukan karena halangan dari Vivian mungkin saat ini Julio hanyalah tinggal nama.


Pria yang pernah menyandang nama menantu di keluarga Aldrich itu pun tak hentinya membuat masalah, sudah berkali kali Victor memaafkan segala kesalahan yang di buat nya. Lalu apa lagi sekarang?


"Maafkan kakek sayang, maafkan kakek yang tidak memaksa mu untuk tinggal bersama kakek, jika saja waktu itu kau bersama kakek mungkin kau tidak akan semakin sakit seperti ini"


"Kakek tidak salah, aku hanya tidak mampu meninggalkan semua kenangan ku bersama mama dirumah itu" Jawab Vivian. "Semuanya akan berakhir setelah aku menikah dengan Arvas kakek, aku yakin itu".


Paling tidak sedikit banyak nya Victor dapat bernafas dengan lega karena Vivian bisa menerima Arvas dengan baik, Victor sudah mempercayakan kebahagiaan cucu satu-satu nya pada Arvas. Jika Arvas pun tidak bisa diandalkan maka Victor harus mengajarkan Vivian cara hidup sendiri dan berdiri diatas kaki sendiri.