
𝙃𝘼𝙋𝙋𝙔 𝙍𝙀𝘼𝘿𝙄𝙉𝙂❤🩹
Vivian menunggu didepan ruangan Victor sembari duduk di sofa single dan sebuah ponsel ditangan nya, Vivian dulu sering menunggu Sang kakek selesai bekerja dan akan bermain dengan nya karena Sang papa tidak pernah menyisihkan waktu untuk nya, Vivian sedari kecil emang sangat dekat dengan Victor.
Apa lagi saat kematian Regeta, sang ibu. Hubungan Vivian dan Julio semakin memburuk saat Julio menikahi Anin dan mengucilkan Vivian dirumah nya sendiri. Vivian yang merasa kasih sayang dari sang kakek dan bik Iyum sudah lebih dari cukup, tidak pernah memaksa Julio untuk ada disisi nya, apa lagi Julio sering mengacuhkan permintaan Vivian baik itu dalam hal Kecil.
"Ingin saya ambilkan minum nona muda?" Tawar sekretaris Victor.
"Boleh kak" Jawab Vivian dengan senyum manis.
Sekretaris Victor pun langsung berlalu pergi untuk mengambilkan minuman Vivian.
Tinggg
"Simpan nomor ponsel ku"
Sebuah pesan dengan nomor asing pun masuk kedalam ponsel Vivian.
Vivian menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal itu, Vivian tidak merasa telah memberikan nomor ponsel nya kepada siapa pun.
Vivian pun mengetik "maaf, anda siapa?" Balas Vivian pada nomor asing tersebut.
"Ini minuman nya non" Ucap sekretaris Victor yang sudah kembali dengan membawa secup matcha dingin.
"Wah.. Terimakasih kak" Ucap Vivian sembari menerima matcha dingin itu dengan mata berbinar.
"Sama sama nona muda" Jawab sekretaris Victor dengan senyum hangat.
Seisi kantor begitu menyayangi Vivian, apa lagi saat gadis ini masih kecil dan sering bermain di perusahaan. Bahkan sekretaris Victor begitu menyayangi Vivian, sekretaris Victor bernama Reka dan sudah bekerja begitu lama di perusahaan ini. Jadi tidak heran jika Reka tahu apa apa saja yang biasa dimakan Vivian jika sedang menunggu sang kakek.
Reka berstatus janda dan memiliki seorang putra yang berusia 5 tahun saat ini, usia Reka masih 27 tahun tapi Reka sudah bekerja dengan Victor saat usia nya 20. Suami Reka telah meninggal dunia karena sebuah kecelakaan yang menimpa nya 4 tahun lalu sebelum Vivian pergi ke boston.
Tinggg
"Calon suami".
"Uhuk uhuk uhuk"
"Apakah anda baik baik saja non?" Tanya Reka dengan khawatir.
Vivian tersedak minuman nya setelah membaca balasan singkat dari nomor asing tadi. Reka mengulurkan selembar tisu kepada Vivian, dan Vivian pun menerima nya.
Dengan dua kata saja membuat Vivian begitu terkejut, ahh sangat menyebalkan pikir Vivian.
"Vivi tidak apa, terimakasih kak Reka" Ucap Vivian dengan seutas senyum.
"Baiklah, pelan pelan saja tidak akan ada yang meminta matcha dingin mu" Ucap Reka membuat Vivi terkekeh.
Reka pun kembali kemeja nya yang berada tidak jauh dari tempat Vivian duduk untuk melanjutkan pekerjaannya.
Drtttt
Drtttt
Drtttt
"Halo, apa pesan ku tidak sampai?" Tanya seorang pria dengan suara berat dari seberang sana.
"Ha..halo, kau membuat ku terkejut sehingga aku tersedak tadi" Gerutu Vivian.
"Yasudah"
Tutttttt
"WHAT! ga sopan banget sihhh..." Kesal Vivian melihat sikap calon suami nya yang dia sendiri saja tidak pernah melihat wajah nya, tapi tak di pungkiri Vivian terpesona mendengar suara seksi calon suami nya, sesaat Vivian terkekeh akan pemikiran nya yang bodoh.
Beberapa saat kemudian.
"Terimakasih atas waktu anda tuan Victor, semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar"
Vivian langsung menoleh dan melihat tamu tamu sang kakek sudah keluar dari ruangan kerjanya.
"Sama sama, semoga kerja sama kita berjalan dengan baik" Jawab Victor setelah menyalami tamu tamu nya.
"Permisi nona Vivian" Pamit beberapa tamu Victor yang berjalan melewati Vivian.
"Hati hati tuan" Balas Vivian dengan senyum manis, Vivian cukup di kenal sebagai gadis yang ramah dan murah senyum.
"Apakah cantikku menunggu lama?" Tanya Victor sembari mengusap lembut surai Vivian.
"Tidak begitu lama, kakek ingin Vivi kemari. Ada apa?" Tanya Vivian.
Vivian menanyakan hal demikian karena Victor menyuruh nya datang tanpa memberikan alasan, nomor ponsel baru yang menghubungi nya tadi pagi adalah salah satu karyawan Victor karena Reka sangat sibuk tadi.
"Kita akan makan siang bersama calon suami mu dan orang tua nya" Jawab Victor.
"Apakah kakek tidak meminta papa datang juga?" Tanya Vivian.
Seketika raut Victor berubah datar, Victor sudah menganggap julio orang asing jika bukan karena cucu nya yang meminta Victor untuk tetap baik pada Julio, sudah di pastikan Victor akan menutup semua akses dan juga tapi persaudaraan mereka.
Victor juga sebenarnya pernah meminta Vivian untuk tinggal bersama nya saja, hanya saja gadis cantik itu memiliki berjuta kenangan bersama sang mama dirumah yang kini layaknya seperti neraka didalam nya, Vivian begitu berat meninggalkan rumah itu hingga akhirnya Victor tidak dapat memaksa apa yang telah di putuskan Vivian.
"Maaf kakek" Ucap Vivian sembari menunduk sedih, Vivian sadar kebencian Victor pada Julio. Hanya saja ini pertemuan antara dua keluarga, sangat aneh jika Vivian pergi hanya dengan Victor tanpa ditemani Julio yang berperan sebagai ayah kandung nya.
Victor jadi merasa bersalah pada cucu nya, Victor pun mengangkat dagu Vivian dan tersenyum hangat pada sang cucu.
Victor sadar, Vivian selalu menjaga hubungan baik antara dirinya dan Julio hanya saja Victor sudah terlanjur sakit hati dan enggan untuk memaafkan mantan menantu nya.
"Tidak sayang, maafkan kakek ya yang tidak bisa memaafkan papa mu" Ucap Victor penuh sesal.
"Aku mengerti kek, sakit kita sama" Jawab Vivian dan langsung memeluk Victor. Victor membalas pelukan sang cucu dan sebuah kecupan sayang di kening nya.
Vivian adalah anak yang sangat pengertian akan perasaan seseorang, Vivian juga tidak pernah memaksa jika seseorang tidak mau mengikuti kehendak nya. Vivian begitu murah hati hingga membuat Victor teringat akan kebaikan Regeta dulu.
"Sudah, ayo kita berangkat karena calon suami mu tidak suka menunggu" Ajak Victor dan disetujui oleh Vivian.
•
Di sebuah restauran ternama, sepasang paruh baya dan seorang pria tampan sedang duduk di private room. Suasana ruangan tampak hening, tidak ada percakapan diantara mereka. Ada beberapa pria berpakaian hitam yang menjaga didepan ruangan itu.
Asap rokok mengepul diudara seakan melepaskan penat pria tampan yang sedang duduk santai didepan orang tua nya. Tidak ada percakapan sedikit pun seakan tidak ada penghuni di ruangan itu.
"Ar..."
Sang empunya nama pun langsung mendongak karena nama nya dipanggil sang ayah. Yap, mereka adalah Lucian Arlington dan Camela Arlington serta sang putra Arvas James Arlington.
Victor memang sudah mengatur untuk pertemuan mereka karena Vivian pernah meminta untuk bertemu dengan Arvas, ternyata gadis kecil itu tidak mampu menahan rasa penasaran nya.
"Per..."
"Aku sudah mengurusnya" Ucap Arvas menyela ucapan Camela sang mama.
"Mama senang nak, sem...." Lagi lagi ucapan Camela terhenti saat tangan lembut nya ingin menyentuh sang putra tetapi Arvas menolak, Camela memandang sedih pada sang putra.
Arvas hanya acuh tanpa memandang raut sedih sang ibu, hati batu dan dingin pria ini membuat sang ibu tersakiti. Lucian yang melihat nya pun hanya diam saja karena ini putranya yang tidak ingin diatur.
"Selamat siang, maaf membuat kalian menunggu" Ucap Victor yang tiba tiba masuk kedalam private room, memecah kesunyian dan langsung disambut hangat oleh mereka.
"Kau sudah datang paman? Dimana Calon menantu ku?" Tanya Lucian setelah menyalami Victor.
•
Vivian baru saja keluar dari dalam toilet, dirinya tadi berpisah dengan Victor karena ingin buang air kecil lebih dulu. Sebab itu Victor lebih dulu menemui Lucian karena Vivian tidak ingin Victor menunggu nya disini.
"Ahhh leganya" Desah Vivian sembari mencuci tangan nya di wastafel. Vivian keluar dan berjalan menuju private room, Vivian sudah tahu karena restauran ini sering didatangi nya bersama sang kakek.
Dan juga Victor sudah memberitahu ruangan mana yang akan mereka pakai untuk bertemu denga calon suami Vivian.
Brukkk
"AWWWW, JALAN PAKE MATA!" bentak seorang wanita yang tidak tahu sengaja atau tidak menabrak Vivian dan menumpahkan segelas jus ke baju Vivian. Alhasil pakaian Vivian basah dan kotor karena tumpahan jus.
"Kok nyalahin aku sih, kamu nya jalan buru buru tadi" Ucap Vivian karena tahu dirinya tak bersalah.
"Ngejawab lagi, mau aku beri perhitu....."
Tangan sang wanita yang hendak mendarat kasar ke wajah cantik Vivian pun tak sampai, karena ada sebuah tangan kekar yang menahan nya.
"Awww sakit" Rintih wanita itu karena tangan nya digenggam begitu erat.
"E..ehh jangan kas..."
"Suttt.. Ayo kita pergi" Ajak suara berat yang tiba tiba merangkul pinggang Vivian.
"Kam...."
"Sutttt" Sebuah jari telunjuk menahan ucapan Vivian. Pria itu adalah Arvas, entah apa yang membawa Arvas tiba tiba mencari Vivian. Dan pria yang menahan tangan wanita tadi adalah salah satu bawahan Arvas.
"Kamu sip...."
"Calon suami" Jawab Arvas sebelum Vivian menyelesaikan ucapan nya.
Arvas pun menggiring Vivian menuju private room dimana kakek dan kedua orang tua nya sudah menunggu, Vivian menurut saja dan percaya bahwa wajah tampan yang dilihatnya itu benar-benar calon suami nya.
"Kenapa lama sekali? Apakah kamu baik baik saja sayang?" Tanya Victor menelisik tubuh cucu nya.
"Pakaian mu kotor nak" Ucap Lucian.
"Belikan pakaian" Titah Arvas pada bawahan nya yang langsung berlalu pergi.
Arvas mendudukkan Vivian dukursi yang ada diantara dirinya dan Victor. Terlihat wajah cemberut Vivian membuat Lucian mengerutkan kening nya, padahal wajah itu terlihat sangat menggemaskan tapi Lucian tahu bahwa wanita ini pasti sedang kesal.
"Ada apa nak?"
"Wanita itu menyebalkan, dia yang menumpahkan minuman ke pakaian ku tetapi ingin menamparku" Gerutu Vivian.
"Apakah sempat ditampar?" Tanya Victor dengan wajah yang sudah memerah.
"Tidak, calon suami ku datang tepat waktu. Iyakan sayang" Ucap Vivian sembari tersenyum manis kearah Arvas.
Arvas hanya memberikan elusan lembut pada surai Vivian, tak di pungkiri bahwa Arvas begitu gemas melihat Vivian.
Victor tidak ingin ambil bingung melihat cucu nya yang langsung dekat dengan Arvas, bukankah pesona tuan muda Arlington begitu memikat? Jika dibandingkan dengan Samuel, tentu saja Arvas jauh berada di peringkat pertama.
"Baru pertama kali bertemu tapi kalian sudah terlihat sangat serasi" Celetuk Victor.
"Memang dia jodohku yang Tuhan berikan kakek" Jawab Vivian membuat Lucian dan Victor terkekeh.
Mereka pun melanjutkan makan siang bersama setelah Vivian mengganti pakaian nya, tentu saja dengan ditemani oleh Arvas sendiri.
Victor sendiri begitu puas dengan pertemuan pertama antara Vivian dan Arvas, bisa Victor lihat dari pancaran mata Arvas kepada Vivian yang penuh dengan kasih sayang, Victor tidak salah ambil langkah menjodohkan Vivian dengan cucu sahabat lama nya.
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙫𝙞𝙨𝙪𝙖𝙡 𝙣𝙮𝙖 𝙜𝙖? 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙮𝙖 🥰 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙞 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙩𝙮𝙥𝙤 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙧𝙚𝙫𝙞𝙨𝙞 𝙙𝙞 𝙠𝙤𝙡𝙤𝙢 𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙤𝙠𝙚 🤗
𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙞 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙡𝙞𝙠𝙚, 𝙘𝙤𝙢𝙢𝙚𝙣𝙩, 𝙨𝙪𝙗𝙨𝙘𝙧𝙞𝙗𝙚 𝙙𝙖𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙧𝙖𝙩𝙞𝙣𝙜 🤗 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 ❤🩹🥰