
Lawan Mateow bukan sulit, bahkan Mateow sedari tadi melawan nya hanya dengan gerakan dasar dan tidak menguras tenaga. Keahlian Muatay yang dimiliki Mateow satu tingkat di bawah Arvas, tetapi kekuatan nya setara dengan Zack.
Kenapa begitu? Karena sejauh ini, tidak ada satupun yang mampu melawan keahlian bela diri Muatay yang dikuasai Arvas selama bertahun-tahun. Arvas adalah lulusan pertama dan terkuat di perguruan nya, bahkan nama pria ini cukup mendunia karena prestasi ilmu beladiri nya.
Bughhh
Bughhh
Pukulan demi pukulan dapat Mateow tangani dengan mudah, terlihat pria ini tidak kesulitan sedikit pun melawan serangan rival nya.
Mateow yang sedang sibuk membela diri pun tanpa sengaja mengalihkan pandangan nya kearah Arvas, seketika mata Mateow terbelalak saat melihat laser merah berada tepat dibelakang kepala. Seketika Mateow sadar bahwa ada sniper yang sedang menjadikan Arvas sasaran.
"Awas tuan!!"
Dorrrr
"Tuan!!" Teriak Mateow membuat kegaduhan pun seketika hening.
"Tuan!" Teriak Zack dan berlari mendekati Arvas yang terjatuh di tanah.
Mateow dan yang lainnya pun segera mendekat untuk melindungi tubuh Arvas.
"Tu..."
"Eghh sialan!"
Dorrrr
Arvas langsung menembak sniper yang berada tidak jauh dari posisi mereka. Mateow bernafas dengan lega, tadinya cukup panik saat leser itu tepat berada dibelakang kepala Arvas.
Brugggg.
Sang sniper pun terjatuh dan...
Dorrrr
Dorrrr
Dorrrr
Kubu Arvas pun menembak habis sisa pengawal Dragon Black, hingga akhirnya mereka semua mati terkapar diatas tanah dan dedaunan. Sudah cukup bermain-main bukan?
"Aku pikir tuan tidak menyadari nya tadi, aku sudah panik" Ucap Zack.
"Aku baik, apakah semua sudah habis?"
"Sudah tuan"
"Bereskan tempat ini, kita pulang Zack, Mateow"
"Baik tuan" Jawab Zack dan Mateow secara bersamaan.
Yang tertembak tadi bukanlah Arvas melainkan pria botak yang dilawan Arvas, Arvas begitu peka akan situasi sehingga waktu peluru sniper itu melesat padanya tanpa diketahui siapa pun, Arvas merubah posisi pria botak itu yang ada di belakang nya, sehingga pria itu lah yang tertembak mati.
Sangat licik bukan? Gerakan Arvas begitu gesit seperti angin, bahkan dia mampu meneba leher lawannya dalam hitungan detik saja, tanpa ada satupun yang menyadari tentunya.
Arvas, Mateow, Zack dan beberapa orang lainnya pun berjalan kembali menuju dimana mereka memarkirkan Yact mereka untuk melakukan perjalanan kembali.
Arvas merogoh ponsel nya untuk melakukan panggilan pada seseorang.
"Bagaimana?"
"Semua baik tuan"
"Pantau terus"
Tutttt
"Arvas!" Teriak seorang wanita yang berlari kearah Arvas.
Mateow yang tahu situasi pun langsung menahan wanita itu yang hendak masuk kedalam pelukan Arvas. Seperti ulat bulu yang melihat tangkai nganggur pikirnya.
"Maaf nona, anda tidak diizinkan menyentuh tuan" Ucap Mateow.
"Arvas aku begitu tak..."
"Bawa dia kembali dengan kapal biasa jangan dengan Yact"
"Arvas! Aku begitu takut, izinkan aku ber...."
Wanita itu langsung diam saat mendapat tatapan tajam dari Arvas, terlihat wajah kesal dari Zack dan juga mateow melihat putri perdana menteri ini.
"Baiklah, aku hanya ingin berterimakasih pada mu. Tidak tahu apa yang harus ku lakukan untuk membalas semua kebaikan mu Arvas, kau bis....."
"Tidak perlu melakukan apa pun cukup jangan dekati aku" Ucap Arvas dan berlalu pergi begitu saja.
"Bawa" Titah Mateow pada pengawal nya.
Zack dan Mateow pun kembali berjalan mengikuti Arvas, sedangkan putri perdana menteri itu memandang kesal kearah Arvas.
Ini bukan kali pertama dirinya ditolak oleh Arvas, status ayah nya yang menyandang gelar perdana menteri pun tidak berguna jika pria yang diinginkannya adalah Arvas James Arlington. Perdana menteri saja begitu takut jika berhadapan dengan Arvas, lalu bagaimana jika putrinya menginginkan pria yang begitu dihindari perdana menteri.
•
Pagi hari ini cuaca di Meksiko sedikit mendung dan gerimis, Arvas baru saja membuka mata nya karena merasa perut nya yang sudah mulai lapar. Mereka baru kembali dari pulau Tripszilla pada pukul 5 pagi, dan Arvas hanya tidur selama 2 jam lamanya.
Arvas turun dari tempat tidur dan menyambar kimono nya, Arvas menatap sekeliling kamar nya yang hanya dipenuhi dengan warna hitam layaknya kehidupan yang dijalani nya, Arvas melihat jam dan waktu sudah menunjukkan pukul 07:00.
Terlihat beberapa pelayan sedang mengerjakan pekerjaan mereka masing masing.
"Selamat pagi tuan" Sapa setiap pelayan yang berselisih dengan Arvas.
"Permisi tuan" Panggil seorang pelayan dan Arvas pun menghentikan langkah nya.
"Nyonya Camila datang berkunjung" Ucap pelayan itu.
Arvas hanya mengangguk sekali dan melanjutkan langkah nya menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
Ruang keluarga.
Camila sedang duduk dengan anggun sembari memainkan ponselnya dan segelas teh hangat dihadapan nya, wanita ini sangat cantik walaupun umur nya sudah hampir 50 tahun. Terlihat dari cara berpakaian yang modis serta kulit nya yang terawat.
Tap
Tap
Tap
Camila langsung menoleh dan tersenyum melihat putra tampan nya berjalan menuju kearah nya.
"Ada apa?" Tanya Arvas dengan datar sembari mendudukkan dirinya disofa yang berada di hadapan Camila.
Camila tersenyum "hanya mampir, apa tidak boleh mama mengunjungi putra mama yang sudah hidup di rumah nya sendiri?" Ucap Camila.
Arvas memang baru tinggal dirumah nya ini selama 2 tahun, karena sebelumnya Arvas tinggal bersama papa nya. Pilihan yang tepat karena Arvas akan menikah sebentar lagi.
"Jika hanya itu, bukankah mama sudah melihat ku? Aku akan pergi kekantor".
"Ar, mau sampai kapan kamu bersikap dingin dengan mama?" Keluh Camila.
"Permisi tuan, kita ada pertemuan pagi ini" Ucap Zack yang tiba tiba datang.
"Jika tidak ada yang penting aku pergi dulu" Ucap Arvas dan berlalu pergi begitu saja.
Camila memandang tajam kearah Zack, Zack sendiri melengos pergi tanpa mengatakan apa pun kepada Camila. Selalu seperti ini jika Camila ingin deptalk dengan Arvas. Selalu Zack lah yang menjadi hambatan diantara keduanya.
Arvas berjalan kembali menaiki tangga karena Arvas memutuskan untuk bersiap ke kantor lebih dulu, setelah selesai baru sarapan.
"Tuan, dua minggu lagi fitting baju pernikahan anda dengan nona muda" Ucap Zack yang mengikuti Arvas.
"Lalu?"
"Saya takut urusan kita belum selesai di Philipina saat waktu fitting nya tiba" Jawab Zack.
"Kapan kalian memutuskan keberangkatan nya?"
"Lusa"
"Ubah hari ini"
"Apa nona muda sudah tahu?"
"Sudah"
"Baik tuan akan saya rubah jadwal nya, saya permisi" Pamit Zack dan berlalu kekamar nya yang berada di lantai 2.
Arvas pun masuk kedalam kamar nya, Arvas memandang foto gadis kecil berusia 5 tahun yang sedang berada di sebuah taman dan tersenyum kearah camera.
Arvas mengusap lembut wajah cantik nan menggemaskan itu, senyum terbit diwajah tampan Arvas hanya karena memandang poto gadis kecil itu seakan senyum sang gadis menular kepadanya.
Drttt
Drttt
Drttt
Sebuah panggilan masuk membuyarkan lamunan Arvas, Arvas melihatnya dan ternyata panggilan dari Vivian.
"Iya sayang" Ucap Arvas setelah menerima panggilan itu.
"Dimana?"
"Dirumah"
"Kamu bilang mau perjalanan bisnis, kamu bohong ya?" Ketus Vivian.
"Kan berangkat hari ini, ada apa hem?"
"Oh iya aku lupa, aku cuma ingin dengar suara kamu aja. Yasudah aku mandi dulu by"
Tuttt
Panggilan terputus secara sepihak, siapa yang berani memutuskan panggilan secara sepihak seperti itu jika bukan Vivian.
"Sedikit menyesal telah memberikan nomor ponsel ku pada nya, eh tapi aku yang memberi nya pesan lebih dulu" Keluh Arvas sembari menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Tapi aku memang juga ingin mendengar suara mu tadi sayang" Batin Arvas sembari tersenyum tipis.
Jika orang-orang menjalani perjodohan dengan rasa benci dan keterpaksaan, sangat berbeda dengan apa yang dijalani Arvas dan Vivian. Keduanya seakan telah memadu kasih selama bertahun-tahun, terlihat dari cara mengobrol Vivian.
Vivian juga entah mengapa begitu cepat menjatuhkan hati nya pada Arvas, sedangkan Arvas merasa senang karena Vivian tidak menolak sedikitpun atas perjodohan yang telah direncanakan kedua kakek mereka.
Oh ayolah, siapa yang bisa menolak pesona seorang Arvas? Setiap wanita pun rela membuka kakinya lebar-lebar hanya karena ingin bermalam dengan Arvas, tapi sayang nya pria ini tidak begitu. Arvas cukup menjaga kehormatannya sebagai pria selama ini, sehingga tidak menyentuh ataupun menyetubuhi wanita lain selain Vivian yang akan menjadi istrinya kelak, itu pun akan dilakukannya setelah janji suci mereka terucap didepan banyak saksi.