
𝙃𝘼𝙋𝙋𝙔 𝙍𝙀𝘼𝘿𝙄𝙉𝙂 𝙎𝙀𝙈𝙐𝘼𝙉𝙔𝘼𝘼 🤭
Meksiko menunjukkan pukul 20:30, saat Trevita milik Arvas berhenti tepat didepan kediaman Lembert, Vivian dan Arvas memang menghabiskan waktu bersama sedari siang tadi dan mereka juga melakukan makan malam bersama.
"Tidak ingin mampir?"
Arvas menggeleng "dengar sayang, aku akan melakukan perjalanan bisnis sehingga kita tidak akan bertemu sam..."
"Ya.... Ldr? Ga enak banget, baru juga ketemu" Keluh Vivian sebelum Arvas menyelesaikan ucapan nya.
Siapa yang berani memotong ucapan Arvas kecuali Vivian Laurence Aldrich, jika pun ada mungkin orang itu tidak akan bernyawa detik itu juga.
Arvas menggenggam tangan Vivian "dengarkan aku sayang, pernikahan kita akan dilakukan secepatnya sehingga sepulang dari perjalanan bisnis kita akan melakukan pernikahan kita"
"Tapi kita tidak akan bertemu"
"Itu tidak akan lama, percayalah. Jangan khawatir aku akan selalu mengirimi mu pesan agar tidak khawatir"
"Apakah tidak bisa jika aku ikut?" Tanya Vivian dengan puppy eyes nya.
Arvas sekuat tenaga menahan diri agar tidak luluh, tidak mungkin Arvas membawa Vivian dalam misi penyerangan bisa bisa nyawa Vivian terancam karena nya. Dengan menikahi Vivian saja sudah akan menunjukkan bahwa Arvas akan memiliki kelemahan baru.
Arvas menghela nafas "maaf ya sayang, aku tidak bisa tolong lah mengerti" Pinta Arvas.
"Baiklah"
"Good Girl"
Cuppp
Arvas memberikan satu kecupan lembut kepada Vivian, Vivian pun lebih tenang. Entah mengapa jika didekat Arvas membuat Vivian merasa lebih tenang dan bahagia. Vivian juga tidak mengerti, bahkan rasa saat dirinya bersama Samuel jauh lebih baik bersama Arvas.
Vivian langsung melesak masuk kedalam pelukan Arvas, sulit sekali untuk berjauhan padahal ini adalah pertemuan pertama mereka, Vivian sendiri tidak mengerti akan dirinya yang ingin selalu bersama pria ini.
"Aku tidak akan lama"
"Cepatlah pulang, aku tidak betah dirumah ini. Jika bukan karena kenangan nya mungkin aku lebih memilih rumah sendiri".
Rahang Arvas mengeras, Arvas yang sangat mudah tersulut emosi kini harus menahan diri agar tidak meledak didepan calon istri kecil nya, bukan tidak tahu seperti apa tabiat penghuni rumah ini hanya saja Arvas tidak ingin membuat Vivian merasa calon suami nya bermusuhan dengan keluarga nya.
"Tidak akan lama"
"Aku akan menunggu mu" Ucap Vivian dan memberikan satu kecupan manis dipipi Arvas.
"Masuklah" Titah Arvas dan Vivian pun mengangguk.
Vivian turun dari mobil, Arvas pun langsung melesatkan mobil nya pergi meninggalkan pekarangan rumah itu.
Vivian terus menatap kepergian Arvas tanpa berkedip, hingga akhirnya menghilang dibalik pagar, tahu akan pekerjaan calon suami nya membuat Vivian sedikit khawatir akan keselamatan Arvas.
"Siapa tuh?" Tanya Abel tiba tiba dan membuat Vivian terjingkat kaget.
Vivian melengos masuk tanpa memperdulikan pertanyaan Abel, jujur saja masih sangat sakit akan perlakuan Abel padanya yang dengan tega merebut Samuel dari nya, walaupun sudah tergantikan dengan kehadiran Arvas tapi Vivian masih tidak Terima dengan semua yang terjadi.
•
Trevita mewah milik Arvas terus melaju kencang membelah jalanan malam, pandangan setajam elang terus tertuju fokus pada jalanan. Tangan kekar nya menggenggam erat pada stir kemudi.
Arvas menyambar ponsel nya dan melakukan panggilan pada seseorang, beberapa saat terhubung dan Arvas pun langsung menggunakan earphones nya.
"Awasi rumah keluarga Lembert dan jaga terus Vivian, jangan sampai bedebah sialan itu menyakiti nya".
Panggilan langsung terputus setelah mengatakan semua perintahnya.
Citttttt
Suara ban mobil yang berdecit dan asap abu yang mengepul, Arvas menghentikan mobilnya disebuah dermaga. Tempat yang cukup gelap dan berangin.
Arvas turun dari mobil dan langsung disambut oleh Zack dan beberapa pengawal lain.
"Tuan"
"Katakan"
"Semua sudah siap, kita bisa berangkat sekarang juga"
"Ayo"
Arvas dan Zack pun menaiki yact yang sudah bersiap dibibir dermaga, awak yact pun langsung memulai perjalanan mereka setelah memastikan semua naik tanpa kurang satu pun
.
Begitu banyak pria dengan tubuh tegap dan berpakaian serba hitam diatas yact itu, bukan hanya satu yact, ada beberapa yact dan kapal kecil yang mengikuti dari belakang dengan diisi semua pengawal milik Arvas.
Terlihat semua orang memegang senjata yang berbeda-beda, wajah sangar dan tatapan elang terus melakukan penjagaan agar perjalanan mereka tidak terhalangi.
"Perjalanan kita selama 5jam baru sampai di pulau Tripszilla, anak buah kita sudah memantau keadaan sedari 3 hari yang lalu" Lapor Zack.
Saat ini keduanya sedang berada di deck kapal, hembusan angin menerpa wajah tampan keduanya tanpa permisi. Terlihat sangat tampan.
Arvas hanya mengangguk sekali "sambungkan pada Mateow" Titah Arvas.
"Selamat malam tuan" Sapa suara berat dari seberang sana.
"Katakan"
"Semua aman tuan, mereka tidak memindahkan barang barang nya sehingga kita tidak perlu repot repot mencari lagi"
"Ada lagi?"
"Mereka juga menyekap seorang wanita tuan"
"Siapa?" Tanya Arvas dengan alis terangkat sebelah.
"Putri perdana menteri yang hilang minggu lalu"
"Pastikan dia selamat, kita akan meminta bayaran yang besar nanti"
"Baik tuan" Jawab nya dari seberang sana.
Mateow Javier, pria dengan kulit putih dan tubuh yang sangat kekar layaknya pegulat, Mateow adalah kepala pengawal di kubu Arvas. Mateow memiliki wajah yang tampan tetapi botak, tubuh tinggi besar nya membuat siapa saja bergidik takut untuk melawan nya.
Mateow sendiri di rekurt oleh Arvas dari Perguruan dimana tempat Arvas berlatih ilmu muatay nya, Mateow sudah bersama Arvas sejak usia nya 10 tahun, Mateow lebih muda setahun dari Arvas.
"Apakah kita akan mengabarkan perdana menteri bahwa kita akan membawa putrinya pulang, tuan?"
"Jangan, kita tidak jamin putrinya akan tetap hidup sampai di rumah" Larang Arvas.
Zack mengangguk paham, dulu mereka juga pernah menyelamatkan seorang wanita dari bahaya hanya saja ketampanan Arvas membuat wanita itu terus ingin menempel pada Arvas, Arvas yang begitu benci disentuh wanita lain sampai akhirnya Arvas lah yang membunuh wanita itu.
Arvas memandang pekatnya malam dari atas yact, Arvas merogoh saku nya dan mengeluarkan ponsel nya.
Arvas melihat wajah cantik Vivian yang ada di layar ponsel, senyum indah yang ada di wajah Vivian membuat Arvas kian merindu padahal masih beberapa jam yang lalu berpisah.
"Sebentar lagi kau akan keluar dari rumah itu sayang, tidak akan ku biarkan siapa pun menyakiti mu baik itu orang tua ku sendiri" Batin Arvas.
Arvas menyentuh pipi chubby Vivian dari layar ponsel, wanita ini benar benar mampu mengalihkan dunia nya bahkan saat tidak bersama seperti saat ini.
Tingggg
"𝙎𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙘𝙖𝙡𝙤𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙠𝙪, 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙣𝙖 𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙧𝙞𝙣𝙙𝙪. 𝙊𝙝 𝙞𝙮𝙖 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙞𝙨𝙩𝙞𝙧𝙖𝙝𝙖𝙩 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙘𝙪𝙠𝙪𝙥 𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜, 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞𝙞𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙞𝙣𝙞 𝙝𝙞𝙝𝙞, 𝙗𝙮 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙢𝙪𝙖𝙘𝙝𝙝𝙝𝙝"
Hati Arvas begitu berbunga bunga setelah membaca pesan yang dikirim oleh Vivian, wanita ini sangat pandai menggoda nya, ingin sekali Arvas putar balik dan tidur disamping wanita itu saat ini.
Rasanya ingin sekali melompat setinggi mungkin karena kata kata dari calon istrinya, Arvas setengah mati menahan senyum nya setelah membaca pesan dari Vivian.
Zack yang melihat wajah memerah Arvas pun jadi sedikit khawatir.
"Anda baik baik saja tuan?"
"Hah? Aku baik, aku akan ke kamar lebih dulu" Pamit Arvas dan berlalu pergi begitu saja.
"Keliatan nya ga sakit, atau? Haha lucu sekali, pasti kelakuan nona muda" Kekeh Zack dan berjalan menuju kamar nya juga.
Arvas membaringkan tubuh nya di atas ranjang king size dengan masih memandang isi pesan dari Vivian.
Tinggg
"𝙆𝙤𝙠 𝙜𝙖 𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨? 𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧 𝙮𝙖?"
Sekali lagi pesan masuk dari Vivian.
"𝘽𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙠𝙤𝙠, 𝙩𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙤𝙣𝙨𝙚𝙡 𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙖𝙧 𝙖𝙠𝙪 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙙𝙞 𝙩𝙤𝙞𝙡𝙚𝙩 𝙜𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙥𝙖𝙠𝙖𝙞𝙖𝙣, 𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧 𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙨𝙤𝙠 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙖𝙗𝙖𝙧𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙜𝙞"
Balasan Arvas pun langsung di baca oleh Vivian dengan secepat mungkin.
Tingggg
"𝙊𝙠𝙚 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙤𝙤𝙙 𝙣𝙞𝙜𝙝𝙩"
Arvas tersenyum lebar melihat percakapan pesan mereka malam ini, Vivian begitu pandai menggoda pikir Arvas.
Arvas yang tidak pernah berhubungan dengan wanita pun sedikit kebingungan menanggapi pesan Vivian, untung saja Vivian mengerti akan sikap dingin suami nya terlebih Arvas ini pemimpin klan terkuat sangat lucu jika dia terlihat bucin pada seorang wanita.
Arvas sendiri merasa beruntung karena penantian nya selama bertahun-tahun akan terbayarkan, mungkin saja perjodohan ini sudah Arvas atur bukan? Oh ayolah, ini Arvas apa yang dia inginkan akan didapatkan dengan cara apa pun itu.
⭐
⭐
⭐
⭐
⭐
⭐
⭐
𝙆𝙤𝙠 𝙜𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙘𝙖, 𝙜𝙖 𝙨𝙚𝙧𝙪 𝙮𝙖 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖? 𝙚𝙢𝙢𝙢 𝙜𝙥𝙥𝙖 𝙙𝙚𝙝 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙝𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙖𝙟𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩𝙞 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙣𝙞 ☺
𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙡𝙞𝙠𝙚, 𝘾𝙤𝙢𝙢𝙚𝙣𝙩, 𝙎𝙪𝙗𝙨𝙘𝙧𝙞𝙗𝙚 𝙖𝙣𝙙 𝙍𝙖𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙨𝙩𝙞𝙚 🥰