
Pulau Tripszilla.
Mateow mengamati pergerakan musuh dari teropong yang ada di tangan nya, serta sebuah senapan selaras panjang yang bertengger di bahu nya. Dengan ditemani cahaya redup dari rembulan, Mateow serta anak buah nya memantau sebuah bangunan tua yang terdapat di pulau Tripszilla ini.
Bangunan tua yang berlumut dan gelap, hanya cahaya dari sang rembulan yang menemani tanpa penerangan lainnya baik lampu ataupun obor.
Asap cerutu yang ada di sela sela jari Mateow mengepul di udara, bukan kali pertama mereka melakukan penyerangan seperti ini sehingga Mateow tidak pernah merasa gugup atau pun takut. Baginya setelah mengabdikan diri pada Arvas, berarti Mateow siap mati dalam keadaan apa pun.
"Kau selalu bersikap santai Mateow" Celetuk salah satu pengawal Arvas yang bersama Mateow.
Mateow melirik sesaat "apa yang ku takut kan? Paling tidak jika aku mati, dendam ku atau rasa sakit ku sudah hilang semua nya"
"Apa kau masih mengingat wan...."
"Jangan pernah bahas wanita sialan itu lagi, kau sudah ku peringatkan bukan?" Ucap Mateow dengan gigi bergemelatuk, serta tangan yang mencengkram leher pria yang bertanya tadi.
"Ma....maaf, maafkan a..aku" Rintih nya menahan sesak karena cengkraman Mateow. Cengkraman itu begitu kuat hingga wajah nya pucat seakan tidak mengalir darah disana.
Brukkkkk
Mateow melepaskan cengkraman nya hingga pria itu terjatuh. Pria itu pun langsung menghirup udara karena sesak atas tindakan yang Mateow lakukan.
"Jangan pernah membahasnya jika kau tidak ingin kehilangan nyawa mu, aku juga berharap tidak perna di pertemukan oleh wanita ****** itu lagi" Ucap Mateow dan melengos pergi.
"Salah satu dari kita pernah mati di tangan Mateow karena terus mencecar nya dengan pertanyaan itu"
"Apa salah nya?"
"Sudahlah Luck, kita semua tahu sesakit apa hati Mateow karena wanita itu"
Pria bernama Luck itu pun hanya bisa mengangguk, dirinya paham akan keadaan hati Mateow yang sampai kapan pun tidak akan terobati.
Mateow pernah menjalin kasih dengan seorang wanita yang berasal dari prancis, kisah asmara mereka terjalin selama 3 tahun, cukup lama bukan? Arvas dan yang lainnya juga cukup mendukung akan hubungan Mateow dengan kekasihnya.
Tapi siapa sangka? Saat Mateow sudah mempersiapkan segala pernikahan untuk mereka, sang wanita justru dengan terang-terangan memilih pria lain yang ternyata musuh dari klan Arvas. bukan hanya itu, Mateow yang terkenal sebagai algojo Arvas pun nyawa nya hampir melayang di tangan sang wanita tercinta. Pria yang telah mencuri hati wanita pujaan Mateow memintanya untuk melenyapkan Mateow, untung saat itu ada Arvas yang mengetahui rencana mereka jika tidak mungkin saat ini Mateow hanya akan menjadi mayat kasihan yang mati karena cinta yang terkhianati.
Karena itu pula hingga kini Mateow belum juga memiliki pelabuhan baru, pengkhianatan yang diterima nya dari seorang wanita membuat Mateow sangat sulit untuk percaya pada wanita lagi, terlebih nyawa nya lah yang pernah terancam.
Mateow begitu membenci wanita itu tetapi tidak pernah sanggup untuk membunuh nya, karena jujur saja dihati kecil Mateow masih terselip rasa cinta untuk sang wanita hanya tertutup oleh kebencian amarah seperti api.
Mateow berjalan menjauhi pengawal nya yang lain, Mateow duduk dan memandang redup nya rembulan. Hatinya berkecamuk antara rindu, benci, dan dendam menjadi satu.
"Feyrin, entah mengapa hati ini tidak bisa menolak jika aku merindukan mu tetapi aku sangat benci atas pengkhianatan yang kau berikan Fey. Sudah 5 tahun berlalu semenjak kau dengan tega didepan mata ku pergi bersama pria lain, apakah kau bahagia disana? Ku harap tidak"
Rasa sakit Mateow begitu dalam hingga hatinya pada Feyrin bercampur aduk, antara cinta, rindu, benci dan juga dendam.
"Sudahlah Mateow, aku tahu bagaimana hati mu karena kita sudah bersama bahkan sebelum kau mengenal Feyrin. Maafkan Luck yang mengungkit rasa sakit mu" Ucap salah satu teman Mateow yang datang menyambangi dan duduk disampaing pria itu.
"Sudahlah Eich, aku hanya tidak ingin ada orang yang membahas nya"
"Aku mengerti" Jawab Eich sembari menepuk pundak Mateow.
"Ada pergerakan Mateow" Ucap salah satu dari mereka yang sedari tadi memantau.
Mateow dan Eich pun kembali ke posisi awal, terlihat pengawal Black Dragon menarik seorang wanita keluar bangunan, serta beberapa pria bertubuh tegap membawa kotak kotak yang isinya tidak tahu apa.
"Mereka pasti sudah mendapatkan perintah dari Lexis" Bisik Luck.
"Ayo" Ajak Mateow.
"BERHENTI BAJINGAN!!" teriak Eich yang ternyata sudah keluar dari tempat persembunyian mereka lebih dulu.
"Kau tahu Luck? Setelah ini Eich akan berlari kebelakang tubuh besar Mateow" Bisik seseorang yang dibelakang Luck.
"Tutup mulut mu sialan, mau bagaimana pun dia penembak jitu. Walaupun mental nya sedikit menciut jika berhadapan dengan musuh dalam jarak yang dekat" Kekeh Luck.
"BERHENTI SIALAN! kembalikan barang barang kami yang telah kalian curi dan juga gadis itu" Bentak Eich.
"Ternyata kalian sudah menemukan tempat kami, serang mereka!" Teriak pria botak dari kubu Dragon Black.
"Sialan! Mateow tolong aku" Cicit Eich dan berlari kebelakang tubuh Mateow.
"Kau ini bagaimana? Tadi menantang" Kesal Mateow.
"Aku akan kembali keatas pohon saja untuk menjaga kalian dari jauh, kau tahu bela diri ku masih kacang"
"Aku tahu kau lemah"
"Jika bukan karena senior, mungkin kepala mu akan ku pukul sekarang juga" Kesal Eich.
"YAKKKKK" teriak antek antek Dragon Black dan maju melawan.
"Semangat!" Teriak Eich yang sudah lari meninggalkan teman teman nya.
"Aku akan tertawa setelah pekerjaan kita selesai" Kekeh Luck dan maju melawan.
Bughhhh
Bughhhh
Sretttt
Baku hantam, adu pukul, adu belati dan sebagainya pun terjadi antara kedua kubu. Mateow sadar pasukannya kalah jumlah dari Dragon Black, tapi itu semua tidak membuat Mateow merasa takut sedikit pun.
Eich sendiri sudah bersiap diatas pohon dengan sebuah senapan untuk menyerang saat keadaan genting.
Drttt
Drttt
Drttt
"Halo tuan"
"Bagaimana situasi disana?"
"Mateow dan lainnya sudah menyerang tuan, tadi mereka hendak kabur" Ucap Eich pada Arvas yang menelponnya.
"Bisa kau lihat dimana kapal mereka?"
"Arah timur tuan"
"Dimana posisi mu?"
"Diatas pohon tuan"
"Pantau terus, kami sudah hampir tiba"
Tutttt
Sambungan telepon pun terputus, Eich kembali fokus pada teman temannya yang sedang berjuang melawan rival mereka.
Tidak butuh waktu yang lama, pasukan besar Arvas pun datang dari arah timur.
"Sial! Kita kalah jumlah! Ayo kab...."
"Tidak bisa!!"
"Kenapa?"
"Kapal kita sudah ditenggelamkan!"
"Bedebah sialan!" Gerutu pria botak dari klan Dragon Black.
"Minta pertolongan pada tuan Lexis!" Teriak salah satu dari mereka.
"Mereka tidak akan menolong, kita sudah terkepung" Ucap pria botak itu dengan pasrah.
"Ada kata kata terakhir?" Tanya Mateow.
"Kau pikir aku pengecut? Tidak Botak sialan!"
"Kau pun botak bajingan!" Bentak Mateow dan langsung kembali bergelut.
"Hahaha bisa bisanya debat tentang botak" Kelakar Eich yang mulai turun dari persembunyian nya.
"YAKKKKK"
"Eich awasss!" Teriak Luck.
Dorrrr
Pria yang hendak menyerang Eich tadi pun langsung tersungkur ketanah, timah panas yang keluar dari Raging Bull 454 milik Arvas menembus tepat di bagian dahi nya.
"Aku syok" Ucap Eich dengan nafas memburu.
"Tingkatkan kemampuan mu setelah ini, kau harus lebih peka terhadap situasi." Ucap Arvas membantu Eich berdiri dan lanjut membantu yang lain.
"Mereka tidak akan membantu kalian" Ucap Zack dengan seringai nya.
"Paling tidak kami sudah bertahan sampai akhir" Ucap pengawal Dragon Black.
Bughhh
Plakkk
Bughhh
Terlihat Arvas melawan pria botak yang sempat melawan Mateow tadi, sepertinya kekuatan keduanya hampir seimbang walau Arvas lah yang terlihat lebih unggul.
Mateow sendiri lebih memilih lawan lain karena lawannya telah di ambil alih Arvas, Mateow yang sedang bergelut pun di buat terkejut saat melihat sebuah laser merah tertuju tepat pada bagian belakang kepala Arvas.
Dorrrr
"TUANNNN!"